Wednesday, August 14, 2013

Cinta adalah Tentang Penerimaan



Nanti entah kapan, kamu harus menghargai aku lebih dari benda-benda yang bisa ditempeli harga. Lebih dari mimpi-mimpi di selembar lotre.

(FA)

Terkadang aku kerap bertanya-tanya bagaimana biasanya cara yang kamu pakai saat mengingatku. Apakah ketika angin membawa terbang debu masuk ke matamu maka kamu mengingatku? Apakah ketika kamu berada di antara mengantuk dan ingin melihat acara kesukaanmu di televisi maka kamu mengingatku? Atau apakah ketika hari hujan tak berkesudahan dan kamu malas mengenakan mantelmu maka kamu mengingatku? Tentu saja mengingatku sambil kesal. Lalu aku pun tersenyum kecut setelah memikirkan kemungkinan yang terakhir. Ada begitu banyak hal di dunia ini yang sebenarnya lebih baik tidak kita pikirkan kemungkinan-kemungkinannya. Namun karena hal itu pernah menjadi penting, kamu pun tanpa sadar memikirkannya. Iya, tentu saja kamu pernah penting bagiku. Bahkan pernah amat sangat penting bagiku.

***

Ada banyak orang bilang, benci dan cinta itu hanya berbeda tipis. Saya mengamini kalimat tersebut, saya rasa batasan benci dan cinta itu hanya setipis kertas pembersih minyak untuk wajah. Tipis sekali. Tipis dan mudah sobek. Sobek dan berpindah di antara keduanya. Antara benci ke cinta. Antara cinta ke benci. Orang yang paling kita cinta, adalah seseorang yang paling kita benci. Sampai-sampai kita tidak bisa hidup tanpa membencinya, mungkin. Seseorang yang betapa pun telah membuat kita marah, tetap menjadi yang paling kita inginkan pelukannya saat kita lelah. 

At the same time i wanna hug you and i wanna wrap my hands around your neck. You’re an asshole but i love you. And you make me so mad I ask myself. Why i am still here? Where could i go? Youre the only love i ever known. But i hate you, i really hate you so much. I think it must be true love. (True Love by P!nk) 

Menyukai sesuatu yang kita sukai adalah hal mudah, semua orang bisa melakukannya. Tapi cinta, adalah soal bertahan menyukai hal-hal yang terkadang kita benci, tapi kita merasa tidak mampu hidup dengan baik tanpanya.
Seperti sebuah petikan di film End of Watch. Saat sang nenek bertanya pada cucu laki-lakinya yang hendak menikah; Apakah kamu tidak bisa hidup tanpanya? Jangan sok-sok-an menikahi perempuan yang tanpanya, kamu tetap bisa hidup dengan baik.
Karena cinta, adalah lebih dari soal rasa suka. Cinta adalah tentang penerimaan.

***

Don’t cry for a man who’s left you—the next one may fall for your smile. :)

(MAE WEST)


Mungkin kamu tak akan percaya; tapi cara yang paling saya suka saat mengingatmu adalah saat saya tersenyum. Saya sudah berjanji pada diri saya sendiri bahwa saya akan mengingatmu dengan cara yang baik. walau pun kamu pernah membuat saya begitu marah sampai-sampai saya berhenti menyapamu. Walau pun kamu pernah membuat saya begitu sedih sampai-sampai saya menangis sambil menutup wajah saya dengan bantal dan bangun keesokan pagi dengan kelopak mata yang nyaris tidak bisa terbuka karena bengkak. Walau pun kamu pernah membuat saya kecewa sampai-sampai saya berpikir; sepertinya saya tidak bisa hidup dengan pria seperti ini. Sepertinya saya akan menyelesaikan perasaan saya padanya. Dan kita pun selesai.


Tapi kamu. Saya selalu mengingatmu dengan bahagia. Itu kenapa, saya selalu bilang; bahwa kita akan selalu baik-baik saja. Kita, hanya tidak seperti dulu lagi.

Atau mungkin juga ini karena faktor usia. Usia saya sudah tidak lagi mencari hati untuk singgah. Saya ingin mencari hati untuk menetap. Maka dengan siapa pun saya berhubungan, akan ada suatu pagi di mana saya bangun dan tiba-tiba hati saya bertanya;
“Elo yakin Fa, mau hidup sama pria ini seumur hidup lo nanti? Elo sanggup? Elo mampu?” 

Dan ketika hari seperti itu datang, maka saya pun harus memilih. Apakah saya mau? Lalu selanjutnya saya akan memutuskan; apakah saya sanggup? Lalu setelahnya saya kembali memastikan; apakah saya mampu menerima segala yang terburuk yang ada pada dirinya—SEUMUR HIDUP SAYA? 

Dan ya, saya merasa tidak mampu, walau saya begitu ingin melengkapimu.

Karena akan ada banyak, mungkin kalo kamu ganteng atau cantik maka kalimatnya akan jadi: KARENA AKAN ADA BANYAK SEKALI, mereka yang mengaku menyayangimu dan sangat amat menyayangimu, tapi tidak bisa menghargaimu dengan sepantasnya.


Kamu hanya akan menjadi sesuatu yang menyenangkan hatinya untuk sementara. Mereka akan bilang selalu merindukanmu—tapi seketika bisa kehilangan rasa itu. Begitu ada hal buruk yang kamu miliki muncul di permukaan, mereka akan melenggang pergi, seolah kamu hanyalah seonggok manusia. Mereka akan lupa bagaimana mereka telah membuatmu menyayangi kembali mereka dengan baik, dan mereka menganggap kehilanganmu adalah hal yang sepele. Seperti kehilangan selembar uang, agak sedih sedikit—lalu ya mau dibilang apalagi, sudah hilang, harus cari gantinya dan pasti bisa dapat gantinya.

Dan itulah yang tak pernah saya dapatkan darimu. Keberadaan saya yang tak pernah kamu aggap cukup berharga. Cara berpikirmu yang seperti; ah, tanpa perempuan ini, gue juga bisa hidup. Ah, tanpa perempuan ini, masih banyak perempuan lain yang mau sama gue.

Tentu saja kamu bisa hidup tanpa saya, tentu saja kamu bisa mendapatkan perempuan lain yang lebih baik. Tapi ketika kamu benar menyayangi saya, perihal-perihal yang demikian seharusnya tidak perlu muncul dari kepalamu.

Saya menyayangimu. Saya pun tetap bisa mendapatkan pria yang lebih baik, tapi saya hanya ingin disayangi olehmu saja. Saya pun tentu bisa hidup walau tak ada kamu, tapi hidup yang saya inginkan adalah hidup bersamamu—bukan dengan yang lain.

Pemikiran tentang seberapa hebat kita mampu bertahan tanpa seseorang yang sedang kita sayangi seharusnya tak perlu terlintas saat kamu menyayangi seseorang dengan setulus hati. Kecuali, kamu memang merencanakan untuk pergi darinya.

Dan apakah kehilangan ini salahmu? Tentu saja tidak. Saya lah yang bertanggung jawab penuh atas kedatangan dan kehilangan yang terjadi dalam hidup saya. Seperti yang sudah-sudah.


Fa.

4 comments:

  1. benci dan cinta itu bisa muncul bersamaan, tak terpisahkan walau dg kertas.

    ReplyDelete
  2. Tapi cinta, adalah soal bertahan menyukai hal-hal yang terkadang kita benci, tapi kita merasa tidak mampu hidup dengan baik tanpanya.
    Like thissssss :*

    ReplyDelete
  3. "Pemikiran tentang seberapa hebat kita mampu bertahan tanpa seseorang yang sedang kita sayangi seharusnya tak perlu terlintas saat kamu menyayangi seseorang dengan setulus hati.."
    Suka sekali bagian ini kak :)

    ReplyDelete
  4. Setuju. Memang benar, soal kehilangan, adalah menjadi tanggung jawab diri kita sendiri. Finding someone who would accompany us for our whole life is our responsibility. No regret, anything happen later. :)

    ReplyDelete

Thanks for reading my post! :)