Monday, October 31, 2011

siapa kamu?




Ketika pertanyaan itu kutujukan pada diriku sendiri, aku pasti terdiam lama. Lalu pikiranku kembali ke masa lalu. Mencari-cari yang mana aku dan seperti apa bentukku. Kembali ke masa dimana aku masih berlari riang tanpa busana, mengelilingi penjuru rumah lalu duduk di sembarang tempat. Sedang ibuku mulai kesal mencoba menangkapku. Aku yang begitu bersih. Kalian bisa melihat dari beningnya mataku. Mata anak balita mana yang tidak mencerminkan sucinya mereka. 


Aku belum tahu apa itu dosa. Bahkan ketika manusia lain memperlakukanku dengan salah, aku tidak akan mengharapkan maaf dari mereka. Aku tidak mengenal maaf. Tak banyak yang kuingat dari masa-masa itu. Masa ketika aku bahkan tak bisa menyebut ‘biru’ dengan benar. Warna kesukaanku sendiri. 


Hingga kemudian datang aku yang sekarang. Yang telah kerap terluka dan melukai. Yang tak lagi dapat berlari kesana-kesini tanpa busana. Walau kini aku telah mampu menyebut ‘biru’dengan benar, tak lantas aku mampu hidup lebih baik dari anak yang dulu bermata bening itu. Anak yang duduk dilantai sembarangan, yang dengan bangga menaiki troli yang didorong ibunya di pasar swalayan, yang kerap diterbangkan bak pesawat oleh ayahnya. Siapa aku yang sekarang, tentunya berawal dari anak berkulit coklat dan bermata bening besar itu. 22 tahun lalu dia tidak dengan begitu saja lahir di dunia. Dia lagi-lagi ada atas nama cinta ayah dan ibunya. 


Siapa kamu? Kemudian renungan panjang kujalani. Bahwa begitu banyak yang telah terjadi pada diri dan hidupku. Yang dulu hanya sebuah rengekkan kecil sekarang menjadi tangisan semalam suntuk. Yang dulu hanya tau sayang pada ibu dan ayahnya kini mulai mengenal sayang pada sahabat, dan bahkan sayang pada pria yang baru saja bertemu dengannya di toko buku. Aneh. Tapi hidup memang sedemikian aneh untuk dikatakan normal. 


Isi mimpi pun sekarang mulai berbeda. Aku tentu saja tak peduli pada bunga tidurku dulu, aku akan tidur dengan kantuk yang nyata dan terjaga di tengah basah kasurku yang terkena ompol. Kini, tertidur pun aku menunggu kantuk, terjaga pun dapat dengan mudah diambil kegalauan. Hidup menjadi tak lagi dengan begitu mudah dapat kulewati. Entah kemana aku yang dulu pergi, entah kemana ‘kemudahan’ yang dulu terpatri di dalam hari. Kini, aku dewasa lebih sulit mencari alasan untuk tertawa. Lebih pandai membuat senyum palsu. Tapi tetap tidak sabaran pada segala sesuatu yang menyulitkan. Aku yang sekarang, lebih mudah menyerah pada ketidak mampuan. Mana teriakan “Aku mau! Aku mau!” yang dulu selalu muncul disetiap kesempatan yang ditawarkan. Manusia dewasa, entah mengapa begitu pengecut.


Ya, walau tidak semua. Bagi mereka yang hidup-nya selalu baik-baik saja. Tapi mana ada manusia yang selalu merasa baik-baik saja. Bahkan ketika mereka memiliki segalanya. Aku bahkan mengakui menjadi manusia yang terkadang malas sekali untuk bersyukur. Kita menganggapnya manusiawi, kita memaklumi hal yang nyatanya salah dan menjadikannya bukan lagi sesuatu yang salah. Ya itulah aku yang sekarang. Penuh kekurangan, penuh penyangkalan. 


Siapa kamu? Saya Merah, sering menyebut dirinya Senja. Perempuan berusia 22 tahun yang belum pernah mencium siapa pun. Kecuali bayi dan pipi ayah ibu nya. Tapi itu bukan berarti hidupnya sesederhana itu. Seandainya saja sesederhana itu. Tapi nyatanya tidak. Tidak melakukan banyak hal yang dilakukan kebanyakan orang tidak serta merta membuat hidupmu jauh lebih mudah dari mereka. Dan demikianlah nyatanya. Aku bisa jamin pada kalian, bahwa aku hanyalah perempuan biasa. Yang bahkan tidak suka banyak hal yang orang lain sukai. Contohnya saja, aku tidak suka menghabiskan banyak waktu diluar rumah, tidak begitu tertarik dengan hubungan percintaan dan tidak pernah sekali pun meminum bir. Nyaris tidak normal. Tapi entah mengapa hidupku tidak bisa semudah kegiatanku sehari-hari.


Aku tetap banyak menangis dan meratap. Tetap banyak kecewa dan kembali berharap. Banyak mengingkari dan kembali berjanji. Aku tetap seperti kalian. Mencoba bangkit dari banyak kegagalan, mencoba percaya setelah dengan nyata ditinggalkan. Aku tetap melewati banyak hal yang menyakitkan dan butuh pertolongan. Aku adalah seperti ini. Seperti dirimu.


Lalu siapakah aku, aku bahkan sedang terus mencari jawabannya. Entah dilembar sebelah mana buku hidupku ini. Atau mungkin sebenarnya kita tahu pasti diri kita hanya tak ingin mengungkap yang sebenarnya. Karena begitu takut dengan kebenaran. Aku kadang berpikir, bagaimana jika selama 22 tahun ini, aku bahkan belum pernah menjadi diriku sendiri. Hingga aku lupa bentuk asliku yang sebenarnya. Oleh karenanya menjawab pertanyaan sependek “siapa kamu?” saja aku butuh berlembar-lembar kertas semacam ini. Dan membiarkan kamu semakin panjang membaca. Bagaimana jika demikian yang terjadi. Mungkinkah seburuk itu?


Yang aku tahu, aku adalah seseorang yang begitu mudah menangis ketika melihat atau mendengar sesuatu yang menyedihkan. Yang aku tahu, aku begitu benci teriakkan dan kekerasan. Yang aku tahu, aku tidak suka asap rokok juga kebohongan yang disengaja. Aku tidak suka uang banyak. Aku tidak suka penghianatan, perselingkuhan dan kawan-kawannya. Dan lagi-lagi, ada beberapa bagian dalam diriku yang mirip kamu. Karena nyatanya kita sama manusia. 


Aku yang sekarang adalah perempuan yang ketagihan menulis, yang ingin memiliki sesuatu yang dapat dibaca orang lain. Yang ingin menikah dengan seorang pria baik hati dan menjadi ibu yang sehat untuk anaknya kelak. Yang ingin menemukan cinta sejatinya dengan jalan yang biasa saja. Yang tidak pernah berharap menjalani kisah yang cinderella alami. Tapi tetap ingin menikah dengan gaun yang cantik serta memiliki pria yang tampan dalam versinya.


Aku yang sekarang adalah sesuatu yang rapuh walau tak juga patah. Yang sedang mencoba sebisa mungkin berdamai dengan masa lalu-nya yang tidak semua bagiannya baik. Yang ingin dikasihi secara tulus dan mengasihi kembali dengan utuh. Yang tak pernah ingin berbohong jika saja bisa. Yang seringkali membicarakan orang lain di balik pundaknya. Yang suka musik dan merasa suara lebih merdu ketika menyanyi di dalam kamar mandi. Aku yang sekarang adalah aku yang mungkin saja mirip dirimu yang sekarang.


Siapa kamu?

Mungkin saja aku adalah sedikit bagian dari dirimu.

Mungkin saja, kamu adalah sedikit bagian dari diriku.

Mungkin saja kita identik satu dengan yang lain.

Aku ingin bisa menjawab dengan lantang pertanyaan ini, tapi tetap tidak semudah kelihatannya. 


Siapa kamu? Aku adalah anak perempuan ayahku satu-satunya. Memiliki empat kakak laki-laki dan seorang ibu yang baik hati. Aku adalah siapa yang mereka panggil anak, adik, sahabat dan pacar mungkin. 


Aku adalah seorang perempuan yang mencintai laki-laki yang mau mencintainya kelak. Aku adalah seseorang yang mencoba menulis dengan baik setiap waktu. Aku tidak pandai apa-apa selain menulis. Buruk dalam matematika dan benci logaritma. Suka bernyanyi tanpa tahu nada, dan masih tetap suka mencela orang lain yang berpakaian tidak sesuai seleraku sendiri. Padahal itu sama sekali bukan urusanku. 


Aku selalu menganggap beberapa orang cukup bodoh untuk jatuh cinta, tapi diriku sendiri berkali jatuh di lubang yang sama. Aku terlanjur menutup hatiku dengan rapat dan sulit memberi masuk cinta yang kebetulan lewat. Dan tentu saja, aku ratunya melewatkan banyak kesempatan emas di depan mata hanya karena merasa tak cukup pantas mendapatkannya. 


Siapa kamu? 
Aku memahami diriku, aku pura-pura memahami diriku setiap waktu. Dan terimakasih Tuhan karena Kau biarkan aku menanyakan pertanyaan ini pada diriku sendiri. Lalu kemudian kesulitan menjawabnya. 

Aku tahu Kau sedang tersenyum membaca jawabanku. Bagaimana sepanjang 22 tahun ini aku masih saja tidak percaya pada diriku sendiri untuk menjawabnya dengan pasti.





Lalu, siapakah kamu?





Yogyakarta, 4 Oktober 2011


2 comments:

  1. membaca tulisan ini seperti aku sedang berkaca dengan diriku sendiri...
    Tulisan yang sangat bagus sekali fa....
    aku juga ingin menulis sama halnya dengan yg kamu tulis tapi aku tak pernah bisa...

    ReplyDelete
  2. terima kasih riza. kalau buat saya, tulisan yang ditulis dari hati dan dengan maksud untuk memberi kebaikan bagi orang lain, hasilnya selalu bagus. tulisan kamu pun pasti bagus sayang :)

    ReplyDelete

Thanks for reading my post! :)