Friday, January 11, 2013

Marry Your Bestfriend



Saya pernah membaca kalimat yang berbunyi; mereka yang beruntung adalah mereka yang menikahi sahabat mereka sendiri.

Saat pertama kali saya membacanya, saya sungguh memikirkan sebaris kalimat itu lekat-lekat di otak saya. Menikahi sahabat sendiri? I think that would be so great. So, who’s your best friend Fa? Dan saya tidak menemukan satu pun nama pria dari daftar sahabat saya. Dang! Hahaha.. *mojok di bawah meja belajar*
Yayaya, kriteria saya untuk menyematkan kata Sahabat di balik nama seorang teman memang cukup tinggi. Wong sampai sekarang saja sahabat saya ya 2 orang. Ngga nambah dari sejak 10 tahun lalu. Kalau teman baik mungkin masih agak lebih banyak.

Dan tadi pagi, Caca menelepon saya lalu kami mengobrol cukup lama. Seperti biasa dia mengorek-ngorek soal isi perasaan saya. Kisah cinta saya yang rrrr.. agak ngebosenin sih. Tapi kami sama-sama mengamini bahwa pasangan yang terbaik mungkin bukanlah orang yang kami cintai, tapi seseorang yang benar memahami kita luar dalam. Belum tentu pria impian saya adalah pria yang benar mengerti saya seutuhnya kan?

Temen cowok gue lebih bisa jujur di depan sahabat ceweknya dari pada pacaranya sendiri. Kenapa dia mesti buang waktu jadian sama pacarnya yang ga bisa bikin dia jadi diri sendiri coba? Kenapa ngga jadian aja sama sahabatnya? Begitu curhat Caca. Mencoba menguatkan argumentasinya.

Dengan hubungan yang lo punya sama cowok ini Fa, lo harus siap kalau suatu ketika kalian menemukan kenyataan bahwa kalian ternyata berjodoh. Lalu saya pun bergidik.

No more Ca! Jangan buat gue berharap lagi sama dia. Kami bahkan udah ngga lagi saling membicarakan soal hati. Basi lah. Bosen lah. Mati rasa lah gue udah! Elak saya sambil enek sendiri.

Denger ya Fa, belum tentu cewek lain yang akan dia jatuh cintai atau cowok lain yang akan lo jatuh cintai bisa mengerti lo sebaik dia mengerti lo, atau mengerti dia sebaik elo mengerti dia. Lanjut Caca lagi kampret.

Gue ngga ngedukung lo untuk ngarep lagi sama dia. Ngarep dan tahu posisi di mana lo berdiri saat ini adalah 2 hal yang berbeda. Lanjut Caca lagi makin kampret.

Lebih penting mana; tahu posisi atau tahu diri? *tanya saya dalam hati* *glek*

*SIGH

Ketika kamu mengenal seseorang luar dalam. Buruk dan baiknya. Pernah jatuh cinta padanya walau akhirnya memutuskan untuk berhenti jatuh cinta. Namun tanpa bisa kamu pungkiri selama ini kamu tidak pernah berhenti menyayanginya, walau kamu tahu kalian tidak setipe.

I mean dia memimpikan wanita dengan sosok yang jauh sekali dari kamu dan kamu pun memimpikan pria yang jauh dari sosoknya.

Apa yang akan terjadi, ketika tiba-tiba suatu hari, hatimu bilang; ternyata dia lah orangnya, dialah orang yang ingin kunikahi. Bukan sosok yang kuimpi-impikan selama ini, tapi sosok yang mengenalku luar dalam. Yang di hadapannya aku bisa jadi manusia paling norak dan paling sok. Yang di hadapannya aku bisa menangis dan marah semauku tanpa takut dia hilang. Yang walau sudah kerap membuatku bersedih tapi tetap menjadi alasanku ingin tertawa. Yang walau pun jauh, tapi setiap kali kami bicara kami seperti tak memiliki jarak. Yang walau pun diam, tapi memperhatikanmu tanpa perlu alasan ini itu.

Setidaknya, elo akhirnya milih dia setelah elo ketemu orang lain. Setidaknya dia milih elo setelah dia ketemu orang lain. Itu berarti elo tetap yang terbaik dari yang pernah dia temukan. Atau kalau kalian pada akhirnya ngga jodoh pun, elo ngga pernah buang waktu cuma terpaku sama dia seorang karena komitmen yang kalian bangun sendiri dengan label ‘pacaran’.

Ya ya ya, saya sendiri pernah menghabiskan banyak tahun pacaran tanpa hasil apa-apa. Saya sudah ada di tingkat di mana ngga nemu alasan baik kenapa perlu pake pacaran kalo buntutnya cuma buat buang waktu. Pret lah. Udah ketua-an kalo mau main yang begitu lagi.

Kamu tahu apa yang lebih penting dari rasa rindu?

Mereka adalah rasa saling membutuhkan. Kamu butuh dia untuk bisa jadi kamu yang lebih baik, dia butuh kamu untuk membuatnya jadi lebih baik. Kalian tidak ingin hidup tanpa yang lain. Kalian mau terus bersama-sama, mungkin bukan karena cinta—tapi jelas karena sayang yang saling membutuhkan. Kamu bisa jauh darinya, bisa hidup baik dengan mengamatinya saja, tapi tidak pernah bisa membayangkan dia terluka atau bahkan hilang dari pandangmu.

Saya harap saya bisa berkesempatan menikahi salah satu dari teman terbaik saya—dan menjadi salah satu orang yang beruntung itu. Menikahi dia yang tahu hal terburuk yang saya miliki sebagai manusia, tapi tetap ingin menemani saya menjalani hidup ini. *cek daftar nama temen cowok di phone book ponsel* #failed

Notes:
Tulisan ini ditulis ketika si falafu lagi migrain mikirin outline novel dan baru menyadari kebodohan-kebodohannya dalam ber-ide setelah membaca revisi dari editornya. Pft. Mba Iwied, maafkan aku yang tolol sekali ini T.T *jedotin pala ke tembok hatimu* #halah

Eh saya ngomongin jodoh mulu bukan berarti saya kebelet nikah loh. Lagi suka aja. Masih banyak mimpi saya yang ngotot dijadiin nyata, selain urusan cinta.

Eh iya, hari ini walau pun kepala saya mau pecah, saya bahagia sekali karena pak pos berhenti di halaman rumah saya dan mengantarkan kartu pos pertama saya tahun ini dari seorang follower di twitter. Dan gambar kartu posnya SUPER CUTE! Katanya, anak perempuan yang lagi baca surat itu saya! :’)

4 comments:

  1. nice post Fa!Yap I wish I am the lucky one. doakan saya dan sahabat saya ya. Upss maksudnya pacar saya sekarang :D

    ReplyDelete
  2. ah post ini bikin pengen curhat ama kak fa *ihik*

    ReplyDelete

Thanks for reading my post! :)