Monday, July 09, 2012

Laut Part 2

Senja Indah di Pantai Siung


Kamu tidak perlu membawaku keliling dunia untuk membuatku bahagia. Cukup bawa saja aku pergi, ke tempat yang sedang begitu kurindukan saat ini.” – Fa


Saya ingat itu Februari. Awal Februari. Ketika di suatu siang saya duduk di halaman. Menatap bukit di sekitar dan lalu menatap langit. Saya lihat biru.
Saya rindu kamu, Laut.
Begitu tepatnya isi hati saya.
Bahagia sekali, bila ada seseorang yang karena ingin melihat saya bahagia. Lalu dia mau repot-repot mengajak saya ke rumahmu, Laut.
Begitu pikiran saya berucap setelahnya.

Lalu Februari pun pulang. Memberi Maret jalan datang dan kembali hilang. Hingga April menyambagi dan Mei muncul kembali. NIHIL. 
Saya berhenti merindukan Laut ketika Mei tiba. Saya bilang, bukan karena tak ada teman yang ingin berbaik hati menemanimu Fa. Mungkin, mereka hanya sedang sibuk dengan kebahagiaan mereka masing-masing. Kamu pun, harus mulai memikirkan kebahagiaanmu sendiri.
***

Tapi saya sudah sering bilang bukan, kalau Tuhan itu selalu lebih baik dari perkiraanmu. Di suatu pagi saya menerima bbm dari seorang teman yang mungkin baru 2 bulan saya kenal. Dia bilang, dia ingin ke pantai dan mengajak saya ikut bersamanya. What a surprise!

Tentu saja saya bilang IYA. BAWA SAYA, BAWA SAYA KE SANA!

Tapi apa kalian tahu, sepanjang jalan pergi dan pulang saya membayangkan mereka yang pernah saya bayangkan akan menemani saya ke tempat ini. Bertanya-tanya kenapa mereka tidak sempat mengajak saya ke tempat ini. Padahal Laut tidak cukup jauh untuk dikatakan sangat jauh. Padahal mereka sempat pergi ke tempat yang lebih jauh dari ini. Saya kecewa.

Tapi ini tidak apa-apa, sungguh. Ini tidak mengurangi sejengkal pun rasa sayang saya pada kalian yang selalu saya ingin bahagiakan. Ini memang porsi hidup yang sedang saya mesti hadapi. Dan tentu saja bukan kewajiban kalian untuk membahagiakan saya. Yang berkewajiban membahagiakan saya, adalah diri saya sendiri.
***

I see you..

Hari itu pagi-pagi sekali saya bangun. Sekitar pukur 4, karena saya janji untuk sampai di rumah teman saya Laras di daerah Godean Km 1 tepat pukul 7 pagi. Jadi saya harus berangkat dari rumah pukul 6 pagi. Dan.. setiap pagi tentu saja saya tidak hanya bertanggung jawab pada diri saya. Saya bertanggung jawab pada ke dua orang tua saya. Memastikan Ibu saya kenyang dan bersih ketika saya pergi. Memastikan ada makanan yang bisa dimakan untuk bapak saya sarapan. Dan tentu saja itu membutuhkan waktu lebih dari 1 jam. Malamnya saya menulis sampai dini hari, alhasil Aya teman yang saya minta untuk membangunkan saya pun sampai mesti berkali-kali mengulang telepon dan bbm-nya.

“Fa udah bangun?”
“Belom..”
“Lah piye, bangun!”
“Gimana kalo setengah jam lagi kamu telepon. Setengah jam lagi yaaaa..” *narik selimut*
Itu conversation pukul setengah 4 sama Aya. Hahaha....                           
                          
Dan pukul 4 lewat pun saya bangun. Ke dapur. Memasak bubur untuk Mama, menyedu oat meal. Memasak air dst dst dst...
Tepat pukul 6 pun saya berangkat dengan ojek. Samigaluh masih dipeluk kabut pukul segitu. Sepanjang jalan itouch saya memutar lagu Wide Awake milik Katy Perry entah berapa belas kali jumlahnya sampai akhirnya saya sampai di tempat Laras. Saya berangkat ke Pantai Indrayanti, bersama ke-4 rekannya yang baru saya kenal hari itu (Fenty, Daemon, Jojo dan Hari). Iya, saya kan emang orangnya sok kenal. Jadi baru beberapa menit di mobil kita sudah akrab. Kesimpulan mereka ketika pulang, katanya saya harusnya ngambil kuliah jurusan Astronomi, soalnya di jalan saya ngulang-ngulang ngomentarin langit. Hahahaha..
Ya, mereka bukan follower saya di twitter atau di blog. Mereka ngga tahu seberapa lebaynya saya jatuh cinta sama langit :p
***

“Ketika kamu pernah berada di suatu posisi tidak baik, saat itu Tuhan tengah mengajarkanmu untuk tidak memberikan posisi yang demikian pada orang lain, karena rasanya sangat tidak baik.” – fa


Ini bukan blog backpacker atau traveler. Jadi saya ngga bakat cerita panjang dan rinci. Gimana kalau langsung pas sampai pantai aja yaaa... :D

Tepat pukul 11 kami sampai. Dan yeaaahhh seperti perkiraan Indrayanti padat. Bus-bus pariwisata pun berkeliaran di mana-mana. Ini long weekend dude! Tapi itu tidak mengurangi antusiasme saya.

Sayaaaaa mauuuu kamuuuu lauuuuttttt!!!!

Indrayanti Padat Pengunjung


Teman-teman yang lain sangat semangat basah-basahan di pantai. Sedang saya dan Hari memang lebih banyak duduk di pasir dan memandangi sekeliling. It’s like a dream come true. Bahkan hal sesederhana ini, saya menyebutnya sebagai impian! So dramatic.
Saya menjilat jari-jari saya yang basah. Asin. Saya tahu saya ada di laut. Saya sampai ke pantai ini dibawa oleh nama-nama baru yang belum lama datang dalam hidup saya. See, betapa kebahagian, mereka begitu misterius.

Tuhan-lah yang mengantar saya sampai di sini dengan jalan dan caranya yang bahkan tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Tidak apa tidak ada wajah atau suara yang familiar. Terkadang kita perlu memberikan kesempatan mereka yang baru datang untuk memberi porsi kebahagiaan dalam hidup kita.

Sejak kecil, saya biasa berhadapan dengan masalah yang lebih besar dari ukuran tubuh saya. Hanya saja, saya lebih suka bersikap menjadi yang paling tidak tahu. Agar saya bisa lebih banyak tahu, menjadi yang lebih pandai memahami dari pada menuntut. Saya tahu bagaimana rasanya tidak punya penolong lain selain Tuhan. Itu kenapa saya suka menolong orang lain. Saya tahu bagaimana rasanya dikesampingkan, itu kenapa saya tidak pernah mau mengesampingkan siapa pun yang saya kenal (kecuali sikap mereka mengganggu saya). Ketika kamu pernah berada di suatu posisi tidak baik, saat itu Tuhan tengah mengajarkanmu untuk tidak memberikan posisi yang demikian pada orang lain, karena rasanya sangat tidak baik.

Back to the trip..


Layang-layang di Langit Indrayanti

Kami hari itu hanya sempat untuk mampir ke pantai Indrayanti dan pantai Siung. Karena memang sampai di sana sudah tengah hari. Selesai dari main di Indrayanti kami memutuskan untuk makan siang di tempat yang lebih sepi. Kami pun pindah ke pantai Siung. Dan benar saja, pantai ini jauh lebih tenang dan tidak kalah indah dari Indrayanti. Kami menyewa tikar dan menggelar makan siang yang sudah kami beli di jalan. Kami? Bhahaha.. tepatnya sih Laras dan Jojo yang mentraktir makan siang ini. 1 ekor ayam bumbu bacem pun ludes tidak bersisa dimakan kami ber-6. Thanks for the lunch Ras! :D
Lunch


Selesai makan siang, kecuali saya dan Hari. anak-anak yang lain kembali berjalan menyisir ujung pantai sampai ke ujung tebing karang sembari berfoto-foto. Sedang Hari memilih tidur siang di tikar sewaan saya berjalan ke tepi air main sendiri. Menulis-nulis di atas pasir dan memotret. Lalu duduk kembali dan melamun. Ah, indah sekali pikir saya. Betapa Tuhan begitu baik. Baik sekali. Karena ini sama saja saya diantar sampai ke tempat ini tanpa biaya. Tidak keluar uang barang sepeser. Kecuali untuk bayar tiket pantai. Jalan pun dengan mobil keluaran baru yang ber-ac terlalu dingin. Tidak pula repot memikirkan biaya bensinnya. Hahaha... Laras dan Jojo seperti peri kecil saya hari itu.
Daemon, Hari dan Fenty. Teman sejak SMA.
Fa, Hari dan Fenty

Ini jauh lebih baik dari perjalanan yang pernah saya bayangkan sebelumnya. Karena saya sempat berpikir saya akan datang ke sini dengan menggunakan sepeda motor. Bahkan beberapa waktu sebelumnya saya berencana ikut naik bis bersama rombongan piknik SD saudara saya dengan biaya 200rb dan harus lebih dulu mampir ke kebun binatang! Ahahaha.. dan ternyata saya tidak kebagian kursi. Lihat betapa saya begitu sangat ingin melihat laut. Segala kesempatan yang ada saya coba. Hari itu, saat saya gagal ikut rombongan SD, saya bilang dalam hati “Hmm.. berarti memang Tuhan mau saya ke sana dengan lebih nyaman.” Dan JENG JENG! KEJADIAN.

Kami pulang dari pantai menjelang maghrib tiba. Setelah selesai membersihkan diri, sholat dan  menghabiskan kelapa muda yang kami pesan. Saya bilang ke Laras, saya ingin makan bakso tapi tidak di tempat ini (karena pasti ngga enak dan mahal). Lalu setibanya di kota Jogja pun akhirnya kami makan malam di restoran bakso daerah Taman Siswa. Bhahahhaa.. satu mobil jadi mesti makan bakso karena saya yang mau.
sore hari selepas sholat ashar
Laras dan Jojo (Terima kasih banyak buat kalian!)

Ikan-ikan kecil di sela karang Pantai Siung
Sepasang anak kecil - Pantai Siung 


Tiba di rumah Laras pukul setengah 9 malam. Saya yang tadinya memutuskan untuk menginap akhirnya membatalkannya, saya ngga tega ninggalin si bapak sendiri di rumah. Jadi saat di perjalanan pulang dari pantai, saya sms ojek langganan saya untuk menjemput di rumah Laras. Saat saya tiba di rumah Laras, si abang ojek pun sudah bertengger di sana. What a wonderful day! I will never forget it. Saya pun mendarat kembali di Samigaluh pukul 10 malam. Dan bangun kesiangan ke-esokkan harinya dengan senyum lebar di pipi dan.. kulit yang semakin coklat -_-

Terima kasih Laras, Jojo, Hari, Daemon dan Fenty. Tuhan pasti akan balas kebaikan kalian dengan banyak hal baik. Specialy buat Laras dan Jojo. Juga untuk Hari (duplikatnya Joshua, hahaha sumpah demi apa pun ya Har, kamu mirip banget sama Joshua!) yang sudah jadi semacam sahabat gadungan hari itu. Mau dengan sabar kemana-mana berdua saya, nungguin saya mandi (yang kelamaan) dan imamin saya sholat di mushola sederhana.


Thank you Hari!


Terima kasih Allah-ku. Untuk segala amin atas doa-doa sederhana yang pernah saya minta dengan agak lebay. Hahahaaa...

Saya bahagia sekali. Bahagiaaa sekaliiii hari itu! :’D

my perfect smile

Samigaluh, Mei 2012
***
Ps: finally setelah 2 bulan nyaris berlalu, saya posting juga posting ini. hahaha.. maaf ya Laras kelamaan. Sampai harus ditagih-tagih dulu.

7 comments:

  1. emang harus kudu di tagih dulu ya :p
    suatu saat nanti kalo kita mau jalan2, kamu ikut lagi deh :D

    ReplyDelete
  2. Ini yang berbeda dari kita, kamu terlalu cinta pada laut seperti menyukai langit biru. Sementara saya tidak. Saya tidak menyukai laut sama seperti saya tidak suka buah durian. Tapi saya selalu mencintai kamu, hihihi :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. kita kan udah ke borobudur. seberapa pun aku bosen ke sana, aku tetep temenin kamu kan kan kan.
      ya, aku malu deh punya temen yang ngga suka duren, duren kan enaaaakkkkkk...

      Delete
    2. hihihi, seberapun cinta aku ke kamu, tapi 'enggak' deh buat durian. bhahak

      Delete

Thanks for reading my post! :)