Thursday, May 23, 2013

Facing My Worst Enemy


Setiap kali mulai menulis biasanya saya tidak memikirkan apa pun di detik itu. Maksud saya, tidak memikirkan soal hal-hal yang sedang terjadi saat itu. Biasanya saya justru terngiang hal-hal yang telah—atau saya bayangkan kelak akan terjadi. Mungkin itu adalah salah satu dari sejuta alasan yang bisa saya sebutkan bila seseorang bertanya pada saya; Hey Fa, kenapa kamu suka menulis?

Karena menulis memberi saya kesempatan untuk mengingat atau memimpikan banyak hal dengan cara yang lebih baik.

For me, writing is like breathing with an extra lung. And as it’s seen with the extra eyes inside my heart.

Agak drama terbaca, tapi kenyataanya ya memang begitu. Saya melewati banyak masa-masa berat, sangat berat sampai rasanya saya sering merasa sesak di dada. Tapi menulis, memberi saya kesempatan untuk bernapas dengan ruang yang lain. Ruang lapang yang dipenuhi pepohonan rindang, juga bunga-bunga menjuntai dari akar-akarnya yang menggelantung. Saya menemukan ruang baru—ruang pribadi saya. Yang mampu menyimpan perasaan-perasaan saya dalam jajaran huruf-hurufnya.

Menulis pun, membuat saya seperti memiliki mata di dalam hati saya, menulis mengajarkan saya untuk dapat melihat apa yang tidak saya lihat ketika saya melihat sesuatu hanya dengan mata kepala saya. Karena saat saya menulis, saya kembali memikirkan hal-hal yang akan saya tulis. Dan biasanya, ada banyak hal yang sebelumnya luput saya ketahui, bahkan menjadi mampu saya pahami. Melihat segala hal dari sisi yang kerap diabaikan oleh penglihatan semata.

Kalau tulisan saya terbaca baik dan banyak dari kalian yang menyukainya, bahkan tergugah karenanya. Itu hanyalah bonus dari Tuhan. Apalah saya tanpa Tuhan? :)

***

Oh ya, kemarin, saya lagi-lagi saya tidur karena ketiduran. Bahkan ketiduran di tengah perbincangan saya dengan seseorang di telepon. Mungkin karena sebelumnya saya membaca buku selama berjam-jam. Mengantuk adalah efek samping dari membaca di atas kasur. Jadi saat saya bangun seperti biasanya, di pukul 3 pagi. Ada beberapa pesan yang belum sempat saya buka di ponsel saya.

Dua panggilan tak terjawab, salah satunya dari teman dekat saya. Yang juga mengirim pesan singkat. Ada beberapa pesan singkat, dua di antaranya dari sahabat saya. Yang isinya agak mengkhawatirkan.

Yang satu berisi;

Farrrrr tau ngga sih, gue sedih banget hari ini.

Yang satu lagi berisi:

Farulll tau ngga sih apa yang baru aja gue lakukan hari ini?!
:/

Salah satu dari sahabat saya bercerita kalau semenjak memakai jilbab teman dekatnya di kampus berubah sikap padanya—dan itu jelas saja membuatnya sedih. Hal sepele yang bahkan mampu mengganggu konsentrasi studi S2 nya. Ya siapa sih ya yang ngga sedih kalo dijauhi teman dekat. Apalagi dijauhi karena alasan seperti itu. Menjauh, karena diri kita ingin menjadi lebih baik. Hahaha.. saya bilang pada teman saya, tidak ada kebaikan yang mudah dipilih dan dijalani. Kalau mudah, semua orang pasti masuk surga. Jadi, jangan melemah hanya karena hal-hal yang demikian. Saya sudah kerap bilang kan, mereka yang akhirnya pergi padahal kita sudah berusaha jadi yang terbaik, adalah mereka yang memang pantas pergi dari hidup kita.

Dan sahabat saya yang lain pun bercerita kalau, semalam saat dia akan pulang dari tempat kerja, dia dicegat managernya untuk membahas tenant. Padahal dia sudah janjian dengan temannya yang lain untuk pulang bareng, maka alhasil dia pun harus pulang sendiri dengan menumpang metromini. Malam itu Jakarta baru saja diguyur hujan deras, macet tiada terkira, dan karena teman saya capek, kelaparan, juga ditambah membawa barang berat dari kantor dia merasa mual karena harus berada selama berjam-jam di dalam metromini pengap. Teman saya pun memutuskan untuk turun dari metromini, mencoba memuntahkan rasa mualnya tapi gagal. Dan pada akhirnya, menangis dengan indahnya di pinggir jalan di samping kantor polisi. :/

ANJIS, GUE JAGO BANGET NGELUH!

Itu adalah kata penutup dari penjelasan yang dia kirim. :/

Setelah berpikir sejenak, saya pun menulis;

Jadi gue harus terharu apa gimana nih? :/

Elo harusnya kasian sama gue. Jakarta is a mistake. Sampe rumah gue masih pengen nangis. Gara-gara PMS sih kayanya.

Ahahaha, makanya udah pindah ke sinih. Balada banget ye hidup lo.

Bhahaha.. guenya aja sih yang drama. But sometimes, emang ada sih hari-hari kaya kemaren. Titik terendah.

Gue juga ada kok. Apalagi kalo lagi kangen-kangennya sama nyokap. Kita bukan robot yang ngga punya perasaan kan, kita juga bukan manusia super yang tahan banting di setiap keadaan, yang punya nyawa 7, yang ngga jadi mati tiap udah nyaris mati. :/

Ahahaha.. everybody facing their own giants. *peluk kenceng*

Blah, failed banget nih WhatsApp kaga punya emot peluk. *peeelukkk*

***

See that?

Mau tinggal di kota, mau tinggal di ujung desa macam saya. Mau kaya, mau miskin. Mau pandai, mau bodoh. Semua orang selalu punya peperangannya sendiri-sendiri. Di buku the fault in our stars, John Green bahkan menggambarkan kalau penderita kanker adalah seseorang yang sedang memerangi dirinya sendiri. Karena kanker adalah bagian dari dirinya. Karena sel kanker itu hidup di dalam dirinya, bahkan kita yang tidak punya penyakitnya pun sebenarnya punya bakal sel tersebut di dalam tubuh kita.  

Dan kanker ingin hidup. Maka, kematian bukanlah berarti kalahan dalam peperangan ini. Karena siapa pun yang menang, mereka adalah satu dari setiap bagiannya yang lain.

Sometimes it’s too bad, but it’s life.

Terkadang, hidup tidak memberimu pilihan perang seperti apa yang akan kamu hadapi. Tapi, menghadapinya bukanlah pilihan. Kita sudah seharusnya melakukannya. Agar ada yang akan terlewati. Agar ada yang selesai. Agar ada yang kita temukan. Agar kita bisa sampai pada lembar terakhir.

Agar kita bisa menutup buku.

Baik atau buruk hasil akhir ceritanya bukanlah poinnya. Tapi keberanian menghadapi setiap lembarannya akan selalu jadi bagian baik dari cerita kehidupan yang sanggup kita tulis.

Jadi, jangan pandai mengeluh. Karena mereka tidak akan membawamu kemana-mana, selain kepada kemalangan dan kemerosotan iman.

fa. xo.



5 comments:

  1. hai kak aku ada dimana2 haha.. pecinta tulisanmu :)

    ReplyDelete
  2. Fa, pertanyaan'a : apa isi pesan dari temen dekat kamu? Kok gak ditulis jg?? Hoho,,,,. #kepo!!

    ReplyDelete
  3. iya bener bgt kak, terima kasih sudah mengingatkan :)

    ReplyDelete
  4. kak fa salam kenal:D
    sekali lagi saya tersenyum setiap kali selesai membaca post :)
    same here ! saya juga suka sekali menulis kalo sedih. karena, sekalipun sama dengan kata kata, setidaknya tulisan saya bisa dihapus. tidak dengan kata kata. setidaknya hanya Tuhan dan laptop yang melihat muka jelek saya menangis. hihihii :>

    oh and soal mengeluh, saya ratunya
    jadi suatu hari,
    saya nulis gini di atas cermin
    "kamu selalu bisa memilih dengan benar, dan jangan coba untuk mengeluh"
    kak fa, semangat ! ayo berjuang sama sama ! saya juga semangat ! *nyemangatin diri sendiri* hehehehhe. terima kasih :D

    ReplyDelete

Thanks for reading my post! :)