Monday, October 10, 2011

key

bukalah, biarkan aku bebas



Aku mengerti apa yang terselip dalam sekat garis wajahmu.
Aku jelas tahu apa yang kau coba sembunyikan dalam kerutan matamu ketika kamu tersenyum.
Mereka meneriakkan dengan lantang riak perasaan yang tersangkut di amandel hatimu yg membengkak.
Ketika aku menggenggam tangannya dan membelenggu hatimu disaat yang sama.
Ketika aku bersandar padamu tapi menceritakan galau tentangnya.
Ketika aku tertawa mendengar gurauanmu tapi begitu mudah menangis katika dia ada.
Dan kau pun jelas tahu bahwa aku tahu dengan jelas apa yang terjadi.
Bagian terburuknya adalah bahwa kau diam merantai hatimu dan membuang kuncinya.
Dan bagian yang lebih buruknya lagi adalah bahwa aku memungut kunci itu dan menyembunyikannya darimu. 
 ***
Dan sekarang setelah ini bertahun berjalan. 
Dan sekarang ketika kau mencari lagi kunci itu di lapangan yang telah ditumbuhi ilalang. 
Dan sekarang ketika aku berpura lupa dimana aku menyembunyikannya darimu. 
Dan sekarang ketika pada akhirnya dia yang menemukan kunci itu di saku hatiku dan menggenggamnya dalam kekecewaan. 
Apa yang sanggup terjadi setelahnya?
***

Aku bersandar padamu dan menangis karena pernyataannya yang menyakitkan. 
Kau menghajarnya dan merebut kunci itu lalu pergi meninggalkanku. 
Dia menarikmu dan aku pun bangkit menahannya. 
Kau merebutku darinya dan mendorongnya hingga tersungkur.
Kau menggenggam tanganku dan menarikku bersamamu. 
Kau menyerapahnya dan aku pun menampar wajahmu. 
Kau terdiam dan menatapku dalam. 
“Aku mencintaimu dan ini yang kudapatkan?” ucapmu lemah
Aku kembali menamparmu, dan tatapanmu semakin tidak percaya. 
“Aku mencintaimu jauh sebelum kau mencintaiku, dan hanya ini yang sanggup kau berikan untukku?” Air mataku mulai berenang keluar dari kolam mataku.
Dia datang dan berdiri diantara kami, “Jadi ini yang telah kalian persiapkan untukku? Sempurna.”
Kau kembali membuang kunci itu ketika aku menangis terpejam. 
Dia memungutnya dan pergi meninggalkan kita berdua.
***

Dan setelah bertahun berlalu, setelah kau menemukan kembali kunci itu dan dia menghilang. 
Kau melangkah padaku yang tengah lama sendirian dan meletakkan kunci itu di dalam genggamanku. 
“Bukalah, biarkan aku bebas.” Ucapmu. 

"Seharusnya dulu, aku tak perlu menunggu hingga kau mengucapkan cinta. Seharusnya dulu, aku tidak memperalatnya untuk membuatmu jatuh cinta." Ucapku.

"Seharusnya, cinta tidak perlu berakhir dengan kata 'seharusnya'. Aku pernah mencintaimu, dan itu sudah semestinya." Kamu memelukku.


Dan ya, tentu aku akan membiarkanmu bebas.




#repost

4 comments:

  1. I miss u Falafu.. ^_^
    Can I have ur email address please?

    Btw I've been waiting for ur repply for whole day for my 1st message..
    Can u pls repply this message pls.

    king_satan87@yahoo.com

    *no need to publish this comment.

    ReplyDelete
  2. tentu saja saya perlu id kamu buat kasih email saya anonim. tapi terima kasih atas kangennya :)

    ReplyDelete
  3. hikzzz,,,sedih kak!! nyaris nangis bacanya,,,

    ReplyDelete
  4. loh jangan sedih dong, aku kan nulis buat bikin ceneng kamoh :)

    ReplyDelete

Thanks for reading my post! :)