Saturday, February 02, 2013

Hope(less)


Jadi, kalo yang masih pada inget, tahun lalu saya pernah posting cerbung berjudul NOTHING. Dulu dikasih judul NOTHING karena memang saya belum menemukan judul yang tepat hahaha.. sekarang biar enakan, saya kasih judul. JENG JENG! Judulnya HOPE(LESS) *krik krik*.

Kenapa judulnya Hope(less), karena memang tokoh utamanya yang putus asa banget hidupnya, ini adalah cerita soal keputusasaan yang melahirkan sebuah harapan baru. Okeyyyy, agak pencitraan penjelasannya. Initinya sih, saya ya lagi kepikiran kata itu aja. Manusia itu terkadang tidak menyadari betapa tipisnya batasan antara Hope dan Hopeless. Kita kadang pun lupa, bahwa di setiap situasi Hopeless, kita selalu masih memilki Hope di dalamnya. Makin membingungungkan. Kita sudahi saja penjelasan soal judul ini -_-“

Banyak yang kirim email pengen baca lanjutan ceritanya, sampe ada cowok pula yang kirim email  -_- bukan, bukan saya ngga mau posting lanjutannya, tapi sumpah saya malu banget buat posting cerita ini karena ceritanya JELEK. Gimana ya, saya itu kan memang ngga pernah bisa percaya kalau tulisan saya bagus, tiap ada yang muji bagus aja saya malah enek. Itu sebenarnya kekurangan saya, harusnya percaya diri itu harus selalu ada *tampar-tampar pipi* *pipi yang lagi baca posting ini* #lahh, tapi karena tulisan ini saya tulis waktu saya masih SMA, banyak banget mungkin adegan dan karakternya yang agak lebay mengada-ada gitu.

Beberapa waktu kebelakang saya nyoba benerin, tapi kayaknya tetep ngga bisa memuaskan diri saya sendiri. Tapi mungkin ini karena memang standar saya untuk mengatakan sebuah cerita bagus agak ketinggian. Saya harusnya sadar, saat saya SMA, ketika saya masih polos dan cantik banget #prettt, hape aja ngga punya, baca novel juga terbatas, bahkan di masa saya belum sadar kalau hidung saya ternyata mancung, ya memang sebeginilah cerita yang mampu saya tulis.

Tapi ya saya justru merindukan saat-saat itu loh, saat saya seperti kerasukan menulis. Menulis sampai ngga tidur, menulis sampai lupa makan tapi boong,  bahkan menulis sampai lupa pacaran. Yang terakhir itu bentuk kebohongan lagi. Ya pokoknya intinya, hari di mana huruf yang saya tulis bersaing banyaknya dengan napas yang saya hirup. #makinlebay

Jadi dari sebanyak kata ngga bermakna yang saya tulis di atas, inti posting ini adalah:

Buat kamu yang tertarik membaca cerita ini, kamu bisa donlot di sini ya. Cerita ini terdiri dari sekitar 200an halaman lebih. Dulu saya bilang kan cerbung ya, tapi kayaknya cerbung kepanjangan. Mau dinamain novel, tapi jelek. Pokoknya saya udah bilang kalau ceritanya jelek ya, kalau kamu merasa ceritanya bagus, ya mungkin saya yang salah menilai. Lebih baik salah menilai cerita sendiri jelek, dari pada menilai cerita sendiri bagus PADAHAL ASLINYA JELEK. Dan kalau ada yang merasa ceritanya biasa aja, ya memang saya hanyalah manusia biasa yang tidak luput dari salah dan dosa #tetepusaha.
***

Ini salah satu potongan adegan di dalam cerita, saya lagi ngga mood bikin sinopsis soalnya:

“Mulan,”

“Ya.”

“Bulannya ngikutin kita terus. Aku berasa jadi anak kecil yang duduk di kursi belakang mobil dan berpikir bahwa bulan sedang mengejar mobil kami di sepanjang perjalanan. Apa dulu pernah berpikir seperti itu?”

Mataku kembali menatap bulan, “Aku rasa hampir semua anak kecil berpikir hal yang sama.”

“Bukankah menarik jadi anak-anak. Mereka selalu mampu melihat segalanya dengan lebih sederhana. Orang dewasa seperti kita pasti akan mencari tahu apa bulan itu benar berjalan atau tidak. Tapi anak-anak, mereka selalu mempercayai 100% apa yang mereka simpulkan. Tak perlu dibuktikan. Tak perlu. Karena mereka tak pandai menyakiti diri sendiri. Mereka tak peduli pada kekecewaan yang bisa jadi mereka temui dari kesalahan mereka dalam menilai sesuatu. Tapi kalau mereka salah, lalu memang kenapa? Mereka pun akan mudah lupa bila mereka bersedih. Mereka selalu menangisi satu hal sekali saja. Tidak mau mengulang kesedihan untuk alasan yang sama. Kenapa kita perlu dewasa, kalau di masa itu, semua terasa lebih baik?” Devlin mengakhiri argumentasinya dengan sebuah pertanyaan yang entah dia tujukan pada siapa. Aku, bulan, atau Tuhan?

“Aku rasa kita perlu dewasa, untuk pada akhirnya dapat menyadari hal-hal yang kamu ucapkan tadi. Lalu mengambil pelajaran darinya.”

“Ya, aku rasa kamu benar.” Devlin merekatkan pelukan kami.

***

Anyway, HAPPY READING! Buat yang ngga keberatan, setelah selesai membaca boleh loh tulis kritiknya di kolom komentar :-)

15 comments:

  1. Kak fa, knp blngnya jellek. hihiii. jdnya yg niat baca jd kaburrr tuh. kwukk.

    tulisan kak fa selama ini nyejukkin kok. :-)

    ainy

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang tidak disarankan untuk mendownload, demi kesehatan jiwa dan raga :O

      Delete
  2. Assalamualaikum kak fa, subhanallah bagus kak. Saya sampai jam 1.35 am bacanya sampai saya menulis coment ini hahaah *ga pntng jg diceritain.
    Itu msh ada lanjutannya kan kak fa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haiii Fitriyana, iya masih ada lanjutannya :-)
      Trims sudah membaca ya ;-)
      Masih sehat-sehat aja kan ya kamu abis baca --"

      Delete
  3. iya deh ak ngga kan blg tulisan ka fa bgs klo itu bikin ka fa enek . . meski kenyataannya bagus *upss*
    salam kenal ka :)

    by Elya

    ReplyDelete
  4. hihihi masih sehat kak insyaallah tp terkadang sy ketawa pas kihat tingkahnya si mulan:D ga sabar bwt nunggu lanjutannya, jgn kelamaan ya kak bwt kita penasaran. Katany klo bwt org penasaran dosal lho ka katanya sih hahahaha :p

    Oya kak, saya wktu itu ngirim email ke kakak tp blm dpt balesanny-_-

    ReplyDelete
  5. kak fa ceritanya bagus, saya suka. jangan lama bikin lanjutannya ya, karna saya belain begadang bacanya, penasaran sih sama mulan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Trims ya Mia sudah menyempatkan membaca, sampai begadang segala hehehe..
      I cant promise u when, tapi akan berusaha menulis endingnya ;-)

      Delete
  6. yaampun :|
    ini udah halaman ke tujuh dan sampai ke seratus dua puluh bahkan selanjutnya dan halaman berikutnya saya masih terus menangis


    nggak pas banget emang kalo dibaca saat mood ngedrop ya kak
    pehlis kak...
    ini emang jelek kak, kalo ga diabisin ceritanya :')
    hehhehe :p

    ReplyDelete
  7. GILAAA!!! kalau cerbung kepanjangan ini adalah narkoba saya pasti sudah mati overdosis.
    Gak tau kapan bakalan bosen untuk baca,nangis,sembab,begadang dan begitu lagi seterusnya hehehe...
    dan saya fix kecanduan dengan semua tulisan kamu..hahahaa..

    well,salam dari medan :) , dan...
    selamat menapaki hidup selamat menikmati langit biru selamat melanjutkan ending perjalanan mulan(i really waiting 4 this)... X))

    -Silvi-

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha wah happy sekali membaca komentarmu Silvi. saya selalu bahagia kalau ada pembaca yg menantikan kabar dr tokoh yg ada di dalam tulisan saya. seolah mereka benar ada dan hidup. ^^
      terima kasih atas waktu yg telah disempatkan untuk membaca. GBU. ;)

      Delete
  8. ka... ditunggu kelanjutannya ya.. ceritanya bagus sekali :)

    ReplyDelete
  9. ka ceritanya bagus dan berhasil bkin terbawa suasana :) ditunggu kelanjutannya yaa :))

    ReplyDelete

Thanks for reading my post! :)