Saturday, September 08, 2012

Bromo; Menggenggam pandang di antara ribuan jejak



Saya sulit mengatakan betapa bahagianya saya hari itu. Betapa hal-hal sederhana begitu mudah membuat saya tersenyum dan tertawa lepas. Rasanya saya ingin menyimpan setiap momen dengan merubahnya menjadi kunang-kunang ke-emasan dan memasukkannya ke sebuah botol kaca. Sehingga kemudian bisa berlama-lama memandangi mereka setiap kali ingin tertidur di tengah gelapnya ruang.

Mengingatnya, lalu bersyukur.

Ya, bahagia yang sederhana dan tidak memberatkan..

Sesederhana wajah-wajah di sekeliling saya yang bermain riang dengan asap putih yang keluar dari mulut mereka. Sesederhana kabut-kabut tipis Bromo yang terbang landai ke selatan. Sesederhana gemetar tubuh-tubuh yang tetap mencoba tegak berdiri menanti sang mentari. Sesederhana perihnya kulit wajah terbakar sang surya, yang seperti terkena cipratan kembang api saat kau basuh dinginnya air.
Apa pun, saya mampu betah tersenyum.

***

Tidak tidur selama belasan jam setelah menempuh perjalanan 9 jam dari Yogyakarta menuju ke Surabaya, tak sedikit pun lelah yang terasa. Ketika pada pagi harinya di Yogya saya terburu-buru packing karena merasa diri superhero bisa menyelesaikannya hanya dengan waktu 1 jam.  Mengejar Bis pukul 9 pagi, sampai akhirnya benar-benar ketinggalan bis. Hahaha, kalau ngga begitu bukan Fa pasti. Tapi, ada kalanya kebodohan-kebodohan kecil membuat alur cerita jadi semakin menarik untuk diingat ke-esokan harinya.



Berangkat tepat pukul 00.00 Surabaya dan sampai di terminal 2 Bromo di pagi buta, saya selalu diikuti bulan bundar sempurna sejak pertama kali menginjakkan kaki di kota pahlawan, betapa beruntungnya. Setiap kali saya membaca status bbm yang saya tulis sejak beberapa hari sebelumnya saya selalu tersenyum. Mereka berbunyi; ‘aku ingin tiket ke bulan’. Padahal saat menulisnya, perjalanan ini belum saya putuskan. See, tidak ada yang kebetulan. Rasanya hari itu Tuhan memberi saya tiket langsung bertatapan begitu lekat dengan bulan saat berada di ketinggian yang begitu maksimal. Saya berangkat ke penanjakan (tempat menyaksikan sunrise) sekitar pukul 4 pagi dan tiba di sana saat langit masih gelap sempurna.

Terlempar-lempar di dalam mobil toyota hardtop 4x4, saya juga sempat terpeleset karena terburu-buru naik ke dalamnya. Kaki saya membentur besi tajam pijakan hardtop yang membuatnya lecet dan bengkak padahal saat itu saya mengenakan celana jeans yang cukup tebal . Tapi nyatanya semua itu tidak menyurutkan semangat saya untuk berjalan ke sana dan ke sini, bahkan masih bersemangat loncat-loncat untuk berfoto, walau pun setelahnya rasanya pinggang saya mau copot -_-  #sokberasamasihanakSMA

Udara Bromo yang ucap penduduk sekitar memang sedang dingin maksimal membuat banyak sekali erangan kedinginan dari ratusan orang yang berkumpul untuk menyaksikan sunrise. Saya sendiri tidak merasakan dingin yang terlalu, entah karena semangat atau rasa bahagia yang meluap-luap. Atau mungkin juga karena perut saya masih terisi dengan baik saat itu. Kebetulan sebelum berangkat, sekitar pukul setengah 12 malam saya mengisi perut lagi. Padahal sebelumnya juga sudah makan malam. Berbeda kalau harus berurusan dengan airnya, sumpah demi apa pun itu air di toilet umum dinginnya bukan kepalang. Ambil air wudhu aja tangan langsung beku kesemutan. Hahaha.. saya nyerah.

***

Surprise – Sunrise..

Sunrise

Dan seperti menerima surprise, saat pada akhirnya sinar matahari mulai membelah gelapnya subuh, saya disuguhi pemandangan yang maha indah. Musim panas, membuat cuaca cerah sempurna. Mereka mengikat kuat pandangan saya, tak ingin lepas. Jajaran gunung, rerumputan, pepohonan pinus dan bahkan bebatuan yang berserakan seakan telah diletakkan Tuhan dengan sempuran. Keindahan Bromo yang tak ada cela. Awan-awan yang tampak terbang jauh di bawah tempatmu berpijak, membuatmu sejenak merasa bagai makhluk yang bermukim di langit. Aih, bagaimana mereka yang tinggal di pulau Jawa sendiri bisa melewatkan surga seperti ini. Betarap ruginya orang Indonesia yang belum pernah singgah ke sini, pikir saya. *sotoy*

Turun dari penanjakan
Tepat pukul 6.15 akhirnya saya memutuskan turun dari penanjakan Bromo menuju lautan pasir, karena berdasarkan pengalaman kerabat saya udara akan sangat panas bila sampai kesiangan tiba di sana. Idealnya, sudah ada di sana sebelum pukul 8. Maka udara masih sangat bersih.

Matahari di sela-sela Pinus
Dan hal yang pertama kali terlintas di kepala saya saat tiba di sana adalah buku Selimut Debu milik Agustinus Wibowo. Puluhan bahkan mungkin ratusan penunggang kuda bertebaran, yang setiap kali ada hardtop datang mereka akan saling berkejaran mencari penumpang. Debu yang selalu terhempas ke wajah, bahkan beberapa kali tertelan oleh saya. Apa seperti ini rasanya tinggal di tempat yang berselimut debu? Senyum kecil tersungging di pipi, tempat ini luar biasa. Kebetulan saya memang suka sekali binatang yang bisa ditunggangi, setelah sebelumnya sempat norak naik gajah di kebun binatang, saya bahagia sekali bertemu dengan begitu banyak kuda di sana.

Mengejar calon penumpang
“Neng, ayo neng naik kuda sampai atas 100rb, jauh loh kalo jalan..”
*fa ngga fokus* “Kudanya ganteng ya bang.. namanya siapa?”
“Kudanya ganteng, abangnya ngga ya neng?” Celoteh abang kuda yang lain dan mereka tertawa.
*fa tetep ngga fokus* “Siapa bang nama kudanya?”
“Pinto Neng.” Akhirnya si abang kuda jawab juga. Dan saya memang sedang tidak tertarik menyewa jasa mereka.

Ini lucu, saya memang suka sekali bertanya nama hewan peliharaan. Berapa umur mereka. Jenis kelaminnya. Entah kenapa.. hahaha aneh ya saya.. bahkan saya tahu kalau gajah yang belum lama ini saya naiki di kebun binatang ber-usia 40 tahun dan berjenis kelamin laki-laki -_-'

“Sini bang, saya foto ya sama kudanya!” Ujar saya bersemangat.

Pinto dan si Abang kuda
***

Jejak mereka, menjejak di hati saya..

Menggenggam

Ribuan jejak kaki manusia yang berserakan di padang pasir yang begitu luas terlihat begitu harmonis di mata saya. Saya membayangkan ketika di setiap pasang jejak itu telah menyimpan ceritanya sendiri tentang tempat ini. Saya berada di tengah-tengah keromantisan Bromo. Puluhan hardtop warna-warni yang juga tersebar di sana entah kenapa membuat pemandangan menjadi semakin indah. Ini memang bulannya liburan. Pengemudi hardtop yang saya tumpangi mengatakan bisa ada lebih dari 500 hardtop yang keluar jika pengunjung sedang padat. Bisa kalian bayangkan, dengan jalur aspal yang sempit, membuat mobil tersebut nyaris saling menempel ketika berpapasan, yang otomatis membuat perjalanan semakin seru dilewati. Kebetulan saya memang sempat kejedot berkali-kali karena melamun kejedot aja bangga.
Puluhan Hardtop warna-warni

What a lovely blue sky..

What a perfect blueeeeee...

Langit yang sempurna hari itu pun melengkapi perjalanan saya. Saya ingat betapa kemarin saya hanya bisa berharap dan meminta hadiah langit dari teman atau kerabat yang kebetulan sedang melakukan perjalanan. Tapi kali ini, Tuhan memberi saya kesempatan untuk menangkap langit saya sendiri dengan camera sederhana yang jadi teman baik saya selama di perjalanan. Menghadiahi langit itu sendiri untuk diri saya. Kekaguman saya pada langit biru, membuat saya memiliki impian bisa mendatangi tempat-tempat indah dan menangkap langit sempurna dari sana. Tak ada yang lebih membahagiakan dari pada bisa melakukannya lagi dan lagi. Berulang hingga mungkin usia senja datang.

Teman perjalanan? Saya tidak akan bercerita tentang mereka. Karena perjalanan kali ini saya dedikasikan untuk diri saya sendiri dan kalian. Ah, bagaimana bila tahun yang luar biasa ini saya lewati tanpa kalian. Terima kasih untuk setiap doa dan penguat yang tak luput kalian berikan. Terima kasih :)

Semoga, akan ada lagi perjalanan lain yang bisa membuat saya dan kamu semakin jatuh hati dengan Bumi ini. Ketika turis dari penjuru dunia berbondong-bondong datang ke negeri ini, warga negaranya justru berlomba berlarian berlibur ke negeri seberang. Ah ya, rumput tetangga memang selalu tampak lebih hijau dari rumput di halaman sendiri bukan? Apalagi ketika tiket pesawat untuk pergi ke negeri tetangga lebih murah dari harga sewa Hardtop di Bromo.

***

Sebuah perjalanan seharusnya mampu membuat seseorang menjadi semakin rendah hati. Karena pada akhirnya mereka menyadari bahwa mereka hanyalah serpihan kecil dari indahnya Dunia yang Tuhan ciptakan.

Hehehe.. kebetulan saya bukan traveler, backpacker atau apalah sebutan untuk mereka yang hobi jalan-jalan. Saya hanya manusia, yang kalau ada kesempatan melakukan perjalanan maka akan dengan senang hati pergi. Berjalan jauh dan jauh, mengisi kepala saya dengan banyak hal baik dan menuliskannya agar setidaknya bisa saya ingat lagi esok lusa sebagai kenangan baik. Meninggalkan jejak di tempat-tempat indah, bukankah hal seperti itu baik untuk mengisi hidup yang hanya sekejap ini?

Untuk se-seorang seperti saya, yang sudah hampir 2 tahun tidak melakukan perjalanan pribadi kemana pun. Bromo akan jadi tempat yang saya ingat, selama mungkin memory saya sanggup mengingatnya.

Run run run!

Sampai jumpa lagi, Bromo! :)

Kunjungilah Bromo, setidaknya satu kali dalam hidupmu!

Ps: Jika saja setiap dari mereka yang melakukan perjalanan rela duduk sejenak untuk menuliskan ceritanya, maka jatuh cinta pada bumi ini akan jadi hal yang mudah.
Dan ini sangat menyenangkan, ketika pada akhirnya saya berkesempatan menuliskan perjalanan saya sendiri.

9 comments:

  1. bromo bromo bromo bromo, kapan saya sempat ke sana ya.. #melamun

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo melamun terus ya ngga sampai-sampai Greace.
      Hehehe, ayo gendong tasmu lalu berangkat lah! Hap hap hap! :D

      Delete
  2. agak sdkit miris seh Fa..tiket kluar negeri emg lbih murah dripda dalam negeri..makanya,bnyk kluar ngri. Shrusnya,warga Indonesia itu,lbih murah brkliling Indonesia,biar lbih cinta sama Indonesia..#SokBijak

    Bromo sudah masuk dlm target yg akan dikunjungi..tapi kapanya blum tau..hehe smgaa..trkbul scpatnya..hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo menurut saya, mahal ngga apa-apa asal duit yang kita keluarin juga dipake sama bangsa kita sendiri :p
      Kalo cinta negerinya nunggu sampe lebih murah ya ngga cinta-cinta sama negeri ini dong Yura, hehehe.
      AMIN! :D

      Delete
  3. dua minggu lagi saya akan kesana 'bromo'..semoga semua cerita indah perjalanan dan pemandangan yang luar biasa itu, bisa saya nikmati juga...tulisan nya fa membuat saya semakin bersemangat untuk kesana..thank fa :))

    ReplyDelete

Thanks for reading my post! :)