Monday, June 17, 2013

The Only Exception

Cause you are the only exception.
Maybe I know somewhere
Deep in my soul
That love never lasts
And we've got to find other ways
To make it alone
Or keep a straight face
And I've always lived like this
Keeping at comfortable distances
And up until now I've sworn to myself
That I'm content with loneliness
 
 
 
Saat kamu datang ke dalam hidupku dulu, aku pernah berpikir bahwa; Tuhan, mungkin saja dia orangnya. Pria yang selama ini berdiam di dalam doa-doaku. Pria yang akan mendekapku dengan penuh kesabaran, pria yang akan tetap berdiri tegak dalam kelemahan-kelemahanku. Pria yang tak pandai menuntut apa yang tak kumiliki. Pria yang akan mencintaiku bukan karena mencari yang terbaik, tapi yang bersedia menggenapinya.

Saat kamu datang ke dalam hidupku dulu, aku pernah berkata bahwa; Tuhan, aku ingin Engkau menjaganya agar tak melangkah lebih jauh dari pada langkahku. Karena terkadang aku terlalu lelah untuk berjalan. Sedang dia begitu suka pergi melangkah ke sana, dan semakin jauh ke sana.

Saat kamu datang ke dalam hidupku dulu, aku pernah bertanya bahwa; Tuhan, apabila kubuka bekas luka-luka yang dipunya hidupku dulu, apa dia akan berlari?

Tuhan, aku akan bilang padanya; bahwa bekas-bekas itu tak pernah berhasil melukai jiwaku. Mereka hanya ada di sana sebagai pengingat, bahwa aku masih manusia. Bahwa hal-hal tidak sederhana yang pernah kualami, tidak akan membuatku menjadi mampu melukainya. Karena aku telah banyak terluka, aku tidak akan mampu melukai seseorang lain—seperti seseorang lain yang pernah melukaiku dulu. Karena aku telah banyak dihianati, aku tak akan bersedia menghianati seseorang lain—seperti seseorang lain yang pernah menghianatiku dulu.

Hingga hari-hari berganti, dan tanpa mereka sempat terucap kau pun sudah pergi. 
Meninggalkanku untuk seseorang lain, yang aku tidak pernah mampu membandingkannya dengan diriku.

Kau tahu aku tidak suka membandingkan, itu kebiasaan yang sudah kuhentikan sejak lama agar aku tidak tamak pada dunia. Pun agar aku tak pandai menyimpan luka.

Kalau kau lebih menyukainya, bukan berarti aku lebih buruk.
Kalau kau lebih menyukainya, bukan berarti aku tak pantas untukmu.
Kalau kau lebih menyukainya, tentu saja kau boleh menyukainya.

Bukan aku tak pernah marah dan mengumpat. Tapi aku punya ruang lapang di sini untuk melakukan hal-hal lain yang lebih berarti. Dari sekedar membandingkan siapa yang lebih pantas untuk dicintaimu. Atau siapa yang lebih ingin menerima pelukanmu.

Aku tidak menyayangimu selama ini karena kau hebat. Aku menyayangimu, karena aku pikir kau bukan pria yang pandai merasa hebat—seperti pria-pria lain yang begitu merasa hebat karena terlahir menjadi pria. Kuat dan tak mudah menangis bukanlah pengertian pria hebat di dalam kepalaku. Pria hebat adalah pria yang berani jujur dengan perasaannya—walau pun itu berarti dia harus berani tampak lemah di hadapan perempuan. Kau tahu, jujur pada perasaan sendiri bukanlah hal sederhana yang bisa dilakukan begitu saja. Bagiku, pria hebat pun adalah yang tak pandai mengadu keluh pada keluarganya. Karena kelak, ia akan jadi penerima keluh terbaik bagi keluarganya sendiri. 

Pria hebat, adalah mereka yang memandang bahwa seberapa pun kuat perempuan yang ada di sisinya, ia adalah tetap sosok makhluk yang perlu dia lindungi. 

Aku bukan perempuan kuat, aku adalah perempuan sok kuat yang terkadang perlu ditarik keluar dari lubang persembunyiannya dengan tangan seorang pria yang tak pandai mengintimidasi kelemahan perempuan.

Ya, tentu saja kau pernah tampak hebat di mataku. Dan sampai detik ini, aku masih berdoa bahwa kau memang benar sehebat itu. Sungguh..

Cinta yang pergi, akan kembali bila memang telah disetujui langit.
Cinta yang pergi, tak akan pernah kembali bila memang telah putuskan langit.
Perempuan, tidak ditakdirkan Tuhan untuk meminta-minta kasih pada pria mana pun. Kami diciptakan bukan untuk mengejar namun menemani. Kami diturunkan ke bumi bukan untuk dihinakan namun dimuliakan.

Kalau saja kamu tahu, bahwa aku tak pernah menginginkan ini itu yang begitu sulit dipenuhi. Aku hanya perlu disayangi yang tanpa kebohongan dan kepura-puraan. Aku hanya perlu disayangi yang tanpa amarah dan kesombongan akan dunia. Aku hanya perlu sayang yang tak suka menekan dan menuntut apa yang telah menjadi kelemahanku.

Aku bisa memastikan untuk selalu ada bagimu dalam setia.

Mencintaimu, bukan karena kamu yang terbaik tapi karena kamu bersedia menggenapiku.
Dan aku tak akan pernah menjadi yang bukan diriku, bila hanya untuk dapat dicintaimu. Aku tak perlu cinta yang demikian.

1 June 2013

fa. xo.





11 comments:

  1. Kak faaa, suka banget sama semua tulisan kakak :')

    ReplyDelete
  2. omg, it's as touchy as "cinta yang baik" stay hurt-able, it's what makes you human (and inspiring writer) :) -heroegodai-

    ReplyDelete
  3. Sesuai banget sama apa yg kurasakan saat ini fa :)

    ReplyDelete
  4. Terinspirasi dr manakah ini cum?? :) cerdas kata2nya

    ReplyDelete
  5. subhanaullah...

    ReplyDelete
  6. Ajeng Shakina PutriJune 21, 2013 at 9:12 PM

    Kamu motivator aku kak faaaaaaa :)

    ReplyDelete
  7. love your post as always falafu..bikin nangis waktu baca ini..hiks..

    ReplyDelete
  8. suka bangeeeeeeet semua tulisan kak fa "gue banget" deh. jangan pernah berhenti nulis yah ka :)

    ReplyDelete
  9. Kak fa,,suka bgt sama semua tulisan kakak,,bener2 aku bgt kak,,

    ReplyDelete
  10. Kak Fa,
    mohon ijinkan memuat tulisan ini di dalam blog saya, dengan perasaan yang sama.

    ReplyDelete

Thanks for reading my post! :)