Tuesday, November 08, 2011

keping rindu

favim.com


Aku berjalan kecil menuju tepi pantai. Melihat bayanganmu dalam deburan ombak yang tak pernah berhenti untuk pergi dan kembali. Kau, pergi detik itu menghilang tersapu mereka. Menghilang tak berbekas, bahkan sedebu pun tak bersisa.


Aku, selalu mencoba mengingatmu ketika sore tiba, berjalan kecil menuju ke tepian pantai ini. Aku tidak berharap apa pun, aku tahu pasti kau tak akan pernah kembali. Tak akan pernah kembali.

Mungkin aku hanya belum mampu mengganti keberadaanmu. Aku hanya belum ingin. Aku masih mampu seperti ini, aku masih mampu mengingatmu. Walau pun semakin lama aku semakin sulit menggambarkanmu secara benar. Bagaimana garis-garis alismu berjajar, bagaimana warna yang pas untuk kedua bola matamu yang besar, bagaimana ujung bibirmu tertarik ketika kau tersenyum, bagaimana potongan rambut terbaik yang pernah kau miliki selama kita saling memiliki dan seberapa lebat mereka mampu tumbuh. 


Aku semakin sulit menyatukannya dengan sempurna, menjadikan wujudmu utuh dalam ingatanku, setelah ribuan hari berhasil terlalui. Bahkan mencoba membayangkan bagaimana bau tubuhmu tercium pun aku membutuhkan waktu lebih dari berjam-jam agar menemukan satu yang tepat, yang tepat persis seperti milikmu.

Bagaimana ini, aku belum mau melupakannya. Aku belum ingin melupakanmu. Aku belum bisa. Jadi jangan begitu pelit padaku sayang. Aku tahu ingatanku begitu lemah, aku tahu aku tidaklah cukup baik untukmu. 

Kau ingat di perjumpaan terakhir kita? Aku bahkan memilih untuk tidak membalas lambaian tanganmu, aku bahkan dengan enggan menoleh ketika kau kembali memanggil namaku, mengatakan janji akan terus rindu. Hari itu, aku hanya tak ingin kamu pergi. Tetapi kau tetap pergi. 

Mengapa kau tidak bisa seperti riak ombak ini. Mereka, sanggup pergi dan pasti kembali datang menyentuh telapak kakiku. Meyakinkan aku bahwa aku masih hidup. Tapi kau tidak. Tapi kau tidak.

Hidupku beberapa waktu ini sangat aneh, aku tidak suka lagi melihat bentuk awan dalam langit biru. Karena mereka mengingatkanku padamu. Aku tidak lagi benci hujan, karena mendung selalu mampu menghapus kebiruan langit yang kau suka. 

Dan aku, seperti gadis pembenci matahari lain, selalu mau bersusah payah membuka lebar payungku ketika siang datang. Padahal dulu, kita sama-sama menertawakan mereka.

Aku tentu tak bisa menyalahkanmu.
Aku tentu tidak akan pernah sanggup melakukannya.

Ini semua pilihan yang kuambil dan aku bertanggung jawab penuh atas mereka. Aku akan bertanggung jawab sampai kelak kubosan. Tetapi nyatanya aku memang telah tertelan kebosanan itu sendiri, tepat setelah kau pergi. Aku telah bersahabat baik dengan mereka.

Aku hanya minta kau tetap di sana. Sampai aku datang. Karena kau harus bertanggung jawab pada semua ini. Pada setiap keping rinduku padamu, juga pada setiap keping janji rindumu padaku.


4 comments:

  1. baca ini, seperti membaca isi hati saya sendiri,,,hohoho

    ReplyDelete
  2. padahal ini salah satu tulisan yang hanya hasil "rekayasa" pikiran saya iin. ahh.. selamat menikmati kenangan yang selalu kamu jaga baik-baik itu :)

    ReplyDelete
  3. wow hebat fa,,, kamu menulisnya seperti benar2 mengalaminya!! hebat,,hebat,,,

    ReplyDelete
  4. Mengingatkan pd seseorang yg ingin saia lupakan,,

    ReplyDelete

Thanks for reading my post! :)