Thursday, October 10, 2013

Suatu Hari di Masa Lalu

“Luka saya sangat sederhana. Saya hanya terluka karena kamu pergi; itu saja.” - (fa)

Pulang dari Jakarta, di dalam bis saya teringat foto kamu dengan dia, entah kenapa. Padahal telah lama hari itu terlewati. Dan saya pun telah lama memutuskan berhenti menjadikannya bagian dari “daftar hal yang perlu diingat”.

Dulu, foto itu berhasil membuat saya begitu sedih. Bukan, bukan karena dia ada di dalam foto itu, tapi karena kamu yang berdiri lekat di sisinya. Padahal, saat itu saya adalah perempuan yang begitu perlu dipeluk. Alih-alih menemani saya, kamu justru pergi bersamanya.

Bukan, bukan karena kamu pergi bersamanya saya sedih. Bersama siapa pun itu tak jadi masalah, saya tak peduli—karena saya percaya penuh padamu. Bahwa kamu bukanlah pria yang pandai berpindah dari satu pijakan hati, ke hati lainnya dengan begitu mudah. Bahwa kamu adalah pria yang bisa saya andalkan. Ya, saya menghargaimu dengan begitu besar, saat itu.

Hal yang paling sedih adalah ketika... kamu pergi; itu saja.

Karena seharusnya, saat itu kamu bisa memilih tinggal dan menjadi tak perlu kehilangan saya di hari ini.
Hati saya berkali-kali bilang; saya selalu berusaha ada untukmu. Seberapa pun berat hari yang harus saya lalui, seberapa pun saya harus membagi perhatian atas mengurus ibu saya yang tengah sakit—dan mencoba memahamimu. Karena mungkin saya memang tengah sangat menyayangimu.
Di luar hujan dan ada air terjun di kaca jendela bus. Pendingin di dalam bus ini bahkan mampu membuat buku-buku jari saya membiru. Saya harap kamu selalu hangat terjaga di sana, hingga tak perlu membuat sedih siapa pun yang tengah menyayangimu di sini.
***

Saya menemukan catatan itu di mini diary ponsel saya—ketika saya bahkan telah lupa pernah menulisnya. Kenyataannya, saya memang benar-benar pernah menulisnya di suatu hari di masa lalu. Untuk seseorang yang pernah saya sayangi—dan pernah saya paksakan untuk tidak lagi saya sayangi lebih dari rasa sayang kepada seorang teman. Saya pernah menangisinya, karena memaksakan diri saya untuk berhenti menyapanya dalam kurun waktu yang ketika itu tidak bisa saya pastikan sampai kapan. Mungkin karena saya merasa begitu marah. Bukan, bukan padanya. Saya begitu marah pada diri saya sendiri saat itu.

Perempuan ini, hanya tengah menghukum dirinya sendiri.

Saya selalu saja patah hati dengan cara saya sendiri. Saya memang tidak pernah mampu merengek atau mengumpat, atau bahkan berlagak membenci orang yang tengah saya sayangi. Saya pun tidak akan pernah membiarkan diri saya tampak begitu lemah dan kasihan. Hey, hidup saya sudah kurang kasihan apa lagi saat itu—saya tidak akan membiarkan siapa pun semakin kasihan, mendekati saya karena kasihan, atau bahkan mencintai saya karena kasihan. Saya sudah cukup menghasihani diri saya sendiri, dan saya tidak membutuhkan perasaan itu datang dari manusia lain. Harga diri dan gengsi saya yang begitu tinggi, membuat saya lebih suka diam dan bersabar.

Saya berusaha memberi diri saya sendiri waktu untuk sembuh, dibanding saya harus meluap-luapkan perasaan saya tak keruan di social media, atau bahkan di telinga sahabat saya sendiri. Saya masih punya Tuhan, dan saya tahu Dia sanggup menerima keluhan apa pun dari saya, setidaknya 5 waktu dalam sehari. Persoalan saya saat itu hanyalah; saya terlalu menyayanginya, dan saya hanya harus berhenti ‘terlalu’ menyayanginya. Walau kenyataannya hal itu bukanlah sekedar sebuah ‘hanya’.

Dan kecewa padanya, bukan berarti lantas saya harus menghapusnya dari hidup saya. Saya tidak se-kanak-kanakan itu. Tidak ada manusia yang dengan kesalahannya pantas untuk dihapus dari hidup seseorang. Itu namanya, lari dari kenyataan. Saya hanya harus; mengubah porsi rasa sayang saya padanya. Dari kadar ‘sangat’ menjadi kadar ‘cukup’. Dan jelas saja itu bukanlah hal yang sederhana. Hidup saya saat itu sangat melelahkan. Saya menangis dua kali lipat. Ah, banyak sekali hal yang saya tangisi saat itu. Masalah keluarga, masalah pekerjaan, masalah perasaan. And no one who cares, karena memang saya tidak mengijinkan siapa pun untuk peduli pada saya. Saya hanya terlalu marah pada diri saya sendiri.

Sangat. Amat. Marah.

Saya bahkan tertawa detik ini. Lucu sekali saya saat itu. :))
***
Saya bukanlah tipikal perempuan pembenci, tapi saya adalah perempuan yang tidak bisa lupa bila pernah dilupakan atau diabaikan oleh seseorang. Saya merasa bodoh dan sangat tolol. Saya pun merasa sangat bersalah pada ibu saya. Karena saat itu, seharusnya saya tidak perlu menyayangi siapa pun, dan membuat perhatian saya padanya terpecah belah. Padahal itu adalah detik-detik terakhir kebersamaan kami, dan itu akan menjadi penyesalan seumur hidup bagi saya. Karena setiap kali mengingatnya, saya bahkan tidak bisa memaafkan diri saya sendiri. Sampai detik ini, rasanya bahkan masih sama pedih. Saya punya begitu banyak rasa bersalah kepada ibu saya. Saya bukanlah anak perempuan yang baik untuknya.

Karena saya hanyalah perempuan yang ceroboh, tolol dan sok tegar.
Ceroboh, tolol dan sok tegar.
Itulah saya.
***

Faith. You can’t touch it or buy it or wrap it up tight, but it’s there just the same, making things turn out right. –Rufus (The Rescuers)

Tapi hey, segalanya saat ini hanyalah berlabel kemarin. Tanpa embel-embel kecewa atau sakit hati. Segalanya hanyalah kemarin dan mengingatnya tidak lagi sesakit dahulu. Saya menyadari betul bahwa segala hal yang terjadi adalah tanggung jawab saya sepenuhnya. Kalau pun ada yang harus saya salahkan, itu adalah diri saya sendiri. Kalau saya sempat merasa kesal, marah atau sakit hati, itu adalah bagian Allah untuk dapat memperhitungkannya dengan keadilan-Nya sendiri. Membalas, atau hitung menghitung bukanlah kapasitas saya.

Saya hanya tahu, segala yang terjadi pasti memberi begitu banyak pelajaran. Entah bagian yang bahagia, entah bagian yang menyakitkannya. Entah yang pergi meninggalkan, entah yang memilih berhenti menyayangi. Entah yang dilukai, entah yang tak sengaja melukai. Saya rasa, tidak ada manusia yang begitu saja sengaja melukai perasaan orang lain. Terkadang, kita melakukan hal-hal yang ada di luar kendali kita. Karena memang kita tidak bisa mengendalikan bagaimana hati seseorang akan merasa atas apa yang kita lakukan padanya. Saya mungkin sudah begitu banyak menyakiti perasaan pria lain dengan tingkah saya yang rumit dan gengsian. Saya pun mungkin sudah begitu banyak menyakiti perasaan pria lain dengan memilih diam dan pergi—tanpa berdaya meminta penjelasan padanya. Atau sekedar melontarkan pertanyaan seperti;

Kenapa kamu melakukan itu?
Kenapa kamu meninggalkan saya saat itu?
Atau kenapa kamu, harus membuat saya menyayangimu- lalu pergi?

Saya adalah perempuan yang merasa, bahwa pria seharusnya menyadari diri, bahwa mereka perlu memberi penjelasan tanpa harus membuat perempuan merengek.

Walau pun seharusnya. Segala pertanyaan itu tetap harus saya ajukan, agar saya tidak lantas mereka-reka sendiri jawabannya. Jawaban yang tentu saja belum tentu benar. Saya hanya berpikir, saya tidak lah pantas membebani mereka dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Karena apa pun jawaban yang mereka lontarkan, pada kenyataannya saya-lah yang sudah terlalu lelah untuk mendengarnya.

Mungkin bagian menyakitkan lain hanyalah ketika saya sudah berusaha mencoba menyayangi dan memahaminya di tengah keterbatasan saya saat itu, tapi saya tetap dianggap tidaklah cukup berusaha. *tersenyum kecut* memikirkan ini, selalu membuat perasaan saya muram. Seandainya saja, seandainya saja saya bisa menggambarkan seberapa hancur perasaan saya saat harus jadi seorang Fa di detik itu. Saya, saya  hanyalah tidak pernah punya kemampuan untuk menunjukkan luka saya sendiri. Saya takut Tuhan berpikir, saya tidak cukup bersyukur atas apa yang saya miliki saat itu, dan Dia pun mengambil kebahagiaan-kebahagiaan lain yang tersisa yang masih saya miliki.

Saya baik-baik saja, ini hanya luka kecil dibanding segala yang sampai saat ini masih terjadi dalam hidup saya.
Lagi pula, hidup siapa yang bisa lepas dari rasa takut kehilangan dan kecewa? Kita pasti akan pergi, atau siapa pun yang ada dalam hidup kita pun suatu hari akan pergi.
Saya hanya tahu, bahwa segala yang harus pergi hanyalah untuk memberi ruang bagi kedatangan yang lebih baik.

Tidak apa-apa. Saya saat ini sehat dan sedang bahagia dengan hidup yang saya jalani. Dengan hati-hati yang mengelilingi saya, walau pun saya belum siap untuk menyayangi seseorang, sebanyak saya menyayangi kamu dulu. :)

Terimakasih untuk kamu, suatu hari di masa lalu saya.



PS: Dear perempuan, patah hatilah dengan lebih elegan. 

6 comments:

  1. kata kata terakhirnya lagi pas banget kak.
    " walau pun saya belum siap untuk
    menyayangi seseorang, sebanyak saya menyayangi
    kamu dulu. :)"
    aku sayang dia, berusaha ada untuk dia,bahkan gak pernah merengek minta apapun ke dia. tapi sekarang dia bahkan gak pernah nyapa saya lewat sms atau apapun. dan dia pergi dengan yang lain. sedih banget kak.

    ReplyDelete
  2. Fa....sampai sekarang setelah 2th lebih pertanyaanmu yang menjadi pertanyaanku juga belum bisa keluar dari mulutku. Gak berani. :"

    ReplyDelete
  3. Hebat bisa setegar itu kaak.. Setiap orang memang harus hati- hati sama hati orang maupun hati sendiri ya kak :)

    ReplyDelete
  4. kak fa kenapa mirip sama aku ya :( tulisan kak fa membuat saya sadar bgmn harus bertindak :')

    ReplyDelete
  5. hiks.. teary..teary..
    you soo brave say...
    .
    cerita lo kurleb seperti gue say.. gue menyalahkan diri sendiri hampir 2 tahun lamanyaa.. finally gue putuskan untuk berdamai dengan hati gue sendiri.. memaafkan diri sendiri, minta maaf dan memaafkan mereka (via sms) wkt itu blom ada bbm.. meskipun mereka tidak membalas.. at least gue lega se lega2nya (plong gitu ajalho ) hehe.. dan finally gue bisa melangkah kedepan dengan mantap...

    come on girl, yang harus lo lakukan sendiri sekarang adalah mencoba melangkah untuk yang masa depan yang lbh baik..

    *big hugs

    ReplyDelete
  6. Assalamualaikum...dear fa

    Membaca semua tulisanmu membuat aku untuk beberapa saat terdiam dan kemudian cukup bisa berkata dalam hati 'semua itu benar' ^_^

    Dua hari yang lalu aku baru saja mengakhiri hubungan dengan lelaki ku. Ada sakit dan kekecewaan yang teramat sangat dalam. Terlebih ketika harus melihat lelaki kebanggaan ku bersumpah dibawah Al Qur'an sambil menangis, bersumpah untuk tidak menemui aku lagi uuntuk selamanya. Ya...hubungan kami terhalang restu orangtua.

    Aku sempat berfikir...dulu...dulu sekali, bahwa kejadian seperti ini hanya ada di sinetron, ftv atau mungkin film. Tidak pernah terbayang bahwa sekenario ini akan ada didalam hidupku, dalam nyataku.

    Ada kesedihan mendalam saat melihat lelaki kebanggaanku dengan suara bergetar dan linangan airmata harus mengucap sumpah atas nama Tuhan nya yg juga adalah Tuhan ku. Sumpah untuk mengakhiri kisah diantara kami. Detik itu aku bertanya dalam hati, masih dengan kebodohanku, aku mempertanyakan mengapa dia menangis? Lalu aku teringat satu hal...ketika seorang laki-laki menitikkan airmata untyk seorang wanita, itu adalah tanda bahwa dia benar-benar mencintai wanita itu.

    Ada senang dan sedih saat itu dan sesudahnya. Aku senang karena mengetahui bagaimana lelakiku menyayangi aku, tapi disatu sisi...aku mengetahuinya justru saat harus kehilangannya.

    Kini...aku mencoba untuk berdamai dengan diri sendiri, dan memahami bahwa everything happens for a reason, Allah SWT selalu punya rencana dan apapun itu...aku yakin adalah yg terbaik.

    Tuhanku Yang Maha Baik, tolong jaga dia disana, kabulkan doa-doanya, permudah jalan hidupnya, penuhi segala kebutuhannya. Sembuhkanlah luka hatinya, wahai Tuhan Yang Maha Penyembuh. Sungguh...aku ingin menyayanginya hingga entah...

    Beri kami kekuatan untuk berdamai dengan diri dan kenyataan ini. Dan beri kami kelapangan hati untuk menerima semua inginMu...

    Thank u fa...untuk membantuku kuat, lewat semua tulisanmu...

    ReplyDelete

Thanks for reading my post! :)