Tuesday, September 11, 2012

yang belum sempat dicintaimu


"Mungkin kita berjodoh. Mungkin juga tidak. Cinta, adalah kemungkinan-kemungkinan." -- fa

***

Kalau aku ternyata tak sampai berhasil bertemu denganmu, dan Tuhan hanya memberiku selembar kertas untuk menuliskan pesan untukmu. Maka inilah yang akan kutuliskan;

Hai,
Hai adalah sapaan yang entah sudah berapa ribu kali kulatih dan kubayangkan. Pertemuan seperti apa, tatapan seperti apa, dan pelukan seperti apakah yang akan kutemukan ketika pada akhirnya kita bertemu. Walau pun, ternyata pada akhirnya kita tidak pernah bertemu.

Kau tahu, untuk apa selama ini aku menjaga diriku agar tetap utuh? Untukmu.
Kau tahu, untuk apa selama ini aku bersabar dalam hidup agar tetap ada? Untukmu.

Senyum,
Senyum adalah hal yang entah sudah berapa ribu kali kulatih dan kubayangkan. Raut seperti apa, tarikan garis seperti apa, jajaran gigi seperti apa yang akan kutemukan, atau akan kah kau memiliki lesung di pipi yang mirip bintang ketika pada akhirnya kita saling menemukan. Walau pun, ternyata pada akhirnya kita tidak pernah sempat dipertemukan.

Aku selalu membayangkan, kita punya tiga anak. Dua perempuan dan satu laki-laki. Yang kesemuanya punya gabungan senyum manis milik ke-dua orang tuanya.

Aku selalu membayangkan, akan bertemu dengan cara yang sederhana denganmu, hidup dalam keluarga sederhana, lalu saling memberi dalam ‘sayang dan iman yang mengagumkan’.

Aku selalu membayangkan, kita akan punya ruang sholat yang luas di rumah. Serta jendela-jendela panjang yang selalu terbuka di pagi hari. Rumah kita berjarak tidak jauh dari masjid, sehingga setiap kali adzan Subuh berkumandang, kita selalu mudah terjaga dengan sendirinya.

Aku selalu membayangkan, seakan itu pasti benar terjadi. Walau pun, ternyata pada akhirnya itu tidak pernah terjadi.

Satu yang perlu kau tahu, walau pun kau tidak pernah sempat memilikiku, aku tidak pernah jadi bekas kepunyaan siapa pun. Aku tetap utuh sebagai aku, yang tak sempat kau miliki. Aku menjaga diri dan imanku semampu yang kubisa. Sekuat yang kucoba, dan ini untukmu.

Kalau saja bisa, aku ingin menyimpan suara tawaku untuk kau dengar. Kalau saja bisa.
Karena aku ingin kau tahu, bahwa sebelum akhirnya kau membaca surat ini; aku adalah perempuan yang bahagia dengan hidupku. Bersyukur atas porsi nikmat yang menjadi bagianku. Bukan bagian dari mereka yang, butuh berjuta alasan hanya untuk sekedar berbahagia. Seperti saat aku menulis ini, kau tahu aku bahkan terus mengulang senyum saat mencoba membayangkan parasmu ketika membacanya kelak.

Kau tahu kalau saja bisa, aku ingin menyimpan tawamu untuk kuingat. Kalau saja itu bisa. Karena berbagi bahagia denganmu adalah hal yang begitu ingin kujalani, bahkan lebih dari sepanjang hidup ini.

Mungkin bagi sebagian orang pernikahan hanyalah sebuah jalan agar tak sendirian hingga hari tua menjemput. Tapi bagiku tidak, pernikahan adalah jalan yang seharusnya dapat mengantar kita pada kualitas iman dan hidup yang lebih baik. Di mana saat bersamanya kamu merasa Tuhan semakin dekat di hatimu. Di mana saat bersamanya kamu menjadi lebih bahagia dalam menjalani hari. Di mana saat bersamanya kamu kelak dapat menutup usiamu dengan lengkap. Itulah pernikahan yang selalu aku impikan.

Tapi terkadang, kamu tahu sayang, kesempatan tidak selalu sepenuh yang kita harapkan. Dan, tentu saja itu tak mengapa. Semua akan baik-baik saja. Tuhan nyata telah mempersiapkan seseorang yang lebih melengkapimu dari pada aku.

Terima kasih, atas segala kesempatan untuk dapat pernah ‘memimpikan kita’.

Yang belum sempat dicintaimu,

Aku.
#SebuahCatatanSebelumTidur

Ps: ini lucu, tulisan ini saya tulis di malam 12 juli. Dan tepat esok harinya, saya kehilangan ibu saya. Tidak ada yang kebetulan, malam itu entah kenapa saya terus berpikir soal kematian. Bagaimana kalau tiba-tiba waktu saya habis, sebelum saya sempat melakukan begitu banyak hal yang ingin saya lakukan, merealisasikan mimpi-mimpi saya, salah satunya pun keinginan untuk menemukanmu.

9 comments:

  1. Kak fa...
    Kenapa perasaan kita bisa semirip ini ya :) Ah bukan, aku yang belum bisa menggambarkan perasaan ku dengan jelas. Dan dari tulisan kak fa, aku bisa merasakan perasaanku sendiri...

    Kak, terimakasih. Aku merasa tenang, menemukan seorang seperti kak Fa. Menjaga diri sendiri untuk seseorang dimasa depan dengan tidak menjadi bekas siapapun. Mari kita sama-sama berusaha kak... :)

    ReplyDelete
  2. ahhhh,...
    "bagaimana kalau tiba-tiba waktu saya habis,........, menemukanmu".

    ReplyDelete
  3. saya selalu suka impian keluarga sederhananya kak fa :')

    ReplyDelete
  4. Suka sekali, read it over and over again..pas banget ama keadaan sekarang :((

    ReplyDelete

Thanks for reading my post! :)