Thursday, December 22, 2011

menjadi ibu itu, hadiah dari Tuhan.



Semua yang mengenal saya dengan baik, pasti tahu bahwa saya begitu bermimpi menjadi seorang ibu kelak  di suatu hari nanti. Dan mungkin itu lah yang membuat saya begitu marah ketika melihat atau mendengar ada ibu yang tega menyakiti buah hatinya sendiri. Saya akan langsung memarahi dan membela anak yang dipukul oleh orang tuanya karena melakukan kesalahan, bila itu terjadi depan mata kepala saya.

Ya, karena di usia mereka, mereka tengah belajar untuk melakukan kesalahan. Jadi bagi saya tidak ada satu pun alasan kita untuk menghukum anak dengan cara ‘memukul’. Manusia diberi mulut, untuk mampu memberi pengertian dengan cara yang lebih bijaksana. Itu baru soal memukul, apa lagi ketika saya melihat dan mendengar ada seorang ibu yang tega membuang bayi yang telah menjadi janin selama sembilan bulan di dalam kandungannya. Hidup bersama hidupnya selama ratusan hari. Itu baru ketika dibuang, lalu ketika mereka sengaja dibunuh atau dihilangkan hidupnya? Tuhan! Saya bisa nangis seketika. Menangis karena begitu marah.


Saya tidak bisa menerima alasan seperti bahwa karena anak itu hadir di luar pernikahan orang tuanya, hasil pemerkosaan atau dan lain sebagainya. Mereka anak, mereka kehidupan, mereka manusia! Tuhan yang memberi mereka nyawa dan kehidupan, mereka riski untukmu. Betapa pun buruk cerita di balik kehadiran mereka, mereka tidak berdosa. Mereka suci dan mereka berhak untuk hidup dan disayang. Betapa berdosanya kalian yang bahkan karena rasa malu yang tak mampu kalian tanggung lalu memilih untuk mengorbankan bayi bayi tak berdosa itu.

***

Tulisan ini lahir dari sebuah pengalaman yang baru saja beberapa minggu lalu saya saksikan. Ketika di suatu malam, seorang bayi laki laki lahir dengan bobot 3,6kg, tapi dalam kondsi meninggal dunia. Padahal dia lahir dengan kondisi fisik yang lengkap.


Sang ibu, dia adalah guru agama ketika saya bersekolah di sebuah madrasah kecil di Yogyakarta. Anggap saja namanya Ibu Rini. Ibu Rini ini memang tengah memiliki masalah dalam kehidupan rumah tangganya, menghadapi proses perceraian dengan sang suami dan dia juga sedang menghadapi sebuah skandal dengan mantan pacarnya ketika dia tengah belia dulu.


Sang mantan pacar yang juga sudah berkeluarga dan memiliki istri. Semua orang tahu bahwa kini mereka berhubungan "spesial" lagi dan ternyata diluar rencana, si ibu guru ini hamil. Kehamilan yang dia coba tutupi dengan tubuhnya yang memang berukuran besar <gemuk>. Tetapi semua orang pun pada akhirnya tahu. Seperti kata pepatah, bangkai bagaimana pun ditutupi pada akhirnya akan tercium juga.


Saya yang mendengar cerita dari sana sini pun hanya bisa diam. Saya memang tipikal orang yang tidak begitu suka bergosip dan mengurusi keburukan orang lain. Hingga suatu ketika saya mendengar ibu Rini melahirkan dan ternyata bayinya meninggal. Saya bersama saudara saya pun malam itu datang melayat sekitar pukul 21.00.


Perasaan saya ketika mendengarnya tentu saja sedih dan nyaris menangis. Hingga ketika saya sampai dan ternyata kondisi bayi tersebut begitu sangat buruk. Saya tidak bisa menuliskannya, yang jelas jasad si bayi itu sudah rusak. Apa kalian tahu, ternyata si bayi sudah meninggal di perut ibunya sejak dua hari sebelumnya.


Seketika sedih saya berubah jadi marah. Bagaimana bisa seorang ibu tidak menyadari bahwa bayi yang dikandungnya sudah tidak bernyawa lagi selama lebih dari 2 hari. Usia kandungannya memang sudah memasuki bulan ke sembilan. Dan setahu saya ketika bayi sudah akan lahir, maka ia pun akan semakin sering bergerak di dalam rahim ibunya. Bahkan ketika bayi tersebut sudah tidak bergerak dalam beberapa jam, seharusnya sang ibu langsung memeriksakan kondisi kesehatan sang anak. Itu adalah tanggung jawabnya!
Lalu muncul cerita bahwa memang selama dikandung, sang ibu sering kali mencoba untuk menggugurkan kandungannya itu. Saya makin marah!


“Ya Tuhan, kalau memang dia begitu tidak mau mengurus anak itu, kasih lah sini ke saya. Menyekolahkannya di desa kecil seperti ini tidak lah butuh uang banyak. Bila dia tak mampu menanggung malu, tidak perlu dia akui anak ini sebagai anaknya pun tak apa. Setidaknya jangan buat bayi itu begitu menderita sampai akhirnya meninggal dunia.” Ucap saya saat itu di dalam hati.

Saya memang tidak tahu apakah tindakan itu disengaja atau tidak. Tetapi melihat bobot bayi yang begitu besar, seharusnya si bayi itu bisa lahir dengan selamat. Tidak sampai harus mengalami meninggal dua hari di dalam perut ibunya. Bagaimana kamu bisa menjadi ibu yang begitu buruk. Dia anakmu. Ketika suatu hari kamu bisa mendidiknya menjadi anak yang soleh, dia akan menjadi amal jariyah yang tidak akan terputus sampai hari kiamat nanti, dia adalah salah satu jalanmu menuju surgaNya. Dan kamu, kamu adalah seorang guru, yang berarti seorang ibu bagi murid muridmu di sekolah. Bagaimana kamu mampu berbuat yang demikian buruk. Sungguh hanya Tuhan yang tahu, apa yang nyatanya ada di dalam hatimu. Tapi apa kamu tidak berpikir, kamu tengah berada dalam sebuah kesalahan.*kipas2 mata mau nangis*


Bagaimana mungkin seorang ibu mampu berbuat yang demikian. Bagaimana seorang anak bisa diperlakukan seperti itu. Seberapa pun besar masalah yang tengah kamu hadapi, tidak akan pernah bisa menjadi pembenaran. Mereka terlalu indah. Bukankah anak, adalah sebuah keindahan yang mampu kamu miliki, menjadi kepunyaanmu seumur hidup? Ketika seorang ibu mengatakan; "Ini anakku dan aku mencintainya tanpa ampun".


Dan apa kalian tahu, ketika saya mendengar ibu Rini pulang dari rumah sakit dalam kondisi telah sehat kembali dan terlihat begitu ceria saya kehabisan kata kata. Padahal itu baru berselang 3 hari setelah dia kehilangan bayinya. Dan bahkan ketika bayi itu dibuatkan pengajian, ketika dalam islam seharusnya doa dikirim dengan menyebutkan nama ayah kandungnya, dan ternyata nama ayahnya tidak disebutkan. Padahal semua orang tahu siapa ayah kandungnya, hanya karena malu, hanya karena rasa malu. Oke, saya ngga ngerti mesti komentar gimana lagi.

***

Saya belajar banyak, begitu banyak dari apa yang saya telah saya saksikan. Kalian diberi hidup oleh Tuhan, diberi kesempatan untuk mengisinya, tapi sering kali dipakai dengan sangat tidak bijaksana. Bila kemudian kalian sendiri yang terluka itu biasa, tetapi ketika akibat perbuatan kalian menyebabkan mereka yang tidak berdosa ikut terluka, itu menjadi sebuah cerita yang lain.


Dramatis. Saya yang nyaris sepanjang hidup saya bermimpi menjadi seorang ibu, tetapi di tempat lain seorang ibu tidak ingin mencintai anaknya dengan sepantasnya. 
Bagaimana pun, menjadi seorang ibu adalah berkah yang Tuhan berikan pada diri perempuan. Berkah yang bagi saya tidak bisa ditukar oleh apa pun.


Saya janji akan jadi ibu yang mencintai anak saya dengan baik.


Dan untuk ibuku yang begitu baiknya, terimakasih karena selama ini engkau telah berhasil menjadikan aku perempuan yang kelak ingin menjadi seperti dirimu. Selamat hari ibu, mama...

4 comments:

  1. Kak fu....kenapa kok gambar nya begitu yaaaa -____-

    ReplyDelete
    Replies
    1. -__- ahh.. gambarnya biasa aja kok
      pikiran kamu aja nih yang macem-macem :P

      Delete

Thanks for reading my post! :)