Thursday, October 30, 2014

Cermin


Aku tidak ingat kapan pertamakali melihat pantulan diriku sendiri. Apa aku menyukainya atau aku justru membencinya saat itu. Yang aku tahu, semakin aku dewasa, aku semakin malas berlama-lama memandangnya. Bukan berarti aku tidak menyukai apa yang aku lihat di dalam cermin saat aku menatapnya, justru aku merasa bahwa tak ada yang perlu lagi dikoreksi, Tuhan sudah lebih dulu mengkoreksi penampilanku—bahkan sejak sebelum aku dilahirkan. Dia adalah penimbang terbaik, kenapa bibirku harus tebal, kenapa kedua mataku harus lebar, kenapa kulitku harus coklat manis, kenapa rambutku begitu lebat sampai-sampai aku malas menyisirnya. Dan kenapa aku punya senyum yang dihiasi kawat gigi.
Aku punya segalanya. Aku punya sepuluh jari kaki dan sepuluh jari tangan. Tidak ada bilangan yang tidak genap dalam tubuhku, dan ibuku selalu menyebutku anak mama yang paling cantik (mari lupakan fakta kalau seluruh saudaraku yang lain adalah laki-laki). Jadi, apalagi yang harus aku tuntut? Semua, sudah berada di tempat yang semestinya. Dan terima kasih Tuhan, karena aku lengkap dan aku menyadarinya.

No comments:

Post a Comment

Thanks for reading my post! :)