Monday, March 04, 2013

Rumah Tanpa Cahaya



Apa-apa yang ditinggalkan kosong pasti akan rusak. Tidak terkecuali hati.—Fa


Belum lama saya membiarkan rumah kosong lebih dari 10 hari. Saya melakukan sedikit perjalanan jauh tidak terencana. Begitu pun ayah saya. Ketika kembali ke rumah dan membuka pintu depan rumah kami, kami melihat serpihan potongan langit-langit rumah ruang tamu yang berserakan di lantai. Entah apa pastinya yang membuat langit-langit ruang tamu bisa bolong sebesar diameter ember, mungkin ada tikus yang terpeleset ketika berlarian lalu jatuh beramai-ramai hingga membuat rusak yang sampai seperti demikian.

Saya tahu, kalau di atap rumah kami ada beberapa tikus iseng. Tapi kenapa mereka baru jatuh saat kami tak ada di rumah?

Tak lama kemudian saat saya sedang mencuci tumpukan baju kotor saya selama perjalanan kemarin, tiba-tiba mesin cuci mati dan sebagian listrik di rumah pun ikut tidak berfungsi. Saat ayah saya memanggil tukang listrik untuk datang memeriksa, ternyata ada sebagian kabel di atap rumah kami yang rusak karena dimakan tikus.

Saya tahu, kalau di atap rumah kami ada beberapa tikus iseng. Tapi kenapa mereka baru memakan dan merusak kabel di saat kami tidak ada di rumah?

Lalu ayah saya bilang; rumah, walau pun penuh dengan perabotan tapi tidak diisi satu pun manusia, kelak pasti akan rusak. Tak perlu menunggu 10 tahun, 10 hari saja sudah seperti ini. Itu kenapa, harus selalu ada seseorang yang pulang ke rumah, bila memang ingin rumah tersebut bisa tetap dihuni dengan baik. Itu kenapa kita tidak boleh pergi terlalu lama dan membiarkannya kosong tak berpenghuni.

Saya mencoba memahami kalimat yang ayah saya ucapkan dan lamat-lamat justru memikirkan soal hal lain. Bahwa saya merasa kalau hal yang demikian tidak hanya dapat terjadi pada sebuah rumah, tapi juga hati. bagaimana hati yang kita biarkan kosong dan tidak didiami perasaan baik atau manusia baik, pun kelak dapat rusak

Akan ada tikus-tikus perasaan buruk yang merusak dan menggerogoti kebaikan-kebaikan di dalam hati tersebut dan membuatnya tak lagi bisa disinggahi siapa pun untuk kemudian tinggal dan menetap.

Tikus-tikus perasaan buruk tersebut akan mulai dengan menggerogoti kabel-kabel kepercayaan dan lalu membuat hati itu menjadi gelap gulita karena kehilangan cahaya. Dan itu, bisa membuat siempunya hati tak dapat melangkah kemana-mana. Tak dapat pula melihat yang indah, seindah yang sebenarnya. Selalu memandang kebaikan-kebaikan tulus yang datang dengan gelap hati.

Karena itu, seberapa pun hati pernah sakit dan terluka. Jangan biarkan dia berhenti menyayangi. Setidaknya, sisakan diri sendiri untuk disayangi di dalamnya.

Setidaknya, sisakan keinginan untuk memberi kebaikan pada Tuhan, bila untuk percaya pada ketulusan milik manusia terasa masih enggan. Karena hati, adalah sebenarnya tempat berumah.

***

Saya tahu, orang baik sekarang sudah nyaris punah. Kecuali keluarga, tak ada yang benar bisa dipercaya. Dan banyak yang bahkan memiliki keluarga yang lebih pandai menyakiti dari pada menyayangi. Saya tidak pernah menutup mata pada yang demikian. Saya bahkan dulu pernah mengalaminya sendiri. Ya, hari-hari di mana saya merasa rumah adalah tempat yang ingin saya tinggalkan, bukan tinggali. Saya bahkan pernah benar-benar pergi dan memilih tinggal jauh dari rumah saya sendiri. Itu dulu sekali. Tapi saya tak pernah bisa benar lupa bagaimana rasanya.

Itu kenapa saya selalu langsung hilang rasa pada seseorang yang bahkan bisa menertawakan kemalangan yang dimiliki orang lain, menilai minus mereka yang tidak sempurna dalam menerima kasih sayang keluarganya. Tidak bisa mengerti dan memahami, bahwa di setiap kemalangan, Tuhan berdiri tegak di balik mereka, untuk memberi sebuah pelajaran yang akhirnya mereka dapat perlajari dan sekaligus menjadi contoh bagi yang lain saat hal-hal buruk itu terlewati.

Kalau rumahmu hangat. Kalau keluargamu lengkap. Kalau kasih sayang dan perhatian yang kamu dapat bahkan mampu meluberi setiap sisi dari perasaanmu. Bersyukur saja-lah. Tidak perlu repot membandingkan, tidak perlu repot menjatuhkan, tidak perlu repot menilai kepunyaan orang lain. 

Bersyukur saja, agar Tuhan tidak akan pernah mengambil nikmat itu darimu.

Karena ada beberapa bentuk kebahagiaan, yang justru bisa membuatmu menjadi gelap hati.

Karena ada beberapa bentuk keberuntungan, yang justru bisa membuatmu kehilangan cahaya di dalam rumah, di mana perasaanmu tinggal.


Ps: Akhirnya saya menulis! Setelah nyaris 2 bulan lebih tidak menulis untuk blog. Hehehe.. selama ini saya hanya posting tulisan dan cerpen lama saya yang tersimpan di dalam laptop dan merasa berdosa karena telah begitu malas. 

10 comments:

  1. happy to see this post :)
    semoga kak fa sehat selalu

    -hujan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. huaaa long time no see, happy to see your comment dear. stay healthy okay :*

      Delete
  2. baru pertama kali maen kesini :)
    saya suka tulisan-tulisannya, jujur . sgt2 manis :) ini postingan ke 4 yg sy bc dlm 10 menit td..
    slm kenal y :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal unni, terima kasih sudah mampir :)

      Delete
  3. iya kak jangan malas menulis dong :) suka sama tulisan kakak. selalu bisa membuat saya melihat dari sisi yang berbeda, nice :)

    ReplyDelete
  4. kak fa selalu menyuguhkan kisah yang didalamnya masih mengandung kisah :") awesome!

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe.. bisa aja kamu. trims ya sudah selalu rajin mampir. :)

      Delete
  5. Replies
    1. miss u mom. miss my kenzie too. we are separate by the distance ya day by day. and i dont know why. :)

      Delete

Thanks for reading my post! :)