Sunday, January 13, 2013

Kamu ingat hari itu?



He'll never give up on you, ever. He'll be there for you, no matter what- Andy (Toy Story 3)


Kamu ingat hari itu?


Hari ketika aku menangis di hadapanmu dan kau bilang itu adalah cara menangis yang jelek. Karena aku tidak mengeluarkan suara, karena bahkan mulutku enggan mengerucut, tapi air mataku deras mengalir.

“Jangan menangis seperti itu. Bukannya kamu menangis agar lebih lega, kamu sedang menyakiti dirimu sendiri kalau begini.” Tegurmu, tapi tak pernah terdengar menggurui.

“Ibu, dia ngga lagi mau bicara. Dia hanya menatap ke langit-langit sepanjang hari dan aku sakit melihatnya.” Aku bercerita tapi lebih terdengar seperti gumaman. Semakin bersandar ke dadamu yang hangat.

“Kamu lari lagi ke kamar mandi hari ini?” Tanyamu langsung, dengan kekhawatiran yang tak lagi kau tutup-tutupi.

“Dua kali.”

“Sudah aku bilang kan, jangan lagi nangis di kamar mandi. Kamu bisa telepon dan aku akan datang. Atau menangis di telepon dan aku akan mendengarkannya.” Lagi-lagi kamu mengoreksi kebiasan burukku yang satu ini. Mengulang-ngulangnya lagi, seakan tak pernah akan ada kata bosan. Padahal kamu berhak untuk merasa bosan, sungguh.

Menangis di kamar mandi adalah kebiasaan yang kumiliki sejak kecil. Dulu sekali setiap kali ayah dan ibu bertengkar, maka aku akan berlari ke kamar mandi, mengunci pintunya dari dalam dan mencelupkan kepalaku ke dalam bak mandi agar aku tidak bisa mendengar teriakan mereka. Agak ekstrim, tapi anak kecil berusia 7 tahun itu dulu, bahkan tak pernah berpikir kalau itu hal yang aneh. Sekarang, aku memang tidak pernah lagi mencelupkan kepalaku ke dalam air, tentu saja aku tidak pernah berharap bahwa pertengkaran itu berakhir saat ayahku benar-benar pergi dari rumah. Tapi aku selalu bersembunyi di dalam bilik kamar mandi untuk menangis. Agar setiap kali selesai menangis, dengan usaha penuh menahan suara di ruang menggema, aku akan dengan mudahnya mencuci wajahku dan berpura bahwa aku memang hanya habis membasuh wajahku di dalamnya. Menangis di hadapan ibu? Tidak akan pernah aku lakukan.

“Tapi aku menangis di jam kerja. Aku males gangguin kamu. Itu nggak adil.” Aku mencoba mengelak. Aku tahu, aku salah. Tapi perempuan mana yang mau dengan mudah disalahkan atas kebodohannya? Apalagi di hadapan pria yang, dia cintai. Kalau di hadapan pria lain sih terserah saja. Males juga mau caper.

Sedetik kemudian kamu pun bergerak, mengangkat pundaku yang bersandar di dadamu dan menegakkan posisi dudukku kembali, menatapku lekat-lekat dengan penuh percaya diri. Ya, kamu adalah pria yang tahu dengan pasti, bahwa aku begitu menurut pada tatapan itu. Aku tak akan pernah mampu berbohong di hadapannya, “Maksudnya aku cuma jadi pacarmu saat jam istirahat dan hari libur saja? Sejak kapan? Emang kita pernah janjian begitu sebelumnya?”

“Bukan seperti itu Jandra. Aku mencintaimu setiap waktu. Tapi aku tidak bisa menjadikan cinta sebagai alasan untuk bersandar padamu setiap waktu. Jangan menuntutku jadi yang bukan aku, atau jadi seperti pacar-pacar lain yang pandai merengek.” Aku tetap ngeyel, bahkan berusaha untuk sedikit pencitraan. Walau mau pencitraan seperti apa pun, Jandra sudah mengenal kekonyolanku tanpa celah. Mengompol saat hari pertama masuk kuliah adalah salah satunya.

Jandra mengangkat pundaknya berlagak bosan, “Terserah apa katamu saja Nasha.”

Aku pun mendelikkan mataku padanya.

“Baiklah, kita ganti kata terserahnya. Kamu benci kata itu. Aku ulangi jawabanku; apa pun asal kamu merasa lebih baik Nashaku. Happy?” Jandra mulai sok tampak muak padaku. Atau aku memang sudah benar-benar berhasil membuatnya muak.

“Aku harus bagaimana agar kamu tak bosan? Agar kamu bisa terus seperti ini, ada di sisiku?” Aku mencoba memelas padanya. Jurus yang tak pernah gagal. Walau sungguh, akhir-akhir ini aku kerap khawatir Jandra bosan padaku dan bimsalabim, hilang begitu saja.

Aku tahu, aku tak akan pernah mampu menahannya untuk pergi. Aku memang seharusnya sudah dia tinggalkan sejak lama. Dengan banyak alasan yang masuk akal tentunya.

“Menangislah dengan intonasi yang baik dan jangan lagi lari ke kamar mandi untuk bersedih sendirian. Atau aku akan pergi.” Jandra berlagak keren saat mengatakannya. Seolah dia benar akan dengan mudah pergi meninggalkanku. Padahal kami sama-sama tahu, kalau kami akan sama-sama patah hati dengan lebay jika itu benar terjadi.

“Coba kamu contohin gimana caranya nangis pake intonasi yang baik.” Aku mengangkat-ngangkat alis menantangnya.

Fine, gini nih..” Sejurus kemudian Jandra menggigit bibir bawahnya dan meringis jelek seperti anak kecil yang kehilangan Ibunya di pasar. “Huaaaa... heeee... aaaa... huaaa!!!!” Ratapnya sok didramatisir, bahkan wajah putih pucatnya seketika memerah. Sial, aku pun terpingkal dibuatnya. Bagaimana caranya Tuhan menciptakan pria ajaib ini dulu? Aku tahu, pasti takaran adonananya agak sedikit kelebihan dibanding pria lainnya. Mungkin kelebihan pewarna sabar.

“Yakin kamu ngga malah kabur kalo aku nangisnya kaya gitu?” Aku menyangsikan, “Karena kalau itu benar kamu yang menangis di hadapanku, aku akan bilang kita tidak pernah saling mengenal. Tidak di bumi, tidak juga di luar angkasa!” lanjutku meledeknya.

“Ya ngga lah! Aku kamu kentutin aja masih betah di sini. Kalo cuma ngeliat kamu nangis begitu sih, kecil.” Jandra menjentikkan jarinya di udara. Seolah masalah yang tengah kami hadapi hanya sepatah debu yang menyelip di sela kuku jari-jarinya. Padahal hey, aku bahkan bisa kehilangan Ibuku kapan saja dan menjadi yatim piatu. Ayahku kan sudah lebih dulu meninggal. Walau aku bahkan tidak pernah datang ke pemakamannya, semua diurus istri mudanya. Keluarga barunya yang dulu dia bilang akan membuatnya lebih bahagia.

“Eh tolong yah, yang suka kentut sembarangan itu kamu! Enak aja. Aku paling baru sekali kelepasan kentut. Coba kamu, selama 4 tahun ini udah berapa kali coba? Ngga bisa kehitung ya!” Aku melotot padanya, protes.

Sedang Jandra justru menarik kepalaku untuk disandarkan ke dadanya kembali. Menepuk-nepuk lembut keningku yang tertutup poni lalu kemudian meniup-niupnya rendah. Seolah benar ada asap yang mengepul dari dalamnya. Seperti kebiasaanya selama ini.

“Kepalamu pasti panas ya di dalamnya. Hati kamu pasti mau meledak ya di dalam sana. Itu kenapa kamu ngga boleh sok cool di luarnya. Apalagi di depanku Nasha. Jangan seperti itu. Walau pun Ibu belum membaik, kamu ngga boleh semakin memburuk.” Pintanya sambil terus meniup-niup keningku. Bibirku pun seketika mengerucut, oksigen di dadaku seakan menipis dan aku memulai ritual menangisku. Cengeng sekali memang.

“Hey, kamu harus pakai nada yang baik kalau menangis. Aku baru aja nyontohin ya tadi.” Jandra meremas lenganku mengingatkan, mendengarnya aku justru malah tersenyum pasrah sambil tetap membiarkan pipiku basah.

Pria ini memang harus diawetkan di kulkas. Atau dimasukkan ke dalam kotak kedap udara, lalu dibuang ke laut. Tapi tentu saja, aku ikut di dalam kotak itu. Agar setidaknya, hatinya tidak terkontaminasi jahatnya dunia ini.

Katanya, cinta yang  baik itu cinta yang bisa membuatmu melalui kesedihan dengan lebih baik. Menjalani persoalan dengan cara yang bijaksana. Di mana di dekapnya, segala kesulitan akan membuatmu justru semakin kuat.

Jandra, kamu selalu bisa seperti itu untukku.

Aku tahu kamu masih mengingat hari itu.



13 comments:

  1. Replies
    1. Hahahhaa iya, sok sweet banget ya :p
      Niatnya mau aku jadiin cerbung, doakan semoga benar-benar tumbuh niat melanjutkannya :)

      Delete
    2. Ini mau dibikin cerbung, kak?
      Waahh ditunggu lanjutannya :3

      Delete
  2. Keren fa,,,dimana bs nemuin cow seperti ini?? *nyaridikolongtempattidur

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahhahahaa.. selama merawat ibu saya, saya belum bertemu yg se special Jandra, alhamdulillah :p

      Delete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Replies
    1. -_- elo nulis apa barusan di comment yg dihapus gum? dasar labilll ahahhaha.. iya kalo lagi iseng pasti dilanjutin.

      Delete
    2. umm itu anu -_- ah sudahlah.. iya di tunggu :)

      Delete
  5. So sweeet banget..tp ga suka ma foto di akhirnya,imajinasi yg terbentuk dari baca cerita ma gambar kalo menurut aku agak ga sesuai..
    Tapi kereeeeen banget fa..
    :))

    ReplyDelete

Thanks for reading my post! :)