Saturday, April 27, 2013

Flipped



Juli and Bryce on Flipped Movie

Halaman rumah yang kotor tidak menjadi jaminan bahwa rumah itu berisi keluarga kotor yang pemalas. Tapi yang namanya manusia, belum mau repot masuk bertamu untuk tahu alasan mereka yang sebenarnya, manusia lebih suka menyimpulkan sesuai apa yang mata mereka tangkapdi mana kekeliruan kerap menetap.-Falafu

Saya suka sekali mendengarkan. Apa pun. Bunyi hujan, cerita teman, bahkan cerita seseorang yang tidak saya kenal sama sekali. Bercerita itu bukan perkara mudah. Saya tidak berbakat dalam menceritakan sesuatu secara langsung. Saya termasuk seseorang yang lebih sering bicara pada diri sendiri dari pada kepada manusia secara utuh. Mengumpat sendiri, kesal sendiri, hahaha.. bahkan terkadang saat saya bahagia, saya lebih sering membagi senyum saya pada cermin. You know, I’m not kind of  pretty girl, yang bahkan tanpa bicara pun—seseorang akan dengan senang hati bertanya bagaimana kabarnya. I’m not kind of rich girl, yang bahkan tanpa bicara pun—seseorang akan dengan senang hati mengulurkan tangannya untuk membantu. I’m just, a naive girl. Almost disaster I think.. :p I’m totally nerdy and screwy.

Keluarga saya pun punya masa lalu yang tidak sederhana. Banyak tetangga yang mungkin kerap membicarakan kami di ruang makan mereka. Bergunjing soal sesuatu yang bahkan tidak pernah mereka alami—tapi mereka pikir dapat mengerti dengan cara ‘menggunjingkannya’. And I’m totally didn’t care at all. We’re good. We love each others. We’re happy family ever after. Lagi mana ada sih keluarga yang tidak punya masalah? Di surga? We haven’t even died already.

Belum lagi, karena kulit saya yang gelap. Saya kerap diejek saat saya kecil. Terutama oleh lawan jenis. Yap.. masa-masa di mana saya tidak tahu pengertian cantik yang ‘benar’. Sebagai anak kecil lugu saya kerap mengutuk kulit saya ini. Why? Whats wrong with me? Theres something wrong with me! Its my skin! It’s dark. And it’s a rage! Mungkin mirip mereka yang china dan kerap dipandang aneh karena mata mereka yang sipit. Oh well, saya sih ngga lagi peduli. Tuhan itu hanya melihat amal dan ilmu. Bukan seperti apa bungkus fisik yang kamu bawa sejak kamu lahir. Saya lengkap tidak peduli apa pun warna kulit saya. Tidak ada manusia yang berdosa karena terlihat seperti apa bukan? Lagi pula, keluarga saya mencintai saya yang begini, kakak saya bahkan memanggil saya ‘coklat’. Bagaimana kalau saya tidak coklat lagi? Mereka bisa saja tidak mengakui saya sebagai keluarga. #mulaidrama XD

Tapi saya tetaplah bukan seseorang yang pandai bercerita dan mengeluh soal permasalahan saya, apalagi pada seseorang yang tidak saya kenal. Bagi saya, kepercayaan adalah hal yang hanya saya punya sedikit dalam hidup saya yang cukup panjang ini. Saya tidak bisa membagi-baginya begitu saja—pada seseorang yang bahkan bisa saja hanya berpura-pura baik selama ini.

Karenanya saya begitu menghargai mereka yang mau bercerita dan mempercayakan hal-hal yang mungkin tidak pernah mereka ceritakan kepada siapa pun. Persoalan-persoalan yang kadang saya bahkan tak punya sesuatu untuk dikatakan, karena saya memang tidak mengerti harus menjawab apa. Tapi inti dari mendengarkan adalah bukan soal memberi solusi. Mendengarkan adalah bagian dari menyembuhkan diri sendiri. Kamu akan belajar banyak. Memahami banyak. Tanpa bahkan kamu perlu mengalaminya. Kamu bahkan bisa lebih mengenal dirimu sendiri. Tidak mudah memang, tapi ini adalah hal yang menyenangkan bagi saya. Kamu tahu, Fa adalah seseorang yang rumit.. tapi dia selalu berusaha menemukan cara menyederhanakan porsi sesuatu, agar dia bisa bahagia berada di antara sesuatu itu.

Setiap manusia punya jalan hidupnya masing-masing, kalau ada yang menganggap hidup saya tidak cukup keren, saya tidak akan menjadi berdosa karenanya. Itu kenapa, hal-hal yang demikian tidak perlu terlalu dipermasalahkan. Nanti saat kita mati, kita hanya bertanggungjawab pada perbuatan kita masing-masing. Jadi kenapa hidup orang lain, kita biarkan mengganggu kita?

Biarlah pria tampan menikah dengan gadis cantik—kalau memang bagi mereka fisik adalah hal yang memantaskan hidup mereka. Biarlah pria kaya menikah dengan gadis kaya—kalau memang bagi mereka harta adalah hal yang membuat mereka jatuh cinta. Tapi Tuhan, tak pernah luput memberi yang terbaik bagi mereka yang telah berusaha sebaik mungkin menjaga diri dan hatinya hingga kelak dipertemukan dengan yang halal untuk dicintai.

Semakin banyak perempuan yang curhat pada saya bahwa mereka telah kehilangan kehormatan mereka dengan begitu mudahnya lalu dicampakkan, semakin saya bersyukur bahwa saya di lahirkan sebagai saya. Saya yang kolot dan punya banyak kekurangan. Saya yang tidak cantik dan sulit dicintai dengan mudah. Saya yang.. telah terlahir seperti ini. Saya yang mengalami sesuatu demi sesuatu yang.. membuat saya lebih takut kehilangan Tuhan dari pada kehilangan pria yang saya cintai. Karena ada hari-hari di mana saya tidak punya penolong dan pendengar selain Dia. Di saat itulah saya tahu kebesaran-Nya, kemurahan-Nya, kuasa-Nya. Manusia adalah hal yang.. tidak boleh kamu letakkan sejajar—apalagi lebih tinggi dari Tuhanmu. Seharusnya sih seperti itu.

Ingin bercerita tapi tak ada telinga yang bersedia mendengarkan.. hal yang demikian terasa begitu buruk. Saya tidak ingin seseorang mengalami hal yang sama. Seberapa pun saya ingin meledak.. saya akan tetap mendengarkan. Saya ini tidak punya banyak kelebihan. Tidak punya banyak teman dekat. Tidak punya harta banyak. Tapi setiap kali mendengarkan masalah atau cerita orang lain, saya merasa kaya dan lebih dari cukup.  

***

Daddy: Kenapa kamu terus mengikutinya? Kenapa kamu begitu menyukainya?

Daughter: Entahlah, ada sesuatu di matanya.. mereka bersinar begitu saja di mataku.

Daddy: Lalu bagaimana dengan dirinya?

Daughter: Maksudnya?

Daddy: Kamu tidak boleh menilai sesuatu setengah-setengah, sayang.

Daughter: Maksudnya, Yah?

Daddy: Kamu tahu sayang.. sapi hanyalah sapi. Padang rumput hanyalah rumput. Bunga hanyalah bunga. Sinar matahari yang jatuh di sela-sela pohon, hanyalah pantulan cahaya. Tapi saat kamu melihatnya bersamaan, they can be a magic. Saat kamu memutuskan untuk menyukai sesuatu atau seseorang, kamu harus melihatnya secara utuh, bukan separuh-separuh. Mata, hanyalah mata sayang. Belum tentu kalau kamu melihat semua bagian dari dirinya, dia akan tetap sama bersinarnya di matamu.

Dughter: Aku akan mengingatnya baik-baik.

*percakapan terinspirasi dari film Flipped*

Jadi, sebelum kamu memutuskan untuk menyukai atau jatuh hati pada seseorang.. pastikanlah kamu menyayanginya utuh, bukan separuh-separuh. Jangan buat cinta jadi begitu mudah terjadi. Atau mudah menghilang ditelan kekurangan yang tiba-tiba muncul ke permukaan. Ini tidak hanya untuk pasangan hidup, ini pun untuk sahabat atau teman dekat. Untuk siapa pun yang padanya kamu ingin meletakkan kepercayaan. Untuk siapa pun yang padanya kamu ingin saling mendengarkan dan memahami. Tersenyum pada matanya, bukan hanya tersenyum di hadapan cermin kamarmu.


From Flipped Movie


Saya tidak perlu mereka yang menyayangi saya separuh di sana dan separuh di sini. Saya adalah satu paket. Kuat-lemahnya. Baik-buruknya. Demikian pun; kamu.— falafu

(^v^)/

7 comments:

  1. mbak post nya ngena banget di aku, kadang banyak orang yg memilih tetap diam dan hanya mendengarkan saja. senyum kecil pun bisa menutupi hal hal dipikiran kita.
    keep it mbak, post mbak selalu bikin saya spechless :')

    ReplyDelete
  2. try to listen, not to hear..
    faa, kereen deh kamu *kasihjempol
    kata2mu sederhana, sesederhana pemikiranmu :)
    salam kenal ya..

    ReplyDelete
  3. ka fa selalu terlihat cantik, dari tutur kata yang sopan.. dan kecantikan bukan hanya dinilai dari fisik, tapi hati :)

    ReplyDelete
  4. kita punya persamaan yang sama saat kecil :D

    berharap bisa menulis dengan mengalir seperti tulisanmu ;)

    ReplyDelete
  5. honestly, fa, kupikir kemampuan berceritamu lebih baik dari yang kamu kira. lihat saja komentar-komentar followermu.

    and, thats what i'm trying to say.

    Daddy: Kenapa kamu terus mengikutinya? Kenapa kamu begitu menyukainya?"

    me: Entahlah, ada sesuatu di rumahnya. ia bersinar begitu saja di mataku.
    Daddy: Lalu bagaimana dengan dirinya?
    me: maksudnya?
    Daddy: Kamu tahu sayang.. sapi hanyalah sapi. Padang rumput hanyalah rumput. Bunga hanyalah bunga. Sinar matahari yang jatuh di sela-sela pohon, hanyalah pantulan cahaya. Tapi saat kamu melihatnya bersamaan, they can be a magic. Saat kamu memutuskan untuk menyukai sesuatu atau seseorang, kamu harus melihatnya secara utuh, bukan separuh-separuh. rumah hanyalah rumah sayang. Belum tentu kalau kamu melihat semua ruangannya, dia akan tetap sama bersinarnya di matamu.
    me: itu yang sedang berusaha saya lakukan yah, andai saja dia mengerti.

    "so, will you hear me?"
    :))

    *feel free to delete this comment again. setidaknya dengan kamu menghapus, saya tahu kamu sudah membacanya. :)*

    ReplyDelete
  6. selalu suka tulisanmu kak :)

    kita sama kak, sama suka mendengar. tapi kadang sulit bercerita karena cuma punya sedikit percaya yang bisa dibagi :)

    ReplyDelete
  7. Kakk fa, saya gak pernah bermaksud menyamakan diri dengan kak fa... Tapi saya juga seperti membaca ceria saya sendiri. Soal ketidak mampuan saya bercerita, tapi keahlian saya sebagai pendengar yang baik untuk teman-teman saya.

    Teman baik saya selalu bilang bahwa saya ahlinya teori. Saya mendengarkan banyak ceritanya, memberi nasihat baik, dan akhirnya dia mampu menyelsaikan masalah.
    Tapi, saya bahkan kesulitan untuk menemukan keberanian diri saya untuk menceritakan masalah saya. Saya kadanga hanya tidak mau, hidup orang lain saya susahkan dengan kesedihan saya. Saya mau semua bahagia..

    aaah, kak fa...
    Saya jadi tau, bahwa saya bukan sendirian yang seperti ini.. #peluk

    kk mau berkunjung ke blog saya.
    Saya jadi agak bisa bercerita kalau lewat tulisan
    http://catatanawanputih.blogspot.com

    :)

    ReplyDelete

Thanks for reading my post! :)