Friday, August 17, 2012

My Donkey

"Terkadang membela diri justru membuatmu tampak lebih bodoh dari diam. Konyol, bila kita ingin selalu terlihat benar di mata manusia lain." – Fa

Alkisah di sebuah desa, hidup seorang anak laki-laki bernama Soleh dan sang Ayah yang bernama Abdullah. Sang ayah hanya seorang petani yang memiliki sedikit petak ladang gandum dan beberapa ekor keledai. Hidup mereka memang sederhana, tapi mereka tidak sampai kekurangan bahan makanan untuk bertahan hidup.

Ibu Soleh meninggal semenjak ia dilahirkan, dan Soleh pun tidak memiliki satu orang pun saudara. Itu kenapa Soleh menjadi kesayangan sang Ayah dan memiliki sifat manja yang agak berlebihan. Walau begitu sebenarnya Soleh adalah seorang pribadi yang baik dan rajin beribadah. Hanya saja, ada satu sifat Soleh yang kerap membuat ayahnya kesal, yaitu bagaimana ia selalu saja mempermasalahkan penilaian orang-orang tentang hidup dan keluarganya. Soleh tidak pernah suka bila ada yang berkata buruk tentang dirinya atau ayahnya atau bahkan ibunya yang telah meninggal.

Dia pun sangat amat terganggu bila apa yang dilakukannya dinilai jelek oleh orang lain, padahal ia sudah mencoba yang terbaik. Dia selalu mengeluhkan kenapa banyak sekali orang di sekitarnya yang bersikap sinis bila dia berhasil melakukan sesuatu hal dengan baik. Soleh bisa uring-uringan seharian hanya karena seseorang menganggap baju yang dia kenakan tidak tampak sepadan dengan celana yang dia pakai. Atau bagaimana potongan rambutnya tidak tampak padu dengan wajahnya yang bulat. Selalu saja, penilaian orang yang menjadi pertimbangannya, hingga dia mulai kehilangan keyakinan pada dirinya sendiri dan bahkan sedikit demi sedikit mulai mempertanyaan keadilan Tuhan padanya.

Sampai di suatu hari, sang ayah berniat memberi pelajaran pada Soleh. Sang ayah ingin soleh mengerti, bahwa kita tidak bisa selalu ingin tampak “baik” dan “benar” di mata semua orang. Karena setiap manusia, memiliki mata dan pemikirannya masing-masing atas sesuatu yang ia lihat di hadapannya. Sang ayah pun mengajak Soleh jalan-jalan dengan keledai mereka siang itu.

“Soleh, keluarkan keledai tersehat kita dari kandangnya, lalu ayo kita pergi ke pasar Darkish!” Seru sang ayah.
“Untuk apa Ayah, bukankah kita masih punya banyak makanan untuk dimakan. Atau apa Ayah berniat menjual keledai kita?” Soleh yang baru saja pulang dari sekolahnya pun terkejut.
“Tidak, kita hanya akan melakukan sedikit perjalanan ke pasar. Ayah ingin menunjukkan sesuatu padamu.”
“Bukankah pasar itu cukup jauh ayah? Apa tidak apa-apa kita berjalan se-siang ini?”
“Tidak apa-apa Nak. Ayo kita berangkat.”

***
Baru beberapa langkah berjalan, sang ayah menyuruh Soleh untuk naik ke atas keledainya. “Soleh, naiklah kamu ke atas keledai. Biar Ayah jalan dan menuntunnya.”
“Tapi Ayah,”
“Naiklah saja, sepanjang perjalanan ke pasar kamu harus menuruti semua perintah Ayah. Diam dan perhatikanlah.”

Maka tak lama setelah perjalanan mereka lanjutkan, mereka pun bertemu dengan sekelompok ibu-ibu yang baru saja pulang dari ladang mereka. Dari jauh, sekelompok ibu-ibu itu sudah memperhatikan dan saling berbisik. Lalu ketika mereka berpapasan dengan Soleh dan sang ayah, salah seorang dari mereka pun melepas komentar;

“Yang benar saja, dasar anak tidak tahu diri. Bagaimana mungkin kamu membiarkan Ayahmu ini lelah berjalan sedangkan kamu duduk santai di atas keledaimu!”

Mendengar komentar sinis salah satu ibu itu, Soleh pun bergegas turun dari keledainya. Lalu tanpa aba-aba, sang ayah pun langsung menggantikan posisi Soleh duduk di atas keledainya.

“Ayo Soleh, mari kita lanjutkan perjalanan.”
“Ayah sengaja membuatku malu di hadapan ibu-ibu itu tadi?” Soleh melempar pandangan tak percaya pada sang ayah.
“Apa kau tidak dengar apa yang Ayah katakan di awal perjalanan kita tadi? Diam dan perhatikanlah.”

Maka sambil menekuk wajahnya Soleh pun kembali mengunci mulut dan melanjutkan langkahnya.
Hari semakin terik, dan wajah Soleh pun mulai bercucuran keringat. Ketika mereka hendak melewati sebuah jembatan kayu mereka kembali bertemu dengan seorang ayah dan anaknya yang mungkin baru saja pulang dari pasar. Sang anak berusia tidak lebih tua dari Soleh. Ketika mereka berpapasan, ayah dari anak itu pun menegur mereka.

“Hey Pak, bagaimana kau bisa duduk tenang di atas keledaimu sedang anakmu bercucuran keringat seperti ini. Apa kau tidak punya perasaan?”

Soleh yang mendengarnya pun sedikit terkejut dengan teguran si bapak tadi. Bukankah memang sudah sepantasnya dia yang berjalan sedang sang ayah yang duduk di atas keledai. Apa yang salah? Saat Soleh ingin membuka mulut untuk membela sang ayah, Abdullah pun lebih dulu memegang pundak Soleh dan turun dari atas keledainya.

“Kamu benar Pak, sudah seharusnya kami berjalan bersama keledai kami.” Ucap Abdullah, lalu ayah dan anak itu pun berlalu.
“Ayo kita lanjutkan perjalanan Soleh, sekarang tidak ada yang naik di atas keledai ini.” Perintah sang ayah. Dan mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. 

Matahari sudah mulai turun dan mereka baru saja berniat berhenti di sebuah kedai kecil untuk membeli air. Saat mereka sampai di depan kedai tersebut, ada beberapa orang pekerja kebun yang tengah beristirahat, mereka memperhatikan wajah Soleh dan ayahnya yang sama-sama kelelahan. Lalu salah satu di antara mereka pun angkat bicara.

“Hey pak, kenapa kalian berdua bodoh sekali. Kalian membawa keledai sehat dan kuat, tapi justru memilih berjalan. Lalu apa gunanya keledai itu kalian bawa selama perjalanan!” Serentak mereka pun menertawakan Soleh dan ayahnya. Soleh yang memang tidak suka mendengar komentar buruk orang lain tentang dirinya apa lagi ayahnya pun langsung melempar wajah kesal. 

“Ah, kalian pandai sekali. Seharusnya kami berdua memang menaiki keledai itu. Bodohnya kami yang sejak tadi tidak berpikir demikian. Terima kasih atas nasihat berharganya.” Ucap Abdullah. Soleh langsung melempar pandangan tak percaya ke arah sang ayah. Kenapa dia selalu membenarkan semua komentar orang-orang yang mereka temui sepanjang perjalanan ini. Tapi karena ia ingat perintah sang ayah untuk menurut dan diam, dia pun memilih diam.

Sepulang dari kedai tersebut. Abdullah memerintahkan Soleh untuk naik ke atas keledai bersama dirinya. Jadi sekarang, tidak ada yang berjalan dengan kaki, kecuali si keledai. Lalu baru beberapa meter mereka berjalan mereka kembali bertemu dengan seorang pria tua yang tengah menggembala dombanya di padang rumput seberang. Beberapa ekor domba berjalan bersamanya, sekarang bahkan sebelum mereka tepat berpapasan si pak tua sudah lebih dulu meneriaki mereka.

“Hey anak muda, apa hati kalian terbuat dari batu, bagaimana mungkin kalian menaiki keledai itu berdua. Kalian mau membunuhnya di tengah perjalanan atau bagaimana?!”
Sang ayah tersenyum bahkan nyaris tertawa saat ini, sedang Soleh melipat wajahnya semakin dalam. Apa ada yang salah dengan isi otak orang-orang di desa ini, pikirnya. Lalu mereka pun turun dari atas keledai mereka.

“Tunggu di sini, Ayah akan segera kembali.” Perintah Abdullah pada Soleh.
Tak berapa lama sang ayah pun kembali dengan sebatang kayu dan beberapa tali. “Ikat keledai ini ke batang kayu, lalu kita gotong dia.” Pinta Abdullah.
Saat mereka mencoba menggotong keledai itu, Soleh pun merasa keberatan. Lalu dia menghentikan langkahnya dan protes;

“Ayah, kenapa tidak kita berjalan bersamanya saja seperti tadi, atau Ayah bisa saja naik di atasnya dan aku yang berjalan itu pun tidak masalah. Kenapa kita harus berjalan kepayahan sambil menggendong keledai ini dan menyulitkan diri sendiri hanya karena seseorang menilai apa yang kita lakukan salah?! Padahal sejak tadi, tidak ada dosa yang kita lakukan, dan kita pun tidak ada yang keberatan dengan pilihan kita.”

Lalu sang ayah pun melempar senyum lembut ke arah sang anak, “Nah, apa sekarang kamu paham apa yang hendak Ayah tunjukkan padamu dengan perjalanan kita ini Nak?”
Soleh pun kemudian terkesima sendiri dengan protes yang baru saja dia ucapkan dengan penuh kesal tadi. Kalimat itu seketika justru berbalik menampar wajahnya sendiri.

“Kau bisa lihat sekarang, seperti apa pun pilihan yang kau ambil. Yang terbaik atau yang terburuk, selalu akan ada yang terlihat salah di mata orang lain. Dan apa kau akan terus hidup dengan mempersoalkan hal yang demikian? Bagaimana pandangan dan penilaian manusia begitu menggusarkan hidup dan hatimu, bahkan mulai menggoyahkan imanmu sendiri. Bagaimana bisa Ayah membiarkan anaknya menjadi pribadi yang demikian. Apa kamu mulai melupakan, bahwa pandangan dan penilaian Tuhanmu jauh lebih penting di atas segalanya?”

“Ayah benar. Aku mulai dibutakan dengan pandanganku sendiri.” Ucap Soleh terkesima.

***

Kalian tahu ya ngga lah ya Fa, itu adalah dongeng yang pernah diceritakan kakak saya sendiri bertahun-tahun yang lalu. Saya pernah berada di posisi Soleh. Kakak saya menceritakannya dan saya selalu mengingatnya dengan baik sepanjang hidup saya ini. 

Mungkin di antara kamu ada yang pernah mendengarnya. Sebenarnya, ceritanya tidak persis seperti yang saya tuliskan di atas. Tapi intinya sama saja. Saya mengarang tempat juga nama tokoh dalam cerita itu, karena saya memang sudah lupa siapa nama aslinya. Tapi inti cerita tetap seperti itu adanya. Dan nyatanya, walau pun sudah bertahun-tahun berlalu, setiap kali mengingatnya saya masih merasakan #jleb yang sama. Cerita ini menjadi pembelanjaran berharga dalam hidup saya, bahkan sampai ke detik ini.

Itu kenapa saya kerap bilang; konyol bila kita selalu ingin tampak benar di mata semua orang. Itu kenapa saya selalu bilang, adalah kemustahilan bila kita selalu ingin membahagiakan hati setiap orang. Dan adalah sebuah kesia-siaan, membuang waktu memikirkan prasangka buruk orang lain pada kita, ketika kita tahu apa yang kita lakukan adalah benar di mata-Nya.

Itu kenapa saya sekali lagi pake “itu kenapa” gue dapet piring cantik, selalu mengabaikan hal-hal semacam itu. Jangankan mereka yang tidak mengenal kita, bahkan seseorang yang mengenal kita dengan baik pun kerap salah paham dengan apa yang kita ucap, tulis atau lakukan. Saya bukan bagian dari mereka yang akan mempersulit diri saya sendiri dengan ikut campur atas isi hati orang lain terhadap saya. Mereka bebas menilai, hingga pada akhirnya ketulusan mereka yang akan mengambil porsi di hati saya. Apa mereka adalah bagian yang menyayangi saya dengan tulus, atau tidak. Itu pun tidak akan jadi masalah besar. Karena saya percaya Tuhan hanya membiarkan mereka yang baik untuk bertahan tinggal, bila kita selalu mencoba menjadi pribadi yang baik dalam hidup ini. 

Dalam setiap kebenaran, Tuhan-lah yang akan membelamu langsung bila kamu dicurangi. Kamu tahu kalimat ‘mengalah untuk menang?’ Itu memang benar adanya. Saya membuktikan itu selama 8 tahun tinggal jauh dari orang tua saya. Dan itu adalah nasihat yang selalu bapak saya katakan di sambungan telepon ketika saya mulai mengeluhkan kondisi saya di perantauan. Itu kenapa mungkin selama ini saya terkesan lemah dan mudah mengalah, manusia yang minta ditindas banget. Tapi semua hanya karena saya pernah berada dalam posisi sulit di mana saya tidak bisa membela diri walau pun saya benar. Dan hal seperti itu sangat tidak baik rasanya. Itu kenapa saya Yeay! Dapet piring cantik! Zzzz.. selalu lebih pandai mengalah. 

Bukan berarti harus selalu mengalah, tapi kita harus lebih pandai meletakkan posisi kita dalam hidup ini. Bisa lebih pandai ber-hemat emosi dan perasaan. Dan menjadi seseorang yang lebih pandai berbahagia dari pada berkesal hati.

Kamu tidak perlu memikirkan terlalu jauh isi pikiran orang lain, ketika kamu bahkan belum bisa bertanggung jawab dengan baik pada isi pikiranmu sendiri. Saya selalu menahan diri saya untuk tidak berkomentar saat ada komentar miring tentang diri saya. Itu memang sangat sulit, bahkan sering bikin saya pengen jedotin kepala saya ke tembok, atau gigitin seprei kasur saya sampai sobek, okeey #lebay :p. Tapi ketika saya berhasil melewatinya, saya merasakan puas yang luar biasa. Karena saya sudah bisa mengendalikan emosi  juga ego saya sendiri. Dan saya akan dengan bangga mengatakan pada diri saya sendiri 'You are awesome Fa!'.

Hidup di era globalisasi seperti ini. Tentu saja tantangan yang ada jauh lebih berat dari yang di hadapi Soleh dan sang Ayah. Seseorang bisa saja berkomentar buruk atau berprasangka buruk tanpa harus berpapasan dan mengenal. Bahkan bisa menghina tanpa perlu bertatap mata. Hebat ya, manusia? :) *berubah jadi keledai*

am i cute enough?

13 comments:

  1. aaah iyaaa aku pernah denger cerita ini :)
    nice post ka fa :)

    ReplyDelete
  2. bener bener jadi keledai manusia ,,,,hahahahahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. ngetawain diri sendiri sesekali itu sehat! :D

      Delete
  3. salam sukses gan, bagi2 motivasi .,
    Bersabarlah dalam bertindak agar membuahkan hasil yang manis.,.
    ditunggu kunjungan baliknya gan .,.

    ReplyDelete
  4. pernah dengar ceritanya, tapi benar-benar ngerasainnya baru sekarang :(

    thanks udah ngeposting ini, keren banget :)

    oh iya, ijin follow ya mbak ^^

    ReplyDelete
  5. Nice :) Pas banget sm keadaanku saat ini..baca ini bener2 #makjleb

    ReplyDelete

Thanks for reading my post! :)