Thursday, August 18, 2011

kenyataan buatan

 
Menari-nari di ujung pelangi
Bunga-bunga menjuntai mengarah ke bumi
Matamu terang layaknya gumintang
Pelukmu membakar rindu yang mengakar
 
Istana ini dari awan-awan
Semua tentang kesedihan sedang coba dilupakan
Lihat, mahkotamu dari jerami
Sedang gaunku dari kulit jeruk warna-warni

Segerombol kejora menata gugusannya
Angin buat mereka bergoyang riang
Hilir mudik walau bimbang          
Tiba sebuah perahu Nuh hendak berlabuh
Lalu sekelompok burung gereja menurunkan cinta dari dalamnya
Mengajak udara bercanda mesra


Dunia, jika saja mereka seperti ini
Dapat biarkan kita terus bersama
Tanpa dipaksa sang massa

Aku suka disini, dunia tak mampu terluka dengan seindah ini
Lalu kau bangkit dari singgasana, mengeluarkan koin dari saku kananmu
Kau beri Nuh bekal, agar cinta pada TuhanNya dapat kekal
Lalu kau beri kejora cara, untuk dapat terbang ke nirwana 
Kau sang pemberi, yang patut dinanti

Tak lama, kau coba menggandeng sajakku pulang
Lalu aku menggeleng  enggan
Kau bilang, dunia sedang menanti kita
Tapi aku tak lagi ingin nyata
Langit tak menghimpit asa-asa kecil kita
Lalu kau menarik senyum satu sisimu sembari bicara;

“Seburuk-buruknya dunia, itu tempat terbaik jatuh cinta. 

Bukankah bila jatuh dari langit, kau akan jauh lebih sakit?”

No comments:

Post a Comment

Thanks for reading my post! :)