Wednesday, February 27, 2013

Pernah Ada



Pernahkah kamu berpikir, mungkin saja aku sudah mencintaimu mulai dari kemarin dan kemarinnya lagi dan kamu tak menyadarinya?— falafu

Kami bersahabat baik, berteman begitu dekat. Hingga kami tak lagi tahu, seberapa jauh jarak yang telah kami tempuh dalam perasaan kami masing-masing. Dia membantuku meniup lilin ulang tahun sejak bilanganku masih lima. Hingga kini, aku membantunya meniup lilin ulang tahun saat bilangannya menginjak dua puluh lima.

Aku punya kekasih pun dia telah memiliki seorang calon istri. Dua bulan yang lalu dia melamar perempuan itu. Dan tepat dua bulan yang lalu aku menangis semalaman di kamarku. Entah apa yang menjadi alasanku bersedih. Aku pun benar mencintai kekasihku. Namanya Laundra, dia seorang Dokter dan aku seorang Arsitek taman. Kami bahagia, berlibur di setiap akhir pekan seberapa pun sibuknya kami. Kami pun selalu menikmati setiap ciuman kami di setiap senja yang kami temui. Merekatkan pelukan manja di setiap perpisahan ruang waktu yang akan kami hadapi.

Perempuan itu bernama Gendhis. Matanya sipit dan wajahnya oriental sempurna. Tubuhnya tinggi semampai dan kulitnya sehalus sutra. Jandra bilang, dia suka perempuan sipit. Sedang aku, kalau pun bisa sipit ya cuma ketika aku tertidur. Mengantuk pun, mataku masih tampak bulat sempurna. Gendhis seorang guru musik di sebuah SMA terkenal di kota ini. Dia pandai bermain biola dan bass. Sedang aku, satu kunci gitar pun aku tak paham harus meletakkan jariku di mana. Jandra bilang, dia suka perempuan yang suka kegiatan luar ruang, panjat tebing adalah hobi Jandra dan Gendhis. Sedang aku, kalau pun mau mencoba aku phobia ketinggian. Naik eskalator saja aku masih sering keringat dingin.

Jandra dan Gendhis. Takdir memang menggariskan mereka berjodoh.

***
Kami bersahabat baik, berteman begitu dekat. Hingga kami tak lagi tahu, seberapa jauh jarak yang telah kami tempuh dalam perasaan kami masing-masing. Aku membantunya meniup lilin ulang tahun sejak bilangannya masih lima. Hingga kini, dia membantuku meniup lilin ulang tahun saat bilanganku menginjak dua puluh lima.

Dia punya kekasih sedang aku telah memiliki seorang calon istri. Dua bulan yang lalu aku melamar perempuan itu. Dan tepat dua bulan sudah aku menyesali keputusan yang kuambil ini. Entah apa yang menjadi alasanku meneyesalinya. Aku pun benar mencintai kekasihku. Namanya Gendhis, dia seorang guru musik di sebuah SMA dan aku seorang Staf Muda di Lembaga Antariksa. Kami bahagia, selalu menyempatkan diri menjalani hobi panjat tebing bersama kami setiap kali akhir minggu menyapa. Aku menikmati setiap lumat ciuman yang kuberikan di bibirnya, pun selalu enggan melepas pelukan setiap kali jarak dan waktu memaksa kami tak bersama untuk beberapa masa.

Pria itu bernama Laundra. Matanya sebiru langit dan di wajahnya tergaris ras Aria sempurna. Tubuhnya tinggi atletis dan kulitnya bersih. Nasha bilang, dia suka pria keturunan. Sedang aku, Jawa tulen dengan tubuh jauh dari atletis. Kalau pun lancar berbahasa Inggris suaraku tetap saja medhok. Setampan apa pun aku pernah dipuji, Laundra tetap saja mampu menggeserku dengan sekedipan mata. Laundra seorang Dokter muda yang bekerja di Rumah Sakit terkenal di kota ini. Dia pandai menulis dan telah menerbitkan beberapa buku. Sedang aku, menulis sebait puisi pun tak pernah mampu. Nasha bilang, dia suka pria yang pandai mengobati luka. Sedang aku, walau pun ingin membantu aku phobia darah. Jangankan mengobati luka milik Nasha, melihat darah milikku sendiri saja, aku masih sering keringat dingin.

Laundra dan Nasha. Takdir memang menggariskan mereka berjodoh.

***


“Dulu sekali, saat kita masih berusia 10 tahun, kamu pernah melamarku dengan cincin dari jerami di ladang ini.” Nasha menerawang pandangannya jauh ke angkasa.

“Ya, dan Laundra baru saja melamarmu minggu kemarin dengan cincin dari permata.” Aku tertawa lirih di ujung kalimatku, tapi Nasha bergeming dari pandangannya ke angkasa.

“Saat kamu melamarku dulu dengan cincin jerami, itu pun hari minggu seperti ini. Minggu siang yang cerah dan kamu membocengku dengan sepedamu yang baru.” Pandangan Nasha semakin jauh menerawang ke angkasa.

“Laundra begitu tampan, anak kalian nanti pasti lucu sekali.” Aku mencoba mengalihkan topik, tak begitu suka mengingat hari-hari indah saat pertemanan kami tak serumit detik ini. Saat setiap tawa adalah tawa yang sebenarnya. Bukan tawa yang menjadi tempat persembunyian sakit hatiku.

“Kamu lihat kalungku ini, yang ada di dalam tabung kecil ini adalah jerami yang sama yang pernah kamu sematkan dulu di jari manisku.” Nasha mengalihkan pandangannya dari angkasa menuju tepat ke kedua mataku, tersenyum begitu manis dengan mata yang begitu sedih— entah karena apa. Padahal dia adalah gadis paling bahagia di dunia ini, setelah dilamar seorang pria impiannya Laundra minggu lalu. Memelukku penuh semangat sembari menceritakan kejadian bagaimana Laundra berlutut memintanya menikah. Sedang si pengecut aku hanya mampu terpaku menatap kalung yang selalu menggantung di lehernya itu. Kalung yang dia pernah bilang hadiah ulang tahun dari almarhumah Ibunya. Semilir dingin getir melewati hatiku detik ini, merambat cepat ke kelopak mataku dan membuatnya panas seketika.

“Kamu bahagia dengan pernikahanmu Jandra?” Nasha tiba-tiba melempar sebuah pertanyaan yang menghunus tepat di jantungku, yang mungkin seumur hidup pun tak akan pernah mampu aku jawab untuknya.

“Ah ya, kalian pasti sangat bahagia. 2 bulan lagi anak pertama kalian lahir bukan.” Nasha melempar kembali pandangannya ke angkasa dan menjawab pertanyaan yang baru saja dia ciptakan sendiri.

“Aku akan memberi nama anak itu Nasha.” Ujarku. Aku memang sudah meniati ini dari semenjak entah kapan. Tak bisa memiliki hati sahabat yang begitu kucintai ini, setidaknya aku bisa terus memanggil namanya seumur hidupku. Ada tak ada lagi dia nantinya.

“Jangan, nanti dia lemah sepertiku. Perempuan yang bahkan tak pernah berani patah hati.” Nasha kembali menolehkan pandangnya ke arahku.

“Jangan beri nama dia Nasha.” Nasha mengulang kalimatnya lemah.

Dan aku hanya sanggup terdiam.

Hening...

“Jandra, bagaimana kalau kita kembali ke hari pertama kita bertemu, lalu mengucap selamat tinggal sebelum kita sempat saling mengenal.” Nasha bergumam, seperti ditujukan lebih pada udara.

“Kenapa?” Aku merasa heran dengan sebaris kalimat sederhananya, yang entah mengapa terdengar begitu menyakitkan untukku.

“Entahlah, tiba-tiba terpikir begitu saja. Sepertinya segalanya akan jauh lebih mudah jika bisa melakukan yang demikian. Ayo, kita pulang.” Nasha turun dari atas tumpukan jerami yang kami duduki sejak tadi. Berjalan pulang tanpa menungguku. Tanpa sempat melihat air mata yang begitu saja mengalir di pipiku detik ini karena sebaris kalimat tadi.

Cukup ada satu Jandra pengecut di atas dunia ini. Cukup ada satu cinta yang tak bisa bersama.
***

3 minggu setelah kejadian itu Nasha pun menikah dengan Laundra. Pesta pernikahan yang begitu manis dan berhasil mematahkan hatiku. Dua bulan setelahnya, entah karena apa mereka memutuskan untuk pindah ke Paris, tanah kelahiran Laundra. Nasha bahkan baru memberitahuku sehari sebelum keberangkatan mereka. Itu pun hanya melalui sambungan telepon. Aku dengar Nasha telah hamil muda saat mereka berangkat ke Paris.

Aku tahu Nasha bahagia. Dengan segala status Facebook dan foto-foto yang Laundra upload di blognya, aku terus mengamati perkembangan mereka. Walau pedih hati setiap kali melihat senyum yang tersungging di wajah Nasha. Semenjak menikah, aku lihat Nasha tidak lagi mengenakan kalung yang dia tunjukkan padaku di ladang. Padahal lebih dari 15 tahun dia sudah mengenakannya. Bahkan masih mengenakannya di hari pernikahannya dulu. Anak Nasha lahir dan bertapa terkejutnya aku ketika dia menamai anak itu dengan namaku. Padahal dulu, dia jelas-jelas melarangku memakai namanya untuk putri pertamaku bersama Gendhis.

Nasha menarik diri dari kehidupan keluarga kami. Hanya sesekali bertanya kabar melalui email. Gendhis pun sempat bertanya soal ini padaku di tahun-tahun selanjutnya.

“Kenapa Nasha tidak pernah menjawab teleponku ya, Mas?” Tanya Gendhis di suatu pagi saat kami tengah sarapan.

“Mungkin nomernya ganti.” Jawabku seadanya.

“Bukan ngga nyambung, tapi ngga diangkat.” Gendhis memperjelas situasi, yang padahal sudah jadi ganjalan di hatiku beberapa tahun belakangan ini.

“Coba kirim email saja. Mungkin dia sibuk Nduk.” Aku kembali menjawab seadanya.

“Memang dia tidak pernah meneleponmu?” Ya, tentu saja Gendhis bukan tipe perempuan yang akan puas dengan jawaban seadanya. Berbeda dengan Nasha yang simple, Gendhis selalu saja mempersoalkan hal-hal printil macam begini. Dan entah dimulai sejak kapan aku jadi suka membandingkan mereka berdua.

“Tidak. Aku berangkat dulu ya. Nanti Nasha biar Mas yang jemput dari tempat les. Hari ini agak longgar di kantor.” Aku memilih menghentikan pembicaraan dan Gendhis pun mencium tanganku. Iya, kami akhirnya menamakan putri ke dua kami Nasha.

***

“Dulu sekali, saat kita masih berusia 10 tahun, kamu pernah melamarku dengan cincin dari jerami di ladang ini.” Aku menerawang jauh ke angkasa, segalanya seperti baru saja terjadi kemarin. Dulu, itu adalah hari yang begitu menyenangkan. Jandra begitu bahagia mendapat sepeda baru karena berhasil mendapat renking ke 1 di sekolah, memboncengku keliling desa dan bermain sesiangan di ladang ini. Waktu, entah bagaimana caranya bisa membuat kenangan indah itu jadi hal yang begitu menyakitkan kuingat detik ini.

“Ya, dan Laundra baru saja melamarmu minggu kemarin dengan cincin dari permata.” Jandra tertawa lirih di ujung kalimatnya.

Bukan, bukan jawaban seperti itu yang kuinginkan. Apa yang begitu lucu dari cincin permata yang tersemat di jari manisku detik ini. Bila nyatanya, hanya dia yang ada di hatiku. Aku tidak sanggup lagi melihatnya bahagia bersama Gendhis, bila aku akhirnya menikah dengan Laundra, itu adalah karena aku tidak ingin lagi melihat tawa mereka berdua.

“Saat kamu melamarku dulu dengan cincin jerami, itu pun hari minggu seperti ini. Minggu siang yang cerah dan kamu membocengku dengan sepedamu yang baru.” Desir pahit menyelimuti hatiku seketika saat mengatakannya. Aku mencoba semakin menengadah ke angkasa, menahan air mataku yang nyaris jatuh. Harus aku apakan perasaan ini. Harus aku kemanakan rasa cinta pada sahabatku ini?

“Laundra begitu tampan, anak kalian nanti pasti lucu sekali.” Jandra kembali mengatakan kalimat yang tidak ingin kudengar. Kulihat ujung matanya berair, itu pasti karena dia menahan kantuknya demi mendengar ceritaku yang membosankan ini. Jandra pun sedang mencoba mengalihkan topik pembicaraan kami, seperti yang sebelumnya kerap dia lakukan.

Aku tahu, dia tidak pernah mencintaiku. Atau bila pun cinta, aku tahu itu hanya cinta kepada sahabat perempuan yang dia bantu meniup lilin ulang tahun sejak usianya lima. Kenapa urusan hati ini menjadi begitu sulit. Kenapa mengakui rasa cinta ini tidak bisa semudah aku mengatakan, ‘Jandra besok saat kita menikah, aku akan mengenakan gaun pesta warna pink’ di usiaku 9 dulu.

 “Kamu lihat kalungku ini, yang ada di dalam tabung kecil ini adalah jerami yang sama yang pernah kamu sematkan dulu di jari manisku.” Usaha terakhirku dan aku pun menatap tepat ke kedua bola matanya yang hangat dengan penuh harap. Mencoba memberi senyuman manis yang lebih kutujukan pada diriku sendiri agar bisa kuat menghadapi momen ini.

Jandra sempat terpaku menatap kalung yang tergantung di leherku selama bertahun-tahun ini. Kalau saja dia tahu, seberapa perlu kencang aku merengek pada Ibu saat meminta untuk dibelikan dulu. Hanya agar aku bisa terus membawa jerami yang pernah dia sematkan di jari manisku. Seandainya dia tahu seberapa besar pertengkaranku dengan Laundra ketika dia memintaku melepaskan kalung ini karena cemburu, itulah alasan kami sempat putus dulu. Mungkin sebaiknya dia tak perlu tahu. Mungkin sebaiknya aku melepaskan kalung ini mulai besok.

 “Kamu bahagia dengan pernikahanmu Jandra?” Pikiran kalutku membuatku melepaskan pertanyaan bodoh.

“Ah ya, kalian pasti sangat bahagia. 2 bulan lagi anak pertama kalian lahir bukan?” Aku buru-buru membenahi kebodohanku barusan.

Bagai tertusuk duri ketika mengingat wajah Gendhis yang begitu oriental, yang semakin cantik saja terlihat semenjak menikah. Lalu ingatanku merambat ke bagaimana teriakan bahagia Jandra saat memelukku begitu erat ketika mengetahui berita kehamilan itu tujuh bulan yang lalu. Kalau saja dia tahu, bahwa karena perasaan ini, aku telah menolak lamaran Laundra minggu lalu. Kalau tidak karena Laundra yang kembali datang dan berlutut di hadapanku untuk memintaku mempertimbangkan kembali lamarannya, aku mungkin telah berpisah dengan Laundra detik itu. Seorang pria impian yang tak pernah sepenuhnya aku inginkan.

“Aku akan memberi nama anak itu Nasha.” Kalimat Jandra seketika memecah lamunanku. Kalau ibarat pertandingan tinju, detik ini aku sudah K.O telak oleh kata-katanya.

“Jangan, nanti dia lemah sepertiku. Perempuan yang bahkan tak pernah berani patah hati.” Aku kembali menatap Jandra hampa. Miris. Percuma saja, percuma saja usahaku sepanjang hari ini. Aku sudah berjanji pada Laundra, kalau hari ini Jandra tak juga mengucap cinta padaku, maka aku akan mencintainya di sisa usiaku. Pergi jauh dari Jandra dan memulai hidup yang baru. Kalau Jandra memang pernah mencintaiku. Dia pasti tak akan membiarkanku menikahi Laundra. Tapi, aku sendiri saja telah membiarkan Jandra menikahi Gendhis setahun yang lalu. Bahkan aku sendiri yang memasangkan dasinya hari itu. Menyebutnya tampan dan memeluknya begitu erat. Walau menangis di balik punggungnya.

 “Jangan beri nama dia Nasha.” Aku kembali mengulang kalimatku lemah. Seperti kehabisan harapan.

Hening...

 “Jandra, bagaimana kalau kita kembali ke hari pertama kita bertemu, lalu mengucap selamat tinggal sebelum kita sempat saling mengenal.” Aku berkata hampa pada udara.

“Kenapa?” Jandra menatapku penuh tanda tanya. Aku pun tak mengerti dengan jelas kenapa aku bisa melepas kalimat itu barusan. Mereka meluncur begitu saja dari pikiranku yang terasa pahit.

“Entahlah, tiba-tiba terpikir begitu saja. Sepertinya segalanya akan jauh lebih mudah jika bisa melakukan yang demikian. Ayo, kita pulang.” Aku memilih segera turun dari atas tumpukan jerami yang kami duduki sejak tadi. Berjalan pulang tanpa menunggunya lagi. Tak akan pernah menunggunya lagi.

Cukup ada satu Nasha pengecut di atas dunia ini. Cukup ada satu cinta yang tak bisa bersama.

***
20 tahun kemudian...

“Ibuku bilang, kalau cinta harus katakan cinta. Atau aku akan menyesalinya seumur hidupku, sepanjang usiaku!” Jandra memandang tegas perempuan yang ada di hadapannya.

Nasha berdiri membeku di hadapan pria yang tak pernah lelah mengejarnya ini. Entah bagaimana takdir membuat sebaris kalimat itu seperti rekaman kusut yang diputar ulang di kepalanya.

 “Aku mencintaimu Nasha, peduli apa aku soal kamu mencintaiku atau tidak. Mencintaimu ya harus bilang mencintaimu. Aku bukan pria pengecut. Aku pun tidak akan membiarkan perempuan yang kucintai menjadi pengecut atas perasaannya sendiri. Walau pun jawabanmu adalah tidak mencintaiku, setidaknya kamu pernah mengatakannya di hadapanku. Dan aku pernah benar-benar mendengarnya.” Ucap Jandra lantang kemudian.

“Ayah Ibuku bercerai saat usiaku 9. Aku tidak pernah percaya cinta setelahnya.” Mata sipit Nasha yang selalu memincing tajam ke arah Jandra tiba-tiba berubah sendu, lalu sebaris air turun menyeberangi pipi kirinya.

-end-

Adakalanya hidup hanya memberimu satu kesempatan untuk mencintai dia yang mencintaimu sepenuh hidupnya. Hanya satu kali.— falafu

10 comments:

  1. kak fa, ayo bikin novel. insyaAllah saya akan jadi pembaca setia kakak :') .

    kehidupan emang gak pernah bisa ditebak ya kak, meski sudah bersusah payah mencoba mereka-reka dan merencanakan . nice post kak Fa :')

    ReplyDelete
  2. Kak Fa ini emang jagonya mainin emosi pembaca :"

    ReplyDelete
  3. nice bgt ka :') jadi ikut larut dlm emosi didalamnya ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. trims fitria sudah menyempatkan membaca :)

      Delete
  4. aku banyak belajar nulis dari baca-baca blog ka fa :)

    ReplyDelete
  5. SubhanaAllah, keren banet tulisannya ka fa, aku selalu seneng ngebaca tulisan ka fa :') dan aku tunggu novelnya, hihi :))

    ReplyDelete

Thanks for reading my post! :)