Saturday, October 08, 2011

jendela


mengamatimu




Kamu bilang, ‘Jangan hanya mengintip dari jendela, masuklah, ketuklah pintuku lalu bertamu. Maka kamu akan tahu isi hatiku, tak hanya mereka-reka.’

Tentu saja, aku dengan senang hati akan bertamu ke hatimu. Bila saja aku tak tahu bahwa kau belum mampu melupakan hal yang kau sering kali katakan ‘Sudah berlalu, sudah kulupakan, jadi mari jangan dibicarakan’. 

Aku bilang, ‘Kamu masih mencintainya’

Kamu menatapku seakan tak percaya, ‘Ah, yang benar saja. Jangan mengada-ada Shela.’

Aku memandang ke langit, kutarik napasku dalam-dalam dan bersiap meninggalkanmu. Tapi kamu justru menarik lengan ini lalu menciumku. Memelukku erat dan menangis terisak. Bagaimana aku mampu menahan tangis seorang pria yang kucinta.

Kamu bilang, ‘Jangan pernah tinggalkan aku, bersabarlah. Aku sedang berusaha membuatnya jadi kemarin.’

Tentu saja, aku dengan senang hati akan bersabar untukmu. Bila saja aku mampu percaya bahwa kamu benar akan mencintaiku besok. Seperti yang sering kali kamu katakan ‘Aku jani, besok aku akan mencintaimu, lebih baik lagi.’

Dan kini, ketika aku terkesima, melihat jumlah waktu yang telah kuhabiskan hanya untuk mengharapkan apa yang kamu pernah katakan, bagaimana aku akan kembali jadi diriku seutuh yang dulu. Ketika di setiap janjimu, aku meletakkan sebagian potongan dari hatiku. 

Dan kini, ketika semua potongannya telah habis kamu telan lalu kamu bilang, ‘Kembalilah, ke hari di mana kamu melewati jendelaku. Maka aku berjanji, tak akan pernah membukanya lagi’

Aku tak lagi sanggup menengadah pada langit, lalu aku bilang, ‘Kumohon, berhentilah. Lupakan soal jendela itu. Mereka bukan apa yang dapat menentukan hidupmu, atau hidupku. Mereka hanya jendela. Tempat ketika kamu perlu udara, tempat ketika kamu ingin cahaya. Tapi bukan tempat di mana kamu dapat membuang sesuatu yang sudah tidak kamu perlukan, tapi bukan tempat di mana kamu dapat meninggalkan aku kemudian.’ 

Lalu kau berjalan mundur perlahan, kau bilang; ‘Aku ingin terus mencintainya. Seperti kamu ingin terus mencintaiku. Seperti kamu yang melihatku dari luar jendela dan aku menatap kamu dari dalamnya. Jendela, mereka selalu memiliki dua sisi yang tidak selalu harus kamu mengerti. Ini salahku. Ini salahku.’

Aku bilang, ‘Tentu saja jendela itu milikmu. Tentu saja ini salahmu. Tapi apakah karena ini seluruhnya salahmu, maka aku akan merasa lebih baik? Atau sakitku mampu berkurang barang sedikit?'





Mendengarkan: Demi Lovato - Fix a Heart

No comments:

Post a Comment

Thanks for reading my post! :)