Thursday, May 16, 2013

Turn this around

Pic by Anna Aden


Saya akan selalu ada untuk mereka yang saya sayangi dan menyayangi saya kembali dengan cara yang baik. Hidup saya ke depan, akan saya lakukan sesederhana yang demikian. —fa

Saya mempelajari banyak hal akhir-akhir ini. Menyelesaikan deadline tulisan saya. Mencoba memahami hal-hal yang saya tidak inginkan tapi harus terjadi di hadapan saya. Lalu, melewati kesemuanya dengan tetap menjadi diri saya sendiri. Nyatanya, tidak ada hal yang tidak bisa dilewati. Poinnya hanyalah, kamu mau melangkah melewatinya atau tidak.

Dan saya mau.

Tidak mudah. Tapi wa syukurillah tidak banyak rengekan yang terlempar ke udara. Walau saya berkali-kali mengeluh di dalam hati. Saya juga melewati perjalanan yang menyenangkan di bulan ini. Bersandar di kaca besar bis, dan menikmati birunya langit selama berjam-jam—lalu memenuhi hari dengan sederet makanan enak di tempat yang asing, bersama wajah-wajah asing, dan dipeluk udara yang asing. Bagi orang lain mungkin itu hal yang membosankan. Tapi bagi saya, itu adalah sebuah bentuk syukur yang lain. Saya suka musim panas, ketika langit bisa biru membentang tanpa sebentuk pun awal menggumpal. Hanya bercak-bercak kapas yang terbang landai di udara.

Tuhan mengirim banyak tangan yang membantu saya terus berjalan. Dan saya menikmatinya. Hidup dan cinta berjalan dengan baik. Ada yang pergi, maka akan ada yang lebih baik sampai. Itu adalah makna dari meng-ikhlaskan. Kita boleh menangisi yang pergi, tapi tidak untuk menangis selamanya.

***

Saya adalah tipikal manusia yang mudah bosan. Baik dengan perasaan atau kesedihan. Saya sangat mampu pergi meninggalkan seseorang, karena saya bosan pada kesedihan atau kekecewaan yang dia ciptakan di hati saya. Karena saya, tidak butuh cinta yang seperti itu.

Saya pun males banget meladeni orang-orang yang terlalu serius pada hidupnya, hingga merasa paling penting sendiri untuk diperhatikan. Jadi kalau saya mengabaikanmu, itu tandanya saya sudah tidak lagi tertarik. Jadi tidak perlu merasa bersalah atau semacamnya. Jalani saja hidupmu dengan baik dan usahakan jangan melakukan hal buruk pada orang lain di sisimu—sehingga mereka tak perlu merasa seburuk saya di hari kemarin.

Intinya, hidup ya ngga usah hiperbolis. Cinta yang sewajarnya, benci yang sewajarnya, sedih yang sewajarnya, berharap yang sewajarnya. Lalu lakukan saja hal-hal baik. Maka kamu akan kembali mendaptkan yang baik. Mungkin tidak di hari ini, tapi pasti ada hari lain yang sudah Tuhan sediakan untukmu.

***

15.05.13

It knows that words aren’t needed when you take somebody’s hand. —Christopher Robin

Sejak pagi tadi, seharian saya chat dengan Hujan. Masih ingat? Salah satu follower saya di twitter yang mengidap kanker paru-paru. Saya memang berteman dengannya di LINE. Dan kebetulan beberapa hari yang lalu, saya membeli novel John Green yang berjudul The Fault in Our Stars. Saat saya mulai membacanya, saya baru tahu kalau pemeran utama wanita di buku tersebut (Hazel 16thn) mengidap kanker yang mirip dengan milik Hujan. Kanker paru-paru. Hanya saja, Hazel harus menyeret-nyeret kereta tabung oksigen kemana pun ia pergi, karena ia memerlukannya untuk bernapas. Saat saya tanya pada Hujan, dia bilang dia tidak harus menyeret-nyeret alat seperti itu, karena di paru-parunya sudah ditanam alat bantuan pernapasan. Iya, perbincangan kami beberapa hari yang lalu diawali dengan sapaan saya soal novel tersebut.
Dan tadi pagi, saya kembali menyapanya karena beberapa waktu yang lalu Hujan bilang, dia sedang suka sekali menonton dorama Jepang. Jadi tadi pagi saya memberi rekomendasi judul film yang bagus untuk dia tonton. Panjang lebar kami bicara, lalu dia bilang; wah, pasti bagus ya ceritanya. Mudah-mudahan hari ini aku udah bisa pulang ya.

Iya, ternyata dia sedang berada di rumah sakit. Kemarin mimisan ngga berhenti Kak. Jelasnya. Saya bertanya; loh kamu di rumah sakit sama siapa? Dan dia jawab sendirian. Iya, jadi Hujan ini kuliah di Malaysia dan tinggal sendirian di sana.

Sekitar sebulan yang lalu, Hujan pun juga bilang ke saya kalau dokter sudah menyerah dengan penyakitnya.

“Jadi kita udah berhenti kemo kak. Karena kemo udah ngga ada hasilnya. Sekarang tinggal nunggu ada cangkokan paru-paru untuk aku.” Dia bahkan bisa bercerita dengan santainya.

Kata Hujan, kanker paru-parunya itu sudah menyerang saraf motoriknya. Jadi dia bisa tiba-tiba kehilangan penglihatan, atau tidak bisa bicara dan berjalan. Lalu perlu waktu berjam-jam untuk menghilangkan serangan itu.

“Aku pernah harus duduk di pinggir jalan tiga jam, cuma biar bisa berdiri dan jalan lagi pulang ke rumah.” Lagi-lagi dia bercerita dengan lancarnya.

Saya jadi ingat, isi dari email pertamanya untuk saya. Isi email itu adalah alamat pengiriman kartu pos yang saya pernah janjikan akan saya kirim—tapi belum juga saya kirim.

Lalu saya kembali ingat isi emailnya yang ke dua, yaitu soal betapa dia berterima kasih atas tulisan-tulisan saya di blog, karena dia merasa tulisan tersebut telah membuat dia selalu ingat untuk bersyukur atas hidupnya.

Lalu sekarang entah kenapa saya merasa begitu kecil. Bahkan amat sangat kecil di hadapannya. Karena dia begitu bersemangat, sedang saya masih saja kerap mengutuki hidup saya sendiri.

Apa yang perlu kita contoh dari Hujan adalah soal semangatnya untuk terus kuliah dan menjalani hari-harinya. Walau tanpa orang tua di sisinya, walau tanpa ada teman dekat, walau terkadang harus tertidur sendirian di rumah sakit. Bahkan walau ia jauh dari rumahnya sendiri.

“Terus aku bisa bantu kamu apa dong dari sini?!” Protes saya.

“Ditemenin chat begini aja aku udah seneng kok Kak. ^^” Jawabnya.

Padahal apalah artinya semua omongan saya ke dia, sedang saya tahu yang dia butuhkan adalah seseorang yang setia menggenggam tangannya, pun sebuah senyum yang dapat ia temukan setiap kali harus terjaga di ruang rawat inap rumah sakit. 

Bahkan bila genggaman dan tatapan itu tak berkata sepatah kalimat pun. Tentu saja itu lebih berarti dari sejuta kecerewetan saya di LINE chat.

*sigh.. saya merasa ngga bermanfaat banget detik itu.

Yuk, mari kita sama-sama doakan untuk kesembuhan Hujan. Semoga sel kankernya bisa hilang 100% dan bisa kembali beraktifitas secara normal. Karena berhenti berharap bukanlah pilihan dalam hidup ini.

Mari kita pun berhenti merewelkan hal-hal sepele. Dan hidup dengan mindset yang lebih sederhana. Bersyukur atas hidup yang kita miliki. Dan berhenti menangisi mereka yang telah pergi sembari meninggalkan kekecewaan.

Saya akan selalu ada untuk mereka yang saya sayangi dan menyayangi saya kembali dengan cara yang baik. Hidup saya ke depan, akan saya lakukan sesederhana yang demikian.

I dont have any reason, to still loving people who treated me on a very very bad way. Sorry.

fa. XO.

3 comments:

  1. SubhanAllah ada hambaMU yang setegar itu ya Allah ... Semoga diberi yang terbaik buat hujaann ... Aaamiiinnn ....

    ReplyDelete
  2. Salut sama semangatnya Hujan, semoga diberi jalan keluar yg terbaik, amiin

    ReplyDelete
  3. Semoga Hujan selalu di berkahi Allah. AMIIN ;)

    ReplyDelete

Thanks for reading my post! :)