Wednesday, January 30, 2013

Senin minggu lalu





you feel your strength in the experience of pain.- Jim Morrison

Senin minggu lalu, saya sakit. Sakit agak alay sih sebenarnya. Saya masuk angin entah untuk yang ke berapa kalinya dalam bulan ini. Ini karena saya, pergi menengok tetangga saya yang sakit ke RSUD Wates. Jarak Samigaluh-Wates itu kalau naik mobil sekitar 1 setengah jam perjalanan. Saya berangkat sekitar pukul 11 dari rumah, naik mobil minibus tidak ber-AC dan saya duduk di bangku paling belakang, yang model duduknya mirip di angkot. Dan... saya belum sarapan, bahkan sejak malamnya belum makan. Iya iya, emang sakit dibuat sendiri ini mah, jadi ngga perlu dikasihani.

Saya itu memang punya badan agak sotoy, saya paling ngga bisa pergi dengan mobil yang tidak ber-ac dan harus melewati jalanan yang ekstrim model turun gunung. Saya pasti mual. Kalau naik bis berbeda, karena ruang udara lebih luas. Dan hari itu satu mobil isinya ibu-ibu semua, ya karena saya sudah ngga punya ibu, jadi kalau ada kegiatan semacam arisan atau menjenguk orang sakit maka sayalah yang akan berangkat mewakili bapak saya.

Alhasil, baru sampai ke rumah sakit, saya jackpot di toilet. Perut saya sampai bingung apa yang mau dikeluarin, karena memang isinya ya kosong -_-“ iya.. ngga usah kasihan, kan sakit dicari sendiri ini. *nyender tembok*

Semenjak dulu saya menunggui mama saya sakit di rumah sakit, saya memang agak benci sama tempat ini. Mencium bau lantainya, melihat kerumunan orang-orang di depan loket pengambilan obat. Segalanya, terlihat memuakkan. Saya kalau bisa, pasti akan menolak ajakan untuk datang ke rumah sakit.

Tapi tinggal di desa, akan membuatmu melihat betapa tenggang rasa dan peduli sesama adalah hal yang tidak bisa kita hindari begitu saja dengan alasan-alasan sepele. Hidup di desa pun akan membuatmu menyadari, betapa tenggang rasa dan peduli sesama adalah hal yang sudah begitu jauh ditinggalkan oleh orang-orang perkotaan. Iya, Jakarta memang lagi keliatan kompak belakangan ini, tapi setelah dikasih banjir sebegitu parah dulu kan?

Kalau kalian lahir dan tumbuh besar di perkotaan, kalian pasti hanya akan datang ke RS untuk menjenguk saudara kalian, bahkan mungkin hanya saudara dekat saja. Tetangga? Itu pun pasti hanya tetangga yang dikenal saja. Kalian pun mungkin datang bukan karena kalian benar-benar peduli, biasanya datang hanya karena rasa tidak enak bila tidak terlihat datang menjenguk.

Tapi di desa, tidak demikian. Mereka yang masih terkait pertalian saudara walau pun jauh, pasti akan mengusahakan untuk datang. Walau sudah menjenguk di rumah, bila yang sakit pada akhirnya harus dibawa ke RS maka ya mereka akan kembali datang menjenguk. Tidak punya uang? Mereka akan pinjam. Salah satu ibu yang duduk di samping saya di dalam mobil, meminjam uang kepada bude saya untuk ikut berangkat menjenguk hari itu. Dia menjanjikan akan menjual pisangnya besok ke pasar, dan akan membayar uang pinjaman tersebut.

Saya? Saya yang awalnya merasa setengah terpaksa untuk datang pun akhirnya mencoba melegakan hati. Menjenguk yang awalnya karena merasa berkewajiban mewakili bapak saya pun, mencoba mengubah pola pikir, bahwa saya datang karena memang saya ingin datang dan berbagi kepedulian.

Itu adalah pikiran yang muncul selama saya muntah di toilet. selalu ada hikmah di balik muntah.

***

Bude saya pun harus rela berpisah dengan ibu-ibu yang lain hanya untuk sekedar menemani saya berbelok sebentar ke toilet. Iya, kalian boleh kasihan sama bude saya, sama sayanya ngga usah.

Keluar dari toilet, saya dan bude saya kembali melanjutkan perjalanan, melewati lorong-lorong mencari kamar yang kami tuju. Beberapa langkah sampai ke kamar tersebut kami berpapasan dengan wajah yang begitu kami kenal.

Itu adalah salah seorang tetangga lain (berbeda desa dengan saya) yang juga berniat untuk kami jenguk. Tapi si ibu yang kami temui tengah menangis, ternyata anak beliau yang ingin kami jenguk, baru saja meninggal dunia.

Jadi, si ibu ini melahirkan dengan jalan operasi seminggu yang lalu, anaknya yang lahir memiliki bobot yang tidak normal, yaitu hanya sekitar 1,4 kg. Dan ternyata babynya akhirnya meninggal dunia. Wajah mereka kuyu sekali, sang suami menggendong tas dan membawa termos di tangannya, sedang sang ibu terus menangis sambil berusaha menjawab pertanyaan kami, mereka sedang bersiap untuk pulang. Sedang jenazah anak mereka sudah dalam perjalanan kembali ke rumah dibawa oleh saudara mereka yang lain.

Saya ingat dulu, ketika saya menemani mama saya dirawat di RS, kebetulan ruang rawat inap mama saya berada tepat di depan ruang ICU. Nyaris setiap hari saya melihat mereka yang tiba-tiba menjerit dan menangis karena ternyata orang yang mereka sayangi pada akhirnya meninggal dunia. Biasanya saya akan menengok wajah mama saya dan meyakini di dalam hati bahwa kami akan pulang, karena kondisi mama saya yang membaik, bahwa saya akan pulang dengan tidak menangis seperti itu dan jadi tontonan orang lain. Itu adalah hari-hari yang tidak sederhana, mencoba meyakini hal yang kamu tahu bahwa ditinggal orangtua meninggal, mau di rumah sakit, mau di rumah, mau di jalan, tetap saja rasanya pasti buruk.

Tapi entahlah, saya memang sejak dulu berpikir, bahwa meninggal dunia di rumah pasti akan jauh lebih baik. Tidak perlu menunggu berjam-jam hanya untuk proses agar jenazah bisa dibawa pulang keluarga, tidak perlu menaiki ambulan bersama jenazah dan sepanjang jalan menangis sembari melihat ke luar jendela. Tidak perlu melewati adegan melihat rumah sudah ramai diisi oleh orang lain yang bahkan mungkin lebih dari separuhnya tidak pernah kita temui sebelumnya, tatapan kasihan dan iba tamu-tamu pelayat. Ah, bersyukur saya tidak perlu melewati yang demikian.

***

Ketika saya dan bude saya akhirnya berpisah dengan tetangga kami tadi dan berjanji kalau pulang dari menjenguk kami akan langsung ke rumah mereka untuk melayat, kami pun masuk ke dalam ruang rawat inap yang kami tuju sejak awal.

Jadi tetangga saya yang sakit ini namanya bapak Yadi, usianya awal 40-an dan dia memiliki 2 orang anak. Satu anak laki-laki yang masih duduk di kelas 2 SMU, dan satu anak perempuan yang masih duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar. Pak Yadi ini sakit diabetes sudah sejak beberapa tahun yang lalu. Bukan kejutan sebenarnya, kalau penyakit diabetes sekarang banyak menyerang manusia sejak usia muda. Mari yang masih muda, jaga kesehatan, jangan seperi yang lagi nulis posting ini, suka semena-mena sama kesehatan diri sendiri -_________-

Kalian tahu apa yang terlintas di kepala saya saat pertama kali saya melihat kondisinya. Lagi-lagi mama saya sendiri. Kenapa? Pergelangan tangang pak Yadi ini sudah tampak kurus sekali, kecil sekali, hanya tinggal tulang dan kulit kalau istilahnya. Mirip sekali dengan kondisi mama saya dulu. Pak Yadi pun bernapas dibantu dengan selang oksigen dan wajahnya putih pucat. Bang! Wajah mama saya pun melintas begitu saja. Baru 5 menit masuk ke dalam dan bersalaman, saya memilih untuk keluar.

Beliau sudah tidak mau bicara dengan tamu yang menjenguk, tapi masih mau bicara dengan sang istri walau pun hanya nampak seperti berbisik. Kondisinya masih jauh lebih baik dari mama saya yang dulu bahkan sudah tidak mau bicara pada siapa pun. Tidak pada saya, tidak pada suster. Tidak pada siapa pun.

Dan saya melihat semburat lelah di wajahnya. Lelah menahan sakit yang sudah menahun ini. Semburat yang sama seperti yang setiap hari saya lihat di wajah mama saya. Seperti kalimat yang tertempel di kening dan berbunyi; saya sudah lelah hidup.

Dulu, itu adalah bagian terberat yang harus saya hadapi setiap hari, melihat wajah mama saya sendiri yang.. seperti begitu lelah untuk bertahan hidup. Itu adalah hal yang kerap membuat saya menangis di balik bantal atau di bilik kamar mandi. Ceritanya saya lagi curhat, kamu ngga usah sedih bacanya. Sedih saya sudah lewat soalnya.

Itulah yang gagal saya kembalikan pada mama saya dulu. Saya gagal mengembalikan semangatnya untuk hidup. Saya gagal melakukannya. *nyender lagi ke tembok*

Tapi yang masih saya syukuri, setidaknya saya masih diberi kesempatan memberi pengobatan yang lebih baik pada mama saya. Kami masih diberi cukup rejeki untuk memasukkannya ke rumah sakit yang lebih baik, ke kamar inap yang lebih nyaman. Merawatnya dengan lebih baik.

Sedang keluarga pak Yadi yang memang berasal dari keluarga petani tidak punya kesempatan yang sama. Kamar yang dia tempati pun ditempati oleh 5 orang lainnya. Beliau dirawat di bangsal yang jauh dari bisa dikatakan nyaman. Dan ditemani istri yang sepanjang hari menangis. Setiap bersalaman dengan tamu yang menjenguk, lalu tangisnya semakin kejer.

Dulu saya, saya tidak pernah mau menangis di hadapan mama saya, setiap ada yang datang menjenguk—betapa bencinya saya mendengar kata sabar dan tabah, atau kalimat ‘aduh, Mba Farah kurus banget sekarang, pasti banyak mikir ya’ (sumpah saya kesel banget kalo ada yang ngomong begitu, padahal mama saya ada di sana dan bisa mendengarnya). Saya tidak mau beliau melihat dirinya sebagai beban yang saya tanggung. Walau sekali dua kali saya sempat kelepasan mengeluh di hadapannya dulu. Kalau saja saya bisa ulangi, saya akan menampar mulut saya sendiri sebelum mengeluh. Saya menyesalinya, bahkan sampai ke detik ini. Kalau suatu hari kamu harus menghadapi hal yang sama, merawat orangtuamu yang tengah sakit, jangan pernah biarkan sekali pun mulutmu mengeluh di hadapannya yap. Kamu pasti bisa jauh lebih kuat dari saya (^o^)9

Kesannya saya kece banget ya? Sok kuat banget gitu. Kece apanya. Tukeran tempat aja lah kita, kalo masih ada yang perlu mikir begitu. Lagi pula siapa sih yang bilang manusia itu lemah? Ketika kamu dihadapkan pada hal yang dulu mungkin kamu pikir mustahil kamu hadapi, kamu akan otomatis menjadi berkali-kali lipat lebih kuat—semua tergantung kepada siapa kamu percaya. Tuhan atau bukan.

Saya tidak bisa menyalahkan sang istri, saya tahu betul seberat apa menjaga orang yang kita sayangi dalam sakitnya. Pusing soal biaya, belum lagi penat memikirkan masa depan anak-anak. Tidak berputus asa saja, sudah begitu hebat.

Saya hanya pernah menulis dulu, ketika keadaan memang sudah sedih, maka janganlah bertingkah yang membuatmu tampak semakin menyedihkan. Tidak ada manfaatnya.


***

Kembali ke masuk angin..

Perjalanan pulang dari RS yang saya pikir akan lebih mudah saya lewati ternyata salah besar. Padahal setelah menjenguk tadi, saya sempat dibawa bude saya untuk makan. Tapi mennn... pas naik ke atas mobil, baru dapet 10 menit saya kembali enek dan sakit kepala. Muka saya pun sudah asem banget terpampang sepanjang jalan. Saya nyoba buka jendela, tapi tetep ngga ada perubahan. Nyoba ngemut permen, malah makin enek. Nyoba mikirin senyumnya Lee Min Ho pas jadi Jendral perang di Faith, tetep pengen muntah. Fix, saya sakit beneran kalo begini.

Alhasil ketika kami tiba di rumah tetangga saya yang berbeda desa untuk melayat, saya kembali Jackpot di toilet masjid. Kali ini perut saya ngga lagi bingung mau ngeluarin apa, semua yang saya makan sebelumnya di kantin rumah sakit pun dia keluarin. Semuanya. Sampai saya kecapekan ngeluarinnya.

Keluar dari toilet, muka saya pucet. Ngga sakit aja muka udah pas-pas-an, ini lagi pake sakit. Saya tahu, kalau lambung saya sudah kesel sama saya. Iya, ngga usah kasihan.. kan sakit dicari sendiri.

Hari itu saya belajar, bahwa ngga cuma cinta bertepuk sebelah tangan ternyata yang perjuangannya sulit dilewati. #halahbangetini

***

Seberapa pun saya merasa nelangsa banget hari itu, saya selalu punya alasan untuk bersyukur. Karena hari itu saya ditugaskan Tuhan menjadi seseorang yang datang menjenguk orang sakit, bukan yang dijenguk karena saya sakit. Seseorang yang datang melayat tetangga yang meninggal dunia, bukan menjadi yang dilayat karena saya meninggal dunia.

Akhir-akhir ini, saya banyak menerima email curhat yang berisi soal sulitnya merawat orangtua yang sakit. Banyak yang curhat kalau mereka merasa sangat sedih. Percayalah, sesedih apa pun kamu, yang sakitlah yang paling merasa sedih detik itu. Jadi, jangan pernah berani-berani menangis di hadapannya. Pergilah dari hadapannya, kalau kamu mau menangis. Bukan perkara yang mudah, tapi itu bukan hal yang mustahil untuk dijalani. Saya berharap siapa pun itu, bisa lebih tegar dari baja yang setiap hari ditempa. Manusia itu kuat, bisa kuat karena dia yakin kalau kekuatan Tuhan selalu ada bersamanya.

Kenapa saya menulis posting ini hari ini? Karena pagi tadi, pukul setengah tujuh tepatnya, Masjid di desa saya mengumumkan kalau Pak Yadi meninggal dunia. Semoga amal ibadah beliau diterima di sisi-Nya. Aamiin.

I've decided to make myself strong As far as I can tell, that's all I can do.- Haruki Murakami




Have a nice day :*


*Pak Yadi bukan nama yang sebenarnya*

3 comments:

  1. sayangnya saya merasakannya kak fa, bagaimana keluarga meninggal dunia di rumah sakit. Dan kita hanya bisa menangis tak tertahan menatap keluar jendela:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Everything happens for a reason dear, fighting! ;-)

      Delete
  2. aku nangissss kejer baca ini :'( ibuku di vonis diabetes.. Tapi alhamdulillah, sekarang udah baikaaannn.. Dulu sempat drop banget.. bersyukur banget kak Fa udah di ingetin, bantu doa ya kak Fa, ibu ku keadaannya membaik terus :) 2 tahun lalu, aku ngerasain juga wkt di tinggal sama kakak ku, wkt nunggu berjam2 di rumah sakit nunggu ambulance, waktu tiba di rumah semua org udah ngumpul, sebagian lagi memelukku, aku tau aku org yg kuat, tapi tambah kuat setelah baca tulisannya kak Faaaa... Gomawoo, gomawoo, jeongmal gomawoyo eonni {}

    ReplyDelete

Thanks for reading my post! :)