Sunday, January 27, 2013


Manusia itu cepat sekali berubah pikiran ya, manusia itu PUN cepat sekali mengubah keinginannya. Sekarang pengen ini, besok pingin itu. Kemarin sayang kamu, besok ngga lagi mau sayang kamu.
Dulu, saya ingin pergi dari tempat ini. Ya, Samigaluh. Saya dulu merasa bahwa tempat ini menjebak saya. Menjauhkan saya dari para sahabat, dari peri-peri impian, bahkan menjauhkan saya dari pria yang saya sayangi. Saya tidak hanya meninggalkan pekerjaan, saya meninggalkan hati saya saat memutuskan untuk angkat kaki dari Jakarta.
Sekarang, setelah saya free se-free-free-nya begitu banyak kesempatan bekerja yang saya lewatkan agar tak perlu meninggalkan tempat ini. Terakhir, untuk bekerja di Kalimantan. Kalimantan? Hmm.. Salatiga saja saya lepas, apalagi Kalimantan.
Jujur saja saya sudah bokek bukan kepalang. Tabungan sudah mulai menipis dan kegilaan saya membaca buku sedang menggebu-gebu. Saya nyaris bangkrut. Saya perlu bekerja untuk menunjang hobi saya, karena saya anti banget minta sama orang tua pencitraan woiii.
Saya rasa, ini hanya karena saya tidak ingin kerja kantoran dan terjebak di kubikel kecil. Saya dulu pernah bekerja kantoran dan menyadari betul kalau I don't belong there. Saya ingin jadi penulis saja, walau saya tahu kalau penulis tidak akan memberi saya kesempatan untuk jadi kaya-tapi saya memang tidak pernah punya cita-cita jadi kaya. Kan bisa cari suami yang kaya aja, lahhh... *keplak XD
Semoga saya tak salah soal paggilan hati saya yang kali ini. Soalnya saya salah mulu kalo ngikutin panggilan hati soal cinta. Dikecewain mulu sampe bekarat bosen lah yaa.. Semoga tidak demikian soal passion hidup saya.
Saya kerap berselisih dengan Kakak dan Bapak tentang hal ini, tapi sudah sejak beberapa tahun ke belakang mereka sudah tidak lagi mencampuri hal tentang akan jadi apa saya nanti.
Manusia itu suka sekali terburu-buru ya. Buru-buru ingin cepat sampai, buru-buru ingin sukses, buru-buru untuk berbahagia.
Hal-hal yang macam demikian yang kerap membuat saya lupa kalau Tuhan tak pernah tak tepat waktu.
Kalau suatu hari nanti saya benar resmi jadi penulis yang menerbitkan buku, ya adalah karena saat itu saya sudah berada di ruang dan waktu yang tepat.
Dan untuk kalian semua yang punya impian untuk menjadi sesuatu, jangan terburu-buru ingin sukses, pun jangan berlama-lama bermalas-malasan. Di setiap hal yang kita raih, harus ada hal yang kita relakan hilang. Itu namanya bukan berkorban, tapi berjuang.
Berjalanlah dengan hati-hati. Pastikan langkahmu ada di sisi trotoar yang benar. Pastikan kamu menyebrang di atas zebra cross sehingga tak perlu terlindas truk keputus-asaan. Dan pastikan kamu tidak menginjak kaki siapa pun di sepanjang perjalananmu.
Tak perlu berlari, bila itu justru membuatmu akan mudah jatuh dan menabrak langkah lain.
Pastikan saja kalau semua ada di jalur yang seharusnya mengantarmu sampai ke tujuan.
FIGHTING! (^.^)9
Yah, saya memang sekarang sedang berpikir untuk pergi dari sini. Mungkin sebelum akhir bulan depan saya sudah mengambil keputusan tersebut. Kalo patokannya cuma uang, kerjaan di Jakarta segambreng, teman pun banyak yang mau memberi saya kerja. Tapi ya, saya hidup kan juga mau bahagia batin, ngga cuma lahir. Tapi bagaimana pun, selalu ada prioritas yang harus saya utamakan lebih dulu kecuali soal ambisi saya yang ini itu. Egois itu gampang. Tapi saya ngga mau jadi manusia gampangan, yang gampang dikuasai rasa paling benar dan penting sendiri. Malu sama umur, pun malu sama Allah.



Notes:
Siapa tau kan, kalau ada yang baca posting ini, terus ngirimin saya buku #ngarep. Buku Agustinus Wibowo yang baru saja harganya 98 ribu. Mehh.. iya sih, bukunya dia yang garis batas pun memang sudah mahal. Wajar saja kalau buku terbarunya dibandrol segitu-dan memang worth it juga sih isinya. Kalau uang lagi ada, beli novel barat harga 180 rb berasa biasa aja. Kalo lagi bokek, pipis bayar 2rb aja rasanya MAHAL HIH!  dia malah curhat.

No comments:

Post a Comment

Thanks for reading my post! :)