Saturday, April 13, 2013

Society Killed The Teenager




 Dude, hidup ini pun soal ‘tanggung jawab’. Bukan hanya soal ‘sekedar hidup’ saja.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat ditegur oleh seorang perokok aktif di twitter. Padahal yang bersangkutan bahkan bukan salah satu dari follower saya. Saya biasanya akan mengabaikan hal-hal yang macam demikian, karena saya akui ada banyak sekali manusia yang lebih aneh dari saya di social media yang kerap bersikap sangat mengganggu. 

Tapi yang kali ini saya tanggapi, karena memang saya merasa tidak ada yang salah dengan apa yang saya tuliskan. Saya bahkan menulis kalimat yang tidak mengandung sara atau pornografi. Saya bahkan tidak menuliskan bahwa perokok adalah orang berengsek atau yang lain sebagainya. Maka, saya pun mencoba meladeni si ‘Beliau’ ini. 

@falafu: cowok perokok itu bukannya ngga ganteng. Cuma ngga termasuk calon ayah tampan untuk anak-anak saya aja.
Beliau: ngga pernah ngerasain jadi perokok kan? mending gausah ngasih pernyataan yang macem-macem tentang perokok.
@falafu: ngga pernah ngerasain punya bapak yang mati gara-gara jadi perokok kan? mending bersyukur dulu aja sana. :)
Beliau: rokok itu ranjau, yang sebenarnya seorang perokok juga tidak ingin terjebak di dalamnya, dan ketika sudah terjebak, sangat sulit untuk keluar.
@falafu: Nah, rokok jelas buruk dan manusia selalu punya kesempatan untuk memilih hidup dengan baik. Kenapa jadi saya yang salah karena pembenaran kamu? :)
Beliau: hidup mati urusan Allah, kalo kamu berpendapat mati karena rokok, berarti itu pendapat yang menentang Tuhan!
@falafu: kita beda pandangan. Buat saya, baik buruk hidup yang saya jalani ada di tangan saya. Walau mati sudah ditetapkan kaannya. :)
Beliau: It’s okay.
***

Baiklah, pertama dia bilang karena saya bukan perokok, saya ngga boleh komen macem-macem soal perokok padahal saya juga ngga ngerti di mana letak “macem-macem” dari twit saya di atas. Jadi logikanya dia, kalau saya bukan pembunuh, maka saya ngga boleh komen apa-apa soal pembunuh. Kalau saya bukan pemerkosa, maka saya ngga boleh komen apa-apa soal pemerkosa. Kalau saya bukan pemabuk, maka saya ngga boleh komen apa-apa soal pemabuk. Kalau saya bukan pengguna narkoba, maka saya ngga boleh komen apa-apa soal pengguna narkoba. 

Maka kesimpulannya; saya harus jadi perokok dulu, harus jadi pembunuh dulu, harus jadi pemerkosa dulu, harus jadi pemabuk dulu, harus jadi pengguna narkoba dulu. Baru saya boleh bicara. 

Baiklah..
Semoga rumput-rumput pun tetap ingin bergoyang setelah mendengar logika yang demikian……………………….kekanak-kanakkannya.

Lalu saya bilang, beliau bahkan tidak pernah punya ayah yang pernah mati gara-gara rokok, jadi saya minta beliau untuk bersyukur. Tapi ternyata beliau malah mengatakan bahwa saya penentang Tuhan. Dengan logika; hidup mati itu di tangan Tuhan, bukan di tangan rokok. 

Jadi semua yang mati itu dibunuh sama Tuhan? Atau semua perilaku dan sikap selama hidupnya itu jadi tanggung jawabnya Tuhan? Jadi lalu kemudian Tuhan akan meminta pertanggungjawaban atas diri Tuhan sendiri? Oke, saya makin pusing. Give me a break please..

Kalo begitu kita terjun saja dari atas monas, dan setelahnya mari kita bilang kalau Tuhanlah yang telah membuat kita mati demikian. Atau kita mabuk-mabukan, lalu kita balapan di jalan raya dan sebuah truk tronton pun melindas kita, dan setelahnya mari kita bilang kalau Tuhanlah yang telah membuat kita mati demikian. Atau nextime, kita suntikkan putau ke tubuh kita sampai overdosis, lalu setelahnya mari kita bilang kalau Tuhanlah yang telah membuat kita mati demikian. 

Dear, lalu apa gunanya kita hidup bila bahkan kita bisa mengatakan bahwa segala hal buruk yang terjadi di dalam hidup kita adalah tanggung jawab Tuhan? Lalu untuk apa Tuhan beri kita hati dan otak? Maka kenapa tidak Dia biarkanlah saja manusia terlahir tanpa otak seperti pohon atau plankton?

Hidup, jodoh, mati dan rejeki memang telah ditentukan oleh Tuhan. Tapi mana ada rejeki yang kita dapat bila kita tidak bekerja dan mengusahakannya, mana ada jodoh yang datang bila kita tidak mencarinya. Mana mungkin kita hidup sehat, bila kita tidak menjaga tubuh kita dengan baik.

Saya punya sahabat yang ayahnya terkena kanker pankreas karena sang ayah memilih untuk jadi seorang perokok aktif. Saya punya teman yang terkena kanker paru-paru karena dia memiliki ayah yang menjadi perokok aktif. Dia seorang perokok pasif yang akhirnya sakit karena kebiasaan buruk yang dimiliki oleh ayahnya sendiri. Dan itu fakta yang ada di depan mata saya.

Dan kebetulan, ayah saya sendiri pun seorang perokok, sejak saya lahir saya menelan asap rokok yang tidak saya hisap. Apa salah, bila saya punya harapan, bahwa di suatu ketika nanti saya bisa memberi ayah yang tidak memilih rokok untuk bantuannya bernafas bagi anak saya? Apa saya harus jadi perokok dulu, baru saya boleh berharap yang demikian? Lucunya hidup bila memang ada peraturan yang mengharuskan saya melakukan yang demikian.

Lalu ketika Beliau ini membela diri dengan mengatakan bahwa rokok adalah ranjau, yang sangat sulit untuk dilepaskan. Saya beri tahu, saya punya kakak yang menghabiskan 4 bungkus rokok setiap harinya. Lalu di suatu ketika dia terserang sakit yang membuatnya menderita, dan dia pun bisa berhenti total hingga saat ini. Apa setiap perokok perlu mengalami yang demikian juga baru bisa berhenti? Saya harap sih tidak ya..

Saya pun punya saudara yang 10 tahun menjadi pengguna putau dan shabu-shabu. Kalau bicara soal ranjau, percayalah.. nikotin itu tidak ada apa-apanya dibanding narkotika. Kamu pernah menyaksikan orang yang sakau di hadapan matamu sendiri? Saya pernah. Saya bisa pastikan kalau rasa sakit yang diakibatkan oleh sakau, bisa membuat seseorang mencuri atau bahkan membunuh hanya untuk bisa mendapatkan uang untuk membeli barang haram tersebut. Agar, rasa sakit yang menyiksanya karena obat tersebut bisa hilang. Sangat tersiksa karena harus tidak merokok? Oh come on, saya harap tidak semua pria tidak selembek itu pada masa depannya.

Karena nyatanya, saudara saya yang dulunya pecandu saja sekarang bisa sembuh total dan membesarkan anak-anaknya dengan baik. Hey, di dunia ini tidak ada hal buruk yang sulit untuk dihindari kalau memang pikiran dan hati kita hanya kita biarkan berisi dengan hal-hal baik dan positif. 

Sudah ngga jaman lah ya, mengatas namakan ‘nasib buruk’ untuk jadi pembenaran kita bersikap buruk terhadap kesehatan dan hidup kita sendiri. 

Kamu tahu apa yang kamu lakukan untuk bisa berhenti? Mencintai hidup dan tubuhmu sendiri. Kebanyakan anak muda berpikir bahwa usia mereka masih panjang, padahal kita tidak pernah tahu kapan kita mati, bukan? Seperti yang ‘beliau’ katakan tadi. Mati itu di tangan Tuhan. Walau dengan konsep yang salah kaprah. 

Seharusnya, dengan kalimat ‘mati itu di tangan Tuhan’. Kita, tidak terkecuali saya, bisa menjalani dan menjaga hidup yang Tuhan berikan ini dengan sebaik-baiknya. Bukan justru melakukan yang sebaliknya, menjadikan kalimat itu sebuah pembenaran bahwa segala yang kita lakukan terhadap hidup adalah jadi tanggung jawab Tuhan. Kuasa dan tanggung jawab itu beda ya. Tuhan memang yang punya Kuasa atas kapan kita mati, atau siapa jodoh kita, tapi kita tetaplah yang bertanggung jawab penuh atas setiap hal yang kita perbuat. 

Seperti seseorang yang tertabrak mobil ketika berjalan santai di pinggir jalan lalu meninggal. Maka akan ada seorang pengemudi yang harus bertanggungjawab atas kematiannya. Dan ketika si pengemudi ini masuk penjara, maka dia pun berarti tengah bertanggungjawab atas perbuatannya sendiri. Tuhan mungkin memang telah menakdirkan pejalan kaki itu meninggal di hari itu. Tapi baik pejalan kaki dan juga si pengemudi, memiliki tanggung jawab masing-masing atas perbuatan dan hidup yang dia miliki.

Dude, hidup ini pun soal ‘tanggung jawab’. Bukan hanya soal ‘sekedar hidup’ saja.

6 comments:

  1. dia mungkin tidak pernah merasakan gimana menderitanya ketika paru" sudah tidak bisa berfungsi dengan baik. Kalau mau mending sambil merokok sambil invest duit buat asuransi kesehatan deh
    *curahan hati perokok pasif nih hehehe*

    agak emosi ya kak ngeliat tanggepan dia hihihi
    *hujan*

    ReplyDelete
  2. sabar far, sesungguhnya setan itu amatlah nyata :p

    ReplyDelete
  3. "beliau" ngambek karena ga lolos seleksi---> "nggak termasuk calon......" :D

    ReplyDelete
  4. iya tuh kayaknya ngambek karena ga masuk seleksi calon hahaha :p
    aku ga ngeroko ya alhamdulilah #fyi aja kak hehe :D

    ReplyDelete
  5. tulisan ini punya 'sesuatu' yang kuat banget, ya kak. i do love this one :'D ohya, salam kenal kak!

    ReplyDelete
  6. aku juga pernah fa di mention sama orang yg bahkan gak jadi follower ku, gara2 aku nge twit soal rokok -_____-
    karena perokok biasanya egois.. *gak semua lho yaa
    mereka seperti menuntut hak mereka utk merokok dimana saja, dan kita yg tidak merokok meminta hak kita utk menghirup udara yg bersih..
    buat ku sih, buat apa kita memberi hak mereka merokok dimana saja. itu juga bukan hal baik.
    sedangkan utk kita hak menghirup udara yg bersih memang sudah hak nya..
    capek emang ngomong sama mereka, pola pikir nya beda..

    -laras

    ReplyDelete

Thanks for reading my post! :)