Monday, April 23, 2012

Just like seasons. People change.



“It’s hurtful to see people change;
but even more hurtful to remember who they used to be.” – Tiffany William


Apa yang tidak berubah?
Cuaca, suasana, tinggi badan, panjang rambut, kerut-kerut di kening, suara, waktu, perasaan?
Hell  yeah, tidak ada yang konstan berjalan. Bahkan batu dan tanah pun pasti bergerak.


Kita butuh perubahan untuk bisa tetap ada di dunia ini. Sekarang tinggal apa yang kita inginkan untuk berubah dan apa yang sekuat upaya kita pertahankan untuk tetap sama ada, karena mereka sudah baik. Mau tidak mau, perubahan adalah hal yang nyata harus kita jalani. Suka atau tidak suka. Sakit atau tidak sakit. 


Saya selalu menganggap, bahwa apa yang paling mudah berubah di dalam hidup ini adalah perasaan, adalah hati. Itu kenapa, ada yang sering mengatakan; “Isi hati manusia, siapa yang tahu dalamnya?”


Dan perubahanlah yang memberi kesempatan manusia untuk mendewasakan dirinya. Perubahan jugalah yang memberi kesempatan manusia untuk memaafkan dan dimaafkan. Perubahan pulalah yang terkadang memberi kesempatan kita, untuk menjadi lebih bahagia.


Apa yang mampu bertahan selamanya? Tidak ada. Bahkan kamu pun perlu mati, suatu saat nanti. Kalau beruntung, kau pun akan sempat merasakan bagaimana hidupmu berubah menua. Bagaimana rambutmu yang hitam mulai beruban, bagaimana kulitmu yang kencang mulai mengendur, bagaimana jajaran gigimu yang rapat mulai melubang. 


Dan ya, tidak semua orang diberi kesempatan menua. Bahkan kebanyakan manusia di usia saya, begitu teramat percaya diri dengan ‘masih’ panjangnya deret bilangan usia yang mereka miliki. Tapi nyatanya, apa yang mampu lebih dekat dari jarak kematian itu sendiri? Tidak ada.


***
People change?
Yes they did.
But hey, it’s real life. Nothing last forever right?


Bahkan mereka yang dalam kepalamu tidak pernah terpikirkan akan merubah sikapnya. Bisa saja berubah tanpa sempat kamu mengedipkan matamu. Secepat itu? Ya, tentu saja mereka mampu. Apa yang tidak bisa dilakukan manusia? Homo Sapien adalah makhluk yang cerdas. Mereka cerdas melakukan hal-hal yang bahkan tidak sempat kamu bayangkan mereka sanggup untuk lakukan. Salah satunya pun bisa jadi cerdas menyakitimu. Hahahaha, yang saya katakan benar kan? :P


Dan apakah mereka salah? Saya rasa tidak. Karena setiap orang berhak menjalani hidupnya dengan caranya masing-masing. Dan kita, hanya perlu memahami mereka. Menghargai cara berpikir mereka dan lebih menghargai diri kita sendiri setelahnya. Yakinlah saja, mereka punya alasan terbaik, walau mungkin dengan keputusannya mereka memilih untuk bersikap buruk padamu. 


Whatever it’s hurtful to remember who they used to be, you still have to face it.
Melarikan diri, hanya untuk mereka yang pengecut pada kenyataan. 


Karena saya tahu, tidak semua perubahan berjalan ke arah yang kamu anggap baik. Beberapa seakan bergerak ke arah yang tidak kamu inginkan. Tapi itulah yang terbaik untukmu.


Hal yang petama kali harus kamu kendalikan adalah hidup dan perasaanmu sendiri. Kebetulan, saya bukan bagian dari mereka yang betah menyerapah keadaan dan hal-hal buruk yang terjadi dalam hidup saya. Apalagi menyerapah mereka yang sudah membuat saya kecewa. Saya selalu berpikir, mereka tidak akan pernah mengecewakan saya, apa bila saya tidak memberi mereka kesempatan untuk melakukannya


Hidup, hati, dan diri saya ini berada di dalam tanggung jawab saya sepenuhnya, bukan orang lain. Ya, dimana-mana menyalahkan orang lain, selalu jadi pilihan paling mudah. Tapi itu pilihan yang paling tidak bijaksana.


Ketika saya patah hati, putus dari seseorang, menyerapah dan menyalahkan kekurangannya akan menjadi hal yang lebih mudah saya pilih. Tapi apakah itu akan membuat saya move on lebih cepat? Tidak. 


Saya lebih suka instropeksi diri dari pada repot mengkoreksi kesalahan orang lain. Kesalahannya, adalah bagiannya. Hidup dan kebahagiaan saya, adalah bagian saya. 


Karena menyalahkan keadaan adalah seburuk-buruknya keadaan yang bisa kamu jalani. Saya mungkin punya beberapa hal yang tidak baik di masa lalu tapi tidak akan saya biarkan mereka membuat masa depan saya menjadi ikut tidak baik. 


“Memang masa lalu pikir, siapa mereka bisa mendikte masa depan saya? Ha?! #gaksantai *ketawa sendiri*


Saya memang tidak suka membicarakan mereka, karena memang saya berpikir mereka bukan bagian yang perlu saya ingat-ingat. Tapi yakin saja itu adalah titik terendah dalam hidup yang pernah saya alami. Berat, bahkan sangat berat. Tapi memang siapa yang mau peduli pada mereka kecuali diri saya sendiri dan Tuhan. Berharap ada seseorang yang dengan baik hati mau mencoba memahami masalah orang lain di tahun 2012 ini adalah bagian dari kekonyolan. Setiap manusia, punya bagian masalahnya masing-masing. Dan mereka cukup repot untuk ikut campur dengan masalahmu. Dari pada berharap dan kecewa, lebih baik cobalah menyelesaikan masalahmu sendiri.


Perubahan, telah mengantar saya sampai di titik ini. Dan untuk sampai ke titik ini bukanlah hal mudah. Dulu, saya tahu saya perlu merubah mindset saya untuk bisa menjadi manusia yang lebih bahagia dan saya pun melakukannya. Tidak ada yang menjadi penolong sebaik diri kita sendiri, bagi diri kita sendiri tentu saja. Lagi pula siapa yang mampu bertahan hidup tanpa perubahan? Tidak ada. 


Jadi ketika seseorang di dekatmu berubah, pandanglah ia sebagai proses dalam hidup yang mesti kau lalui agar tetap mampu bertahan hidup. Jika perubahan itu membuatmu sedih, yakinlah itu hanya akan terjadi sementara waktu saja. Karena Tuhan akan menunjukkan padamu, bahwa kesulitan hanyalah salah satu dari bentuk kebahagiaan yang masih tersembunyi wujudnya.


***

GOD IS ALWAYS ON TIME!


Setiap kali saya membaca kalimat di atas, saya tahu, ada yang merencanakan hidup saya dengan sempurna dan Dia adalah Ahlinya.


Apa lagi yang perlu dikhawatirkan, ketika kau meyakini bahwa keputusan Tuhanmu selalu menjadi yang paling tepat waktu?
Buruk atau baik (di matamu)
Suka atau tidak (di hatimu)


Mereka yang datang “tepat waktu” pasti akan mengantar hidupmu ke arah yang tepat.
Semua hal itu ada takdirnya – ada masanya – ada hikmahnya. Bukan begitu?


Tidak ada perubahan yang nyata seburuk yang ada di dalam pikiranmu. Walau pun mereka harus berjalan dengan cara yang buruk dalam hidupmu.


Beberapa hari belakangan, saya banyak belajar bahwa ternyata merelakan adalah kegiatan yang menyenangkan ketika nyata telah berhasil dilewati. 

Merelakan mungkin adalah kegiatan yang begitu sulit dimulai, tapi cukup membahagiaan ketika berhasil diakhiri.  


It’s really funny. But finally I’m happy enough! :D


Merelakan dalam bentuk apa pun, mampu membuatmu bahagia dengan cara yang baik. Percayalah.
Jadi jangan terlalu mengkhawatirkan apa yang belum terjadi, ketakutanmu hanya akan membuang banyak waktu untuk menikmati hidupmu.

Dan satu hal yang saya pelajari dari hidup belakangan ini:

Kamu tidak tahu apa yang telah seseorang alami dalam hidupnya dan seperti apa masa lalunya berjalan. Kamu tentu saja tidak bisa pukul rata semua orang untuk bisa hidup sebaik cara yang kamu punya. Cobalah untuk tidak egois, atau hidupmu akan habis kawan. Tidak akan ada yang mampu bertahan dengan mereka yang memilih ke-egoisan untuk mengisi hidupnya.


Anyway, selamat hari buku semuanya!
Membaca dan temukanlah apa yang tidak hidup ajarkan langsung padamu :) 

Ps: Please don’t save me. You can only miss me.
*Memutar: Vanessa Calrton – Spring Street

23 comments:

  1. makasih y kak, udah buat postingan yang bagus banget plus membangun :)
    aku jadi yakin, keputusan aku untuk merelakan sesorang itu memang keputusan yang baik, karena kebahagiann yang sebenarnya akan muncul suatu saat

    salam kenal y kak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama sayang, semoga kebahagiaan itu lekas datang ke pangkuanmu :*

      Delete
  2. keren ka postingannya. Membantu kita ( aku sih lbh tepatnya :p ) ga berdiam diri di tempat yang sama, membantu untuk mulai melangkahkan kaki ke masa depan dengan satu langkah kecil, yaitu' merelakan ' .

    okey. ' merelakan ' . Siap untuk mulai merelakan demi menyambut kebahagiaan yg akan datang x)

    makasih karena telah menyadarkan saya ka :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Merelakan memang butuh niatan kuat, agar kau berani untuk tak lagi menoleh ke hal itu.
      Bulatkan tekad, karena bahagia itu pilihan ;)

      Delete
  3. superrrr syekaliiiii :D
    I luv yu kaks
    #eh
    :p

    ReplyDelete
  4. tetap suka sekali sama apa yg kk tulis, ini membangun dan bikin aku makin pantang menyerah :D

    ReplyDelete
  5. "Jadi jangan terlalu mengkhawatirkan apa yang belum terjadi, ketakutanmu hanya akan membuang banyak waktu untuk menikmati hidupmu...."

    Kakak, kata-katanya pas banget sama aku yang lagi uring-uringan karena mikirin masalah yang belum terjadi. AAAK!! nenangin banget kak. bagusss, aku suka :)

    btw, salam kenal kak fu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belakangan saya juga kerap khawatir, tapi kalau saya pikir-pikir lagi itu cuma buang waktu hihihi
      Bahagianya tulisan saya bisa menenangkan hati orang lain :'D

      Delete
  6. hal yg sll saya pegang dlm hidup adalah saya tdk akan pernah menuntut dan berharap pada manusia, karena selalu hnya kecewa yg didapat. dan ketika saya merasa kecewa, saya pasti menyalahkan diri sndiri, kenapa saya berharap pada sesuatu selain ALLah..
    #hati hanya sekepalan tangan, tak cukup utk diisi dgn kesedihan jika yg kau inginkan jg bahagia. so pesan saya klo nggak mau sedih,, nggak usah menuntut apapun pada manusia. memberi saja.. tanpa menuntut apapun . .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya akan selalu ingat baik-baik pesan dari Mba Lia :D
      Salam buat Kenzie ya Mba, terima kasih sudah main-main sampai ke sini :D

      Delete
  7. aku pernah nulis kalo setiap perubahan itu pasti menyakitkan. tapi dari posting kakak aku jadi ngerti. perubahan itu ternyata juga di butuhkan :)

    ReplyDelete
  8. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmm... Move on yg agak ekstrim.
      Seharusnya seberapa pun berat, hubungan tali silaturahmi jangan sampai terputus. Kalau sebagai muslim yg baik, tentu itu berdosa.
      Tapi 3 tahun memendam cinta pasti bukan hal yg mudah. Semangat ya, God is always on time. Tidak ada yg perlu ditakutkan Achmad :)

      Delete
  9. nendang tenan nek iki . suwuun nggeeh :)

    ReplyDelete
  10. kak faa postinganny super sekali :D #salamsuper hahaa
    memotivasi kakaaa :D

    merelakan yaa ..
    hap hap ! ak pasti bisa ;)

    ReplyDelete
  11. Dari sini, aku jadi belajar banyak, tentang bagaimana cara mendewasakan pikiran untuk (berusaha) tak lagi egois, karena ketakutanku pada seseorang yang aku sayangi (sepertimu) pergi karena kebodohanku.

    *mana yang lebih nampar, fa? lama deh postingnya -________-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di film One Day, Emma bilang ke Dexter"
      "I love you Dex, so much. I just don't like you anymore, I'm sorry.." Sebelum akhirnya dia lepas pelukannya dan pergi meninggalkan pria yang begitu ia cintai, karena pria itu tidak pernah memperlakukannya dengan pantas.

      Jangan pernah menjadi Dexter Ay, dia menyianyiakan waktu 20 tahun untuk terlambat memiliki Emma. Perempuan yang dicintainya, juga seorang sahabat terbaik dalam hidupnya. Hanya karena ego dan keras kepala.

      Dia membuat Emma menunggu, perempuan yang pernah dijanjikan, akan setia menunggu janjinya diselamatkan dan ditepati.

      Karena kita tidak pernah tahu, kapan ajal menjemput dia yang kita sayangi :')

      Iya miss egois, nanti gue posting tuh posting yang lebih nampar. Kalo udah nyadar dikau itu egois, berbenah diri lah Ayaa.. ya masa nunggu gue posting -_-' #keplakaya

      Delete
  12. Kakak Fa ternyata punya bakat terpendam jadi motivator nih.. Hehe..


    Love u like always! ^^

    ReplyDelete

Thanks for reading my post! :)