Friday, January 18, 2013

The problem


The problem is not the problem. The problem is your attitude about the problem.
—Jack Sparrow

Her:

Hallo kak,

Ngga tau kenapa saya jadi pengen nulis email ke kakak. I really adore ur blog, saya ngebacanya sehari sekali, even kakak tidak meng-update apapun ngebaca blog kakak seperti memberi harapan untuk saya.

Tahun 2011 saya divonis menderita kanker, sudah setahun ngejalanin pengobatan, yang mengetahui tentang penyakit saya cuma ayah saya saja. Kami tidak memberi tahu ibu karena alasan kesehatan beliau.

Ngerasa sendiri dan frustasi karena pengobatan biasanya terobati kalau membaca tulisan kakak, tulisan kakak tentang rasa syukur tentang hal-hal kecil yang ada di skeliling kita. Saya ingin mengucapkan terima kasih banyak. Terlalu banyak terima kasih yang saya harus sampaikan sebenarnya :”)

Keep inspiring ya kak :)

Regards

Me:

Huaaa yang semangat ya sayang. Speechless denger tulisanku bisa ngasih semangat untuk kamu yang tengah sakit. Kalau boleh tahu kamu mengidap kanker apa? Semoga pengobatannya memberi hasil baik untuk kesehatanmu ya.

Hidup itu memang ngga pernah mudah sayang, ada banyak alasan untuk bisa menyerah. Aku pun selama ini sendirian menghadapi apa pun, mama pun sudah ngga punya sekarang. Walau mungkin perjuanganku ngga sebanding sama kamu, ingat kalo ngga ada manusia yang benar-benar sendiri selama masih ada Tuhan di hatinya :)

Keep positive dan lakukan apa yang kamu suka yaaa ^^

Hugs

Her:

Aku kena kanker paru-paru kak, aamiin ya kak, walau pun dokternya udah mulai pesimis hihihi
Iya kak, hidup memang ngga mudah, tapi alhamdulillah Allah masih baik sama aku, dikasih sahabat yang mau ngurusin aku, walau pun sekarang akunya ngerasa ngebebanin dia :”)

Makasih banyak ya kak :”)

Xoxo
***

Itu adalah cuplikan email saya dan salah seorang follower saya di twitter. Setiap hari saya memang menerima email, dari yang isinya cerita soal galau diputusin, minta nasihat karena hamil di luar nikah, kehilangan keperawanan, sampai email seperti yang kalian baca di atas.

Mari kita beri nama si pengirim email ini Hujan, membaca bagaimana cara hujan bertutur mengingatkan saya pada diri saya sendiri. Sungguh.

Saya membaca email ini semenit setelah saya bangun tidur. Ada jeda lama sampai saya menyadari bahwa dada saya berdegub lebih cepat dari biasanya. Saya terlempar ke belasan tahun lalu ketika saya ada di dalam tubuh kecil anak yang berpikir, mungkin kalau saya sakit kanker, orang-orang di sekeliling saya tidak akan pernah meninggalkan saya sendirian, tidak akan menunda-nunda menyayangi saya, karena kamu tahu—biasanya dokter akan bilang kalimat; jadi kemungkinan kamu hidup itu hanya tinggal bla bla bla persen. Ironis ya? Hahaha.. percayalah saya pernah jadi anak tolol itu. Yah, ada kalanya hidup bahkan bisa menuntut anak kecil berpikiran se-putus-asa-itu.
Saya itu kadang cengeng sekali loh, bahkan sangat lemah. Membaca email yang berisi ucapan terima kasih karena sudah memberikan seseorang kekuatan sungguh sangat.. sangat.. entah kata apa yang bisa menggambarkan suasana hati saya saat ini.

Tulisan itu magis bukan? Tulisan bisa membesarkan apa pun, termasuk membesarkan hati orang lain. Sesungguhnya, setiap kali saya menulis, saya tengah berusaha menguatkan diri saya sendiri. Bila ternyata tulisan saya mampu memberi kekuatan bagi orang lain yang membacanya, itu hanyalah bonus.

Dan kenapa saya merasa Hujan dan saya begitu mirip? Adalah ketika dia menulis; Aku kena kanker paru-paru kak, aamiin ya kak, walau pun dokternya udah mulai pesimis hihihi.

Kamu tahu, detik itu saya tersenyum pada diri saya sendiri. Karena Hujan sedang membesarkan hatinya sendiri. Itu kenapa saya tahu, bahwa porsi Tuhan ada begitu luas di hatinya. Kamu adalah perempuan yang kuat Hujan, saya tahu itu. Karena kamu berani mencoba terlihat kuat di hadapan orang lain—termasuk di hadapan saya. Padahal mungkin kamu tengah merasa langit bisa kapan saja runtuh menghantamu. Dulu, setiap kali saya ditanya soal kesehatan ibu saya atau kabar hidup saya, 
saya selalu melakukan hal yang demikian. Misal:

Mamaku udah meninggal Rin sekarang :)

Alhamdulillah, sendirian aja ini di rumah. Bosen banget hahahaha...

Apakah itu namanya saya dan Hujan tengah berusaha menipu diri kami sendiri?

Tentu saja tidak.

Hanya saja kamu tahu, ketika hati kami sesak dan hidup tidak berjalan sesuai angan yang diimpikan. Ada kalanya kami hanya ingin bisa memberi semangat pada diri kami sendiri dengan tidak mengulang-ngulang membicarakan kesedihan dengan cara yang buruk.

Kalau kalian sedang sedih, marah, atau lelah karena sesuatu, janganlah mudah mengeluh. Karena mengeluh, mereka tak memberi apa-apa kecuali kelelahan yang berikutnya.

Saya begitu bersyukur detik ini, karena dulu saya memberanikan diri saya untuk mau mendengarkan orang lain. Kamu tahu, ini mengajarkan banyak hal. Banyak sekali hal yang mungkin tidak akan didapat mereka yang terlalu sibuk memikirkan soal hidupnya sendiri. Dan menganggap bahwa masalah orang lain isinya hanya sampah. Tentu saja saya pernah menemukan mereka yang demikian, menilai saya kurang kerjaan, menilai saya sok ikut campur dan seterusnya.
Terima kasih, karena tanpa kalian yang pernah mengecilkan saya, saya tidak akan pernah tahu kalau ternyata; bisa menjadi besar tidak datang dari keberanian mengecilkan orang lain.

Dan kalau kamu detik ini sangat sehat, bernapas dengan sangat baik dan bisa tersenyum karena benar merasa bahagia, bersyukurlah. Masa kalah sama Hujan yang sedang berjuang melawan kanker paru-paru dan berusaha sekuat upaya untuk tidak mengeluh pada hidupnya. Buka mata lebar-lebar—karena masalah itu datang pada siapa saja. Jangan merasa jadi manusia paling malang di dunia. Malu lah, malu sama kecoak di kamar mandi yang nyaris ngga lagi bisa balikin badannya kalo udah tebalik, tapi masih aja tetep usaha banget buat bisa jalan lagi, masa kamu ngga.

Bila kamu merasa hidup menyakitimu, maka maafkanlah saja hidup. Jangan biarkan hidup, menjadi alasan untuk kamu membenci atau menjadi sesuatu yang buruk—apalagi menjadi sesuatu yang buruk untuk hidup milik orang lain.

Hey hujan, terima kasih karena kamu telah mengajarkan sesuatu pada saya. Allah peluk kamu kenceng-kenceng! ;D


Keep the light inside your heart

Ps: Sebenarnya ada banyak sekali isi email dari teman-teman yang menginspirasi saya, semoga di lain kesempatan, saya mau mengangkat rasa malas saya untuk mempostingnya di blog agar kita bisa sama-sama belajar darinya.

8 comments:

  1. untuk pertama kalinya bisa suka kata "hujan" karena kakak manggil aku hujan hehehehe


    terima kasih banyak ya kak :")

    ReplyDelete
  2. buat hujan semangat selalu yak :)

    ReplyDelete
  3. Subhanallah... :')
    Aku speechless baca postingan yang ini.
    Intinya kurangi mengeluh, perbanyak bersyukur ya Kak :")

    ReplyDelete
  4. Hujan,kamu semangat ya Hujan. Saya juga memeluk kamu erat-erat <3

    ReplyDelete
  5. Hujan, semoga sakitmu bisa jadi penggugur dosamu ya...

    tetap semangat dan selalu percaya akan rencana indahNya *peluk*

    terima kasih tuk hujan n fa :*

    ReplyDelete
  6. terima kasih doa"nya
    semoga Allah ngebalas semuaa kebaikan kalian
    :")


    -hujan

    ReplyDelete

Thanks for reading my post! :)