Sunday, October 30, 2011

little love





Ketika aku mulai membicarakan tentang cinta. Ini pasti akan sulit. Karena aku sama sekali tidak mengerti tentang mereka, atau memiliki pengalaman yang dramatis dengannya. Tapi bagaimana pun juga cinta, tidak dapat dipungkiri, suka atau tidak. Adalah hal yang pasti akan kita hadapi. Hahaha. Aku selalu ingin tertawa jika mengingat kata ini. C-I-N-T-A.

Bagiku suka-atau tidak adalah hak asasi yang hakiki. Tidak bisa dipaksakan-walau pun kita boleh menyembunyikannya atau menunjukkannya jika kita mau. 

Seperti rasa cintamu. Banyak manusia yang begitu beruntung dapat menunjukkan rasa cintanya dengan bebas, tetapi sebagian lainnya tidak memiliki kesempatan yang sama. Mereka tidak seberuntung itu-bahkan terkadang mereka tak pernah mampu mengucapkannya.

Jika aku coba mengingat siapa cinta pertamaku? Oke, jujur aku belum pernah menemukan pria itu. Selama ini cinta yang kualami belum sampai ketitik itu. Belum ada pria yang kuanggap pantas menyandang gelar “cinta pertama-ku”. Akan lebih mudah menjawab, jika ditanya siapa laki-laki yang pertama kali saya sukai?

Dia adalah salah satu teman SD-ku di Yogyakarta. Namanya adalah Angga (nama samaran). Ini terjadi 10 tahun yang lalu. Bukan perkara mudah memang, aku mengalami banyak masa sulit ketika aku belum genap 10 tahun. Oke tema kita kali ini bukan tentang “masa lalu yang kelam”. Tetapi ya, ini soal cinta.

Aku yang kala itu belum genap 10 tahun, karena alasan yang sangat memaksa harus pindah ke Yogyakarta. Bukan keinginanku memang. Jakarta adalah tanah kelahiranku. Bahkan Mamaku tersayang pun lahir di sini. Kota ini, dengan segala kekurangannya adalah “rumah” bagiku. 

Ketika itu aku masih duduk di bangku kelas 6 SD, semester II. Bahkan saat aku berangkat kesana, orang tuaku mengatakan hanya untuk menghabiskan liburan semesterku yang panjang. Aku berangkat dengan perasaan senang bukan kepalang, seperti kebanyakan anak kecil normal lain. Aku bisa mengingat dengan jelas hari itu. Aku bahkan tidak sempat berpamitan dengan sahabat-sahabat yang sejak lahir kukenal. 

Hal yang paling sulit yang sanggup dihadapi saat kita pindah tempat tinggal adalah memasuki lingkungan sekolah yang baru. Yep, dan itu lah yang aku hadapi ketika itu. Memasuki sekolah di pedesaan yang jumlah muridnya saja hanya 8 orang per kelas. Bisa kalian bayangkan. Aku pernah mengalami yang lebih buruk dari yang dialami Ikal dalam laskar pelangi (mereka masih punya 10 murid) Hahaha. Dan sekolahanku pun sebuah Madrasah kecil.

Aku sangat ingat, bahwa aku menangis dihari pertamaku masuk sekolah itu, aku menangis, bayangkan! Aku begitu takut-sampai-sampai aku menangis. Untungnya tidak sampai ngompol di celana. Ketika itu usiaku belum mampu menerima tekan sehebat itu. Aku adalah seorang anak bontot yang manja, anak perempuan satu-satunya dari 5 bersaudara. Bisa kalian bayangkan aku bahkan ngga bisa bahasa JAWA. Dan sebagian dari mereka tidak berbahasa Indonesia dengan baik. (lebih berat ketimbang pindah ke Amerika-lebay). 

Teman sekelasku hanya 8 orang. Dan laki-laki bernama Angga (nama samaran) adalah adik kelasku. Bocah kurus kering dan bermata sipit (tapi bukan cina). Aku tidak tahu apa alasanku menyukainya pada awalnya. Yang aku tahu aku hanya tidak pernah bosan berada di dekatnya. Kami banyak menghabiskan waktu bersama. Kepribadiannya yang tidak tahu malu, membuatku yang pendiam ini tidak pernah merasa canggung.

Apa kalian tahu pada masa itu, mereka teman-teman sekolahku di SD tidak tahu apa itu video games, aku lah yang memperkenalkan Playstation 1 ketika itu pada mereka. Kami anak dusun (karena aku telah bergabung bersama mereka) tidak pernah tertarik mainan semacam itu. Tetapi permainan mereka, harus kuakui memang lebih menarik dari kemoderenan mana pun yang tersedia di kota metropolitan. Bersama mereka aku main kasti, mancing di sungai, jalan kaki ke hutan, prosotan di got pabrik, mandi di air terjun, berenang di bendungan, petak umpet di kebon orang, becek-becekkan di sawah, mandiin kebo hahaha (I am just a lucky girl u know).

Bahkan teman-teman sekolahku bersekolah tanpa alas kaki (alias nyeker). Kalian bisa menghitung siapa yang bersandal dan siapa yang bersepatu. Tetapi tidak untuk yang “nyeker”. Kalian bisa menebak siapa orang tua mereka dengan memandang bungkusan telapak kaki mereka. Kebanyakan yang pakai sepatu, adalah anak seorang guru atau petugas kecamatan.

Jika mengingat masa itu, aku meyakini sekarang bahwa Tuhan memang selalu menghadapkanku pada situasi yang luar biasa. Tuhan begitu menyayangiku kawan-dan aku begitu menyayangi-Nya.

 Aku mengalami stress berat pada minggu-minggu awalku disana. Yang bisa kulihat hanya gunung, gunung, sawah, sawah, hutan, hutan. Damn, aku bahkan tak memiliki 1 pun mini market untuk membeli es krim. Butuh waktu 1 setengah jam untuk mencapainya di kota purworejo dengan menggunakan sepeda motor. Dan diwarung hanya tersedia es kenyot seharga 100 perak. Dan hanya ada satu warung yang menjualnya di dekat rumahku. (mendingan bikin di kulkas sendiri- hahaha).

Aku lagi-lagi menjadi ‘si hitam’ yang aneh dan malang.

Tetapi pernahkah kalian menyadari bahwa masa kecil kita adalah masa yang berjalan paling cepat. Mungkin karena pada saat itu memory kita berputar lebih bersemangat. Mendatangkan hal-hal yang belum pernah kita tahu sebelumnya dan langsung membuang hal-hal tidak menarik yang telah berlalu. Sedikit sekali memory pada saat itu yang dapat tersimpan dengan baik di dalam sel otak kita saat ini. Tapi kita terbentuk di masa-masa itu. Menjadi siapa kita sekarang. Tidak bisa kupungkiri, seburuk apa pun, aku bahagia. Karena aku anak-anak, memikirkan segala masalah dengan cara anak-anak. 

Dan masa-masa itu pun membentuk siapa saya sekarang. Siapa saya yang kalian kenal.

Aku tahu kalian semua juga pasti memiliki masa kecil tersendiri. Seburuk apa pun-tetapi kita harus menerimanya dengan cara yang terbaik. 

Back to topic...

Aku hanya bersekolah untuk 3 bulan di SD itu, tetapi aku mengalami banyak hal di sana. Walau pun setelahnya aku menghadapi ujian nasional dan berganti seragam dari putih-merah ke putih-biru. Tetapi di sanalah aku menemukan laki-laki pertama yang aku suka. Sampai detik ini aku masih bisa melihatnya- bahkan kami bersekolah di SMP yang sama dulu. Walau pun kami tidak lagi saling bicara ketika sama-sama dewasa (entah mengapa-mungkin karena aku takut bahwa dia bukan lagi “anak kecil kurus kering bermata sipit” yang kukenal). Mungkin dia tidak lagi seramah dulu. 

Kalian tahu aku menyukainya karena dia adalah murid pertama di sekolahku, yang tersenyum padaku dihari pertamaku bersekolah. Kalian tahu bahwa kedatanganku di sekolah terpencil itu dianggap begitu heboh. Dan dia adalah orang pertama yang melongok dari jendela kelas dan menyunggingkan senyum polosnya sambil menggodaku, dan membuatku merasa diterima di sana. Mungkin tak banyak orang tahu-bahwa senyumannya mempengaruhi kepercayaan diriku dihari-hariku setelahnya.

Aku hanya tidak ingin merusak kenangan “terbaik” yang kumiliki ketika itu. Oke, mungkin aku hanya tidak mau menjadi orang pertama yang “menyapa”-aku terlalu gengsi. Aku perempuan. Oke itu bukan alasan yang bagus. Lupakan. Aku hanya sedang mencoba berkelit. Hahaha.

Pada intinya, dia adalah laki-laki yang pertama kali yang kusukai. Dan bagaimana dengan kalian? Siapa anak perempuan atau laki-laki yang pertamakali kalian suka? Aku ingin kalian mencoba mengingatnya, hanya sekedar untuk lucu-lucuan saja.

Cinta tidak selalu harus serius bukan

Cinta juga sering kali mempermainkanmu

Tetapi aku hanya meyakini satu hal

Bahwa cinta selalu mampu membuatmu tertawa dengan cara yang terbaik. Jika cintamu tidak dapat melakukannya, maka tinggalkan saja. Karena itu bukan cinta.

Itu bukan cinta yang datang dari Tuhan. Itu cinta yang kalian karang sendiri. Manusia sering sekali mengarang banyak hal “baik” karena takut menghadapi kemungkinan “terburuk”. Aku bisa memakluminya-karena aku juga sering kali melakukannya. 

Tetapi aku yakin perasaan suka yang pertama kali timbul dalam hati kalian adalah perasaan cinta yang paling murni. Murni karena kesederhanaannya.

Aku harus jujur, bahwa sepanjang aku menulis tulisan ini, aku selalu tertawa sendiri. Ini jam 2 pagi, tapi aku masih sanggup tersenyum sendiri. Ini tulisan yang membahagiakan, mengenang masa-masa itu membuatku bahagia.

Semoga setiap diantara kalian, bisa menemukan seseorang yang dapat melengkapi kalian. Menerima kalian secara utuh dalam suka mau pun duka. Menemani kalian disaat kulit kalian kencang maupun keriput. Menyayangi kalian saat ini dan sampai nanti tiba. Mendoakan yang terbaik bagi kalian saat nafas masih berjalan mau pun ketika berhenti tertarik. Menghargai kalian sebagai makhluk yang terbaik yang pernah Tuhan persatukan. Aku sungguh berdoa dengan segenap hatiku. Amin.

Dan untuk Angga.. aku akan menyapamu-ketika kita berpapasan lagi nanti. Haha

Dan terimakasih untuk senyumanmu hari itu-karena aku belum pernah sempat mengatakannya.




bedroom 2.27 am 18 July 2010
(tidak ada satu orang pun sebelumnya yang tahu kisah ini-tapi ini bukan hal memalukan yang tidak bisa kuceritakan pada kalian-jangan bosan ya)


memutar: Sarah Connor - love is color blind




3 comments:

  1. hayo siapa cinta pertamanya si asa?! :p

    ReplyDelete
  2. Nice story ka Fa... jadi senyum-senyum sendiri mengingat kenangan pertama kali aku disukai seorang bocah lelaki, dan aku merasa kesal dan marah. Tapi kalau dia gak jailin aku di sekolah, tetep aku kangen juga. ahahahaa sudahlah, malu *pipi memerah

    ReplyDelete

Thanks for reading my post! :)