Monday, July 23, 2012

Angan dalam pelukan angin


"Kau, tidak lebih luas dari kesabaranku". -- Kataku pada masalah. -- Fa

Saat saya menulis tulisan ini, saya sedang duduk di depan meja belajar saya. Hening, hanya ada saya dan bapak di rumah. Akan demikian, entah sampai kapan. Matahari terang, tapi awan gelap mengikat kuat mendung yang bergelayut pilu menawarkan sembab di wajah langit. Angin bertiup dingin menembus baju gamis tebal yang saya kenakan. Di dekat saya ada buku toefl tergeletak, sepidol hitam, tiket Kereta Api dengan tanggal keberangkatan 14 Juli, deretan novel di rak, kartupos yang tertempel bertumpuk, jepit rambut warna merah hati, pulpen yang kehilangan tutupnya, lilin mati yang tinggal separuh tingginya, sikat gigi bekas, serta debu yang berpencar manja dengan teman-temannya.

Di mana Mama? Beliau sudah ada di tempat terbaik dari tempat mana pun yang bisa diberikan Allah kepadanya. Di sana tak ada kesakitan yang 8 tahun ini memeluknya erat. Saya tahu dia bahagia. Wajahnya cantik saat terakhir kali saya menciumi kening, pipi dan dagunya.

Sepi? Dari pada sekeliling, hati saya lebih sepi. Detik ini pikiran saya adalah tempat yang paling ramai. Isinya? Kenangan. Saya tidak mau memaksakan kenangan itu pergi, karena mereka lebih nyata dari kenyataan yang saya hadapi sendiri. Saya ingin mereka menghilang, tanpa harus saya paksakan. Perlahan mereka akan terbang, meninggalkan hari ini dan menjadi bagian kemarin yang ‘berhasil’ saya lewati. Bukan tanpa perjuangan. Bukan tanpa ketakutan. Tapi saya berhasil. Itu yang terpenting di atas segala kepentingan.

Iya, saya adalah seorang piatu saat ini. Dan apakah itu buruk? Tidak. Saya memang sudah mempersiapkan diri saya dengan baik. Walau pun kenyataannya, sebaik apa pun saya persiapkan, tetap saja saya berantakan di sana dan di sini. Itu wajar saja, saya masih anak yang cinta mati Ibunya. Bahkan cinta saya padanya melebihi seluruh hidup saya sendiri. Melepasnya pergi, tentu saja lebih sulit dari melepaskan apa pun yang saya miliki dalam hidup ini. Saya kehilangan sosok yang mengantarkan kehidupan pada diri saya. Kehilangan macam apa yang bisa melebihi kehilangan yang ini.

Kamu tidak akan tahu bagaimana patah hatinya, bila kamu belum pernah mengalami hal yang sama. Jadi jangan sok tahu rasanya. Selama ini saya kerap sok tahu pada mereka yang mengalaminya. Khayalan saya, tidak ada sepersekian dari rasa sakit yang menghantam hati saya detik itu.

Katakan saja pada saya kalimat yang kerap saya ulang belakangan ini di dalam hati;

"Semua akan kembali baik, karena Allah Maha baik Fa."

Dan saya tetap ingin hidup kembali baik, tanpa harus saya memperlakukan diri saya dengan buruk. Semua akan baik-baik saja pada akhirnya. Bukan-kah kita semua, hanya sedang dalam perjalanan menuju ‘akhirnya’. Maka menghampiri ‘kebaik-baik sajaan’ adalah hal yang paling baik yang dapat saya lakukan saat ini, yang dapat kita semua lakukan.

***


Saya akan melanjutkan perjalanan. Seperti apa yang pernah saya tulis sebelumnya. Kita adalah seorang traveler bagi hidup kita masing-masing. Maka, saya akan terus berjalanan. Menikmati setiap cuaca, merasakan setiap hujan yang jatuh ke membran bumi, mengamati langit biru yang ini untuk menuju langit biru yang itu. Bertemu dengannya, dan kembali meninggalkanmu. Karena dunia ini hanya salah satu destinasi yang kelak akan jadi sesuatu yang ‘terlewati’.

TUHAN memberi saya peta perjalanan, dan dunia adalah salah satu persinggahan. DIA ingin saya belajar. DIA ingin saya memahami. DIA ingin saya sampai kepada-Nya juga. Di suatu saat nanti.

Tapi tentu bukan tanpa apa-apa. Setiap dari kita, setidaknya harus bisa menjadi jejak yang berarti di dunia ini. Bagi diri sendiri, begitu pun bagi orang lain. Karena sebaik-baiknya manusia, adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain bukan?

Seperti apa yang mama tengah hadapi, beliau pun hanya sedang melanjutkan perjalanannya. Jalur di peta dunianya sudah sampai di ujung. Dan, dia pun harus melanjutkan perjalanannya ke destinasi selanjutnya. Semoga, beliau mendapatkan tumpangan yang baik hingga kelak sampai di sana, semoga perjalanannya terang dan menyenangkan. Amin.

Mama telah menjadi jejak penting bagi kehidupan ke-5 anaknya selama ia hidup. Jejak yang akan membekas sebagai wujud syukur, bahwa kami pernah tinggal di rahim seorang perempuan yang berhati begitu mulia. Perempuan yang tak pandai marah, tapi begitu pandai memaafkan.

Saya pun, akan melanjutkan perjalanan saya

Tidak masalah siapa yang lebih dulu pergi atau siapa yang masih bertahan tinggal di sini. Kematian adalah apa yang pasti datang pada kita, dengan atau tanpa persiapan

Dan kelak, kita semua pun akan berjumpa pada sebuah titik yang telah TUHAN janjikan
Titik di mana semua akan dihitung tanpa ada yang dirugikan
Membuka apa saja yang telah kamu perbuat di sepanjang hidupmu, tanpa dapat kamu tutup-tutupi

Kamu percaya titik itu ada?
SAYA PERCAYA
Jadi, sampai berjumpa :)

***

Oh ya, saya sedang kangen kamu, Ma. Mama tidak perlu mengkhawatirkan anak perempuanmu ini ya. Karena Allah Maha baik, Dia pasti akan menjaga Farah dengan baik :)

Seperti arti dari nama yang kamu berikan Ma, Farah yang dalam bahasa arab berarti kebahagiaan. Maka anakmu ini akan selalu ingat, untuk terus bahagia. Bukankah nama adalah doa, maka doamu agar kebahagiaan selalu ada bersama anak perempuanmu ini, akan melekat erat di sepanjang hidupnya  :)

Terima kasih Ma, walau pun berjuta terima kasih tidak akan mampu melebihi kasih sayangmu pada kami selama ini.

Aku mencintaimu, sangat mencintaimu Ma.

Ps:
Kotak-kotak mimpi saya, tutupnya mulai terbuka, saya kerap mengintip mereka sebelum saya tertidur di malam hari. Saya, menyimpannya dengan baik selama ini. Rapat-rapat hingga tak ada sehelai pun yang lepas terbang terbawa keputusasaan.
Hey kalian, selamat berjumpa (kembali). Kalian adalah salah satu alasan saya ingin kembali melanjutkan perjalanan, sesegera yang saya bisa! :D

Samigaluh, 17 Juli 2012

14 comments:

  1. SEMANGAT KA FARAH!!! :D

    ReplyDelete
  2. Huuaaaa... Kamu harus tanggung jawab sudah membuat mata saya sembab

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaaaa jangan nangiss dong Ibuuuuu :)

      Delete
  3. kak fa, turut berduka cita yah :"(
    ini sungguh membuat saya semakin memeluk mama saya erat erat !!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan pernah lupa untuk sayangin mama banyaj-banyak selama beliau masih ada :)

      Delete
  4. saya turut berduka cita kak fa.

    Jangan lupa mengiriminya doa setiap hari kak :)

    ReplyDelete
  5. Saat hati menjadi tempat paling sepi, pikiran justru jadi tempat yang paling ramai.. Suka..



    Kalo nikah nanti dan punya anak perempuan, aku mau ngasih nama Farah.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aihhhh namanya kece yah :p
      Namain queena farah aja ahahahaha

      Delete
  6. Semua akan kembali baik, karena ALLAH Maha baik fa,,,

    ReplyDelete
  7. huaaaaaaa
    ka fa :"
    Oktober taun ini, dua bulan lagi berarti tepat setaun papa meninggal :"
    huhuhu
    yap ka Life goes on,
    mamiiiii. I lop youu
    *peluk ka fa*
    #eh
    *peluk mami*
    huhuhu
    :"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan lupa kirim doa buat papa yah :)

      Delete

Thanks for reading my post! :)