Wednesday, July 25, 2012

There is nothing wrong


Jangan menangis saat aku tidak ada. Jangan pernah lagi menangis sendirian. – Kamu

***

Akhir-akhir ini saya sering hanya berada seorang diri di rumah. Mencari kesibukan di tengah hari puasa. Biasanya saya akan menulis atau menonton dvd maraton, belakangan saya sedang enggan membaca. Beberapa buku yang dibeli dengan begitu bersemangat pun terbengkalai. *puk puk bukunya* mereka tepat melotot pada saya saat ini, hahaha..

Kemarin lalu saat berbincang di telepon dengan Bunda seorang teman. Beliau bilang; ‘Senangnya, sudah bisa dengar kamu tertawa lagi.” Padahal itu pertama kalinya kami berbincang :)

Dan saya memikirkan hal itu sepanjang jalan pulang. Iya, saya memang suka sekali memikirkan perbincangan saya dengan siapa pun ngga ada kerjaan emang saya. Karena bahkan saya kerap tidak menyadari hal yang terjadi pada diri saya sendiri, sebelum mendengarnya dari orang lain. Tapi bagi saya, bukan hanya selalu ada alasan di balik setiap pertemuan. Tapi juga selalu ada alasan di balik setiap perbincangan yang pernah saya lakukan dengan siapa pun itu. Siapa pun, bahkan bila itu hanya dengan seseorang yang tidak sengaja bertanya arah jalan pada saya. Selalu ada cerita yang bisa saya tulis, bahkan bila itu hanya dari sebuah kalimat yang tertangkap pendengaran saya.


Ada seorang follower di twitter yang pernah bertanya pada saya; dari mana kakak biasanya mendapat inspirasi untuk menulis?


Dan tanpa pikir panjang saya menjawab; dari 'bersedia' mendengarkan orang lain. Walau pun kalau saja saat itu karakter twitter cukup, saya ingin menambahkan; juga dari 'bersedia' mendengarkan diri sendiri :)


Karena beberapa dari kita justru kerap enggan mendengarkan cerita yang hati kita sendiri sampaikan. Padahal bagi saya, kebanyakan tulisan bagus itu lahir dari perbincangan pikiran kita dengan hati kita sendiri. Kamu tahu, tulus tidaknya sebuah tulisan, atau jujur tidaknya sebuah tulisan itu bisa dirasakan langsung oleh pembaca. Apa lagi jika si pembaca seseorang yang juga pandai menulis. Ketika seorang penulis berbohong, maka orang pertama yang dia tipu adalah dirinya sendiri. Karena dirinya sendiri adalah si pembaca pertama tulisannya itu. Hey, menulis itu belajar jujur pada dirimu sendiri loh :)

Dan ya, ternyata saya sudah bisa tertawa lagi! Bukan berniat membesar-besarkan kehilangan yang kali ini, tapi ini memang kehilangan yang besar tanpa perlu saya besar-besarkan. Saya bukan manusia pengemis simpati. Hey, saya ini perempuan kuat ya! *mengepalkan tangan* *memincingkan mata* :P

***


“Menjadi seorang diri tentu saja begitu buruk. Tapi bukan-kah lebih buruk merasa seorang diri, bahkan saat berada di tengah keramaian?” – Fa

Jadi...

Tidak ada yang salah dengan berada seorang diri di rumah. 
Tidak ada yang salah dengan menyalakan hampir setiap lampu di setiap ruangan karena takut gelap. 
Tidak ada yang salah dengan membiarkan televisi tetap menyala walau tidak ada yang menonton, semua hanya agar ada suara lain selain hening. 
Tidak ada yang salah dengan makan sahur dan berbuka hanya berdua dengan bapak saja. 
Tidak ada yang salah dengan tertawa-tawa sendiri saat menonton serial drama yang saya suka. 
Tidak ada yang salah dengan menciumi kasur bekas tidur mama ketika saya merindukannya. 
Tidak ada yang salah dengan tiba-tiba menangis, lalu seketika menyesal dan menghapusnya. 
Tidak ada yang salah dengan merasa rumah begitu sepi, karena kenyataannya memang sepi
Tidak ada yang salah dengan memutuskan mengirim cucian ke laundry karena malas mencucinya sendiri. 
Tidak ada yang salah dengan mencoba menjadi baik-baik saja di tengah keadaan yang tidak baik. 
Tidak ada yang salah dengan dirimu, selama kamu tidak merasa seorang diri, bahkan saat di tengah keramaian.
Saya mungkin memang sendiri di rumah. Tapi saya tidak pernah mau merasa menjadi sendirian. Tidak, bahkan dalam sepi.


Saya ingat sebuah kalimat yang ditulis oleh Spencer Johnson; "What would you do if you weren't afraid?"
Dan itu benar sekali, hidup adalah soal berjalan dari kekhawatiran satu menuju ke-khawatiran yang lain. Bila tidak ada lagi yang perlu kita khawatirkan, maka apa yang perlu kita perjuangkan lagi? Jadi, bersyukurlah atas  setiap ketakutan dan kekhawatiran yang 'masih' bisa kamu hadapi. Mereka ada, agar kamu tetap 'ada'. Dan agar keberadaanmu pun tetap dapat berarti bagi hidupmu sendiri.

Kan masih ada kamu yang sayang saya! :D

Eciee kaya ada yang sayang kamu aja Fa.

ADA, ADA BANYAK. DAN WALAU PUN JUMLAH BANYAK ITU BERUBAH HANYA ‘SATU’, SAYA AKAN TETAP BERSYUKUR.

Karena tidak peduli apa pun, bukankah bahagia itu saya yang tentukan sendiri. Tuhan pun tidak akan memberi bahagia, pada umat yang tak mengusahakannya.


Jadi untuk apa berpikir dua kali bila saya, atau kamu, atau KITA ingin ber-bahagia.


Karena tidak ada seorang pun yang nyata seorang diri bila 'masih' ada Tuhan di hatinya :D

6 comments:

  1. Jadi inget kata-kata di film Batman The Dark Knight.. Saat malam kian kelam, bertahanlah, itu artinya sebentar lagi mentari akan terbit..



    Cemungudh, cemungudh, cemunguuudh ea Faaa!! ^_^

    ReplyDelete
  2. Fa, hidup itu harus semakin hari semakin sadar.. Dengan begitu baru bs bangkit dari hal yang buruk ke arah negatif.
    You're not alone.. :)
    Ganbatte!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha iya, buat apa hidup kalo langkahnya mundur kebelakang. Di usia saya, saya udah ngga mau lagi mikirin hal yang hanya membuat hari saya sulit dilewati :)

      Delete
  3. Dari tulisan ini, saya belajar banyak tentang makna kehidupan. Thank's

    ReplyDelete

Thanks for reading my post! :)