Thursday, November 22, 2012

(P)ujian

Ikanuri, Wibisana, Dalimunte, Yashinta dan Kak Laisa


“Andai kata ada seorang wanita penghuni surga mengintip ke bumi, niscaya dia menerangi ruang antara bumi dan langit. Dan niscaya aromanya memenuhi ruang antara keduanya. Dan sesungguhnya kerudung di atas kepalanya lebih baik daripada dunia seisinya.” (Hadist Al Bukhari)

Indah sekali bukan? Itu adalah janji Allah pada seorang muslimah yang berhati baik, yang sabarnya tak berujung, yang selalu ikhlas dalam hidup hingga akhir hidupnya menjemput.
Indah sekali bukan? Siapa wanita yang tidak mau jadi salah satu dari bidadari itu?

“Dan sungguh di surga ada bidadari-bidadari bermata jeli. (Al Waqiah: 22).
Pelupuk mata bidadari-bidadari itu selalu berkedip-kedip bagaikan sayap burung yang indah. Mereka baik lagi cantik jelita.” (Ar Rahman: 70)

Apa saya meyakini bidadari itu ada? Al Qur’an telah menulisnya, tentu saja saya meyakininya tanpa cela. Inginkah saya jadi salah satu dari bidadari-bidadari itu seperti Kak Laisa? Tentu saja ingin, tapi mungkin saya jauh dari sanggup- setidaknya sampai detik ini.

Siapa itu Kak Laisa?
Kak Laisa adalah salah satu tokoh di dalam buku TERE LIYE yang berjudul “Bidadari-bidadari Surga”. Buku yang baru saja selesai saya baca. Saya akhir-akhir ini tidak pernah melewatkan hari tanpa membaca. Membaca lebih baik dari bergunjing, membaca lebih baik dari merindukan seseorang- yang bahkan belum jadi siapa-siapa saya. Berdosa malah iya. Saya agak cerdas sedikit belakangan ini :p

Kak Laisa, perempuan yang demi menjaga sumpahnya pada Babak (panggilan untuk ayah) ia rela melakukan apa pun untuk ke- empat adiknya, agar mereka bisa sukses. Walau mereka bukan lah adik kandung. Kak Laisa dengan segala keterbatasan fisik yang dia miliki, yang bahkan membuatnya tak juga berhasil mendapatkan jodoh sampai akhir hayatnya menjemput tapi tetap selalu ikhlas menjalani hatinya yang sepi, dan tak pernah lupa bersyukur atas apa yang ia mliliki. Kak Lais yang tak pernah datang terlambat, yang selalu ada untuk orang-orang yang ia kasihi, yang tak pernah ingin menangis di hadapan siapa pun dan membuat kelemahannya melemahkan orang lain. Kak Lais yang tak pernah pandai membenci. Yang selalu berteriak-teriak “KERJA KERAS! KERJA KERAS! KERJA KERAS!” pada adik-adiknya, yang di balik sikap tegasnya sungguh ia hanya ingin adik-adiknya mengerti, bahwa tanpa kerja keras kita tak akan pernah sanggup menjadi apa pun. Bahwa tanpa belajar dan kerja keras, maka tidak ada satu orang pun manusia yang akan beranjak dari nasib buruknya. Tidak ada.

***

“Ketika salah satunya justru memutuskan untuk bersabar atas pasangan yang tidak beruntung dari tampilan wajah dan fisik tersebut, maka surga menjadi balasan buatnya. Tidakkah hari ini, ada yang mengerti hakikat kisah tersebut?”

Poin penting dari buku ini, selain soal pentingnya bekerja keras pun soal takdir akan jodoh. Jodoh yang kerap membuat galau banyak orang di zaman sekarang. Jodoh yang tak kunjung datang untuk wanita se-menawan Kak Laisa.

Itu lagi, semua kembali karena keterbatasan fisik yang ia miliki. Rambutnya yang gimbal, badannya yang tak tumbuh normal, pendek dan hitam. Jari-jarinya yang bahkan tak tumbuh sempurna. Ah ya, ternyata seberapa pun besar pengetahuan agama seseorang, tapi bila itu hanya kesolehan dan iman di bibir saja, maka tak akan mampu membuat seorang pria mau menikahinya. Betapa pun cantik hati Ka Laisa.

“Bukankah Kak Laisa ‘cantik’ seperti yang kau sebutkan selama ini dalam ceramah-ceramahmu. Apalagi yang kurang!” itu adalah luapan kekecewaan Dalimunte, adik tertua dari keluarga Mamak saat ia mencoba menjodohkan temannya dengan sang Kakak. Sang teman pun segera kabur pulang, setelah melihat fisik kak Laisa. Teman yang memiliki pengetahuan ke-agamaan di atas rata-rata, yang bahkan sudah berhasil menjadi penceramah di ibu kota, yang padanya Dali berharap banyak.

“Tapi maksudku, setidaknya cantik adalah menarik hati.” Begitulah jawaban munafik dari sang teman.
Dali selalu berpikir, bahwa bukankah Ka Laisa masuk tiga dari empat kriteria utama yang disebutkan Nabi dalam memilih jodoh.

Kak Laisa jelas solehah. Saleh dalam hubungan dengan Allah, juga saleh dalam hubungan dengan manusia. Dari sisi materi? Jelas kak Laisa lebih baik dari perempuan mana pun. Perkebunan strawberry milik Kak Laisa membentang nyaris dua ribu hektar. Dari sisi keturunan, Kak Laisa memang bukan turunan raja atau bangsawan, tapi keluarga mereka keluarga terhormat, pekerja keras dan tidak pernah meminta-minta. Jadi kenapa harus mempersoalkan kecantikan? Bukankah itu hanya ada di urutan ke empat?

“Keluarga yang baik hanya dapat terjadi ketika suami merasa senang menatap istrinya, Dali. Merasa tentram. Kau tahu, jika suami merasa tersiksa melihat wajah dan fisik istrinya juga sebaliknya, mereka tidak akan pernah menjadi keluarga yang baik. Bukankah kau juga tahu kisah tentang sahabat Nabi, yang meminta bercerai karena fisik dan wajah pasangannya tidak menentramkan hatinya.” Begitulah kalimat pembelaan Kak Lais, entah siapa yang tengah ia bela.

Kalian tahu, bahwa ke-empat adik Laisa sampai rela menikah di atas usia 30 tahun, hanya karena tidak ingin melangkahi sang Kakak. Sang Kakak yang sudah membuat mereka berhasil menjadi manusia paling berbudi dan paling sukses.


Dalimunte, Cie Hui dan Kak Lais. Dali bersi keras menolak untuk menikah dengan Cie Hui, perempuan yang telah menunggunya selama 7 tahun. Karena ia enggan melewati Kak Laisa yang belum juga mendapatkan jodoh.

“Kau tak usah menunggu aku Dali–” Itu-lah yang selalu berulang-ulang Kak Laisa ucapkan pada Dali, begitu pun adiknya yang lain. Ketika mereka keras kepala dan menolak untuk menikah melangkahi Kakak mereka, padahal usia mereka sudah di atas 30 tahun. Bahkan sampai membuat pasangan mereka menunggu lebih dari 7 tahun.

***

Kalian tahu, sejak dulu, sejak sebelum saya menulis blog, bahkan jauh sebelumnya, saat saya mengetahui jurang pemisah antara si 'cantik' dan si 'buruk rupa', saya tidak pernah nyaman dengan pujian cantik. Entah mengapa. Bukan tidak suka, perempuan normal mana yang tidak suka dipuji cantik oleh lawan jenisnya, apalagi oleh pria yang ia sukai. Tapi sungguh betapa tipisnya makna dan nilai dari pujian itu.

Pujian cantik (pujian lain bersifat lahiriah), mereka tak mampu menampung apa-apa, seperti kumpulan asap yang menguap ke angkasa dan hanya butuh beberapa detik untuk kemudian hilang ditelan udara. Celakanya, begitu banyak wanita di luar sana yang mudah saja terbuai oleh pujian itu; cantik.

Matanya tertutupi asap sebentar saja, tapi sungguh, itu sanggup mengubah seluruh cara pandangnya sebagai perempuan.

Percayalah, banyak pria di luar sana yang mengatakan pujian itu hanya untuk meninggikan nilainya di hadapan wanita yang ia sukai – tanpa tahu makna di baliknya, tanpa tahu seberapa besar pengaruh pujian itu bagi perempuan yang dia tujukan. Padahal bagi perempuan yang menerimanya, seketika dunianya bisa jungkir balik hanya karena mendengar pujian tersebut.

Padahal si pria hanya sekedar ingin meninggikan 'nilai'-nya sendiri di mata si perempuan tersebut. Hanya untuk menarik perhatian, hanya untuk merenggut hati si-empunya wajah. Sah-sah saja sih, tapi kalau justru karena pujian itu, sang perempuan jadi berharap terlalu tinggi, terlalu melebihi kapasitas yang disanggupi oleh si pria. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Kekecewaan. Tertelan kekecewaan. Itu bila hanya berakhir demikian. Bagaimana jika lebih parahnya pujian itu membuat si perempuan jadi 'tinggi hati'? Itu sangat mungkin terjadi.

Sungguh perbuatan yang tidak bijaksana. Sungguh sangat tidak bijaksana.
Dan tidak hanya berlaku pada pria, ini pun berlaku pada perempuan. Termasuk saya sendiri.

Sebagai perempuan, kita harus lah pandai menyimpan pujian untuk pria, yang bahkan belum jadi siapa-siapa kita. Yang bahkan belum pernah menjanjikan apa-apa untuk kita. Tak apa kamu dipandang kolot dan membosankan, tak apa, sungguh. Asal jangan sampai turun drajatmu di hadapan Tuhan-Mu sendiri, itu yang tak boleh. Itu yang harus kamu hindari. Itu adalah bagian 'abu-abu' dari sebuah pujian manis.

Pria sejati, akan mengerti hal ini dengan baik. Tak akan menuntut apa yang dapat menggoyahkan martabat perempuan yang ia sayangi.


Untuk itu, Rasul sendiri selalu mencontohkan, bahwa pujian yang baik adalah pujian yang tidak diutarakan secara langsung di hadapan mereka yang kamu kagumi atau sukai. Justru akan lebih baik dikatakan di depan banyak orang-- tapi tanpa diketahui oleh dia yang tengah dipuji. (saya pun belum lama membaca dan mengetahui hal ini)


Pujian yang dilontarkan orang lain terhadap diri kita, merupakan salah satu tantangan berat yang dapat mengubah karakter kita, tanpa kita sadari. Oleh karena itu, ketika seorang Sahabat memuji Sahabat yang lain secara langsung, Nabi SAW. menegurnya:

قطعت عنق صاحبك

“Kamu telah memenggal leher temanmu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Bakar RA.)


Begitu pun apa yang Ali Radiyallahu Anhu pernah katakan, ungkapannya yang begitu terkenal;

“Kalau ada yang memuji kamu di hadapanmu, akan lebih baik bila kamu melumuri mulutnya dengan debu, daripada kamu terbuai oleh pujiannya.”

Karena-nya, bijaksanalah dalam menyampaikan pujian kepada orang lain. Tentu memuji itu boleh-boleh saja. Hanya saja saya kerap kali mendapatkan dan menemui 'pujian' yang tidak pas pada tempatnya. Walau saya tahu, niat yang memuji adalah baik. Dan saya sungguh menghargainya :)


Memuji tidak selalu harus melalui kata-kata. Pujian lewat dukungan dan doa justru lebih baik. Setidaknya seperti itu lah menurut saya. Saya tidak berkapasitas untuk membuatmu pun setuju dengan cara pandang saya ini :)

Saya pun sungguh, masih belajar untuk memahaminya.

***


Apa membanggakannya dipuji cantik?

Bagaimana kalau kamu tidak secantik yang mereka lihat, apakah mereka akan tetap ada di sisimu? Bertahan menyayangimu? Menerimamu apa adanya?

Omong kosong. 

Bahkan mereka yang berilmu agama tinggi saja, masih tak sanggup menerima kekurangan fisik.

Apa kamu tahu, seberapa tipis jarak antara pujian dan ujian? Tipis sekali. Itu kenapa ada kata ‘ujian’ di dalam ‘pujian’. Pujian, adalah sesungguhnya ujian paling nyata di atas dunia ini. Itu kenapa Iblis pernah bilang pada Rasul; mereka yang masih suka pujian dan harta, mereka adalah hamba yang paling menurut padaku!

Jangan terbiasakan diri mencintai pujian yang bukan datang karena Allah. Apalagi pujian yang lahir dari pandangan ‘lahiriah’ semata.

Saya sendiri saja, selalu keras mengingatkan diri saya sendiri akan hal tesebut.

Biasanya, ketika ada yang berterima kasih pada saya, saya akan menjawab; mari kita berterima kasih pada Tuhan saja.

Tapi sungguh, tak ada maksud menolak ucapan terima kasih tersebut. Entah kenapa, menerimanya begitu saja membuat saya merasa berat. Ketika saya bahkan tahu, tanpa bantuan Tuhan, saya tidak akan pernah bisa menulis apa pun yang (mungkin) kalian sukai.

***

Ikanuri dan Wibisana yang tersesat di hutan setelah mengejek Kak Laisa

“KAMI TIDAK AKAN LAGI MENURUT. KAMU BUKAN KAKAK KAMI! KAMU JELEK, PENDEK DAN HITAM! KAMU JELEK JELEK JELEK! KAMU BUKAN KAKAK KAMI LALU KENAPA KAMI HARUS MENURUT PADAMU?!”

Itu adalah teriakan Ikanuri sewaktu Kak Laisa menyuruhnya pulang setelah ketahuan mencuri mangga di kebun orang. Ikanuri adalah adik persis Dali. Sejak kecil dia memang sudah nakal.

Hati Kak Laisa terluka. Bukan karena ejekan tentang fisiknya. Tapi soal kenyataan bahwa dia memang bukan-lah kakak kandung dari 4 bersaudara itu. Kenyataan bahawa ia juga begitu menyayangi mereka seperti saudara sedarah sendiri. Tapi apa daya, dia memang bukan-lah siapa-siapa di keluarga tersebut. Bukan siapa-siapa.

Dan itu telah jadi kalimat yang paling Ikanuri sesali sepanjang sisa usianya. Kalimat yang kalau saja bisa, ingin ia telan kembali sebelum akhirnya terucap.

Kalian tahu apa yang paling mudah menerbangkanmu? Kata-kata.
Kalian tahu apa yang paling mudah menjatuhkanmu? Kata-kata.
Kalian tahu apa yang paling mudah membahagiakanmu? Kata-kata.
Kalian tahu apa yang paling mudah menyakitimu? Kata-kata.

Pandailah menjaga mulutmu. Sungguh pandai-pandailah menjaganya. Karena disadari atau tidak kita sadari ada banyak rangkaian kalimat yang dengan mudahnya keluar dari mulut kita, yang bahkan ketika mengucapnya dulu- kita tanpa ‘berpikir’ terlebih dahulu, tapi mampu melekat selamanya di hati seseorang sebagai hal menyakitkan. Pendengaran seseorang bukan lelucon yang siap menerima lelucon tidak pantas yang keluar dari mulut yang tidak bertanggung jawab.

Saat itu usia Ikanuri masih kecil. Saat itu ia bahkan tidak bisa disalahkan atas apa yang telah ia ucapkan. Saat itu dan bahkan sampai meninggal, Kak Laisa tidak pernah marah dan membenci Ikanuri. Tapi Ikanuri sendirilah yang menyimpan itu dalam ingatannya sebagai sesal sampai ke detik dia dewasa. Ketika ia akhirnya menyaksikan, bahwa seseorang yang pernah ia hina, menjadi seseorang yang selalu ada untuknya, yang tak pernah datang terlambat, yang selalu tepat janji. Dia lah Laisa, kakak yang pernah tidak dia akui.


Yashinta dewasa, ketika sedang dibujuk oleh Kak Laisa di kebun Strawberry. “Kamu tidak akan menunggu kakak kan Yash, karena boleh jadi kakak tidak akan pernah menikah”

Ada cerita lain, ketika Yashinta, anak paling bungsu dari keluarga Mamak, menolak masuk sekolah.

"YASH TIDAK MAU SEKOLAH DI SINI! Yash mohon, jangan paksa Yash." Yashinta merengek. Laisa menelan ludah. Lembut menatap wajah adiknya.
"Yashinta marah dengan orang di dalam tadi?" Yash diam menggigit bibirnya.
"Yash marah?" Yash mengangguk pelan. Bagaimana ia tidak marah. Ketika formulir pendaftarannya akan ditanda tangani Kak Laisa, petugas itu kasar menegur, "Harusnya orang-tua atau wali murid yang menanda-tangani, bukan pembantu yang mengantar."
"Ia kakakku." Yashinta yang menjawab.
"Bagaimana mungkin ia kakakmu?" Petugas menatap heran. Dibandingkan dengan adiknya, Kak Lais memang lebih mirip seseorang yang disuruh mengantar.
"Ia kakakku!" Yashinta menjawab ketus. Lalu langsung pergi kasar meninggalkan ruangan pendaftaran. Itulah kejadian yang terjadi beberapa menit sebelum rengekan 'Tidak mau sekolah di sini' keluar.
"Yash seharusnya tidak marah. Yash seharusnya terbiasa. Lihat, Ikanuri dan Wibisana terbiasa. Dalimunte juga terbiasa."
"Tapi mereka menghina Kak Lais!"
"Mereka hanya merasa heran."
"Mereka menghina! Pokoknya Yash tidak mau sekolah di sini!"

Lihatlah, bagaiman bahkan kata-kata bisa menyakiti hati mereka yang tidak sedang direndahkan. Kak Lais tak marah sedikit pun dengan kata-kata tadi. Tapi Yashinta, hatinya terluka mendengarnya. Mendengar bagaimana orang lain bisa begitu mudah merendahkan kakaknya yang paling baik di matanya. Sekali lagi, hanya karena fisik.


Kak Laisa dan Dali kecil. Ketika Dali berhenti 1 tahun dari sekolahnya, membantu Kak Laisa untuk menyuburkan kebun Strawberry-nya

Hei, jangan pernah pula kamu, menjajikan apa-apa yang kamu sendiri tidak rela mengorbankan dirimu untuk menepatinya.

Kepercayaan seseorang pun, bukan hal yang bisa kamu lempar-lempar sesukamu. Berjanjilah, bila memang kamu tahu kamu siap untuk berjuang atas janji itu.

Ada sebuah adegan ketika kebun Strawberry percobaan Kak Laisa gagal panen. Itu menyebabkan tak ada uang cukup untuk memasukkan Dali ke SMP. Padahal Dali pun dulu sudah telat usia saat masuk SD.

"Sebenarnya.. Sebenarnya, Dali juga tidak senang sekolah. Sungguh. Kakak tahu, bahkan Dali lebih suka bekerja di kebun, membantu Mamak, membantu Kakak. Dali tidak suka sekolah. Jadi Kakak tidak usah sedih.." Dali adalah anak laki-laki berhati paling lembut di keluarga ini. Dia pun yang paling dekat dengan Kak Laisa. Dia juga yang ter-pandai di antara adik-adiknya yang lain.
Laisa menelan ludah. Menggigit bibirnya.

"Dali kan bisa belajar dari mana saja. Pinjam buku. Tidak mesti sekolah. Dali tidak harus membuat Kakak susah."
"Kamu bicara apa, Dali!" Laisa memotong.
"Dali tidak ingin sekolah. Dali tidak ingin membuat Kak Lais sedih. Tak ingin lihat Mamak kerja keras dipanggang matahari. Dali tidak ingin sekolah-"
"Kau harus tetap sekolah! Tidak tahun ini, tidak sekarang.. Tapi kau tetap harus sekolah, Dali.. Jika Mamak tidak punya uang tahun ini, maka Mamak akan punya uang tahun depan. Kau dengar kakak.. Kau dengar kakak, Dali? Kakak berjanji akan melakukannya. Sungguh."

Dan sungguh Kak Laisa, tak pernah main-main dengan janjinya. Profesor Dalimunte, itu adalah Dali di masa dewasanya. Itu adalah buah dari janji seorang Kak Laisa.

***

Menuju kebaikan memang tak akan pernah mudah. Tidak akan pernah mudah.
Akan banyak orang yang menatap dan menilaimu tengah ber-akting menjadi orang baik. Maka tinggalkan-lah mereka di belakang.
Akan banyak orang yang menatap dan menilaimu tengah mencoba menggurui orang lain. Maka tinggalkan-lah mereka di belakang.
Akan banyak orang yang menatap dan menilaimu tengah berusaha menarik perhatian orang lain. Maka tinggalkan-lah mereka di belakang.
Mengingatkan tentang kebaikan memang tidak akan pernah mudah. Tidak akan pernah mudah.
Akan banyak orang yang berpikir dan menilai bahwa kamu hanyalah seseorang yang tidak punya kerjaan. Maka tinggalkan-lah mereka di belakang.
Akan banyak orang yang berpikir dan menilai bahwa kamu hanyalah seseorang yang sedang mencitrakan dirimu sendiri. Maka tinggalkan-lah mereka di belakang.

Tuhan Maha melihat. Maha mengetahui. Kenapa perlu khawatir dicurangi atau diperlakukan tidak adil? Maka tinggalkan-lah pemikiran macam begitu. Kokohkan langkahmu untuk mengarah pada kebaikan.
Berdoalah pada-Nya untuk selalu bisa dikumpulkan bersama hati-hati yang baik dan dijauhkan dari mereka yang penuh prasangka. Positiflah melihat hidup.

Saya pernah membaca sebuah kalimat bijak, yang – saya sendiri lupa ditulis siapa. Mereka berbunyi;

“Menangisi mereka yang pernah menyakiti hatimu? Lebih baik menangisi dosa-dosa milik sendiri.”

Bersedihlah hanya ketika kamu lalai akan kewajiban ibadahmu
Bersedihlah hanya ketika kamu lalai akan janjimu pada hati orang lain
Bersedihlah hanya ketika kamu (perempuan) masih belum sempurna menutup auratmu (kalau dalam kasus saya, saya masih suka berpakaian lontong. Pakai baju nutup kaki tangan sih, tapi pakai celana ketat -_- / ini yang sering dibilang, berjilbab tapi telanjang!)
Bersedihlah hanya ketika kamu gagal meraih sesuatu karena kamu tidak cukup bekerja keras atasnya
Bersedihlah hanya ketika kamu kecewa karena terlanjur berharap pada selain Dia

Ada kalimat indah TERE LIYE yang begitu saya sukai, mereka berbunyi;

“Orang-orang yang merindu, namun tetap menjaga kehormatan perasaannya, takut sekali berbuat dosa, memilih senyap, terus memperbaiki diri hingga waktu memberi kabar baik, boleh jadi doa-doanya menguntai tangga yang indah hingga ke langit. Kalau pun tidak dengan yang dirindukan. Boleh jadi diganti dengan yang lebih baik.”

Bidadari-bidadari surga, seolah-olah adalah telur yang tersimpan baik. (Ash- Shaffat: 49)
End.

Ps: Banyak waktu untuk membaca, menulis, beribadah dan tertawa. Nikmat Tuhan mana lagi yang mau kamu dustakan, Fa? Ber-syu-kur!

Terima kasih Bang Darwis, atas sebuah lagi buku yang menginspirasi. Setelah Negeri Para Bedebahmu yang membuat saya jatuh hati. Bukankah kabar baik itu harus disebarkan? :)

Belum lama saya pun mendapatkan tanda tangan Bang Tere hadiah dari seorang teman. Karena Bang Tere Liye tidak bisa diajak berfoto bersama atau bersalaman, maka tanda tangannya saja mampu membuat saya bahagia luar biasa. Ternyata dalam perawakan asli, Bang Tere begitu lembut dan ramah. Tutur katanya pun begitu halus. Jauh dari kesan sombong apalagi jutek. Dia bahkan sempat mengatakan; semoga tidak kecewa ya, tidak bisa berfoto bersama. Bang Tere memang hanya melayani foto dengan anak-anak. Saya yang mengirim pesan ke alamat emailnya untuk mengucapkan terima kasih pun, langsung dia balas dengan ramah. Hanya dalam hitungan menit. Sekarang saya mengerti bagaimana perasaan mereka yang mengagumi tulisan saya dan begitu bahagia bila chat atau mention-nya saja saya balas. Saya balas ‘hai’ saja langsung mereka favoritkan. Maafkan Fa, yang kadang suka tidak membalas ym atau mention kalian ya. Fa janji akan berusaha lebih baik lagi ke depannya. Terima kasih Aya, hadiah ulang tahun yang luar biasa. Saya anggap itu adalah hadiah ulang tahun yang pernah kamu janjikan :*

Begitu berharap, film Bidadari-bidadari surga yang akan rilis 6 Desember nanti, tidak-lah semengecewakan film Hafalan Sholat Delisa. Semoga. Foto-foto itu hanya sebagai visualisasi saja, agar kalian bisa membayangkan apa yang saya tuliskan. Dan semoga, posting ini lebih banyak membawa manfaat dari pada keburukan ^^

3 comments:

  1. kak falafuuuu. wuh, saya menuggu sekali postingan kakak yang ini. soalnya abis baca buku tere liye yang ini, saya berharap kakak bakalan ulas bukunya di blog kayak bukunya tere liye yang lain hehehehe

    kak, udah baca yang "sunset bersama rosie?" diulassss juga dong kalo udahh :D

    entah kenapa saya suka sekali membaca tulisannya kakak, keep writing ya kak, keren ! ehhehe <--- ini pujian nggak sih? :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nanti pas ada waktu luang pasti diulas. Sudah baca yg negeri para bedebah? itu very recomended banget :D

      Delete
  2. kakak izin share ya kak

    ReplyDelete

Thanks for reading my post! :)