Friday, August 03, 2012

In my shoes



"Sekecil apa pun perjalanan dan perjuangan seseorang di matamu.
Matanya, tetaplah bukan matamu." -- Fa

Segala hal buruk yang terjadi, apa pun itu, kamu tidak akan pernah tahu seperti apa rasanya bila kamu tidak mengalaminya sendiri. Kamu hanya bisa bersimpati, kamu hanya bisa mengasihani, tapi kamu tidak tahu persis seperti apa perasaan seseorang yang melauinya sendiri. Kamu tahu ceritanya, lalu membayangkan menjadi dirinya. But hey, kamu tetap bukan dirinya.

Alkisah, ada seorang anak kecil yang terjatuh dari sepeda dan lututnya terluka. Darah mengalir deras menuju mata kakinya dan anak kecil itu adalah adikmu. Sedang kamu, seorang kakak yang bahkan sepanjang hidupmu tidak juga bisa naik sepeda, apalagi sekedar untuk tahu rasanya jatuh dari sepeda. Adikmu menjerit keras meratapi lukanya, dan kamu dengan wajah santai mengatakan; “Udah ngga apa-apa, lain kali makanya kamu hati-hati.”

Lalu adikmu seketika membentak; “Kakak sih ngga tahu rasanya, ini sakit banget tau!”
Mendengarnya membentakmu kamu pun kesal dan bilang; “Kakak juga pernah berdarah lebih banyak. Tapi kakak ngga cengeng seperti kamu!” Lalu Ibumu datang dan kamu memilih meninggalkan adikmu.

Baiklah, mungkin sebagai kakak kamu pernah terluka lebih banyak. Pelipismu pernah sobek karena berkelahi dengan teman sebayamu di gang depan rumah. Lalu mendapat 4 jahitan yang membuat alismu sampai sekarang memiliki garis luka yang membekas permanen. But hey, tapi seumur hidupmu kamu tidak tahu bagaimana rasanya mengayuh di atas sepeda, terjeblos lobang lalu terpental jauh dan lutut hingga mata kakimu bergesek keras dengan pasir di permukaan aspal yang kasar.

Kamu mungkin tahu, betapa menjaga keseimbangan di atas sepeda bukanlah hal yang mudah. Tapi kamu tidak tahu, ada kalanya kita terjatuh bukan karena kita tidak berhati-hati, tapi karena kita mencoba menghidari hal lain yang lebih membahayakan. Dan kamu nyata tidak tahu rasanya, karena kamu bahkan tidak bisa naik sepeda. Seberapa pun kamu ‘mungkin’ pernah teluka lebih besar oleh sebab lain. Dan lalu kamu berpikir, lukamu membuatmu jauh lebih hebat dari sekedar luka yang diderita adikmu. Kamu tetaplah tidak lebih hebat untuk menilai rasa sakit yang dia derita.

Dan adikmu, dia pun jelas tidak tahu rasanya jadi kamu, seseorang yang kemungkinan besar akan tidak bisa naik sepeda sepanjang hidupnya. Itu karena kamu, pernah melakukan operasi usus buntu saat usiamu baru menginjak 9 bulan. Sulit menjaga keseimbangan adalah efek samping yang mungkin akan melekat seumur hidupmu, begitu kata dokter dulu. Kamu bukan tidak pernah mencoba, tapi betapa pun kamu mencoba berjalan lurus dengan sepedamu, kamu pasti akan miring lalu jatuh. Mencoba lagi, lalu jatuh. Dan kamu telah sampai di titik di mana kamu, berusaha menerima kenyataan dengan lapang hati walau sulit. 

Dan adikmu, dia masih terlalu kecil untuk mengerti. Bahwa mungkin saja kamu kesal karena kamu iri padanya. Bahwa kamu rela menggantikannya menangis dan terluka, asal bisa bermain dengan sepeda sepertinya. Bisa mencoba belajar mengendarai sepeda motor suatu hari nanti, juga hal-hal baik lain yang bisa dengan mudah dilakukan asal saja kamu tidak menderita efek samping operasi itu. Operasi yang membuatmu menjadi seseorang yang begitu sulit menjaga keseimbangan dan memiliki daya tahan tubuh yang begitu buruk. Bahkan dengan mudah mengalami flu atau batuk sepanjang minggu, bahkan bisa nyaris sebulan penuh.

***
Dulu saya sendiri, tidak pernah memahami seberapa pentingnya helm. Hingga di suatu hari kakak saya sendiri mengalami kecelakaan parah. Yang mungkin saja, bila hari itu dia tidak mengenakan helmnya, dia sudah meninggal saat ini. Mungkin lucu, melihat saya yang memilih mengenakan helm ketika hanya membawa motor ke depan kompleks rumah. Tapi mereka yang berpikir saya lucu mungkin bahkan belum pernah terpeleset dari motornya sendiri. Belum pernah melihat saudara se-darahnya berdarah dan terluka parah di rumah sakit dengan banyak jahitan dan wajah bengkak.

Seperti kamu yang tidak tahu, seperti apa itu rasanya takut tenggelam karena kamu pandai berenang. Seperti kamu yang tidak tahu seperti apa itu rasanya takut ketinggian, karena kamu seorang siswa penerbangan. Atau seperti kamu yang tidak tahu seperti apa itu rasanya dihianati, karena kamu belum pernah bertemu dengan seorang pembohong besar dalam hidupmu. Apa kamu pikir dia yang dihianati selalu karena dia seseorang yang jahat? Banyak dari mereka yang dihianati justru adalah mereka yang terlalu jujur dalam hidupnya.

Seperti pun kamu yang tidak tahu betapa sulitnya orangtuamu mencari uang karena kamu bahkan belum pernah sekali pun bekerja. Kamu menyepelekan mereka yang bekerja dan tidak punya waktu lagi untuk bersenang-senang. Ketika kamu bahkan tidak tahu beban seorang yang harus menghidupi nafasnya sendiri, makan dengan uangnya sendiri, tidur di bawah atap kos-kosan sempit yang dia bayar dengan hampir separuh dari penghasilan yang ia terima setiap bulannya. Sehingga bila sampai dia kehilangan pekerjaan yang ini, dia akan jadi salah satu gembel di jalanan yang itu.

Bukan dia tidak punya impian, bukan. Tapi tidak semua orang seberuntung dirimu yang bahkan sejak lahir bisa memiliki “cita-cita ingin jadi apa”.

Hey, tidak selamanya semua mengalami hal sebaik atau seburuk apa yang kamu ‘hadapi’ dalam hidupmu. Bahkan ketika untuk pertama kalinya saya bekerja, saya sempat menangis karena ternyata cari uang itu susah. Ternyata dimarahi bos itu nyesek. Ternyata difitnah teman sekerja itu sakit. Ternyata, cari uang untuk makan itu sulit. Sebelumnya saya memang sudah tahu itu tidak akan mudah, tapi saya tidak pernah tahu ternyata akan sesulit itu. Seberapa pun besar gaji yang saya terima.

Seperti mungkin bila suatu hari nanti saya memiliki anak, saya akan jadi ibu yang sempat menangis karena ternyata mendidik dan merawat anak itu susah bukan main. Saya detik ini tahu, itu akan sulit. Tapi saya tidak tahu betapa sulitnya itu, sebelum saya benar-benar jadi ibu. Mungkin saat kamu melihat seorang anak yang bandel kamu akan dengan mudah bilang; ah itu pasti karena orang tuanya ngga becus urus anak. Hell yeah, dipikir ngurus anak gampang. Punya anak taat beragama dan pandai itu perjuangan yang mungkin lebih berat dari berangkat ke medan perang. Dan tidak semua orang tua memiliki kapasitas yang sama, untuk mendidik seorang anak yang sebaik dirimu saat ini.

***

Cause where you see it, from where you sittin. It's probably 110% different. – eminem

“Ah ya, saya tahu. Rasanya pasti sakit dan sulit!” Serumu. Kamu tidak tahu rasanya sayang, kamu hanya bisa membayangkan ‘kira-kira seperti apa rasanya’. Sama seperti saya di sini, yang hanya bisa membayangkan seperti apa bila saya jadi dirimu.

Sekecil apa pun luka yang diderita orang lain. Walau itu hanya tertusuk jarum, kamu tidak akan tahu persis seperti apa perihnya, bila bahkan kamu tidak pernah berurusan dengan jarum sepanjang hidupmu.

Jadi jangan pernah sekali pun mengatakan seseorang cengeng. Jangan pernah sekali pun menganggap seseorang itu lemah. Jangan pernah kamu mengecilkan perjuangan orang lain, sekecil apa pun perjuangan itu terlihat di matamu. Ketika kamu bahkan belum pernah jadi seperti mereka, atau melewati perjalanan yang sama, walau tidak akan pernah sama persis. Jangan menunggu sampai Tuhan memberimu pengalaman yang sama, lalu kamu baru bisa menghargai dengan baik seseorang yang memiliki luka yang dulu, kamu anggap biasa-biasa saja itu.

Karena setiap manusia, memiliki hidupnya masing-masing, juga perjalanannya masing-masing. 

Dengarkanlah lebih, bila ingin dimengerti lebih. Karena benar dan salah dalam hidup ini tidak memiliki ukuran yang pasti. Kecuali kebenaran yang datang dari perintah dan ajaran Tuhan. Setiap manusia punya kedua matanya masing-masing, itu kenapa nyaris dalam setiap hal atau kejadian, kita pasti punya pandangan yang berbeda. Dan bila kamu membaca tulisan ini lalu merasa tak sependapat, itu pun bukan hal buruk. Selama kita bisa memahami indahnya perbedaan, bila tanpa saling menjatuhkan. 

Kamu berjalan dengan sepatumu, saya berjalan dengan sepatu saya. Dan kita tidak perlu saling menginjak sepatu masing-masing. Seburuk apa pun rupa sepatu saya terlihat, kamu tidak berhak menghinanya. Siapa tahu, mereka sobek justru karena telah melewati perjalanan yang lebih berat dan jauh dari yang kamu alami. Pun sebaliknya itu berlaku untuk saya. Sebaik apa pun sepatumu terlihat, saya tidak boleh iri. Karena bisa jadi ukuran kaki kita berbeda, sehingga seberapa pun bagus terlihat, mereka tidak akan pernah pas dan nyaman saya kenakan. Jadi untuk apa dipersoalkan? :)

Jadi, gunakanlah rasa simpati dan kasihan kita dengan lebih bijaksana. 

Rasulullah sendiri pernah mengatakan; bicara yang baik, atau lebih baik diam.

***
But you'd have to walk a thousand miles in my shoes, just to see what it's like to be me. I'll be you let's trade shoes, just to see what it'd be like, to feel your pain, you feel mine. Go inside each others' minds. Just to see what we'd find look at shit through each others' eyes. 
– beautiful - Eminem

Ps: hay Laras, saya pinjam cerita usus buntumu ya :)

6 comments:

  1. ini bener banget.....
    *manggut manggut*

    ReplyDelete
  2. Ternyata bukan saya saja yg tetap pake helm naek motor meski cuma ke rumah tetangga disekitar komplek,,,, mungkin karena saya terlalu sering melihat pasien igd yang kepalanya bocor karena ga pake helm!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menjaga Keselamatan diri adalah buktik tanggung jawab diri sendiri pada hidup yg Tuhan titipkan :)

      Delete
  3. saya jadi ingat tulisan yang kalau tidak salah "pakailah sepatu ternyamanmu bukan sepatu mahal yang akan membuatmu terlihat hebat." :)

    ReplyDelete

Thanks for reading my post! :)