Tuesday, February 21, 2012

Ini baru secuil, dari kue kehidupan.



Saat ini mata saya sudah merah, karena warnet ini membebaskan siapa pun untuk merokok. Dan barusan saja dengkul saya tidak sengaja kepentok ujung meja dengan begitu keras, saya meringis kesakitan beberapa detik. Saya memaksakan diri untuk fokus, saya harus menulis, menulis apa saja itu tidak masalah. Beberapa hari ini saya sudah sangat lapar menulis, saya sampai membeli buku tulis dan kembali menulis diary, tapi untuk mengetiknya ulang di warnet ini, itu adalah pilihan terakhir. Pfttt, mata saya makin perih, ini karena saya memakai softlens. Entah siapa yang menciptakan rokok. Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosanya. Di luar suara petir sama sekali nggak santai, sepertinya akan turun hujan deras. Ya, pulang dari warnet kehujanan kan sudah langganan. Jadi dari tadi saya mencoba untuk tidak geliasah, hujannya masih air fa, tenang aja. 

Lalu apa lagi yang harus aku tuliskan sekarang? Perasaan saya sedang tidak ada isinya. Sejak bangun kesiangan tadi pagi saya hanya melakukan rutinitas yang biasanya. Melihat mama saya baik, tidak ada alasan bagi saya untuk tidak merasa baik. Apa yang tidak biasa adalah langit saya tadi pagi, setelah empat hari hujan terus menerus, akhirnya si biru itu muncul. Saya senyum-senyum ngga jelas sambil jalan pagi. Hahaha.. Ya.. sejak kapan emang saya pernah jelas -_-'

Oke, fokus fa, fokus. Saya akan mencoba menulis sedikit ya.

*** 

"Dan seperti ikan yang melihat segalanya kecuali air, manusia sering lupa untuk bersyukur."-- Agustinus Wibowo

Tentu saja, siapa pun boleh terlahir cantik atau pun tampan. Siapa pun boleh terlahir sebagai seorang putri atau pun pangeran. Tak ada seorang pun yang sanggup memilih ‘awal’ dari dirinya. Begitu pun kapan dia akan mati. Tapi, Tuhan memberi kita kebebasan untuk menentukan ‘bagaimana’  kemudian menjalaninya.  Menjalani hidup ini. Sehingga kita pun bisa merangkai ‘akhir’ dari hidup kita sendiri. Kita, manusia, diberi begitu banyak hal yang tidak Tuhan berikan kepada makhluk lainnya.

Begitu banyak yang diberikan, begitu banyak yang dituntut. Bisakah kalian mengingat seberapa banyak jumlah serapah yang pernah terucap dari bibir yang paling sering mengingkari? Tidak mungkin dapat. Saya pun bahkan mulai menghkawatirkan limitnya.

Hari ini kamu benci matahari yang terlalu bersemangat menyinari, dan beberapa menit kemudian kamu benci hujan yang jatuh terlalu deras. Detik yang lalu kamu benci keringat yang membanjiri tubuhmu, detik ini kamu benci udara dingin tanpa sweatermu yang tidak sengaja tertinggal.

Kamu menyerapah setiap hal yang berjalan tidak seperti yang kamu inginkan. Kamu berteriak ‘Kenapa harus aku?’ untuk sesuatu buruk yang terjadi. Kamu, dengan keikut sertaanku di dalamnya. Bagaimana lagi, Tuhan harus bersabar pada manusia? Itu, baru contoh kecil. Kita belum membicarakan raja yang mengingkari rakyatnya. Kita belum membahas wakil rakyat yang mengabaikan konstituennya.

Ini baru secuil. Dari kue kehidupan. Kau memakannya, kita semua memakannya. Tapi tidak menyisakan potongan untuk Tuhan yang telah memanggangnya untuk kita. 

2 comments:

  1. :)


    itu yang membuat kadang-kadang aku suka geleng-geleng kepala hidup di Jakarta.


    seseorang makan di restoran mahal, hape yang canggih, wajah tampan, dompet tebal, tapi untuk tersenyum dan bilang makasih sama waitress aja males. wajahnya selalu masam seakan beban dunia ini dia sendiri yang pikul.


    sementara anak didik ku di jalanan masih bisa tertawa dengan sendal mereka yang "sekarat" hampir putus. dan bisa berbagi makanan yang benar2 sedikit.


    nice writing, Fa. :)

    do visit me back if you please.
    cheers!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huaa kamu guru ya, ingin sekali bisa jadi guru.

      Oke, nanti aku sempatkan blogwalking ke tempatmu :)

      Delete

Thanks for reading my post! :)