Saturday, March 23, 2013

Lost of memory



Bambi; “I feel so alone.
Bambi’s Mother: “I’m always with you. Even when you can’t see me, I’m here.”
(Disney Words)

Saya mulai sulit mengingat bagaimana rasanya mencium pipi mama saya. Saya sudah memejamkan mata, sudah melamun, sudah berdoa, tapi mengingatnya begitu sulit saya lakukan. Mama saya, wajahnya bahkan ketika terakhir kali tidak lagi menarik nafas, saya masih mengingatnya dengan jelas. Tapi entah karena apa saya yang begitu tolol, saya bahkan begitu sulit mengingat bagaimana rasanya mencium pipinya, bagaimana rasanya menggenggam telapak tangannya, bagaimaana rasanya menyentuh rambutnya, saya sangat kesulitan mengingatnya. Saya kalut. Saya berusaha keras menahan tangis ketika saya merasa begitu buruk dan bodoh.

Mama, beliau baru meninggal 13 Juli lalu, saya ingin mengingat bagaimana rasanya mencium pipinya sampai kelak saya mati nanti, tapi bagaimana bisa ketika bahkan satu tahun belum saya lewati, saya sudah seperti orang pikun yang tolol begini. Saya merasa sangat sangat sangat buruk. Sejak mama meninggal, saya bahkan selalu tidur dengan menggenggam telapak tangan saya sendiri, karena dulu saya selalu tidur sambil menggenggam telapak tangannya yang hangat. Bagian yang paling lucu adalah, saya melakukannya bahkan tanpa saya sadari, hingga suatu pagi saya bangun dengan tangan yang menggenggam telapak tangan saya sendiri. Hebat, bukan?

*tertawa hampa* sebenarnya bukan sedang merasa sangat buruk. Saya merasa begitu takut. Ketakutan setengah mati. Bagaimana bila nanti suatu ketika saya sama sekali tidak bisa mengingatnya? Bagaimana bila setelah saya meninggal nanti, saya bahkan tak mengenalinya bila kami bertemu kembali. Karena ada banyak sekali hal yang belum saya sampaikan padanya.

***

Menjadi satu-satunya anak yang belum menikah ketika ibumu meninggal bukanlah hal yang sederhana. Ada banyak malam saya membayangkan bahwa akan ada punggung seseorang yang bisa saya tatap ketika saya tiba-tiba merindukan mama—sehingga saya bisa menepuk punggung tersebut dan si pemilik punggung pun akan berbalik untuk memeluk saya agar saya lebih mudah tertidur.

Ada banyak pagi saya membayangkan bahwa akan ada senyum yang bisa saya tatap saat saya terjaga di pagi hari dan cuaca buruk membuat saya seketika merindukan mama. Lalu dia akan menatap tepat di kedua bola mata saya sembari mengatakan; ada aku, kita akan bahagia banyak-banyak hari ini sehingga kamu tak punya waktu untuk bersedih. Dia pun mengakhiri kalimatnya barusan dengan ciuman ringan tepat di bibir saya.

“Kalau saya sudah punya pasangan, saya bisa membagi setengah rindu menyesakkan ini padanya.” Begitulah yang hati saya ucap. Sudah berjuta-juta kali rasanya saya mengucapnya.

Saya tidak pernah membayangkan seorang pacar yang berdiri di hadapan saya (yakinlah saya memilikinya), karena saya ingin teman hidup (suami)  bukan teman bersenang-senang. Yang ironis adalah bahwa, saya bahkan belum berpikir untuk menikah. Begitulah manusia, mereka merepotkan.  

***

Entah lebih baik yang mana; orang tuamu meninggal tiba-tiba atau orangtuamu sakit dan mereka  meninggal di hadapanmu. Saya kerap memikirkan hal tersebut sebelum saya kehilangan mama. Saya menimbang-nimbang 2 kemungkinan yang sama buruk tapi tetap harus dipilih salah satu yang lebih baik dari yang buruk.

Dulu saya pilih, meninggal tiba-tiba pasti jauh lebih buruk. Karena kamu sedang tidak di sisinya lalu menerima telepon yang berisi kabar buruk, atau kamu tiba di rumah dan seketika melihat ada tenda berdiri di halalamanmu, banyak orang berkerumun dan bendera kuning terikat di pagar rumah. Kamu bahkan tak memiliki waktu untuk mengucapkan sepatah maaf barang sedetik pada mereka. Bukankah itu akan amat sangat buruk?

Tapi setelah saya mengalami menjaga mama sampai beliau tak ada. Bahkan memandikannya di pangkuan saya dan mengusapkan shampo ke rambutnya yang sudah berbulan tak bisa dikeramasi, setiap jengkal dari kenangan itu, seperti permanen menempel di kepala. Setiap kerut di wajahnya sebelum dia meninggal, saya mampu mengingatnya dengan jelas, bahkan ketika saya bahkan tak sedang ingin mengingatnya. Saya terus berpikir bagaimana penyakit itu secara kejam membuat tubuhnya seperti seseorang yang tengah menderita gizi buruk, kurus dan kecil sekali. Ditambah luka di punggungnya yang cukup besar dan membuat dagingnya berlubang karena bed rest berkepanjangan, suster harus datang setiap hari ke rumah dan menggunting daging-daging yang mati membusuk.

Jutaan detik saya lewati dengan pertanyaan; seberapa itu membuatnya merasa sakit Tuhan? Tapi kenapa Engkau bahkan membiarkannya tidak lagi mampu untuk sekedar mengeluh atau menangis? Dia hanya menatap langit-langit kamar dan membisu sepanjang hari. Nyaris satu tahun mama bahkan menelan makanan yang saya tahu pasti rasanya tak enak. Tapi apakah bahkan lidahnya masih mampu merasakan rasa? Hati saya hancur lebur. Bahkan ketika mereka telah berlalu, serpihan hati saya seperti ikut terbang dan tak dapat saya temukan lagi. Saya kehilangan separuh dari nafas hidup saya sendiri.

Apakah ada orang lain yang mengerti bagaimana rasanya? Mengharapkannya, sama seperti bermimpi terbang ke Mars. Seseorang seperti apa yang mampu mengerti luka yang saya hadapi saat itu? Bahkan banyak dari mereka yang saya kenal, masih dengan mudahnya memarahi saya, menuntut saya ini dan itu, menyepelekan, berprasangka buruk. Dan ya, saya bisa apa selain diam? Menjelaskan apa yang bahkan belum pernah mereka hadapi hanya akan membuat saya semakin terluka. Selalu begitu pada akhirnya. Entah kenapa manusia egois di muka bumi ini tumbuh dengan sangat pesat.

Tapi ya, tentu saja itu sudah lewat. Saya pun tak pernah marah pada mereka. Mereka melakukannya karena mereka tidak mengerti. Sama seperti balita yang melempar benda tajam pada orang dewasa, balita itu tidak mengerti, kalau benda tajam bisa membuat seseorang—atau bahkan diri mereka sendiri terluka. Bila orang dewasa tersebut sampai terluka, balita itu tetaplah tidak bersalah. Maka bila saya sampai terluka, maka kamu tetaplah tidak bersalah. Keren, bukan?

Yang lucu adalah ketika ada bagian dari manusia yang berpikir bahwa tersenyum ketika kamu ingin menangis adalah kegiatan pengecut. Bahwa berani mengingat masa lalu agar bisa berdiri tegar di hari depan adalah kesia-siaan. Hei, jangan suka menilai dengan pandangan hanya dari apa yang dirimu sendiri alami. Hidup ini, tak hanya apa yang ada di kepalamu. Begitu banyak manusia lain yang hidup dengan ceritanya masing-masing dan menjalaninya dengan kekuatannya sendiri-sendiri. Mereka yang berani menatap masa lalu dan memilah pelajaran darinya, adalah seseorang yang tidak patut kamu cemo’oh. Bagaimana bisa kamu melemahkannya dengan komentarmu yang se-cetek air di di lubang toilet itu?

Saya cukup puas dengan kekuatan yang saya miliki untuk bisa terus bertahan dengan tegap tanpa merendahkan sehelai pun harga diri saya. Senjata terakhir yang perempuan miliki adalah harga diri. Kehilangan harga diri akan membuat perempuan sangat amat hancur bila mereka benar-benar dikecewakan pada akhirnya. Tapi bila kita bisa bersabar dan menahan ego kita sendiri, kalah pun, kepala kita akan selalu dapat  diangkat dengan tegap.

“Apa? Kamu pernah membuatku sedih, lalu apa? Kamu pernah membuatku terluka, lalu kenapa? Kamu pernah mengecewakanku, lalu haruskah aku yang menyesal? Aku tidak pernah sekali pun merengek padamu, kan? Itu karena aku tahu, Tuhanku masih mampu menghadapiku.”

Itu bukan sombong. Itu namanya mencoba bertahan hidup. Tolong bedakan. Berpikir picik pun harus pilih-pilih situasi.
***

Sahabat saya Cici, Ayahnya meninggal saat usianya belum genap 4 tahun. Setiap saya tanya apa yang paling kamu ingat saat itu, dia bilang; Ayahku tergesa berlari ke kamar mandi dan muntah darah di toilet. Kejadian itu, entah kenapa jadi yang paling aku ingat. Aku menangis. Bukan karena aku sedih, tapi lebih seperti merasa takut. Anak kecil tahu apa selain bahagia dan takut?
Usianya kini akan menginjak 26 tahun, dan ingatan itu masih melekat kuat di kepalanya. Kalau saya tanya pada kalian, apa yang kalian ingat saat usia kalian 3 tahun lebih? Tak banyak bukan? Seperti itulah rasanya melihat seseorang yang turut menciptakan hadirmu di dunia ini sakit dan meninggal di hadapanmu. Buruk sekali.

Tentu saja Cici tumbuh menjadi seorang perempuan kuat. Tapi di hari paling buruk, seseorang yang akan paling dia rindukan adalah ayahnya, betapa pun mamanya berdiri di dekatnya, betapa pun sahabat-sahabatnya turut memeluknya. Walau tak banyak yang ia ingat. Bahkan mungkin bila tak ada foto yang dimilikinya, dia sudah lupa bagaimana rupa ayahnya.

Kamu tahu Agustinus Wibowo? Dia penulis buku tentang perjalanan, salah satu penulis favorit saya. Seorang petualang dunia yang telah melewati begitu banyak pengalaman mengagumkan. Pria yang tangguh dan cerdas. Banyak traveler yang iri dan ingin menjadi seperti dirinya. Tapi apa yang dia rasakan ketika ia pulang ke rumah dan melihat ibunya tergeletak sakit tak berdaya? Penyesalan. Dan bahkan ketika pada akhirnya sang ibu meninggal, dia sempat merasa hancur.

“Keheningan menyambung. Waktu terus memburu, setiap detik kini teramat berharga, walau aku tak tahu harus berbuat apa.”—Agustinus Wibowo (Titik Nol; hal. 9)

Agustinus bahkan tak tahu harus melakukan apa, saat ibu yang telah dia tinggalkan selama bertahun-tahun direngkuh sakit tapi masih berusaha keras tertawa di hadapannya. Tapi seberapa pun dia menyesal atau terluka, ibunya tak akan pernah kembali. Keluarga yang mati tak akan pernah bisa kembali. Tapi keluarga adalah apa yang selamanya mengalir di dalam dirimu. Seberapa pun tubuhmu hancur tapi hanya dengan sehelai rambut, hubungan darah kalian bisa terlihat jelas. Seperti itulah Tuhan memberimu penjelasan tentang arti dari sebuah keluarga dan seberapa pentingnya orangtua.

Itulah yang saya rasakan saat ini. Rasa hancur dan ketakutan setengah mati. Karena ternyata otak ini begitu kesulitan mengingat seseorang yang hidupnya mengalir di dalam diri saya. Ibu saya sendiri.

Surga ada di telapak kaki ibu, bahwa tak ada ibu waras yang akan meninggalkan anaknya, tapi akan ada banyak anak yang rela dengan senang hati berjalan jauh pergi dari ibunya sendiri. Tapi telapak itulah apa yang harus kau temukan pertama kali, setiap kali kau pergi. Tentu saja Tuhan Maha Tahu, itu kenapa dia menulis kalimat itu sebelum kita diciptakan.

Sebelum ibumu jadi sosok yang harus kau ingat-ingat, sayangilah ia—jangan pergi jauh dari pandangannya. Kita hanya punya 1 hidup, dan kita pun hanya lahir dari 1 rahim. Siapa tahu saja ingatanmu hilang di bagian itu :)

27 comments:

  1. saya jadi merasa tolol karena telah menyia-nyiakan kesempatan bersama ibu saya. padahal beliau masih hidup :'|

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayo mamahnya disayangin banyak-banyak ya mulai sekarang. ^^

      Delete
  2. saya 9 tahun ditinggal, jelas-jelas sy sudah lupa rasanya memanggil "bapak" :')
    pun rasanya duduk manis memeluknya di jok belakang motor sepulang sekolah sambil bercerita serunya bersekolah, sy benar-benar lupa :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. huaaa.. 9 tahun dari sekarang saya ngga tau deh bisa inget apa lagi. tapi se engaknya, dengan pernah menuliskannya saya bisa mengingat kembali ceritanya. :)

      Delete
    2. iya :)
      sebelum lupa, tulislah banyak-banyak, kelak bisa jadi pengingat :))

      Delete
  3. Replies
    1. komenmu tuh ya gum, huhuhu doang.. kasih masukan kek sekali2. -_-

      Delete
  4. hampir menangis..
    orang tua saya masih lengkap tetapi jarang menanyakan bagaimana kabar mereka hari ini :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. dulu saat 8 tahun tinggal jauh dr orangtua, yang paling sering menelepon bertanya kabar pun orangtua saya. hmm.. jangan sampai kaya saya loh, nanti menyesal. ;)

      Delete
  5. semoga nanti kalau saya pergi ada yang merindukan saya seperti kak fa merindukan mamanya :)

    salam hangat dari Hujan :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hei hei kamu nakal yaaa.. ngga boleh ngmong begitu, kamu kan ngga akan pergi kemana-mana dear. cause gravity still wants u. :*

      Delete
    2. hehehe, semoga yaa. Amin :)

      Delete
  6. tanggal 13 Juli 2012, aq berpikir di tanggal ini manusia yg paling sedih di dunia adl aq. Tanggal yang sama dimana aku juga menanggis sendiri. Alasannya sepele, diabaikan dia yang sangat aku sayang di hari ulang tahunnya. Sesuatu yang tidak sebanding dengan kesedihanmu Fa. Untuk apa aku habiskan air mataku untuk dia yang selalu mengabaikanku. Kehilangan seorang ibu adl hal yang sangat menakutkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. manusia itu kan paling pandai merasa paling benar, sekaligus paling pandai merasa jadi yang paling merana. tanpa diajari, mereka selalu pandai di kedua hal ini. ;)

      Delete
  7. kebiasaan dulu sewaktu mama ada, slalu cium dia kuat-kuat sampe dia meronta-rota. waktu kmaren jenazahnya aku cium kuat-kuat, baru sadar, dia udah gak meronta-ronta lagi. dan saat itu aku baru sadar aku bakalan kesepian selamanya. dan rindu kita sama kak. sama-sama rindu cium mama.

    ReplyDelete
    Replies
    1. pipinya dingin bukan? saya masih ingat rasa dinginnya. seperti baru saja dikeluarkan dr dalam kulkas. keponakan saya sampai bertanya; tan pipinya mbah uti kok dingin banget? :)
      saya ingat sekali kejadian tsb. yang semangat ya! (^^)9

      Delete
  8. apa yang terjadi fa?
    kenapa percakapan kita dihapus?
    apa perbedaan pendapat sebegitu mengganggunya buatmu? jika benar begitu, maafkan saya.
    jika bukan, tolong jelaskan alasanmu. :))

    ReplyDelete
  9. kalau jawaban 'iya' akan membuatmu mengabaikan saya, maka jawaban saya bukan. saya bukan orang itu. saya cuma orang yang nyari teman bicara dan berbagi senyum which, somehow, i found it in your 'home'. kalau dengan jawaban 'bukan' kamu tetap melakukan hal sama, *tesenyum kecut, ngangkat bahu* well, i just feel that i need to know why. lalu, terserah kamu.

    :)))

    ReplyDelete
    Replies
    1. i dont believe u. i dont believe in anonymous who keeps asking me about anything. it's my home. i dont need to explaining anything to anybody. just stop it. bukan soal perbedaan pendapat, tapi ini soal cara anda yg mengganggu saya. terima kasih, dan saya harap reply ini tidak perlu dibalas lagi.

      Delete
    2. i can't do that. you don't have to be that mad, do you?
      so, if i tell you my name, you'd belive me? please, you don't need to explain anything. just tell me, apa yang salah dari cara saya yang sampai mengganggumu, so i can fix it. bukan untukmu, tapi untuk orang lain yang berinteraksi dengan saya yang mungkin punya kejengkelan yang sama denganmu. so i can avoid to do that again to anybody else.

      i, i just, try to be friend...

      Delete
  10. waktu pertama kali baca posting-an kk yang ini tanggal 23 maret lalu
    saya berdoa banyak banyak sama Allah untuk jangan ambil mama dulu
    tapi nyatanya tanggal 1 april mama di ambil Allah,dan sampai sekarang saya merasa harus banyak banyak pula mengingat beliau,apa itu akan berguna nantinya ka?

    ReplyDelete
    Replies
    1. yg berguna utk mereka yg telah meninggal hanyalah doa. maka berdoalah setiap kali teringat atau mengingat beliau. fighting! ^^

      Delete
    2. maaf,tapi apa kk merasa kesulitan menjalani hari tanpa mama saat ini?

      Delete
    3. ngga kok. setiap kali saya sedih atau merasa sulit, saya selalu mengingatkan diri sendiri kalau sekarang mama jauh lebih bahagia, karena dia sudah tidak lagi menahan sakit yg sudah dia derita selama lebih dr 8th. Mama saya sudah sembuh, walau tidak semua sembuh berarti tetap hidup. and everything felt better :)

      Delete
    4. waw, seandainya kmarin saya bisa dengan cepat berfikir positif seperti kk mungkin sekarang saya sudah dapat merasa 'everything felt better' nya kk ya...
      Saya iri ka :( :p
      saya ingin pandai menulis sperti kk, memberikan hal positif bagi orang yang membaca tulisan tersebut

      Delete
  11. Baca tulisan ini aku nangis sejadi-jadinya. Papa baru meninggal seminggu yg lalu karena stroke. Aku paham betul rasanya melihat orang tua sakit parah, kurus, punggungnya luka karena bedrest, bagaimana penyakitnya akhirnya membawa dia pergi ke Tuhan.

    ReplyDelete

Thanks for reading my post! :)