Thursday, December 20, 2012

Asa Kecil





Berharap suatu hari kita akan duduk seperti ini di tepian jembatan yang membelah sungai panjang di bawahnya

Lalu kamu hanya akan bercerita soal hari ini, juga soal masa depanmu bersamaku

Tidak, kita tidak duduk di sini untuk mengingat hal yang telah berlalu

Atau kembali mengulang cerita soal kemarin

Karena kita tengah duduk di atas sesuatu yang akan membawa kita sampai ke seberang

Juga membawa segala rencana-rencana manis sampai ke tujuannya

Kita akan sekokoh apa yang tengah kita jadikan pijakan

Kita akan mengantar mimpi-mimpi kita pada tempatnya yang baru

Nama tempat itu adalah kenyataan di hadapan kita

Kita tidak duduk di sini untuk melihat matahari terbenam

Tapi menyaksikan bagaimana matahari terbit

Dua pasang matahari  kecil di mata kita

Satu lagi matahari raksasa di landasan tempat awan-awan terbang

Cahaya selepas gerimis di pagi hari

Binar di langit yang tak pernah gagal terlihat indah

Lalu kamu akan mencium keningku sembari berujar;

Kamu tahu, aku mencintaimu seperti jembatan ini mencintai sungai

Aku akan biarkan orang-orang menginjakku bila perlu

Tapi tak akan kubiarkan seorang pun menjadikanmu alasan mereka tenggelam

Alasan mereka kesulitan mendapat bantuan hidup

Alasan mereka perlu biaya mahal untuk sampai ke kota

Alasan yang menghilangkan kemuliaanmu sebagai sungai di mata kehidupan

Lalu aku pun tertawa kecil;

Bagaimana bila suatu ketika kamu roboh dan jatuh menimpaku?

Lalu kamu menatapku lembut sembari bicara;

Bila itu terjadi, yakinlah aku akan menjadi bagian yang paling bersedih atas kehilangan itu. 

Dan seseorang yang kelak menggantikan posisiku, adalah jembatan paling beruntung satu dunia.

Aku menggenggam tanganmu dan terus menggenggam tanganmu;

Terkadang kita pun perlu bersiap untuk takdir semacam itu. Kamu tahu, cinta pun bercerita soal 

kehilangan yang tiba-tiba dan soal kedatangan baru—meski ia tidak kita inginkan.

***

Katanya, tulisan yang bagus adalah tulisan yang bisa membuat seseorang tergerak menulis ceritanya sendiri setelah berhasil selesai membaca tulisan tersebut. Saya selalu bahagia saat menerima email, chat, mention atau kabar dalam bentuk apa pun yang isinya; Kak Fa, karena baca blog Kakak, sekarang aku jadi rajin lagi menulis blog. Atau Kak Fa, karena baca blog Kakak, aku sekarang bikin blogku sendiri dan mulai menulis. Atau Kak Fa, aku boleh minta ijin tulisan Kakak untuk dimuat di blogku, di taro di dalam tulisanku di sana. Dan lain sebagainya.

Saya bahagia sekali.

Karena alasan saya menulis yang ke sekian adalah salah satunya untuk membuat seseorang tergerak ikut menulis. Seberapa pun kerennya seseorang, betapa tinggi ilmu dan jabatan atau gelar kesarjanaannya. Dia akan tampak sebagai orang yang biasa-biasa saja di mata saya, bila dia bahkan tidak pernah sekali pun menulis selama dia hidup. Tak ada ilmu yang dibagi, tak ada cerita yang disejarahkan. Tak ada yang tertinggal yang bisa dijadikan pelajaran atau boleh jadi harta karun yang bisa ditemukan suatu hari nanti. Menulislah maka kamu ada. Menulislah maka kamu bermanfaat. Menulislah maka kamu pernah ada.

Mari menulis bukan untuk disukai atau dipuji orang lain. Bukan untuk kemudian bisa mendapatkan simpati atau uang. Menulislah karena kamu suka menulis, menulislah karena menulis itu menyenangkan. Dan hal-hal yang lebih dari pujian atau uang akan mengalir bak berkah ke dalam hidupmu.

Ketika kamu berhenti menulis dan mencatat. Maka kamu pun mulai berhenti memahami hidup dan dunia di sekitarmu. Mencatat dan teruslah menulis. Walau itu hanya di kertas tak terpakai yang tergeletak di meja kerjamu.

Sebuah Asa Kecil yang sempat saya tuliskan di atas, saya tulis setelah membaca sebuah cerita tentang awan dan bukit pasir yang begitu indah. Tulisan itu mampu menggerakkan saya duduk di depan laptop dan menulis ini. Saya pun ingin kamu membaca cerita itu, karena tidak semua orang memiliki kesempatan membaca buku bagus yang tengah saya baca sekarang.


Awan dan Bukit Pasir

......Bukit pasir itu masih muda, baru saja terbentuk oleh angin yang bertiup melewatinya. Saat itu juga, awan itu jatuh cinta kepada rambut keemasan si bukit pasir.

“Selamat pagi,” sapanya. “Seperti apa kehidupan di bawah sana?”

“Aku punya banyak teman bukit pasir lainnya, juga matahari dan angin, serta kawan-kawannya yang sesekali melintas di sini. Kadang-kadang hawanya panas sekali, tapi masih bisa kutahan. Seperti apa hidupmu di atas sana?”

“Di sini juga ada matahari dan angin, tetapi yang menyenangkan adalah aku bisa bepergian di langit dan melihat lebih banyak.”

“Buatku hidup ini singkat saja,” kata si bukit pasir. “Begitu angin datang lagi dari arah hutan, aku akan lenyap.”

“Apakah kau menjadi sedih?”

“Aku jadi merasa hidupku tak punya tujuan.”

“Aku juga merasa begitu. Begitu angin berhembus kembali, aku akan pergi ke selatan dan diubah menjadi hujan; tetapi itu sudah suratan takdirku.”

Setelah bimbang sesaat bukit pasir itu berujar, “Tahukah kau bahwa di padang gurun ini kami menyebut hujan sebagai surga?”

“Tak kusangka diriku bisa sepenting itu” kata si awan dengan bangga.

“Aku pernah mendengar bukit-bukit pasir yang lebih tua menceritakan berbagai kisah tentang hujan. Kata mereka, setelah turun hujan, kami semua tertutup rerumputan dan bunga-bunga. Tapi aku tidak akan pernah mengalaminya, sebab di padang gurun jarang sekali turun hujan.”

Sekarang giliran si awan yang menjadi bimbang. Kemudian dia tersenyum lebar dan berkata,

“Kalau kau mau, aku bisa menurunkan hujan ke atasmu sekarang juga. Memang, aku baru saja sampai di sini, tapi aku mencintaimu, dan aku ingin tetap di sini selamanya.”

“Waktu aku pertama melihatmu di langit sana, aku juga jatuh cinta padamu,” sahut si bukit pasir. “Tetapi jika kauubah rambut putihmu yang indah itu menjadi hujan, kau akan mati.”

“Cinta tak pernah mati,” sahut si awan itu. “Cinta membawa perubahan; selain itu, aku ingin menunjukkan surga padamu.

Dan dia pun mulai membelai bukit pasir itu dengan tetes-tetes kecil air hujan, supaya mereka bisa lebih lama bersama-sama, sampai muncul sebentuk bianglala.

Keesokan harinya, bukit pasir yang kecil itu dipenuhi bebunggaan. Awan-awan lain yang melintas menuju Afrika, mengira itu pastilah bagian dari hutan yang mereka cari-cari, maka mereka pun menebarkan lebih banyak hujan. Dua puluh tahun kemudian, bukit pasir itu telah berubah menjadi oase yang memberikan kesegaran kepada para musafir dengan keteduhan pohon-pohonnya.

Dan semua itu karena suatu hari sepotong awan jatuh cinta, dan tidak takut menyerahkan hidupnya demi cintanya.


*tulisan diambil dari buku Seperti Sungai yang Mengalir (Buah Pikiran dan Renungan) karya Paulo Coelho*
***
Kamu lihat, cinta tidak diciptakan oleh mereka yang bernyali kecil. Atau mereka yang hanya mau dan siap menghadapi kebahagiaan saja.

No comments:

Post a Comment

Thanks for reading my post! :)