Monday, June 18, 2012

Keputusan


“Terkadang, ada hal-hal yang tidak perlu kita beri kesempatan untuk masuk dalam hidup kita. Seberapa pun baik dan keren hal itu terlihat. Tuhan, bisa jadi sedang mengujimu saat itu.” – fa

Saya menulis posting ini dengan kondisi fisik yang berantakan. Badan saya rasanya seperti abis ditabokin Hulk. Kalo Hulk-nya belum berubah wujud sih ganteng. Nah, belom apa-apa saya udah ngaco kan nulisnya -_-

Rambut saya acak-acakan. Kantung mata saya lebih hitam dan besar dari biasanya. Hahaha.. kaya mak lampir banget deh. Dan saya lagi puasa, jadi bibir saya kering dan muka saya pucet. Hahaha, makin mirip kuntilanak ini sih. Fyi, belakangan berat badan saya pun turun lagi, mungkin sekitar 3 kg. Udah lama saya sama timbangan ngga tegur sapa. Padahal kata Allah kan kita ngga boleh marahan lebih dari 3 hari ya, dosa. Terserah elo deh ya Fa.

Tapi ngga apa-apa, tenang, saya masih sehat dan cantik seperti biasanya. Pft.

Sudah lama juga saya tidak merasa se-cakep ini. Capek kali Fa, capek bukan cakep! #ditimpuk. Mungkin ini karena belakangan saya sering baca buku hingga pagi. Ditambah dengan banyaknya pikiran, tapi hello mana ada sih hidup yang ngga mikir? Jadi saya nikmatin aja. Dan di malam sebelumnya pun saya bahkan baca buku sampai nyaris pukul setengah empat. Dengan tidak melihat bahwa faktanya saya harus bagun subuh dan melakukan perjalanan 90km dengan mengendarai motor sendiri di pagi dan sore harinya, itu pun ngga pake sarapan.

Dan sekarang, sejak sahur tadi pagi saya ngga bisa tidur lagi. Sempat tidur 2 jam. Tapi selama 2 jam itu, ada kali saya 10 kali kebangun. Keren ngga tuh. Saya akhirnya nyerah, bangun dan beranjak ke depan laptop. Mana tadi pagi saya kesiangan sahurnya, keburu-buru masak telor sampai mecahin telor. Saya lupa pasang alrm, dan bb saya saya set otomatis mati setiap tengah malam. Untung Allah kece masih bangunin saya.

Pas kebangun saya udah denger suara ayam. Dalam hati saya mengumpat; “Pasti udah subuh deh nih. Sial!” Sambil ngusek-ngusek muka saya sendiri pake selimut. Tapi ternyata saat saya periksa jam di itouch masih jam 3.58. Saya langsung jalan ke dapur. Sambil masih ngedumel, “Perasaan semalem sebelum ketiduran gue sempet ngetwit ngingetin followers buat jangan lupa nge-set alarm. Kenapa malah gue sendiri yang lupa coba?!” Sambil getok-getok kepala. Makan pun ngga ada nikmat-nikmatnya karena keburu-buru. Hayah banget deh pokoknya.

Yah namanya hidup yah, kadang terang kadang surem.

Saya kemarin memang harus datang ke pernikahan teman baik saya di daerah Gunung Kidul. Yang dari jogja saja masih perlu waktu lebih dari 1 jam lebih untuk sampai dengan mengendarai mobil. Dan, untuk pertama kalinya saya ngerasa beruntung tinggal di Samigaluh, karena oh karena, ternyata daerah yang saya datengin kemarin lebih nista jalanannya. Sudah menanjak, jalanannya rusak dan hanya muat untuk satu mobil saja. *puk puk mobil temen saya* saya pun sampai rumah sudah larut dan tugas sebagai anak masih menumpuk. *Puk puk diri sendiri. Walau pun sebenernya di puk puk pacar sendiri lebih enak. #eaa

Fine, inti postingnya bukan ini sih. Coba lebih fokus sedikit Fa. Aseli, ini opening curhatnya kepanjangan. *tampar-tampar pipi*

Kabar..

Undangan pernikahan itu datang sekitar 1 minggu yang lalu. Sebenarnya ini adalah berita yang cukup mengejutkan saya sepanjang awal tahun ini. Saya kenal baik dengan ke-dua mempelai. Si perempuan adalah sahabat SMA sahabat saya Cici. Saya kenal dengannya karena dikenalkan Cici dan akhirnya saya pun berteman baik dengannya. Kita sebut siapa ya teman baik saya ini, Hm.. gimana kalau saya kasih nama Lala. Lalu si pria saya beri nama Yuda.

Lalu gimana bisa si Lala tinggal di Jogja adalah karena dia berkuliah di salah satu Univ negeri di kota ini. Saya dua tahun lebih muda darinya. Hm, kenapa saya mau menceritakan ini, karena kejadian ini pun memberi saya pelajaran penting. Bahkan sangat penting.

Perkenalan..

Saya bertemu Lala dan Yudha sekitar 3 tahun lalu mungkin. Saya tidak ingat tepatnya kapan. Tapi yang jelas sudah lama. Ketika bertemu, mereka sudah berpacaran. Hubungan mereka baik, tipikal pacaran yang suka bikin iri saya, karena hubungan mereka lebih mirip kakak adik dan teman baik dari pada hubungan pacaran masa kini. Sangat nyaman terlihat. Tidak ada saling mengekang dan menunjukkan kepemilikan yang berlebihan. Mereka saling percaya. Ya, saya tahu mereka tampak sangat cocok.

Yuda adalah tipikal pria khas jawa, lembut tutur katanya, bahkan saya suka sekali suara medhoknya terdengar. Tipikal pria rajin sholat dan tentu saja penurut pada ke-dua orang tua. Dia pandai menggambar, saya pun kebetulan suka megagumi mereka yang pandai di bidang seni. Itu kenapa Yuda, memutuskan untuk mengambil kuliah di jurusan desain. Dan Lala, kalau kata sahabat saya Cici, sejak sekolah dulu, Lala adalah anak pandai dan penurut, dia juga rajin ibadah greja, tipikal anak rumahan yang sayang ke-dua orang tua. Anak Tuhan banget.

See, sudah bisa menemukan masalah yang ingin saya ungkapkan belum di paragraf barusan?
Yap, mereka berbeda keyakinan. Yuda adalah seorang Muslim sedang Lala, dia Kristen Protestan.

***
Keputusan...

Tapi diluar urusan agama. Mereka adalah manusia baik. Bahkan baik sekali. Saya saja kalau sedang menginap di kosan Lala sering tidak enak sendiri. Dia suka ngga mau kalau saya bayarin atau jajanin, dan akhirnya saya yang sering ngerepotin dia. Ketika saya membutuhkan bantuan, dia akan dengan senang hati membantu. Mereka berdua juga bahkan sudah berbaik hati pernah menyempatkan main ke Samigaluh, menengok mama saya di rumah.

Dan ketika undangan itu datang pada saya, pertanyaan pertama saya adalah.. siapa yang akhirnya mengalah? Tapi ternyata.. mereka berdua akhirnya memutuskan menikah dalam perbedaan.

Di undangan tertulis pemberkatan di greja dan juga menikah secara Islam. Lalu disah-kan di catatan sipil. Sejak dulu Lala memang pernah bilang pada saya, kalau ke-dua orangtuanya memang setuju dengan pernikahan berbeda agama. Itu kenapa, hubungan mereka tetap berjalan baik.

#dheg

Itu sepertinya hastag yang cocok yang bisa saya pakai.

Saya bukan tidak bahagia, saya pun bukan tengah mencoba menghakimi keputusan mereka. Posting ini bukan tentang hal itu. Karena setiap dari kita berhak menjalani hidup yang kita inginkan, dan kita bertanggung jawab masing-masing atasnya.

Posting ini lebih tentang keresahan yang muncul di dalam diri saya sendiri. Malam setelah saya menerima undangan tersebut saya jadi berpikir panjang sendiri.

Mereka ber-dua orang baik dan bisa memutuskan hal seperti itu.

Tidak tertutup kemungkinan, kalau saya pun bisa melakukan hal yang sama.

Sejak dulu, setiap pasangan berbeda keyakinan yang saya kenal, pasti selalu tampak cocok dan serasi dalam segala hal kecuali 1 perbedaan yang melekat dalam diri mereka, yaitu agama. Itu yang membuat mereka biasanya mempertahankan hubungan itu hingga berjalan bertahun-tahun. Tapi baru kali ini, teman yang saya kenal sendiri akhirnya memilih menikah dalam perbedaan.

Ya, menemukan seseorang yang begitu cocok dan membuat kita nyaman memang sangat sulit. Dan itu yang kerap membuat mata kita dibutakan oleh satu perbedaan yang sebenarnya membentangkan jarak yang sangat jauh di antara keduanya. Perbedaan yang sebenarnya jembatan seperti apa pun tidak akan dapat menyebrangkan mereka.

Apa mereka benar berjodoh? Who knows.

Malam itu saya bbm-an dengan sahabat saya yang lain. Dan kalimat itu lah yang saya tanyakan;

“Apakah mereka benar berjodoh?”

Bagaimana bila suatu ketika saya dihadapkan dengan hal yang sama demikian.

Sahabat saya bilang;

“Gue udah sering bilang sama lo. Jangan mau dikuasai perasaan kita sendiri. Sayang sama orang pun mesti rasional.”

Lalu saya bilang padanya;

“Dengan siapa pun kita jatuh cinta, pada akhirnya hanya kita-lah yang berhak memutuskan untuk menikah dengan siapa. Kita bisa mengatakan tidak. Kita punya kemampuan melakukannya.” Saya menulisnya sembari meyakinkan diri saya sendiri.

Tapi ketika pada akhirnya kita memutuskan ‘Iya’, tentu semua konsekuensinya ya hanya kita yang menanggungnya sendiri. Hanya kita. Bukan orang lain. Tapi ketika saya menanyakan pada diri saya, apa saya sanggup bila dihadapkan dengan situasi yang dihadapkan oleh Lala dan Yudha, apakah saya mampu? Belum tentu.

Sekarang sih bisa aja saya ngotot bilang “Nggak mungkin lah gue begitu, ngga mungkin lah orang tua gue kasih restu, ngga mungkin pokoknya!”

TAPI DULU SAYA JUGA MIKIR LALA DAN YUDA NGGA MUNGKIN BEGITU.

NYATANYA? Hmm... #kemudiannyenderdilaptop

Itu kenapa sejak dulu, saya tidak pernah mau memulai atau memberi harapan pada pria yang jelas berbeda keyakinan dengan saya. Siapa yang bisa jamin, saya dan dia tidak akan cocok. Siapa yang bisa jamin, dia tidak akan memiliki sikap dan budi pekerti yang bisa membuat saya jatuh cinta. Siapa yang bisa menjamin, saya tidak akan membuatnya jatuh cinta pada saya dengan dalam. Siapa yang bisa menjamin?

Tidak ada.

Saya memegang dua prinsip soal pasangan dalam hidup saya.
1. Jangan pernah menikah tanpa restu orang tua
2. Jangan pernah menikah tanpa restu Tuhan


Karena restu orang tua adalah restu Tuhan di dunia. Dan restu Tuhan adalah jalanmu menuju surga-Nya.

Sesederhana itu. Percaya deh, semua hubungan yang berjalan tanpa restu ortu, entah itu baru pacaran atau sampai pernikahan pasti akan menemukan kesulitan di hari kemudian. Mau sekaya, sepinter, seganteng, secantik atau sebaik apa pun pasanganmu.

Temukan pasangan yang, bisa disayangi ke-dua orang tuamu seperti mereka menyayangimu. Pasti ada. Jangan terpaku pada yang sudah ada, hingga kamu melupakan kemungkinan menemukan yang lebih baik.

Beranilah berkata tidak, pada sesuatu yang begitu baik di matamu. Tapi tidak baik di mata TuhanMu.

Salah satunya ‘dosa’.

Nyaris sebagian besar dosa berbentuk hal baik dan enak. Dan itu kenapa Tuhan begitu menyayangi umat yang bisa menjaga dirinya dari dosa. Karena Dia tahu, itu tidak mudah.

Dan untuk Lala juga Yuda, saya ucapkan selamat menempuh kehidupan berumah tangga.

Seperti yang saya katakan pada Lala ketika kami saling memeluk kemarin di pelaminan; “Yang bahagia ya La.”
Lalu dia bilang; “Minta doanya aja ya Fa.”
Tentu saja, akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua. Selalu :)

Di luar kesemuanya, kemarin adalah hari yang amat sangat menyenangkan. Bertemu teman lama dan berkenalan dengan teman baru. Segala letih pun tidak akan sebanding.
Berkumpul dengan teman itu selalu menyenangkan! :D

Nilai yang bisa saya ambil dari kejadian ini;

Terkadang, ada hal-hal yang tidak perlu kita beri kesempatan untuk masuk dalam hidup kita. Seberapa pun baik dan keren hal itu terlihat. Tuhan, bisa jadi sedang mengujimu saat itu.

***
Saya ingin mengutip sebuah posting blog yang ditunjukkan oleh sahabat saya. Saya rasa seperti itulah perasaan yang akan saya temui ketika saya dipertemukan dengan seseorang yang mencintai dan saya cintai tetapi kami berbeda keyakinan. Beberapa baris dalam kutipan ini saya ubah, karena memang si-empunya blog beragama Kristen. Saya membuatnya, seakan ada di posisi saya yang muslim. Tapi sama sekali tidak merubah makna dari posting itu sendiri.

Will I marry someone with a different Faith?


It took me a feature movie and endless travelling to answer it. Why does it take me so long for a simple yes or no question?

I was so afraid that my NO will hurt this movie… and above all, you.

It’s not because I think that you are not qualified enough to be my partner in life. God knows how tempting you are to me. It’s me. I am a very weak and selfish person. I am incapable of loving anyone, even you, forever and ever till death do us apart. My love will definitely fade away some day.

That’s why I need a (T) in my cinTa (Indonesian word for love). (T) is the only one who could strengthen me to stand by him through his weaknesses, entertain me through my incidental boredom of marriage, and comfort me not to take divorce as an option no matter how hard it gets.

And I don’t believe your love, or any love will last. I need a man who loves God more than he loves me. Otherwise, he will just leave this stupid weak girl eventually.

OK. I know you love God too, just in a different way. You think it is ridiculous that we cannot be together. Ketika saya begitu menyukai bulan suci Ramadhan, berpuasa selama satu bulan penuh, mengaji dan menjalani kegiatan islami lainnya. Kamu mungkin bisa menemani saya, tapi kita  tidak bisa menjalankannya bersama-sama. Ini bukan 'kebersamaan' yang saya inginkan.

It’s just like I cannot marry anyone who loves partying all night because I am more of a stay home person. It doesn’t mean that partying is bad, it’s just not for me.

The different lifestyle makes me uncomfortable. Begitu pun sholat berjamaah di rumah. Saya memimpikan seorang Imam yang dapat menuntun saya sebagai makmum di setiap sholatnya. I need a guy who refers to the same book for our problems. Because no matter how hard I try to tell myself that we are the same, we are not.

Despite my NO, I do believe that God creates us differently for a beautiful reason, not to make myself feel better than others. And I am very grateful that God let me get to know you. If you can see through my eyes, you will see how blessed I feel just to spend an afternoon of absolutely nothing with you.

Thank you. I love you. I always will.

source : resignclub.blogspot.com

***


Notes:

Akhir-akhir ini saya sering banget baca buku. Sepertinya saya pengen mulai nulis refrensi dari buku yang selesai saya baca untuk diposting di blog. Mulainya kapan? Hahaha.. sesuai mood saya nulis nanti yap.

Terima kasih asa udah mau tolongin aku postingin. Kalau ngga ada kamu, blognya berkarat deh ;)

Untuk sahabat saya Chrysti yang baru putus dan patah hati. It’s okay darling, patah kali ini akan buat kamu semakin tegak berdiri besok-besok. Tuhan membuat kita melaluinya, karena (seperti biasa) Dia terlalu sayang sama kita! I’ll always be your lovely Spongebob, and you’ll always be my lovely Patrick. Betapa pun rumahmu di bawah batu dan aku di dalam buah nanas. *peluk

Kalau kamu punya dan tahu pengalaman yang sama dengan posting ini, boleh loh dishare di kotak komentar untuk berbagi. Happy Monday!

13 comments:

  1. Ka, aku pernah jatuh cinta sama cowok yang beda keyakinan.
    Tapi aku mutusin untuk gak nerima dia waktu dia bilang sayang.
    Seperti kata di postingmu, "Berani berkata tidak pada sesuatu yang begitu baik di matamu. Tapi tidak baik di mata Tuhanmu."

    Sakit sih memang, tapi aku lebih milih sakit sekarang daripada aku ngejalanin hubungan sama dia, terus sakitnya di akhir-akhir.
    #cyurhat :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keren! Berarti kamu sudah lulus ujian Tuhan Sa :p
      Aku juga pernah kok. Mungkin setiap dari kita pernah mengalaminya, walau hanya satu kali dalam hidup :)

      Delete
    2. iya, satu kali dalam hidup. aku juga pernah, tapi aku lebih milih mundur, soalnya takut terlalu dalam jatuh cinta sama dia.. :')

      Delete
  2. dea juga punya sahabat yang pacaran beda agama selama 2 tahun kak. tapi akhirnya bubar karna orang tua si K (sahabat dea) gak setuju.
    gimana nasehatinnya lagi kak kalo dia curhat dan nangis. dea bingung bilang apa lg :D

    tetep semangat posting ya kak. sehat selalu :*

    salam kenal buat asa laily. aku suka gambaranmu :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangankan 2 tahun De, aku aja pernah punya temen yang pacaran sampai 6 tahun. Walau akhirnya putus. Padahal kalo 6 tahun itu dia pake buat cari orang lain yang lebih baik, pasti udah dapet yang jauh lebih baik untuk dia sayangin :)

      Delete
  3. fiuh.. lega deh baca ending nya. syukurlah Fa dah lumayan pinter berpikirnya haha. intinya nggak bisa beda keyakinan titik. nggak ada alasan lain. di Alquran jelas. Anwy kenapa klo pacaran itu selalu maniis dan selalu bikin deg2an, pas nikah sebaliknya? karena ada "syetan" yg berperan. ngipas2in pas kita pacaran, semua indaaahh. nah pertanyaan ttg kenapa mereka yg berbeda agama selalu cocok mungkin terjawab.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha.. fiuh mba, seumur hidup aku belum pernah ragu untuk nolak yang beda agama.
      Yap setuju, pacaran itu selalu bertiga sama syetan. Semua yang salah jadi tampak benar. Manusia hobinya kan bikin aturan sendiri Mba.

      Terima kasih udah mampir ke blog galau aku lagi, selalu suka lihat komen mba lia di box komentar ;)

      Delete
  4. terkadang memang akan banyak hal - hal yang tidak kita mengerti di awal, namun baru akan kita pahami setelah itu berlalu atau terjadi :)

    selalu suka cara bercerita kak fa, keep posting ya kak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuhuu utari, segala hal terjadi karena sebuah alasan.

      terima kasih, akan selalu posting pasti :)

      Delete
  5. Ka faaaaaaaa...... Aku lg jalani hub yg kyk gitu, hrus gmn dong?padahal ada cowo baik dan seiman yg nawarin cinta yg serius utk aku tapi aku tolak :(( .mau di akhiri tp seakan tak mau diakhiri #curhatdetected hehe

    ReplyDelete
  6. jangan di akhiri #curhatdetected hehe

    ReplyDelete
  7. "beranilah berkata tidak untuk sesuatu yang begitu baik di matamu, namun tidak di mata Tuhanmu"

    dari mana kita tau kalo itu tidak baik di mata Tuhan?

    what should we do to convince ourselves?

    ReplyDelete
  8. belom pernah ngalaminnya.. mudah2an gak usah.. :D

    ReplyDelete

Thanks for reading my post! :)