Thursday, August 15, 2013

Kedewasaan


“Tidak ada kalimat yang sempurna, seperti tidak ada keputusan yang sempurna.”

HARUKI MURAKAMI



Saat kamu tengah sendirian, maksud saya sendirian dalam arti yang sangat sepi. Hanya ada kamu dan udara di sekitarmu, hanya ada kamu dan ruang yang lapang di kepalamu, hanya ada kamu dan kenangan-kenangan yang berlari-lari kecil dengan riang di taman, hanya ada kamu dan dirimu sendiri—juga cerita benci & cinta yang belum usai. Maka kamu pun akan memutar kembali ingatanmu ke masa-masa yang sangat ingin atau mungkin sangat tidak ingin kau beri kesempatan muncul. Dan Bum! Maka mereka memelukmu begitu saja, begitu erat hingga kau bahkan dapat mendengar detak jantungmu sendiri.

Kemarin saya berkenalan dengan seorang anak kecil berusia 7 tahun yang diciptakan oleh seorang Neil Gaiman dalam bukunya The ocean at the end of the lane yang berujar; Orang dewasa tidak seharusnya menangis, aku tahu. Mereka tidak punya Ibu yang bisa menghibur mereka. Dan saya pun tersenyum kecil saat membacanya. Kalimat itu sangat jenius, sesederhana itulah mungkin memang yang ada di kepala seorang anak kecil. Lalu di lain kesempatan saat ia dimarahi sang Ayah sampai menangis ketakutan, ia pun berteriak pada Ayahnya; Apakah membuat seorang anak kecil menangis, mampu membuatmu merasa hebat?


Orang dewasa memang tidak seharusnya menangis dan orang dewasa memang tidak semestinya membuat seseorang lain menangis. Karena ia telah dewasa, ia seharusnya mampu menyimpan sedih dan amarahnya dengan bijaksana, lalu dikeluarkan untuk hal-hal yang perlu saja. Walau pun mungkin orang dewasa masih memiliki ibu dan ayah yang mampu menghibur mereka, tapi dewasa berarti sudah punya kemampuan untuk mencari cara agar tidak membuat cemas ayah dan ibu.


Banyak yang bilang menjadi dewasa itu tidak sederhana. Tapi nyatanya dewasa hanyalah soal mencoba berhenti untuk hanya berpikir tentang diri sendiri seorang saja. Mulai mencoba melihat keberadaan orang lain, tidak hanya melihat keberadaan diri sendiri saja. Dan sesungguhnya itu tidaklah serumit yang coba kita pikirkan selama ini. Karena pendewasaan adalah proses yang mungkin akan kita jalani seumur hidup kita, maka berhentilah berpikir bahwa diri kita lebih dewasa dari diri orang lain. Karena kedewasaan tidak pernah akan hadir pada diri yang selalu merasa hebat. Lebih hebat, lebih kuat, lebih segalanya hanyalah ada di pikiran anak kecil. Anak kecil selalu merasa dirinya lebih besar dan kuat dari usianya. Manusia dewasa akan mampu menjadi besar tanpa membesar-besarkan masalah. Manusia dewasa akan mampu menjadi besar tanpa hobi mengecilkan hidup orang lain.


Mungkin beberapa orang ada yang begitu beruntung seperti saya, karena pernah mengalami kehilangan dan beberapa kekecewaan besar. Pernah dibohongi dan dilukai yang tidak sederhana. Sehingga kami mampu menemukan lebih awal; bahwa hidup memang tidak diciptakan untuk mereka yang pandai mengeluh, yang hobi marah, yang dengan mudahnya meninggalkan kekecewaan dihati orang lain, dan suka menyepelekan luka yang pernah dijalani seseorang.





Tapi mereka hanyalah sedang berproses, yakinlah, tidak akan ada manusia yang hidup tanpa pernah merasa kehilangan atau disakiti. Kelak mereka pun akan memahaminya—dengan jalannya sendiri. Itu kenapa kita tidak perlu melelahkan diri kita sendiri untuk selalu mengingat kebencian dan luka yang pernah ditinggalkan orang lain. Karena apa yang telah terjadi, adalah sesuatu yang darinya kita hanya perlu berlajar dan memahami, bukan sesuatu yang mampu kita hapus atau kita anggap tidak pernah terjadi. Mengingatnya sesekali boleh, tapi jangan sampai kita membiarkan mereka memakan seluruh isi hati kita yang tidak bersalah.


Tidak ada kalimat yang sempurna, seperti tidak ada keputusan yang sempurna. Dan saya rasa, pun tak ada manusia yang mampu sempurna memaafkan dan melupakan. Tetapi, biarkan segala yang masih tersisa tinggal menjadi harta karun yang justru membuat diri kita sendiri semakin kaya. :)

5 comments:

  1. hai fa, apa kabar?
    masih ingat saya?

    kau tahu, kenapa tuhan tidak menghilangkan saja air mata pada orang dewasa?
    kupikir menangis bukan hal yang perlu ditahan selama kita menangisi hal yang memang pantas untuk ditangisi. kekhawatiran orang lain bukanlah hal yang perlu kita khawatirkan selama tangis kita memang butuh pelukan, selama air mata kita butuh jemari orang lain untuk menyekanya.

    :))

    ps: blog kamu jadi sepi tanpa komentar2 balasanmu, fa.

    ReplyDelete
  2. hey, you approve my comment to be showed? thats a progress.
    dulu, biasanya nggak ditanggapin.

    thanks.

    :))

    ReplyDelete
  3. jangan berhenti ngeblog yah kak. postinganmu bisa mengajarkan saya hal-hal yang kadang tak ku mengerti. thanks aniway:)

    ReplyDelete
  4. Suka bgt am semua puisi kakak,,banyak membuat pikirqn aku terbuka,,jgn berhentii nulis yaa kak,,thankss kak faa

    ReplyDelete
  5. Mungkin kak Fa terkadang merasa lelah dg apa yang mereka (para pembaca) sangkakan kepada kakak, bahwa kak Fa tegar, kuat. Padahal kakak hanya sedang berusaha. Iya kan? :)

    ReplyDelete

Thanks for reading my post! :)