Saturday, January 28, 2012

Mimpi


Girl:
Apa impianmu?
Boy:
Aku tak punya impian.
Girl:
...
Boy:
Kenapa? Apa itu aneh?
Girl:
Ya, karena aku pikir orang sepertimu pasti punya impian.
Boy:
Dulu, karena ayahku terlalu miskin, aku begitu takut bermimpi. Semakin besar impianku, semakin miskin ayahku terlihat. Aku bilang pada ayahku, aku tak mau punya mimpi. Nyatanya aku bisa sukses tanpa mimpi yang kurencanakan.
Girl:
Aku merasa kita begitu mirip. Tapi diwaktu yang sama aku merasa kita bagai langit dan bumi.
Boy:
...
Girl:
Aku punya banyak sekali impian sejak kecil. Aku ingin jadi presiden perempuan pertama, ingin menjadi penyanyi, bahkan ingin menjadi Miss Universe.
Boy:
*tersenyum*
Girl:
Kenapa? Aku begitu aneh ya?
Boy:
Tidak. Aku mengerti.
Girl:
Ya. Karena kami terlalu miskin. Aku selalu ingin merubah hidupku. Aku selalu memimpikan kehidupan yang lain. Yang bukan aku. Seseorang dengan nasib yang lebih baik.
*terinsiprasi dari percakapan disebuah drama Korea*

3 comments:

  1. Percakapan sederhana yang sangat manis menurut saya.
    selalu suka dengan tulisan2nya mbak fa ini :) *sok akrab.

    ReplyDelete
  2. Posting yang menarik. Namun aku yakin, meski tidak disadari, semua orang pasti memiliki mimpi. Karena setiap hari manusia menciptakan kenangan—dan karena ada kenangan / masa lalu, kita dapat memulai mimpi untuk masa depan, bukan? Aku jadi teringat pada pertanyaanku tiga tahun lalu (2009), “Manakah yang lebih sulit, kehilangan orang yang berharga, atau kehilangan mimpi yang berharga?” Di antara banyak temanku yang menjawab “lebih baik kehilangan mimpi yang berharga”, hanya satu orang yang lebih memilih “kehilangan orang yang berharga”. Alasannya? Sederhana dan luar biasa:

    “Bagi saya hal yang tersulit adalah kehilangan impian yang berharga. Impian merupakan tujuan hidup saya, tanpa impian maka tanpa arti saya hidup di dunia ini. Karena impianlah saya mampu melewati derita karena kehilangan orang yang berharga dalam hidup saya.”

    Kau tahu, Fa? Apa yang membuatku menangis ketika membacanya? Karena dia justru sedang melawan penyakit yang pelan-pelan menggerogoti tubuhnya. Setiap hari dia harus bertaruh dengan waktu, berteman akrab dengan aroma farmasi, sementara kematian bisa kapan saja merenggutnya. Dia tak pernah putus asa, meskipun hal buruk bisa kapan saja terjadi. Karenanya aku yakin, setiap orang pasti memiliki mimpi, meski dia tak mau menerima dan menyadarinya. Jika tidak, bagaimana kita bisa menjalani hidup (yang terkadang terlampau berat) ini?

    Kemarin aku menulis di twitter (kalau tak salah aku mention ke kamu juga kan?), “Karena Tuhan istimewa, Dia tak mungkin menciptakan sesuatu yang biasa-biasa saja.” Kautahu, itu bukan kata-kata khiasan atau sekadar gombalan, aku hanya ingin membuktikan, bahwa aku pernah mengenal salah satunya, ciptaan-Nya yang “istimewa” =).

    Well, aku sudahi saja tanggapannya, karena sepertinya tanggapanku malah lebih panjang dari postingan-mu (=_=)a.

    ReplyDelete
  3. Kak fa judul drama koreanya apa? Dialognya bagus,sukaaaaaa.. Plissssss

    ReplyDelete

Thanks for reading my post! :)