Wednesday, April 03, 2013

Mendung



“Rasanya ingin berdiam di dalam toples kerupuk yang tegak mati di sisimu. Rasanya ingin mengamatimu lebih dekat dari dasar gelas kopi itu.”— fa
29 Agustus 2011

Tidak banyak daftar nama pria yang pernah begitu saya sukai. Jari saya bahkan masih cukup untuk menghitung mereka. Saya bukan tipe perempuan yang mudah jatuh hati, pun bukan perempuan yang pandai melupakan. Walau sampai di detik di mana saya menuliskan tulisan ini, saya tidak pernah berani menyebut nama siapa pun sebagai cinta pertama saya. Tapi saya tahu persis bagaimana rasanya bersemu merah jambu ketika kamu, secara sengaja atau tak sengaja, bertatapan pandang dengan dia yang begitu menarik perhatian hatimu.

Pengagum rahasia. Menyukai seseorang diam-diam, begitu makna dari kalimat itu. Apa menurutmu mereka yang menyukai seseorang diam-diam adalah seorang pengecut? Ya, mungkin banyak yang berpikir demikian. Tapi tidak bagi saya. Saya menganggap, pengagum rahasia adalah mereka yang terlalu berani bertaruh dengan hatinya. Menyukai seseorang dalam diam bukanlah hal yang mudah. Akan ada banyak kekecewaan yang harus ditanggung seorang diri. Dan, tidak semua makhluk di dunia ini sanggup memilihnya dan berani menjalaninya.

Saya rasa, walau pun hanya sekali, setiap dari kita pasti pernah mengalaminya. Terkadang pilihan itu kita ambil karena alasan yang beraneka ragam. Tapi bagaimana pun berbeda alasan, 'rasanya' pasti nyaris sama persis. Bagaimana ketika dia yang kamu sukai diam-diam, melewati wajahmu dan jantungmu pun berdegub cepat, dan hanya dirimu sendiri yang mengetahuinya. Ah, saya rindu perasaan seperti itu. Pernah mengalaminya adalah keberuntungan. Ya, walau pun saya pun harus mengakhirinya dalam diam, itu bukan jadi persoalan.

Ada satu pria yang pernah saya kagumi diam-diam saat saya masih kuliah dulu. Bahkan sampai sekarang, kalau saya mengingat bagaimana saya bisa menyukainya saat itu, saya masih sering senyum-senyum sendiri.

Dia bukan pria yang ‘Wah’. Dia sederhana dan menawan dalam diam-nya. Secara fisik, dia pun bukan tipe pria idaman saya. Ya, kalian pasti punya pria pujaan yang kerap kalian perbincangkan dengan teman-teman hanya karena wajahnya berkilau di bawah terik matahari. Dia, dia bukan pria seperti itu. Bagaimana kalau kita panggil dia ‘Mendung’. Bukan, bukan karena dia kerap membuat mata saya basah karena hujan air mata. Tidak demikian. Saya memilih nama Mendung adalah karena dulu, setiap kali saya berpapasan dengannya, semesta seakan teduh. Ia, ia seperti keteduhan bagi hari-hari tidak sederhana saya di kampus dulu.

Mendung membuat saya sering tersenyum kecil saat menyadari bahwa kami, tanpa direncanakan tengah bediri di tepi trotoar yang sama untuk menunggu bis. Mendung membuat saya kerap menerka, apa yang kerap dia pikirkan di kepalanyanya saat ia tengah melahap semangkuk mie ayam di bangku kayu pinggir trotoar itu. Tidak, rumah kami tidak se-arah. Tapi bis kami melewati jalur yang sama sebelum akhirnya berpisah di persimpangan sebuah taman. Itu yang membuat kami, kerap bertemu diri di trotoar itu.

Entah kapan tepatnya saya mulai menyukainya. Tapi ada dua kejadian yang begitu saya ingat sampai detik ini yang entah kenapa melekat begitu kuat di kepala saya.

Pertama, adalah saat saya untuk pertama kalinya menyadari keberadaannya di sekitar kampus. Di siang yang berdebu itu, di bawah atap terpal sebuah warung tenda penjual nasi goreng. Mendung duduk di seberang meja kami. Ya, saya dan teman-teman sedang menikmati makan siang kami. Dan dia duduk sendiri di sana. Wajahnya yang bulat dan bibirnya yang mungil bersemu merah, entah karena cuaca atau sepiring kwetiaw yang pedas itu. Saya tak begitu memikirkannya. Sampai di suatu ketika, seorang peminta-minta masuk ke tenda itu dan menghampiri tempat duduknya. Mendung, sembari menyeka keringat di keningnya, mengeluarkan dompet dan mengambil selembar dua ribu rupiah baru dari dalamnya. Memberikan uang itu sembari menutupinya ke dalam kantong bekas permen yang disodorkan oleh peminta-minta itu.

Saya memperhatikannya. Uang lembaran baru itu lah yang awalnya menarik perhatian saya, selembar uang yang tampak begitu rapih. Sedang saya, saya selalu saja tidak bisa tahan melihat uang seperti itu, setiap kali memiliki lembaran uang baru, maka sekejap mereka akan tampak lecek. Karena saya sembarang memasukkannya ke dompet atau melipatnya terburu-buru sebelum akhirnya memasukkan mereka ke kantong jeans. Mendung, dia seorang pria, tapi dia mampu menjaga kerapihan lembar uang itu lebih baik dari saya. Hal yang mungkin tak akan pernah diperhatikan oleh orang lain, tapi di detik itu, mereka lah yang mampu membuat saya sedikit lebih lama memandangnya. Mendung, gerak tubuhnya yang lembut. Membuat saya berani menarik kesimpulan kalau dia adalah pria baik yang bahkan nyaris tak pernah membentak siapa pun dalam hidupnya. Dan senyumnya, sewaktu memasukkan uang itu ke dalam kantong, entah kenapa bersinar begitu saja.

“Manis sekali pria ini.” Itulah isi pikiran saya detik itu.

Kedua, berbulan-bulan setelahnya, saya kembali satu atap bersamanya. Pagi itu, dengan perut yang keroncongan saya dan seorang teman memutuskan untuk sarapan di sebuah warteg yang terletak di samping kampus. Karena model makan di sana yang prasmanan, kami berpikir akan jauh lebih kenyang makan di sana. Demikianlah isi kepala anak kuliah yang tinggal jauh dari orang tuanya.

Dan saat saya masuk ke dalamnya, hanya ada satu orang yang tengah duduk di sana. Ya, itu Mendung dengan segelas kopi hitamnya. Seperti biasa, saya pun tersenyum kecil. Saya duduk di depannya. Sesekali saya melihat matanya yang bening mengarah ke layar tv butut yang ditempel di dinding. Lalu mulai menerka apa yang tengah dia pikirkan detik itu. Pikiran saya bermain-main ke sana dan ke sini. Tubuhnya yang agak gendut, dan matanya yang sipit. Mereka bukan tipe saya, tapi bila itu kepunyaan Mendung, maka mereka entah kenapa begitu ingin saya miliki. Apa cinta selalu begini? Mengaburkan segala yang tidak pas di matamu, menjadi seakan lengkap begitu saja? Ajaib.

Tapi bukan itu yang membuat kejadian ini jadi istimewa. Mereka jadi istimewa ketika saya melihat Mendung bangkit dari kursinya, menghampiri ibu penjaga warteg dan membayar segelas kopi dan dua potong tahu isi yang baru saja dia lahap. Mendung membungkuk sopan saat memberikan uang itu, lalu tersenyum lembut ke arah ibu penjaga warteg sebelum akhirnya mengucapkan terima kasih.

Sedang biasanya, pengunjung lain, termasuk saya, hanya akan bertanya tentang jumlah bill sambil tetap duduk malas di kursi dan membiarkan si ibu penjual menghampiri uang yang menjadi haknya.

“Manis sekali pria ini.” begitulah hati saya berucap kembali detik itu.

Ya, mungkin demikianlah cara seorang Fa jatuh hati. Sesederhana itu, seorang pria mampu menarik perhatian saya. Mendung, dari puluhan pria lain yang bermobil dan ber-gadget keren di kampus. Ah, mereka sama sekali tidak berarti dibandingkan Mendung.

Saya pernah menulis, kalau saya begitu takut dengan uang banyak. Saya tahu, Mendung bukan berasal dari keluarga sederhana. Dia berada. Entah apa yang membuatnya selalu memilih untuk naik bis ke kampus, saya pun tak pernah tahu. Para pria-pria itu, yang selalu menampakkan kemewahan dalam kehidupannya, mereka membuat saya takut. Bukan hanya karena saya sadar diri saya tidak se-berada mereka, tapi lebih kepada; saya takut tenggelam dalam kilau-an hidup mereka. Tak ada yang menarik bagi saya dari diri mereka. Saya pernah merasa hidup dalam uang berkecukupan, tapi jauh dari kebahagiaan. Dan saya tidak ingin hidup bersama mereka yang tengah merasakan hal yang sama. Atau kembali mengulangi hal yang sama.
***

“Aku suka, bagaimana cara kaki-kakimu melangkah. Dengan seksama aku mencintainya, lalu ingin mengikuti perjalanannya.”— fa

Kalian tahu, ada saat di mana bis yang saya tumpangi dan bis yang Mendung tumpangi bersisian di tengah kemacetan. Saya memandanginya, dari dalam jendela kaca kotor Kopaja panas yang saya tumpangi, memandangi wajah teduh Mendung yang berada di balik jendela kaca bersih bis trans kota yang nyaman.

 “Ah ya, kamu pantas sekali berada di dalamnya. Pria baik hati sepertimu, seharusnya selalu terlindungi dari bau kenalpot ini.” Begitulah isi pikiran saya detik itu, sebelum dia akhirnya menoleh dan saya memilih menunduk-kan kepala, menyembunyikan kehadiran diri saya sendiri.

Saya selalu menikmati momen beberapa menit di persimpangan di mana bis kami saling bertemu itu. Ada hari-hari di mana takdir membuat kami berada dalam ruang waktu yang sama, walau di dalam ruang bis yang berbeda.

Saya benci hujan di Jakarta, karena selalu saja membuat saya mudah kotor dan jalanan macet. Tapi bila di trotoar itu ada dia yang berdiri tegak, saya ingin hujan jatuh lebih lama lagi. Agar kemacetan menahan bis yang akan masing-masing kami tumpangi datang. Lucu ya?

Saya merasa menjadi pengagum rahasia yang paling bahagia detik itu.

Kami pun pernah berbagi kelas yang sama di matakuliah Periklanan. Ada kejadian bodoh yang terjadi ketika saya kaget dan menyadari bahwa Mendung mengambil mata kuliah yang sama. Ponsel saya berbunyi dan saya bahkan tidak bisa mematikan suara musiknya yang keras karena terlalu gugup melihat tatapannya. Hingga seluruh isi kelas termasuk dosen menatap saya yang tengah berusaha menekan semua tombol yang ada di ponsel, agar musiknya bisa mati. Dan ketika musik itu akhirnya berhenti, saya melihat senyum tipis tergaris di wajahnya.

Saya merasa menjadi pengagum rahasia yang paling tidak profesional detik itu.

Tapi anehnya, entah kenapa saya merasa bahagia.

Itu pun menjadi hari yang sepesial, karena hari itu adalah kali pertama saya membuatnya tersenyum. Bahkan tanpa harus mengenalkan diri.

Dan, kelas itu pun menjadi spesial. Karena setelah kelas itu berakhir dan semester pun berganti. Saya memutuskan untuk berhenti menjadi pengagum rahasianya. Ya, suka yang diawali dengan mudah, pun harus diakhiri dengan mudah. Jangan merusak indah kesederhanaannya dengan drama-drama yang tak diperlukan. Saya bukan bagian dari mereka yang akan bertaruh terlalu lama untuk sesuatu yang saya mulai tanpa pikir panjang. Sejarah mengajarkan saya untuk sepandai mungkin menjaga hati dari kekecewaan.

Hai Mendung, dalam sapaan yang tak pernah sempat terucap ini, saya harap kamu selalu terlindung di dalam hati yang paling teduh. :)

“Kerlip bintang telah berpulang, hamparan pendar telah memudar. Dan yang setia tinggal, hanya sepasang pandang milik kita."— Fa



Ps: ilustrasi di atas dibuat khusus oleh @IsaPanicMonsta. Semoga suatu hari kelak, buku kami benar bisa diterbitkan dan berada di tangan kalian. ^.^v

9 comments:

  1. salam kenal kak fa.
    waaah. tulisannya kak fa so sweet banget. saya juga sedang mengagumi seorang cowok kak. saya mengaguminya, diam-diam.
    saya tunggu bukunya ya kak... ^^

    btw, kak fa juga punya pengagum rahasia kayaknya. saya sempat baca blognya. mungkin yang dimaksud dalam tulisannnya itu kak fa. nih link-nya kak. http://falra.blogspot.com/2013/03/tentang-rumah-kata-kata-dan-kesalahan.html

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih sayang. sayang sekali link yg kamu kasih sudah dihapus. :)

      Delete
  2. Fa....baca tulisan kamu kali ini jadi teringat masa sekolah dulu! Hoho
    Mengagumi seseorang secara diam-diam,,,, ketika itu setiap pulang saya akan berharap turun hujan, karena ketika hujan kami akan sama-sama berteduh ditempat parkiran motor guru yang beratap. Lalu bisa mengaguminya lebih lama,,,,,haha
    It's sweet memory,,,,,,

    Btw fa,,,ditunggu buku'a!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha iya, saya juga menulisnya sambil berbahagia. semoga kamu selalu setia menanti. ;)

      Delete
  3. aha!! si Mr.Unexpression alias Tanpa Ekspresi hahahhaha
    #Asih

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahha iya si tanpa ekspresii. aigu, gue bahkan lupa pernah kasih panggilan itu ke dia. he's one of my fav man. semoga dia bertemu perempuan yang baik dan solehah deh ya! :D

      Delete
  4. It's just like me hahaha memang menyenangkan jadi pengagum rahasia kak, ada sensasinya :p , semoga bukunya terealisasi ya kak :)

    ReplyDelete
  5. Kak, cuma mau share. Dari kemarin malam saya baca catatan kakak, waw sangat suka dengan semua tulisannya kak Farah, tanpa terkecuali. Pun kalau benar ada bukunya, saya pasti akan sangat senang kak. Dan mungkin sekarang saya yang menjadi "pengagum rahasia" Kak Farah. :)))

    ReplyDelete

Thanks for reading my post! :)