Thursday, April 11, 2013

Kakak




“When life gets you down, you know what you gotta do? Just keep swimming, just keep swimming”— Dory (Finding Nemo)

***

“Jangan nangis. Air mata tuh air asin, bukan jalan keluar!” Mata bulatnya mendelik ke arahku. Bak batu, mereka menimpuk begitu saja hatiku. Dan tangisku pun terhenti.

“Tapi aku laper. Emangnya Kakak ngga laper apa?” Aku mengusap-usap sisa air mata di ujung mataku dengan punggung tangan penuh debu, yang entah sudah berapa hari tak kucuci.

“Ya laper, tapi kalo nangis malah makin laper nanti!” Bentaknya lagi.

***

“Semangat tuh harus tetep ada walau ngga ada yang nyemangatin. Ini kan hidup kamu, bukan hidup orang lain!” Mata bulatnya mendelik ke arahku. Bak batu, mereka menimpuk begitu saja hatiku. Dan keluhanku pun terhenti.

“Tapi aku capek. Emangnya Kakak ngga capek apa?” Aku mengusap-usap bulir keringat di ujung keningku dengan punggung tangan penuh debu, yang entah sudah berapa hari tak kucuci.

“Ya capek, tapi kalo ngeluh malah makin capek nanti!” Bentaknya lagi.

***

“Mereka yang tak setia, mereka pantas dibenci Tuhan. Tapi hatimu, mereka tak pantas dipakai untuk membenci orang macam itu!” Mata bulatnya mendelik ke arahku. Bak batu, mereka menimpuk begitu saja hatiku. Dan amarahku pun terhenti.

“Tapi aku benci orang tua kita yang udah buang kita di Tempat Pembuangan Sampah. Emangnya Kakak ngga benci apa?” Aku tak lagi butuh mengusap apa pun. Aku tak lagi menangis. Aku pun tak lagi merasa lelah akan hidupku. Waktu, mampu membiasakan apa pun. Begitu pun terbiasa akan penderitaan dan kemalangan. Kamu boleh membuktikannya sendiri, bila tak percaya. Seperti kamu yang pernah berkata; ‘ih kok bisa ya orang itu makan di tempat yang bau busuk begini.’ Saat melihat mereka yang tinggal di bantaran kali kotor. Dulu, mungkin mereka seperti mu, jijik, ingin muntah dan sebagainya. Tapi kenyataan yang harus mereka tatap adalah yang demikian setiap detiknya. Tak makan, maka mati. Itu adalah hukum mutlak hidup ini. Maka, mereka lebih baik menelan bau, dari pada harus tak punya rumah dan tak bisa hidup.

“Nggak. Karena membenci adalah cara mengingat-ingat yang paling sempurna. Coba saja!” Bentaknya lagi.

***

“Mungkin nggak semua perempuan cantik, tapi setiapnya mampu jadi indah dengan caranya masing-masing!” Mata bulatnya mendelik ke arahku. Bak batu, mereka menimpuk begitu saja hatiku. Dan argumentasiku pun terhenti.

“Tapi aku ngga punya sebelah kaki. Emangnya masih ada yang lihat aku cantik apa?” Aku memandang pilu rok bunga-bunga yang baru saja Kakak belikan di pasar. Roknya indah, hanya kakiku saja yang terlanjur hilang sebelah. Terlindas Metromini sewaktu mengamen di lampu merah.

“Aku! Lagi pula cinta macam apa yang tidak bisa menutupi kekurangan pasangannya!” Bentaknya lagi.

***

“Bahwa menjadi tabah memang tidak-lah mudah. Itu kenapa terkadang kita perlu perjalanan seumur hidup untuk sampai ke titik itu.” Mata bulatnya menatap lemah ke arahku. Bak batu, mereka tetap mampu menimpuk begitu saja hatiku. Dan aku tak ingin lagi apa-apa kecuali melihatnya bahagia.

“Nasha janji, tidak pernah lagi ada tapi yang kelak Nasha katakan pada Kakak.” Aku mengusap-usap rambutnya yang kasar karena selalu hanya mampu ia cuci dengan sabun mandi, yang entah sudah berapa hari tak sanggup ia lakukan lagi karena terlalu sibuk menahan sakit di perutnya.

“Jangan pernah berjanji apa-apa bila tak ingin mengecewakan siapa-siapa. Kakak pun tidak pernah berjanji padamu bukan? Kamu hanya perlu bersyukur dan kamu pun bisa membahagiakan siapa pun yang ingin kamu bahagiakan. Terutama membahagiakan dirimu sendiri, Nasha.” Tak ada lagi suara bentakan. Sakit begitu menguras tenaganya, bahkan hanya untuk berbicara. Matanya kuning, wajahnya kuning, buku-buku jarinya pun menguning.

“Kita tak punya uang untuk berobat Kak.” Air mata mengalir begitu saja di pipiku.

“Banyak orang kaya yang bisa berobat tapi tetap tidak bisa sembuh Nasha. Jangan pernah salahkan siapa-siapa bila nanti ternyata Kakak tidak bisa sembuh. Semua orang punya takdirnya masing-masing.” Aku merasakan telapak tangan Kak Jandra semakin kuat menggengamku, entah karena menahan pilu di hatinya atau di bagian organ tubuhnya yang sedang diserang sekumpulan virus berengsek itu.

“Tapi setidaknya mereka sempat berobat.” Air mata justru mengalir semakin deras. Seperti hujan yang bahkan mampu mengalahkan dua matahari sekali pun.

“Kamu baru saja bilang tadi, kalau tak lagi akan ada tapi yang kamu ucapkan pada Kakak. Kamu tidak boleh ingkar janji.  Karena mereka yang ingkar, mereka tak pantas dicintai oleh siapa pun.” Kakak tersenyum simpul dan genggamannya pun terlepas dariku.

***

“Seberapa pun berat hidupmu, kamu tetap bisa memilih jadi pribadi yang baik. seberapa pun baik hidupmu, kamu tetap bisa memilih jadi pribadi yang buruk. Menjadi pribadi yang baik atau buruk itu pilihan. Kamu yang menentukan, bukan orang lain”.— falafu



5 comments:

  1. Kak fa suka bgt ya sama nama jandra dan nasha soalnya selalu nama itu yg dipake . aku suka ini kak sukaaa :')

    ReplyDelete
  2. Aku selalu suka apa yang kak fa posting. Ga tau kenapa,selalu ada jiwanya. Tapi aku pengen tanya,kak fa suka banget ya sama nama Jandra dan Nasha? Mengingat di beberapa posting sebelimnya pun kakak memakai nama ini?

    ReplyDelete

Thanks for reading my post! :)