Sunday, November 06, 2011

di(jatuh)i cinta (lagi)

favim.com


Girl: “Bagaimana jika aku tidak pernah bisa menemukan orang yang mencintaiku, dan kamu tidak pernah bisa mencintai orang lain?”

Boy: Tapi bagaimana jika yang terjadi malah sebaliknya?”

Hening...

***

Itu adalah sebuah percakapan di sebuah film Korea yang saya tonton beberapa tahun yang lalu, judul film itu adalah Why did you come to my house? Film yang tidak sengaja saya beli dan tentunya sengaja saya tonton. Film yang bagus sekali. Saya selalu suka dengan jalan cerita film yang tidak pasaran.

Adegan di atas terjadi ketika kedua pemeran utama tengah berbincang. Si perempuan adalah gadis depresi yang hidup menggembel dengan tidur di kardus setelah ditinggal cinta pertamanya. Cinta yang tengah merenggut keperawanannya, pria yang mengaku mencintainya, tapi pada akhirnya memilih untuk meninggalkannya. 

Dan si pria, adalah seorang suami yang ditinggal mati istrinya. Sang istri yang tengah hamil, meninggal karena ditembak oleh seorang jambret di depan rumahnya sendiri. Sang suami menyaksikannya, tetapi tidak sempat melakukan apa pun. 

Dan mereka berbincang, ketika si pria disekap di rumahnya sendiri oleh gadis itu. Gadis itu, secara tidak sengaja menyelamatkan si pria yang sedang mencoba gantung diri di rumahnya sendiri. Ya, gadis itu yang menyelamatkannya dari kematian.

Mereka dua orang yang tengah kehilangan apa yang mereka katakan “isi dari hidup” mereka masing-masing. Dan kemudian memperbincangkan sekelumit kalimat di atas. Kalimat terbaik sepanjang film ini.

***
Lalu kemudian detik ini saya berpikir. Ya, di setiap kepala siapa pun selalu ada kekhawatiran masing-masing. Selalu ada dua kemungkinan ketika ingin mengambil sebuah langkah. Langkah dalam bentuk apa pun.

Seperti ketika saya ingin memilih untuk jatuh cinta atau tidak pada seseorang. Di dalam pikiran saya akan berkecamuk berbagai macam kemungkinan.

Bagaimana jika hati saya nantinya yang akan sakit
Bagaimana jika dia tidak siap menerima segala kekurangan saya
Bagaimana jika saya  tidak mampu membahagiakan dia
Bagaimana jika kami nanti berakhir dengan buruk

Tetapi kemudian sebuah kalimat muncul di kepala saya

Tapi bagaimana jika yang terjadi malah sebaliknya?

Persis seperti yang diucapkan oleh si pemeran pria di atas

Ah, mungkin memang wanita selalu seperti ini. Selalu terlalu paranoid.
Tetapi sesungguhnya kami hanya ingin menjaga perasaan kami, karena kami perlu waktu lebih lama untuk menyembuhkan sesuatu yang tidak sejalan dengan pengharapan kami. 

Saya teringat kalimat salah seorang sahabat saya;

Kalau kamu takut disakiti, kamu tidak perlu bahagia. Kamu, tidak akan pernah bahagia. 

No comments:

Post a Comment

Thanks for reading my post! :)