Wednesday, April 18, 2012

Titik




“Berhenti, mari kita berjalan ke arah yang berlawanan agar tak perlu lagi saling menemukan. Aku lelah. Kita sudahi saja. Aku rasa kau akan lebih baik tanpa aku dan aku akan lebih mudah tanpamu.” Matanya menatapku kaku, tak ada satu pun kepura-puraan kulihat di dalamnya. Aku seakan tak mengenal perempuan ini. Perempuan yang tengah begitu kucintai.
 
 “Bagaimana bisa begitu, katakan bagaimana caranya aku bisa hidup tanpamu?!” Aku membentaknya kalap, aku benci ketegarannya detik ini. 

 “Aku tak tahu, tapi aku yakin kamu akan menemukan caranya. Aku pun akan terus berusaha mencari cara bagaimana untuk bertahan hidup tanpamu nanti.” Matanya menyendu, tapi kekakuan menyelimutinya. Kekecewaan besarnya padaku, yang jelas tak termaafkan. 

“Maafkan aku Lanna, aku sudah katakan padamu aku tidak sengaja melakukan kebodohan itu. Aku, aku tidak pernah sedikit pun pernah merencanakan untuk jadi seseorang yang pernah menyakitimu.” Kuraih tangannya, telapaknya basah dan dingin. Dia begitu tegang, persis seperti ketika dulu aku menggenggamnya saat aku memintanya menjadi perempuanku. Tapi tak seperti dulu, kali ini genggaman hanya datang dariku, tak ada satu pun gerakan yang kurasakan dari jemarinya. Dia, dia sungguh-sungguh ingin melepasku. 

“Tak ada seorang pun yang pernah merencanakan hal buruk untuk terjadi dalam hidupnya. Begitu pun seperti dulu aku tak pernah merencanakan untuk jatuh cinta padamu. Kumohon, bantulah aku membuat ini menjadi lebih mudah. Apa kau pikir mengatakan ini semua padamu adalah hal yang mudah untukku? Apa kau pikir 3 tahun yang telah berjalan ini bisa begitu saja lenyap dari ingatanku? Tidak kah kamu lihat, aku pun sedang mencoba membuatnya menjadi lebih mudah untukmu?” Keningnya mengerut, matanya menatap tajam namun tertahan dan perlahan genggamanku pun kulepas. Bukan karena aku ingin melepasnya, ini hanya karena aku ingin membuat ini menjadi lebih mudah untuknya.  

“Lanna, aku selalu mencintaimu. Ingatlah aku pernah mengatakan ini.” Aku mencoba mengingat garis wajahnya baik-baik. Setiap kerut di ujung matanya, yang mungkin akan butuh jeda masa lama untuk bisa menemukan dirinya kembali duduk sedekat ini denganku esok.

Pandji, aku pernah memberimu kesempatan untuk mencintaiku dengan baik dan Ingatlah aku pernah melakukannya karena aku pun mencintai dan mempercayaimu.” Dia tersenyum kecut di ujung kalimatnya. Aku pun akan menyimpan senyum itu di dalam ingatanku, tanpa terkecuali.  

“Aku akan pastikan, walau kita berjalan ke arah yang berbeda, aku akan menemukanmu kembali disuatu ketika. Dan saat itu, tak akan kubiarkan kau lepas lagi.” Aku mencoba tersenyum sebaik yang kumampu berikan.  

“Itu berarti kita harus sama-sama berjalan. Itu baik. Kita akan berjalan untuk melewati ini semua. Seberapa pun berat jangan pernah kembali ke titik ini. Ini titik yang harus dihapus dari peta.” Lanna bangkit dari duduknya, menatapku sedetik lalu kembali tersenyum, senyum paling enggan yang pernah kulihat dari bibirnya. Lesung di pipinya pun ragu-ragu untuk terlihat. Aku tahu dia pasti telah melatihnya dengan keras malam tadi.  

Dari sini dapat kulihat pundaknya lambat menjauh, baru dapat berapa langkah kulihat pundak itu bergetar, dia menangis tertahan dan aku yang membuatnya seperti itu. Aku menghancurkan hati perempuan yang menyayangiku tanpa ragu selama 3 tahun ini, aku menghancurkannya hanya dengan sejentik ketololan. Kuremas rambutku sembari menatap nanar ke arah meja ini. Sejak kapan kehilangan menjadi hal yang begitu menyakitkan untukku. Bahkan untuk pria setegar aku. 

The end.
***
Kau tahu, terkadang ada hal-hal yang saya inginkan untuk tidak pernah dapat kembali terulang. Atau ada sebuah kejadian yang inginnya saya hapus saja dari pada menemukannya kembali kemudian di dalam ingatan saya. Ada pula, beberapa orang yang kalau saja bisa, saya tidak pernah ingin bertemu dengan mereka. Karena di suatu ketika, ternyata mereka mengecewakan saya dengan teramat buruk. 

Mereka adalah titik-titik yang ingin saya hapus dari peta saya. Agar bagaimana pun keras otak saya mencoba mencari jalan untuk menemukannya, saya tak akan pernah dapat menemukannya kembali. Karena mereka telah terhapus dari peta hidup saya. Mereka tidak hanya terlewat, mereka menghilang, mereka lenyap. Dan semuanya akan menjadi lebih mudah dilewati. 
***

Sore tadi saya tiba-tiba ingin membuat kopi. Kalian yang mengenal saya pasti tahu, saya tidak suka kopi. saya tidak suka mereka. Kuberi tahu satu rahasia kenapa saya tidak suka mereka. Ibu saya, dia dulu terserang stroke karena terlalu banyak meminum kopi hitam. Lalu dari pada menyalahkan nasib, saya lebih suka menyalahkan kopi hitam setiap kali menatap ibu saya yang tergeletak tak berdaya di ranjangnya sekarang. Hahaha.. tidak, saya bercanda, saya tidak suka menyalahkan apa pun sebenarnya, saya hanya tidak ingin menjadi sakit seperti sakit yang ibu saya alami. Maka dari itu saya tidak suka meminum kopi.   

Dan ketika satu gelas habis saya minum, saya menginginkannya lagi. Ternyata mereka tidak seburuk yang saya yakini selama ini. Namun saya memutuskan untuk tidak membuatnya lagi. Satu gelas cukup. Saya hanya ingin merasakan pahitnya saja. Mencoba mengerti bagaimana dulu ibu saya bisa begitu menyukainya, bahkan mampu menghabiskan bergelas-gelas agar mampu menyelesaikan pesanan baju langganannya. Menjahit hingga nyaris pagi setiap harinya.

Apa saya pernah cerita, kalau ibu saya itu seorang penjahit. Dulu sewaktu kecil, hampir semua isi baju saya di lemari adalah hasil buatan tangan terampilnya. Sampai-sampai baju boneka barbie dan juga mukenah saya dibuat oleh ibu saya sendiri. Keren sekali kalau saya pikir lagi. Banyak ibu yang bisa membelikan baju anak perempuannya di mall, tapi berapa ibu yang bisa membuatkan sendiri baju untuk putri kecilnya? Saya anak perempuan yang beruntung. Dulu, saya bahkan tidak pernah merasa seperti itu. Baju-baju di mall selalu tampak lebih keren di mata saya.   

Cobalah sesekali, kamu pikirkan baik-baik apa yang kamu miliki. Sehingga kamu tidak perlu kehilangannya tanpa sempat menikmati bersyukur atasnya. Banyak hal-hal manis yang pernah saya lewati dengan ibu saya, mereka terlewat bahkan sebelum saya sempat mensyukurinya dengan pantas. Hal-hal yang menjadi sangat mustahil lagi saya lakukan saat ini. Titik-titik yang terhapus dari peta tanpa sempat saya sadari. Karena dulu, mereka tak pernah sempat saya ingat-ingat.   

Dan itu tentu tidak hanya berlaku pada ibu. Itu berlaku pada setiap insan yang pernah menyayangimu dan memperhatikanmu dengan sepenuh hatinya. Jangan biarkan mereka terlewat begitu saja tanpa sempat kamu bersyukur atasnya. Atau tanpa pernah sempat kamu mengatakan padanya, ‘kamu adalah titik berharga dalam petaku’.  
*** 

Beberapa hari yang lalu, ada seseorang dari masa lalu saya yang datang dan bilang; pria yang pernah melewatkanmu adalah pria yang sangat bodoh. Di mana lagi dia bisa menemukan hati sesederhana seperti yang kamu punya?  

Dan dulu, dia adalah pria bodoh itu. Lucu bukan? Dia bisa mengatakan kalimat semanis itu pada seseorang yang pernah dia lewatkan begitu saja. Saya bahkan tidak pernah membayangkan akan ada hari itu. Tapi apakah kamu tahu, kamu tidak pernah tahu apa yang sedang direncanakan Tuhan untukmu. Kalau saya memang tipe yang lebih suka menemukan seseorang yang baru, dari pada kembali bersandar pada mereka yang pernah mengecewakan saya. Jadi seberapa manis pun, mereka akan terasa hambar di hati saya. 

Dulu, ketika memutuskan untuk menghapusnya, hati saya mengatakan; di suatu ketika Tuhan akan menunjukkan padamu, apa yang baru saja kamu lewatkan. Dan see, itu terjadi. Keren bukan, sudah kukatakan, jangan takut berusaha jadi manusia yang 'benar'. Karena Tuhan-lah yang akan membelamu langsung, bila kamu dicurangi :)  

Terkadang perpisahan bisa menjadi hal yang sangat perlu untuk dijalani, agar kamu memiliki esok yang lebih baik dari pada bertahan pada ketidakbahagiaanmu selama ini. 
Beberapa titik bisa kamu rencanakan hilang, beberapa yang lain bisa menghilangkan diri mereka sendiri karena tak pernah sempat kau perhatikan. Jadi, jaga baik-baik titik-titik di petamu. Hal-hal yang pernah menjadi bagian dalam usiamu.  

Semalam saya mimpi buruk. Dan ini adalah tulisan hasil dari mimpi itu. Saya ingin menganggap mimpi itu adalah salah satu titik yang itu. Titik yang dengan sengaja tidak pernah ingin saya temukan kembali.  
Ps: Jangan pernah percaya apa yang saya tulis. Percaya saja pada Tuhan milikmu :P 

18 comments:

  1. I’m seriously happy to discover this great site the future of this blog is getting good and more useful for me thanks and god bless you.
    IT Company India

    ReplyDelete
  2. iya ka, aku ga percaya kka, nanti musrik. :p hihi

    btw nice posting kka, walaupun hasil dari mimpi buruk, tapi lewat jari dan hati kka, itu jadi tulisan yg sangat baik. :') dan posting ini lebih panjang dari biasanya. jadi lebih puas bacanya, berasa baca 'novel' #eh ;D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha iya, mungkin karena sudah begitu lama tidak menulis. Isi otaknya meluber jadi tulisan panjang.

      Delete
  3. ini itu mewakili isi hati banget deeh. "Perpisahan bisa menjadi hal yang perlu di jalani". That sentense mean a lot for me.
    Makasih kakak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama sayang. Kalimat itu juga punya makna mendalam untuk saya ;)

      Delete
  4. Replies
    1. *Puk puk*
      Mungkin untuk next posting kamu bisa lebih ngerti yaa sayang ahaha, emang agak belibet bahasanya :P

      Delete
  5. Fa, tanggung jawab! nangis di kantor nih T.T
    peyuuuk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku kasih sebotol mineral water ya dari sini. Jangan nangis, nati hatimu dehidrasi.
      *PELUK!

      Delete
  6. some one, some where, is made for you. :p

    ReplyDelete
  7. saya beberapa kali memang mampir ke blog kakak, tapi br skrg menyadari kalau kita (mungkin) sama-sama punya titik di masa lalu yang ingin dihapuskan dr peta hidup.

    ayah saya juga stroke, sejak saya berumur 8 tahun, dan pada saat saya berumur 12 tahun beliau meninggalkan keluarga kami. pecandu berat rokok, kopi, gulai kambing, minuman manis, malas berolahraga. kemudian saya menyalahkan rokok dan kopi. saya membenci keduanya.
    membaca blog kakak, saya tidak lagi merasa sendirian :)

    salam kenal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Doa terbaik saya untuk ayah kamu Kin. Kalau Ibu saya sudah 8 tahun ini stroke. Sudah sempat main juga ke blogmu. Nice blog anyway :)

      Tidak pernah ada yang benar-benar sendirian di dunia ini Kin. Masih banyak saya dan kamu yang lain. Bahkan yang pengalamannya jauh lebih besar.

      Sesama orang Jogja kan kita, salam kenal juga ya!:D

      Delete
  8. kak, ini posting nya sama persis seperti yang saya alami tadi pagi. bedanya saya 'cuma' di sms..

    3 tahun saling mengasihi, tiba tiba sakit hanya karena kelakuan cowok saya yang tolol.
    bukan, mungkin saya juga tolol karena mencintai cowok yang tolol.

    sekarang saya gak tau harus gimana.
    dia adalah titik yang paling saya cintai di muka bumi ini :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan mencintai apa pun, melebehi cintamu pada Tuhan sayang :)

      Delete
    2. iya kak..

      Tuhan sudah memeberi saya pelajaran lewat dia.
      Untung saja, saya punya Tuhan yg selalu mencintai saya kak :)

      Delete
  9. postingan kakak keren, aku suka banget :)

    kayaknya aku perlu menyontoh sikap kakak nie, soalnya ada beberapa kejadian yang sangat aku ingin lupakan, tapi itu sulit banget, malahan setiap hari keinget terus,
    dengan membaca postingan kakak, mungkin aku bisa melupakannya

    salam kenal y kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan dilupakan, melupakan hanya akan membuatmu semakin ingat. Kita hanya perlu berdamai dengan masa lalu.
      You can do it Lia! :D

      Delete

Thanks for reading my post! :)