Sunday, November 30, 2014

Teman Baik Ibu

Ibu saya adalah seseorang yang tak pernah bisa lepas dari kopi. Sekarang, saat ia sudah tiada, rasanya saya iri sekali pada bergelas-gelas kehangatan pekat yang selalu lekat di sisinya itu. Karena bisa jadi, kopi jauh lebih setia memandanginya--dibandingkan sepasang mata milik saya ini.

Berpuluh tahun kopi menjadi teman baik ibu menjahit baju pesanan, membuat malam-malam panjangnya jauh lebih terang, mengusir kantuk yang bergelayut manja di pangkal matanya. Saya suka sekali melihat kaki-kaki kecil ibu menggoyang tuas mesin jahit kesayangannya itu, menyambung potongan pola menjadi sesuatu yang bisa membuat manusia lebih beradab; sehelai pakaian. Itu adalah salah satu pemandangan paling indah yang pernah direkam oleh ingatan saya.

Hari ini, saat gerai kopi semakin banyak memeluk sudut-sudut kota dan bahkan jadi tempat manusia hobi meng-eksistensikan diri; menikmati seduhan secangkir kopi panas di teras rumah, sembari memandangi langit selepas hujan dengan ibu menari di dalam kepala, justru masih menjadi favorit saya.

Bu, hari ini saya menuliskan ibu bersama si teman baikmu, kopi. Rindu sekali melihatmu menginjak tuas mesih jahit, dan membuatkan sebuah mukenah sederhana untuk kukenakan saat hari raya lebaran tiba.

Semoga aroma magis kopi, selalu mampu membantuku menyimpanmu di dalam kepala ini, Bu. Sampai selamanya.



Akun Twitter : @falafu

Facebook: www.facebook.com/farahnurulfatimah


Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi #DibalikSecangkirKopi yang diselenggarakan oleh NESCAFE Indonesia

4 comments:

  1. Ceritanya keren, jgn lupa baca ceritaku juga ya

    ReplyDelete
  2. Ah, saya juga ikutan ini :') diksinya bagus! Suka!

    ReplyDelete
  3. ahhh ibu memang pesona tiada tara.... alhamdulillah...

    ReplyDelete
  4. Yukk kak ngopi bareeng hehe
    (Susantirahayu)

    ReplyDelete

Thanks for reading my post! :)