Wednesday, August 24, 2011

Dear diriku,





Dear diriku, 

Telah berapa lama jalan ini kau tempuh, mungkin tak lagi kau ingat. Telah berapa hari yang kau lalui dengan diam di dalam hati, mungkin tak terhitung lagi. Tapi kau selalu yakin, apa yang akan Tuhan sampaikan di akhir hidupmu nanti, adalah kabar gembira. Mungkin sepucuk surat cinta, yang akan mengantarkanmu ke surga.

Dear diriku,

Aku tau, kau tak ingin beranjak kemana pun, kau suka Jakarta, melebihi rasa bencimu pada kenangan yang pernah ada di sini. Kau selalu mencoba yakin, Jogja tidak seburuk waktu itu, Jogja yang ini mungkin tak lagi menyakiti, kau hanya takut mencoba, dan kau hanya belum mencoba. Dan tentu kau harus mencoba.

Semua yang akan kau tinggalkan, tentu tidak untuk kau lupakan, mungkin kau hanya khawatir mereka lupa untuk tidak melupakanmu. Mungkin kau hanya takut, kelak tak lagi disambut.

Ini hanya JOGJA. Kau sebut kalimat pendek itu berulang di dalam hatimu. Di sana ada ibu dan ayahmu. Di sana ada “rumah” yang sebenarnya. Tapi apakah di sana ada mimpi dan cita-cita yang sama? Lalu matamu mengembun, kau lagi-lagi takut. 
Bagaimana jika tidak? Bagaimana jika tidak? Lalu kau menangis.

Dear diriku,

Tentu saja ini bukan keterpaksaan. Kau melakukannya atas nama cinta. Cinta pada kedua orang tua. Ada seorang sahabat bilang, ‘restu orang tua, adalah restu Tuhan di dunia. Kau hanya perlu lakukan apa yang mereka inginkan. dan bahagia akan datang dengan sendirinya.’

Kau mengingatnya sepanjang waktu. Kau mencamkannya!

Tentu saja, bahagia bisa datang dari siapa pun, dari mana pun dan kapan pun. Jika tidak di sini dan saat ini, mungkin akan di sana dan besok atau lusa. Kau bahkan pernah menuliskannya di salah satu cerpenmu. Meyakininya? Ternyata tak semudah itu, dan melaluinya? Entah lah.

Mungkin menggerutu kadang perlu, untuk meyakinkanmu bahwa kau masih manusia, kau masih hidup, dan hidup masih menghidupimu.

Dear diriku,

Mungkin kau hanya perlu yakin saja.  Yap, yakin saja. Sehingga pada akhirnya Tuhan pun yakin, untuk memberimu kebahagiaan.

Dear diriku,

Tentu kamu akan sangat merindukan yang paling layak untuk dirindukan. Para sahabat, keluarga, gedung-gedung tinggi jakarta, kemacetan, juga hal-hal membahagian dan menyakitan yang pernah dititipkan Tuhan di kota ini. Yang menjadikanmu; kamu saat ini.

Semoga TUHAN, menjaga dan selalu terjaga untuk mereka. 


Created by fa
Jakarta, 23.13 24 Agust. 11
memutar: try--nelly furtado



2 comments:

  1. Terharu juga bacanya,inget pengalaman sendiri pas mau pindah dr jkt ke jogja, berat banget padahal aku asli sini. Alasannya mungkin aneh tapi aku takut semua impianku hilang nanti yg sayangnya terbukti skrg. Tp ya udahlah ganti impian Aja...

    ReplyDelete
  2. Impian mana bisa diganti, kalau cita-cita masih bisa dirubah. sampai saat ini aku masih mengejarnya. aku tidak ingin terjebak di dalam kotak. aku hanya butuh niat yang lebih besar untuk menjadi lebih besar. jadi kamu pun harus semangat ya!

    ReplyDelete

Thanks for reading my post! :)