Tuesday, July 05, 2011

Honest



Matahari berbinar tanpa redup sejak pagi memeluk hari. Tubuhku kuyuh, lusinan butir keringat keluar dari pori-pori kulitku yang pucat. Ini bukan tanpa sebab, ini karena aku mengejarnya. Ya, dia. Seseorang yang begitu aku ingin temukan kembali hari ini, yang sebenarnya telah kupeluk erat di hatiku sejak kemarin lalu. Aku berlari mengejarnya. Seperti apa yang setiap waktu aku lakukan selama setengah tahun kebelakang. Berjalan mengikuti langkah-langkah kakinya, kemana pun sampai kapan pun. Suka atau tidak, yang jelas aku bahagia. Bahagia karena memiliki sepasang kaki yang dapat kuikuti, yang kelak mungkin mau kuiringi, kemana pun dia pergi.

Tak peduli apa katanya, atau pun apa kata mereka. Karena kini tak lagi banyak, hal yang mampu membuatku tertawa terbahak-bahak, atau sekedar menyunggingkan senyum lebar untuk kebahagiaan besar yang semakin jarang datang padaku. 

Tak peduli seberapa pun bosan dirinya, atau diriku untuknya dan untuk mereka. Tak peduli pada siapa yang memanggilku setengah gila. Dan aku disini, masih tetap di sisinya. Sampai... entalah kapan, karena bagaimana kau mampu membatasi rasa cinta yang ada di hatimu? Siapa yang pernah mengajarkan cara melakukannya, ketika aku memilih untuk tidak patah hati, maka aku tau aku harus mengusahakannya. Berdiam diri, hanya akan membuat Tuhan berpikir kau tidaklah teramat menginginkan cinta itu. Lalu aku mulai sakit jiwa. Terkena tekanan batin yang berat, hingga rasa ini tak sanggup lagi kupeluk erat. Maka, kuluapkan saja semua rasa cinta yang ada di hati ini. Berulang kali merasakan yang tak berbalas, yang bertepuk sebelah tangan, yang membohongi, yang menghianati dan parahnya yang membuatku tak lagi jadi diri sendiri.

***


Tepat hari ini, di enam bulan yang lalu, 7 September 2007. Aku menapaki tahun ke dua di kampusku. Satu-satunya mahasiswi yang mungkin tak punya cita-cita selain agar dapat tetap bertahan hidup sampai lulus. Yang dunianya telah buram, bahkan sebelum sempat di warnai. Baiklah, aku memang manusia yang tidak memiliki sesuatu yang dapat aku banggakan. Tidak pernah juara kelas sejak sekolah, tidak pernah ikut kejuaraan apa pun, bahkan tidak pula pernah ikutan lomba makan kerupuk di hari raya kemerdekaan Indonesia.

Tetapi hey, aku punya sesuatu yang sebenarnya kalian juga punya. Hanya kebetulan kadarnya lebih banyak saja di dalam genku. Aku adalah, manusia yang sulit sekali berbohong. Walau hanya untuk sekedar mengaku tidak buang angin di dalam ruang kelas. Maka dari itu, walau pun aku bodoh, aku tidak pernah bisa mencontek saat ujian. Jika aku tidak bisa menjawab soal yang melotot padaku, maka aku akan lebih memilih memejamkan mata di depan mereka. 

Aku menyerah untuk berbohong. Habis sudah daya dan upayaku. Kalian bisa percaya, bila aku ini pinokio, hidungku sudah pasti pesek. Aku adalah si jujur yang malang. Karena sampai menginjak usia ke 20 tahun ini selalu saja gagal berurusan dengan makhluk bernama laki-laki. Kalian tau kenapa kita menyebut mereka laki-laki, bukan laki. Karena mereka selalu punya dua alasan untuk berbohong. Pertama, karena mereka adalah laki, kedua adalah karena mereka laki. Selesai sudah, si jujur ini berjuta kali ditipu oleh makhluk itu. 

Sejujurnya aku tidak sepenuhnya menyalahkan mereka. Ini hanya lantaran karena masa laluku yang buruk. Atau aku lebih suka menyebutnya kurang baik. Tuhan, tidak pernah memberimu sesuatu yang buruk. Manusia yang melebelinya demikian. Karena mereka merasa lebih benar dari Tuhan. Oke, abaikan omonganku barusan. 

Dan hari ini, tiba sudah waktunya aku menjadi perempuan sejati, si penegak kebenaran. Oke, itu berlebihan. Tapi aku sudah bersumpah sebelum aku gosok gigi pagi tadi, bahwa aku akan menyatakan cintaku pada seseorang yang selama bertahun-tahun ini aku kagumi. Kejujuranku harus terus kulatih, salah satunya dengan cara menyatakan perasaanku padanya. Betapa dia telah membuat kupu-kupu di perutku bergejolak setiap pagi, membawaku nyaris terbang tinggi, dan aku tak ingin jatuh lagi. Ini tidak bisa kubiarkan, cinta sebaik ini mana bisa kusiakan. Hidup mati sekali, patah hati berkali-kali. Yang sekali, belum tentu lebih mudah. Itu mengapa, tak ada alasan tak berani patah. Aku mencintainya! Cinta, mereka sebenarnya tak sulit dimengerti. Kadangkala mereka hanya enggan kau kesampingkan. Dan aku benar mencintainya. 

Jazzy Don Vitto, nama yang selalu terdengar indah di telingaku. Teman satu SMA-ku dulu. Dan sekarang pun satu kampus. Hanya saja, di SMA kami tak pernah sekelas. Dan dia pun murid pindahan saat kami kelas 3 SMA. Tetapi sesekali kami saling melepas pandang, dan sebanyak kalinya aku mencuri padang padanya. Mengagumkannya, selama hampir 3 tahun kami berada di lingkungan yang sama, dia tak pernah benar-benar menyadari kehadiranku. 

Kami jauh berbeda. Seperti abu dan api, yang walau jarak mereka dekat. Mereka sungguh tak akrab. Aku tidak jelek, tidak juga miskin. Aku memang bodoh, tapi aku tidak sampai perlu dikasihani. Kami hanya berbeda, itu saja. Kalian akan mengerti nanti.

"Jazzy!" Pekikku. Mencoba meraih tangkapan inderanya di tengah kerumunan manusia lain. Dia menoleh, mencoba mencari suara yang sempat menghinggapi pendengarannya, tapi kemudian kembali berjalan. 

"Jazzy!" Kembali aku berteriak. Lebih keras kali ini. Dan dia kembali menghentikan langkahnya. Lalu aku mencoba berlari ke arahnya berdiri. Sekarang kami saling berhadapan, dan hanya di batasi sisi tak nyata, yaitu udara.Oh my Lord, what i must supposed to do. I am speechless.

***
Esok harinya...
Rintik hujan yang lembut jatuh, membasuh daun-daun yang telah lebih dulu dibasahi embun. Pagi ini aku berangkat lebih awal dari biasanya. Membawa serta payung biruku, berharap warnanya bisa membuat matahari ingat untuk muncul kembali.
Sesampainya di kampus, dengan sengaja aku tidak langsung masuk ke dalam kelas. Aku memilih berhenti di halte terdekat dari gerbang fakultasku. Duduk berdiam sembari memandangi hujan. Menunggu seseorang datang dari kejauhan.
Hampir setengah jam duduk di sana dan hujan pun telah berhasil mengeringkan dirinya. Akhirnya sosok yang kutunggu pun muncul. Aku pun segera bangkit dan berlari menujunya.
"Pagi tampan!" Sapaku bersemangat. Tepat ketika ia hendak melangkah memasuki pintu gerbang.
Hari ini aku berdandan, mengenakan lipstick merah muda dan baju kuning tua untuknya. Jazzy sampai terjengkang dan sekarang aku sedang mencoba membantunya berdiri. Untuk pertamakali menggengam tangannya yang hangat. Walau sedetik berikut langsung dilepaskannya.
"Ka.. Ka.. Kamu? Kamu kuliah di sini? Tanyanya tergagap dan aku justru terlalu sibuk menatap rambutnya yang hitam lebat.
"Ka.. ka.. kamu ngapain di sini?" Kembali dia mengulang tanyanya dan lamunanku pun pecah. Dan buru-buru mencari jawaban di dalam kepalaku. Mungkin karena hari ini aku terlalu cantik dia jadi tidak sabaran. You wish!
"Sejak 2 tahun yang lalu tentu saja. Kita satu angkatan, satu fakultas, bahkan sempat satu ruang di kelas statistik." Jelasku setenang mungkin dan Jazzy hanya membuka mulutnya tanpa bersuara. Apa kubilang, aku memang terlampau cantik hari ini. Renda-renda di ujung rokku yang bilang begitu. Burung-burung pun setuju.
"Dan apa kau tau, aku sudah menyamakan semua jadual kuliah kita semester ini. And see, mulai sekarang aku akan menjadi.." Kalimatku kembali patah karena dia berjalan pergi meninggalkanku.
Hari itu sangat berat, semua teman-temannya memperolok-olokku. Aku pun harus banyak berlari, karena Jazzy selalu saja kabur dariku. Tentu saja aku tak mengeluh, aku tau Jazzy masih normal dan aku masih gila. Tapi mengertilah, bukan itu inti dari hal ini. Hal terbaik dari hari itu adalah aku bahagia secara utuh. Bahagia, karena nyatanya berani mengakui kebohonganku pada diri sendiri. Sekarang langkahku lebih ringan kutapaki, tak lagi perlu memikul beban yang melebihi kapasitas muatanku. Perasaan cinta yang kadarnya dapat membunuhku sendiri bila tak kuluapkan. Jika kalian merasakan yang sama, maka tak ada salahnya memilih untuk bahagia dengan lebih baik. Seperti aku.
I am free. And stay alive.
***
Kemudian hari...
Ini hari ketiga dan Jazzy telah mengusirku lebih dari 100 kali. Sebelumnya tak seburuk ini. Rekor pun pecah. Saat ini kami sama-sama duduk berhadapan di salah satu dari keramaian bangku kantin.
Sore menjemput mentari, peluh kulihat menyapa wajah Jazzy. Aku tau salah satunya karena lelah meladeniku. Seketika merasa tak tega padanya. Aku berinisiatif mengeluarkan tisu dari tasku, menariknya sehelai dan berniat mengusap keringat di keningnya. Tapi dia lebih dulu merebutnya dari tanganku.
"Sampai kapan akan seperti ini. Aku ngga mau kasar ke kamu. Tapi aku ngga bisa jamin itu gak akan pernah terjadi dilain hari." Dia mencoba mengatakannya selembut mungkin, dan aku menghargainya. Matanya, dari sana aku tau dia tidak suka dengan caraku. Tapi dia memang telah ditakdirkan menjadi pria baik hati.
Aku mencoba menyungginkan senyum segaris, "Yang kamu perlu lakukan adalah mencoba menyesuaikan diri dengan cintaku ini. Karena siapa yang bisa menjanjikan perasaan ini bisa dihentikan secepat yang kau inginkan? Berulang kutanyakan pada Tuhan pun, Dia tak kunjung menjawab. Baiklah pacar, aku kira cukup untuk hari ini. Besok kita ketemu lagi oke. Ini nomer teleponku, sebagai pacar yang baik kamu harus lebih sedikit peka. Hari ini kamu yang traktir ya, bye." Aku meninggalkannya sebelum dia mampu memberi komentar apa pun. Tidak siap mendengar, jika ternyata hal buruk yang keluar dari mulutnya.
***
Satu minggu setelahnya...

Siang yang terang. Mengingatkanku pada hari di mana aku pertama kali berjalan menghampiri Jazzy dan kemudian seminggu ini masih saja terus mengikuti langkahnya. Salahnya, aku tak juga bosan walau dia sudah berada di titik terendah dalam hidupnya.

Seperti bisa kalian tebak. Hubungan kami tidak memiliki perubahan yang berarti. Dan hari ini, suasana hatiku pun sedang tidak sebaik biasanya. Ada sedikit masalah di rumah dan aku sulit sekali mengenyahkannya. Sepanjang hari aku mengikutinya dalah diam. Dan sejak 3 hari yang lalu aku selalu merebut kunci mobil Jazzy dan memaksanya mengantarku pulang. Berdalih kehabisan ongkos bulanan. Dan seperti biasa, dia selalu saja mengalah padaku akhirnya. Lihatlah, bagaimana cinta membuatku mampu setega ini pada pria baik hati sepertinya.

Jazzy pun selalu hanya bisa diam seribu bahasa. Pada kenyataannya dia memang lebih pendiam dari manusia lain yang pernah kukenal. Diam yang tidak membuatmu berpikir dia sombong, diam yang membuatmu nyaman, diam yang tidak memojokkanmu. Jazzy pun tidak pernah marah secara nyata padaku. Bosan iya, kesal memang. Tapi dia sama sekali tidak pernah membentakku.

Hari ini kami selesai kuliah pukul 2 siang. Dan dia langsung menuju ke tempat parkir. Seperti biasa aku hanya berjalan mengikuti langkah kakinya. Sesekali memperhatikan bagaimana dia menghempas debu-debu yang sesekali waktu menebal di jalan beraspal. Seharian berdiam diri belum juga membuatku mampu mengenyahkan kesedihan di hatiku. Bukan aku tak mau jujur padanya, aku hanya tak berpikir dia berminat mendengar ceritaku. Lain waktu, saat senyumnya hanya untukku. Tentu aku akan menceritakan segala tentang diriku padanya.

Tepat saat aku melamun sebuah sepeda motor menyerempetku yang berjalan terlalu ketengah dan aku pun langsung jatuh tersungkur tanpa dapat diselamatkan oleh malaikat mana pun. Memang tidak begitu keras, aku hanya terdorong kaca spion dan stang sepeda motor itu. Begitu cepatnya kejadian itu terjadi aku bahkan tidak sempat berteriak. Karena memang aku tidak melihat sepeda motor itu datang ke arahku.

"Sera!" Jazzy langsung berlari ke arahku terjatuh, lalu motor itu pun pergi jauh. Siapa yang mau tanggung jawab sama pejalan kaki macam begini.

"Kamu nih gimana sih biasanya juga jalan deket-deket aku. Lagian ngapain sih dari pagi diem terus kaya orang bisu, ngelamu mulu lagi, bikin bahaya diri sendiri kan!" Jazzy marah padaku, tapi aku malah tersenyum lebar.

"Kamu tadi bilang apa?" Tanyaku di sela senyum yang mengembang. Jazzy pun membantuku bangkit dari kejatuhan, matanya mencari dengan seksama luka yang mungkin aku derita. Manis sekali pria ini.

"Kamu kaya orang bisu." Jawabnya tak fokus.

"Bukan, yang sebelumnya." Aku menekan kan, aku ingin dia tau jawabannya penting untukku.

"Kamu diem terus."

"Bukan, kamu tadi bilang 'Sera!' gitu kan? Kamu nyebutin nama aku, kamu tau nama aku ya!" Kegembiraanku meluap-luap.

"Ya tau lah, kita kan satu kelas." Jawabnya malas menanggapi kegembiraanku yang berlebihan. Aku akui ekspresiku memang berlebihan kali ini.

"Iya, tapi kan kamu ngga pernah manggil nama aku selama ini. Cuma heh heh terus." Jelasku

"Iya udah terserah deh. Ayo kita balik ke klinik dulu meriksain badan kamu. Siapa tau ada yang salah." Jazzy melanjutkan langkahnya dengan membawa tanganku ikut serta dalam genggamannya.

Apa kalian tau, mulai saat itu dia selalu menuntunku ketika menyebrang jalan. Walau pun tetap memanggilku dengan kata 'heh', tapi semua kesalku hari itu berhasil dihapuskannya. Menggelikan, bagaimana kadang cinta mampu membuatmu ingin selalu terus tersenyum sepanjang waktu. Terserah apa pun yang ingin dia lakukan, asal aku bahagia. Asal dia kemudian dapat kubuat bahagia. Tak ada yang tak mungkin bila kuusahakan.

Kalian tau, Sera adalah panggilanku saat SMA. Tidak ada teman kampusku yang memanggilku dengan nama itu. Itu dapat diartikan bahwa Jazzy setidaknya benar menyadari keberadaanku sejak dulu. Tanpa dia sadari, dia telah menceritakannya. Dan aku bahagia.
***
Sebulan setelahnya...

Aku dan Jazzy telah semakin dekat. Kurasa mau tidak mau, siapa pun yang terlalu sering bersama akan akrab dengan seiring waktu berjalan. Walau dalam kasusku saat ini memang agak dipaksakan.

Sekarang, sesekali dia memanggil namaku secara utuh, Sera. Dan kalian tidak perlu bertanya lagi padaku seperti apa rasanya. Tentu saja ba-ha-gi-A.

Tapi hari ini aku merasakan ada yang aneh dengan Jazzy. Sikapnya tidak seperti biasa. Dia bahkan tak pernah menatap langsung ke mataku ketika mengucapkan sesuatu. Aku sempat menanyakan kenapa tapi dia haya bilang, 'kurang enak badan, enggak usah lebay'. Dan aku pun mulai berhenti mengusiknya. Aku bahkan mencoba menjaga jarak dengan menambah 10 cm jarak kami berdiri. Oke, memang tidak banyak berpengaruh, tapi mengertilah, itu sudah usaha paling maksimal yang bisa aku usahakan. Mana bisa aku jauh-jauh darinya.

Hari ini adalah jadualnya latihan futsal, tapi betapa tidak beruntungnya aku tidak bisa menemaninya seperti biasa. Aku harus langsung pulang ke rumah hari ini.

"Maaf ya." aku membuka percakapan di dalam mobil.

"Kenapa?" Tanyanya, dan see.. dia bahkan tidak melihat ke arahku.

"Aku nggak bisa nemenin kamu latihan futsal hari ini. Aku pacar yang nggak baik ya." Jelasku.

"Oh.. nggak lah, justru kamu baik banget hari ini. Lebih sering lebih baik." Pernyataan yang menjatuhkan. Dan aku sudah terbiasa menelannya.

"Oke, bisa dipertimbangkan saran tidak masuk akal kamu barusan. Tapi kamu tenang aja, sebagai gantinya minggu besok aku mau main berkunjung ke rumah kamu." Aku mencoba bicara santai sembari membuka kaca, karena ada nyamuk yang sejak tadi berkeliaran di dalam mobil.

"What?! Jangan macam-macam ah." Jazzy panik. Dan aku menikmati reaksinya.

"Kamu kan tau, aku susah banget bohong. Kalau aku nunggu kamu yang ngajak mah, kita keburu nikah nanti. Jadi kuputuskan untuk mengambil inisiatif."

"Tapi kan.."

"Stop stop! Hari ini aku turun di sini saja. Aku masih ada urusan lain." Sengaja kupatahkan kalimatnya. Aku sedang malas berdebat. Jazzy pun menginjak pedal remnya. Bersegara aku membuka pintu mobil dan turun.

"Happy Friday!" Teriakku ketika mobil Jazzy pergi melaju.

***

Hari minggu yang kujanjikan...

"Ting tong!" Kupencet tombol pagar rumah Jazzy tapi tak ada reaksi. Aku mencoba melihat ke dalam melalui sela pagar rumahnya yang tinggi. Sepi, itu yang kurasakan. Sepertinya tidak ada seorang pun yang berjaga di rumahnya. Bahkan tak seorang satpam pun. Aneh sekali. Aku hanya melihat beberapa ekor anak anjing yang tak mau diam di kandangnya.

"Ting tong!" Aku mencobanya kembali. Tapi lagi-lagi tak ada jawaban, kemudian

"Kemana perginya semua orang. Rumah sebesar ini masa nggak ada yang jaga." Keluhku pada udara. Perasaanku sudah tidak nyaman sedari tadi. Karena kulihat langit terlihat begitu murung. Mendung mulai melebar ke banyak sisinya. Kucoba menelepon ponsel Jazzy tapi tidak aktif.

Dan tepat seperti firasatku, tidak sampai 15 menit setelahnya hujan pun turun. Bodohnya, aku pun tidak membawa payung biruku tadi dan aku pun ke sini naik taxi. Tak ada tempat berteduh, bahkan pintu gerbang kompleks ini jauhnya bukan main. Alhasil tidak sampai 5 menit setelahnya aku berhasil basah kuyup dengan sempurna. Aku memegang erat bungkusan yang kubawa untuknya, mencoba melindunginya agar tak basah tapi gagal.

Setengah jam setelahnya...

Sebuah mobil yang kukenal datang mendekat. Hari hampir gelap, kalian pun bisa membayangkan rupaku sekarang. Keadaanku sudah pantas disebut menyedihkan. Itu memang mobil Jazzy yang berhenti tepat di hadapanku dengan lampunya yang tersorot tajam. Jazzy turun dan aku pun bangkit dari posisi jongkokku. Dia datang dengan sebuah payung tanpa warna.

"Kamu ngapain hujan-hujanan di sini?" Tanyanya tanpa dosa.

"Pak!" Aku mendaratkan tamparanku di pipinya.

"Apa pun alasannya kamu ngga boleh memperlakukan perempuan kayak gini. Apa lagi perempuan bodoh sepertiku." Aku menangis. Aku marah. Aku benci padanya saat itu. Jazzy hanya diam. Laki-laki baik sepertinya pasti akan merenungkan dengan baik kejadian itu.

"Sera.."

"Aku tau kamu sengaja. Minta maaf sekarang!" Bentakku.

"Maaf." Ucapnya lemah. Dia pasti kaget dengan sikapku karena aku memang hampir tidak pernah marah padanya, jangankan marah, berkata dengan nada tinggi pun tidak pernah, seberapa pun terlalu sikapnya. Apa lagi menangis seperti ini. Karena dia penting untukku maka ini jadi rumit. Perasaanku jadi kacau. Aku benci ditelantarkan. Perasaan seperti ini membunuhku.

"Aku tau kamu sengaja pergi menghindari aku. Aku juga gak ngerti kenapa di rumah kamu sampai bisa nggak ada siapa-siapa. Tapi apa kamu tau sebesar apa pengorbanan aku untuk sampai di sini. Jadi jangan seenaknya." Aku menatap kantong yang telah basah kugenggam erat sedari tadi.

"Selamat ulang tahun. Kalo nggak karena hari ini kamu ulang tahun, aku nggak akan pernah maafin kamu." Kuserahkan bungkusan itu padanya. Entah seperti apa sekarang bentuk kado yang sengaja kubawa untuknya. Gadis jujur yang malang, yang sekuat tenaga mencoba membahagiakan cintanya. Aku benci hari ini.

"Terserah mau kamu apain. Aku pulang dulu. Gak usah maksa mau nganter pulang, aku lagi nggak mau semobil sama kamu." Jazzy hanya berdiri mematung dan aku tau dia tidak sedang ingin mencari masalah denganku detik ini.
***
Sehari setelahnya...

Aku berangkat ke kampus dengan suasana hati yang baik-baik saja. Tentu saja masih sedikit kecewa dengan apa yang Jazzy lakukan kemarin. Tapi aku memang tidak sanggup berlama dalam kesedihan. Aku menjalankan peranku seperti biasanya hari ini. Masih terus memanggil Jazzy tampan dan seharian berjalan mengikutinya tanpa beban. Aku tau, mungkin aku terlalu mencintainya.

Tapi kulihat sejak pagi Jazzy selalu memperhatikan gerak-gerikku, mendengarkan apa yang kuucapkan dengan seksama. Walau tetap dalam diamnya. Aku tau, dia pasti tak enak hati denganku. Dia sudah minta maaf dan aku sudah memafkannya. Hidup seharusnya memang se-simple itu. Asal ada maaf, tentu akan ada yang memaafkan.

Kami berjalan bersama dengannya sore itu. Masih dipelataran kampus, hari ini aku lebih banyak berjalan di hadapannya.

"Heh." Jazzy memanggilku dan langkahku terhenti. Aku segera berbalik dan menatap ke arahnya.

"Kenapa? Kamu mau jalan di depan?" Tanyaku polos. Tapi Jazzy tidak bereaksi. Berdiri dan menatap ke tanah.

"Aku.. aku.. minta maaf, ke.. kemarin aku memang keter..la..luan. Kamu bisa marah kalau kamu memang marah. Ngga perlu terlalu keras berusaha untuk mengerti aku. Dan.. terimakasih untuk kue dan kaosnya. A..a..gak basah, tapi rasanya lumayan. Seperti apa pun bentuknya, keju selalu terasa enak di mulutku." Jazzy menatapku dalam dan jantungku berdebar. Itu adalah percakapan pertama kami yang berawal dari mulutnya. Selain omelan, oke dia memang nggak pernah marah. Lalu aku tersenyum lebar.

Kuberanikan diriku untuk mengambil telapak tangannya dan kugenggam dengan kedua tanganku.

"Aku selalu jujur atas perasaanku. Baik mau pun buruk. Aku akan menangis jika memang benar-nenar sedih dan akan tertawa jika memang merasa bahagia. Aku tentu saja akan marah padamu, jika memang masih marah. Tidak perlu merasa tidak enak hati padaku. Maaf kalau sifatku ini bikin kamu nggak nyaman. Aku sehat dan baik. Aku minta maaf kalau sikapku kemarin agak keterlaluan ya. Dan oh iya, hari ini aku nggak bisa pulang sama kamu. Sampai jumpa besok ya sayang!" Kulepaskan genggaman tanganku dan kutatap wajahnya baik-baik. Ketidak  yakinan tergambar jelas di sana.

Aku pun kembali menggenggam tangannya, sekarang justru aku yang merasa bersalah membuatnya jadi seperti ini. "Gimana kalau kamu memang merasa bersalah banget sama aku, mulai sekarang kamu bisa panggil aku Sera kalau nggak keberatan. Lalu mari kita anggap ini impas."
***
5 bulan setelahnya...

Begitu banyak hal yang telah berlari menjauh dan menjadi kemarin. Tapi dapat kuyakinkan pada kalian bahwa tak ada satu detik pun yang ingin aku tinggalkan. Jazzy telah banyak berubah. Dia bahkan telah meyakinkan dirinya sendiri untuk memanggilku Sera. Nama kecilku. Sekarang aku sedang bersamanya di taman kota. Di malam sebuah hari yang hangat.

"Kalau kunang-kunang hidup di perkotaan pasti akan sangat baik." Gumamku sembari memakan dengan lahap gulali berwarna merah jambu. Jazzy yang membelikannya. Tanpa aku harus merengek, hebat bukan?!

Kemudian kami duduk di tepi danau buatan. Menatap bayangan lampu-lampu yang bergoyang-goyang di muka air. Malam minggu yang paling menyenangkan. Aku rela menukar apa pun yang kupunya untuk hari ini. Segalanya. Malam minggu pertamaku dengannya, setelah 5 bulan berusaha keras.

"Sera." Panggilnya.

"Ya." Aku menjawab tapi masih saja sibuk membagi kesadaranku dari kembang gulali.

"Aku, aku, nggak begitu suka kalau kamu berteman sama Judo." Katanya terbata.
Spontan gerakanku berhenti, hah? Apa aku tidak salah dengar? Jazzy nggak suka aku berteman sama Judo. Apa dia cemburu sama Judo. Judo yang sering kali kuceritakan padanya. Oh my God.

Jazzy terdiam dan aku mulai tertawa, "Hahahaha!"

"Kok ketawa? Bagian mana yang lucu?" Jawabnya sewot

"Memangnya kenapa dengan Judo? Kamu cemburu ya?" Tanyaku langsung.

"Nggak, aku cuma mikir kalian terlalu dekat. Bahkan sampai sering tidur-tiduran bareng. Jangan terlalu percaya sama laki-laki. Mereka semua berengsek." Kilahnya

"Ya nggak bisa lah. Kalo nggak sama Judo aku nggak bisa tidur!"

"Kok gitu?"

"Ya memang gitu pokoknya. Titik." Jawabanku membuat jazzy terdiam. Aku kemudian merebahkan tubuhku ke rerumputan.

"Huh... ternyata 5 bulan belum cukup untuk buat kamu mengerti aku. Untuk buat kamu merasa bahwa aku penting untuk diperhatikan. Sering banget aku cerita tentang Judo aja kamu nggak pernah nyimak kalau dia itu kucing cowok, bukan manusia. Mengecewakan. Merusak suasana. Kamu kan bisa cemburu sama species yang lebih konkret." Kutatap gugusan bintang di langit, mereka membentuk sesuatu yang tak terbaca olehku.

"Jadi, Judo itu kucing? Maaf ya." Jazzy tersenyum kecut padaku. Wajahnya merah merona. Dan aku kembali bahagia.
***
Hari ini...

Sepagi ini berlari mencari Jazzy ke seluruh penjuru kampus. Malam tadi dia mengirimkan pesan pendek padaku. Bunyinya 'Aku tunggu di kampus.' Sms memang hal biasa yang diterima oleh manusia yang memiliki telepon genggam. Tapi itu berbeda ketika pesan itu dikirim oleh pangeran hatimu, dan itu sms pertama darinya yang masuk ke dalam kotak pesanku!

Tak ada yang special dari isinya. Tapi kalian pasti tau, bukan itu yang terpenting. Ketika ada yang pertama, pasti akan ada kedua dan ketiga lain yang menyusul. Aku tersenyum dalam hati membayangkan hari dimana kami telah terbiasa bertukar pesan. Si tampan kesayangku.

Sekarang aku mulai pusing mencarinya. Ditelepon sejak pagi pun tidak diangkat-angkat.  Hampir semua tempat yang mungkin ada keberadaannya di sana kusambangi, tapi dia tak juga nampak. Perpustakaan, kelas, lab, kantin, taman sampai-sampai ke pangkalan ojek. Dan ketika aku berjalan ke arah lapangan parkir dan melihat temanku bernama Mira mendekatiku.

"Sera, ngapain hari gini udah di kampus?" Mira menegurku.

"Ini, nyari si Jazzy, kamu lihat?"

"Jazzy? Bukannya kalian hari ini masuk siang?" Mira melemparkan pertanyaan yang langsung menohok diriku sendiri.

"Shit! Iya, ini kan hari selasa. Damn. Bodohnya aku." Serapahku.

"Hahaha, kamu nih gimana sih. Yaudah deh, aku duluan ya, kelasnya pak Lamhot. Gak boleh telat." Mira pun pamit dan aku pun langsung bermuka kecut.

Damn. Saking semangatnya, pagi-pagi aku langsung berangkat ke kampus. Ini karena Jazzy kirim sms jam 7 malam dan aku sampai sulit tidur menunggu pagi datang. Aku menilik jam tanganku dan jarum jam menunjuk pukul 8.05 pagi. Tololnya, padahal hari ini jadual kuliah pertama kami pukul 13.15 siang. Mau dicari sampai muntah pun nggak akan ketemu. Dan pantas saja dia tidak lekas menjawab panggilang teleponku. Dia pasti masih tertidur pulas di atas bantal baunya. Aku pun bersegara mengambil ponselku di dalam saku celana dan mencoba menghubunginya kembali.

"Hallo." Suaranya terdengar lirih. Masih berbau mimpi bahkan.

"Aku udah di kampus. Kamu dateng sekarang dong, aku nggak sengaja nih dateng kepagian."

"Hah? Gak sengaja gimana, ngapain hari gini udah di sana?"

"Pokoknya ini semua salah kamu. Gara-gara kamu sms aku, aku jadi kesemangatan berangkatnya. Sampai lupa, kalo hari ini kita masuk siang." Jelasku.

"Hahahaha." Jazzy tertawa mendengar penjelasanku. "Kamu jujur banget sih, jaim sedikit dong Sera."

"Hahahaha." Aku tertawa datar, malas mendengar olok-oloknya.

"Yaudah salah aku emang. Tunggu aja ya di kantin, 40 menit lagi aku sampai sana ya sayang. Tut tut tut." Dan telpon pun terputus.

"Hah kamu bilang apa barusan?!" Jantungku seketika berdegub tak beraturan, mencoba menyadarkan pendengaran dan akal sehatku. Sayang, dia bilang sayang sama aku! Aku menatap layar ponselku yang telah kembali normal. Dan meyakini bahwa aku tidak salah dengar.

"Jazzy panggil aku SAYANG!" Aku nyaris berteriak, lalu melompat-lompat kegirangan. Buru-buru aku membuka kalender di ponselku, berniat untuk menandai tanggalan hari ini.

"Kring!" Sebelum sempat aku melihat kalender. Suara remainderku berbunyi. "Mama. Where are you?" Begitulah yang terpampang di layarnya. Ponselku tiba-tiba terjatuh. Jazzy bahkan sanggup membuatku lupa hari ini.

Aku terjongkok. Memegang keningku dan merasa mual. Karena sampai sekarang aku masih saja tidak bisa terbiasa dengan hal ini. Masalah ini, begitu banyak menguras tenaga dan pikiranku. Ibuku, dia hilang 8 tahun yang lalu. Pergi meninggalkanku sendiri dalam asuhan ayahku yang sama sekali tak dapat menyayangiku. Tepat di hari ini, ibuku menghilang.

Sebenarnya dia tidak hilang. Dia melarikan diri dan tidak membawaku ikut serta bersamanya. Aku, sampai detik ini tidak dapat mengerti bagaimana wanita sebaik dia bisa meninggalkanku. Semenjak hari itu, aku kerap kali bermimpi buruk. Mimpi yang sama dan berulang-ulang diputar. Seperti kaset rusak. 

***
Kantin, 40 menit setelahnya...
Jazzy benar-benar datang tepat waktu. Walau sebenarnya aku lebih berharap dia datang nanti-nanti. Kalian bisa yakinkan diri kalian, bahwa tampangku sama sekali tidak enak dilihat.
Jazzy duduk di hadapanku dan langsung memesan sebotol air mineral. Aku tau, sejak di ujung jalan tadi, dia sudah merasa tidak nyaman dengan raut wajahku. Matanya masih mencoba mencari cerita dalam garis wajahku.
"Masih bete ya? Aku minta maaf ya, harusnya aku nggak perlu sms kamu. Lagi juga kan ini nggak sepenuhnya salah aku. Kita bagi dua deh ya betenya." Dia berusaha merayu dan itu sungguh luar biasa.
Aku mencoba menanggapinya dengan memberi sebuah senyum. Tapi raut mukaku justru semakin mengerikan.
"Ada apa Sera?" Sekarang, kulihat dia mulai tedak enak hati. See, aku memang tidak pernah mampu berpura baik-baik saja. Aku begitu tidak berbakat dalam berbohong. Sulit sekali mencoba membohongi orang lain, bahkan orang yang begitu amat kucintai. Sekedar untuk menjaga perasaannya.

Aku menatap mata Jazzy, coklat pekat. Kulihat setupuk kesabaran di dalamnya. Tuhan, aku begitu ingin ditatap mata itu sepanjang hidupku.
"Ada apa-apa memang. Tapi itu bukan masalah besar. Lagi pula saat ini aku sedang mencoba untuk mengatasinya. Sabar sedikit lagi saja oke, yang penting ini bukan karena kamu. Kamu harus tetap sms aku!" Aku mencoba menjelaskan. Dan dia hanya mengangguk sembari menenggak air mineral pesanannya. Jazzy, bukan lah tipe pria yang suka mengorek-ngorek masalah. Dan itu bagus.
"Jazzy." Aku memanggil namanya.
"Ya." Jawabnya sedetik kemudian. Setelah berhasil menelan air mineralnya dengan sempurna.
"Makasih ya." Mataku menerawang dan aku mulai melamun.
"Makasih karena sudah dateng kesini untuk meyakinkan keberadaanku. Aku benar-benar bahagia. Selama ini nggak banyak orang yang menyadari keberadaanku. Mungkin ini sesuatu yang sepele. Tapi kadang bikin suasanan hati jadi tidak baik." Lanjutku dan sekarang aku menengadah padanya.
Jazzy hanya mengangguk. Aku masih menatapnya, dan dia sedang berusaha mencerna situasi tidak biasa ini. Sekarang aku mulai menitikkan air mataku dan Jazzy pun langsung menyadarinya.
Lucunya, pria pendiam itu justru kebingungan dan tak tau harus melakukan apa. Aku menangis seperti anak kecil di hadapannya. Di hadapan manusia-manusia lain.
Aku memilih menangis dalam diam. Aku hanya tidak bisa berpura sedang tidak ingin melakukannya.
Tahun-tahun sebelumnya biasanya aku lari ke toilet umum dan menangis di dalam biliknya, sendirian. Menyedihkan.
Aku begitu merindukan ibuku. Aku rindu sekali padanya. Setidaknya tahun ini jauh lebih baik, aku tidak lagi perlu menangis seorang diri. Ada dia, yang memang bukan siapa-siapaku saat ini. Tapi nyatanya sekarang dia duduk di hadapanku. Tanpa harus kupaksa lagi.
Aku begitu menghargai kenyataan ini. Sangat menghargainya Tuhan.


Masih di panti...

"Bunda, kenalin ini pacar Sera. Namanya Jazzy." Sengaja aku memberi penekanan di kata 'pacar'. Dan Jazzy pun langsung bangkit dari dudukannya.

"Bukan bunda, kami teman biasa kok." Elaknya.

"Memang pacar bukan teman? Teman justru artinya lebih dari sekedar pacar." Bunda dan Jazzy kini saling berjabat tangan. Dan Jazzy pun hanya tersenyum malu mendengar jawaban bunda Rose.

"Jazzy ini bunda Rose, pemilik yayasan ini. Ibu asuhku. Dia melebih ibu kandungku sendiri." Aku memeluk bunda Rose rapat. Aku memang ingin memeluknya sejak tadi pagi. Bunda Rose pun langsung masuk ke dalam setelahnya, karena dia masih harus menidurkan anak-anak.

Saat ini aku dan Jazzy duduk saling berhadapan dalam kebisuan. Aku tau dia pasti kaget. Jelas saja dia bingung harus mengatakan apa, maka aku pun berinisiatif untuk mencairkan suasana.

"Hey." Aku memanggil Jazzy dan dia pun menatap padaku. Wajahnya memikirkan sesuatu.

"Apa tidak mau mengatakan apa pun? Pasti sedang merasa kekenyangan untuk bicara ya. Kamu pasti ketularan aku deh." Aku mencoba meledeknya dan dia bereaksi dengan memberiku senyum yang dipaksakan.

"Jangan kasihan padaku. Aku bukan anak yatim piatu seperti adik-adikku yang lain di sini.  Ayahku yang menitipkanku di sini. Dia tidak suka padaku. Ketika usiaku 8 tahun ibuku pergi dan ayahku bilang kalau dia benci lama-lama menatapku. Kasihan ya dia, bahkan tidak bisa menyadari kecantikanku. Hahaha."

"Di bagian mana yang lucu? Kenapa kamu ketawa?" Jazzy menanggapi dingin. Aku gagal total.

"Di bagian cantiknya tau, kamu tau sendiri kan kalo aku cantik banget." Aku menyandarkan tubuku ke sandaran sofa. Dan membuang napas panjang.

"Ibuku pergi dari rumah belasan tahun lalu. Dan semenjak itu aku tinggal di sini. Walau pun begitu aku tidak pernah kekurangan apa pun karena ayahku cukup kaya untuk menjadi donatur tetap di yayasan ini. Karena itu aku bisa kuliah dan punya barang-barang bermerek. Dia selalu memberikan semua barang yang aku butuhkan bahkan yang tidak aku inginkan. Tidak pernah perlu merasa repot untuk sekedar bertanya apa yang aku inginkan. Semua yang aku punya, adalah keinginannya. Tapi kebanyakan bukan kebutuhanku."

"Bisa kamu bayangkan itu, memiliki hal yang bahkan tidak pernah kamu ingin miliki. Aku harus lebih banyak bersyukur untuk tidak mengeluhkan banyak hal dalam hidupku. Aku bawa kamu kesini untuk jujur pada diriku sendiri hari ini. Untuk menjadi seseorang yang mampu menerima kenyataan bukan sebagai mimpi buruk. Terimakasih ya sudah mau mampir, sekarang kamu boleh pulang tapi nggak boleh mutusin aku ya. Aku kan anak panti, aku harus kamu jaga lebih baik lagi mulai hari ini." Jelasku.

Jazzy mengarahkan pandangannya padaku. Bangkit dan beranjak ke kursiku. Menatapku lekat-lekat, entah apa yang dia cari. Aku hanya menatapnya dalam diam hingga kemudian beberapa menit pun berlalu dan aku tidak tahan untuk ditatap lebih lama lagi, aku bisa tiba-tiba menciumnya kalau begini.

"Jazzy, sudah ya liatin akunya. Kenapa sih?"

"Sedang mengingat sesuatu dan sekarang sudah selesai. Aku bisa pulang kan?" Jazzy pun bangkit dan aku menganggukkan kepalaku.

Kami berjalan dalam diam sampai ke luar dari teras rumah. Aku berjalan mengantar Jazzy sampai ke mobilnya, walau dia bilang dia bisa jalan sendiri. Tak ada yang kami bicarakan soal kejadian tadi. Beberapa kali Jazzy menatap kelangit, kurasa dia sedang mencoba mencairkan suasana hatinya sendiri dan aku mengerti dengan baik. Aku lah yang seharusnya lebih tegang darinya, bagaimana jika setelah kepergiannya ini dia tak lagi pernah muncul di hadapanku. 

Jazzy pun pulang. Malam itu dia pulang tanpa mengucapkan sepatah kata perpisahan pun. Aku tidak tau apa yang ada di pikirannya melihat ini semua. Tapi aku tau pria baik sepertinya, akan mengerti jauh lebih baik- bahkan melebihi aku. 
***
Pukul 7 malam, di taman kampus...

Aku beralih menjadi gadis pemurung hari ini. Bahkan jelas tertidur di dalam kelas. Jazzy pun masih saja memakluminya. Si pria baik hati itu, semakin baik hati saja setiap harinya. Aku bahkan begitu jarang menatap matanya, aku tak punya keberanian menatap mata siapa pun. Aku menyerah berusaha tersenyum, suasana hati yang sedih menenggelamkan keceriaanku tiba-tiba. Aku dan Jazzy berjalan dalam satu garis hari ini. Berkali dia mencoba menoleh padaku tapi aku begitu jarang menoleh balik padanya. Aku, hanya tidak ingin dia melihat wajah masamku ini terlalu sering.

"Sera jangan diam saja. Jangan ikut-ikutan menjadi pendiam sepertiku." Jazzy tiba-tiba meraih telapak tangan kananku dan menggenggamnya erat, dia melakukannya dengan tetap menatap ke depan. Seolah itu bukan lah hal yang diluar kebiasaan. Aku bahkan sampai sulit berkedip melihatnya. Dia menggandengku, bahkan ketika kami sedang tidak perlu menyebrang jalan. Bagaiman hal semanis ini, bisa dia lakukan dengan teramat mudah. Aku mencoba untuk menganggapnya hal yang biasa sembari tersenyum kecil menatap tanganku sendiri.

"Aku, hanya sedang tidak selera mengatakan apa pun. Tiba-tiba saja kenyang bicara." Aku mengatakannya sambil terus melangkah.

"Kalau begitu, beri waktu untuk pikiran mencernanya dengan baik. Kau pun akan lapar kembali untuk bicara."

***
Ini di dalam mobil Jazzy...

Aku menerawang ke langit, beberapa bintang enggan benderang seterang biasanya. Atau ini hanya karena mataku bengkak saja. Jazzy mencoba memasangkan sabuk pengaman untukku. Dia semakin manis saja hari ini. Walau pun biasanya dia selalu memasangkannya, aku memang tidak suka menggunakan sabuk pengaman. Tapi dulu Jazzy lebih memilih repot memasangkannya dari pada kami kena tilang. Entah sekarang dia masih memasangkannya karena tilang itu, atau karena peduli dengan keselamatanku.

"Jazzy, bisa temenin aku nggak ke suatu tempat?" Pintaku ketika dia menghidupkan mobilnya.

"Sure. Tapi sebelum jam 10 aku harus sudah pulang ke rumah." Jawabnya.

"Sebelum jam itu, kamu pasti sudah tertidur pulas di rumah. Aku janji."

20 menit kemudian...

Aku tiba disebuah jalan. Aku biasa berhenti di jalan ini. Jazzy hanya menurunkanku di sini setiap harinya dan itu karena permintaanku. Tapi kali ini aku memintanya ikut turun. Sekarang kami berjalan bersama di tepi terotoar. Jazzy mengamati sekeliling kompleks perumahan ini. Seperti biasa dia memilih diam dari pada menekanku dengan pertanyaan. Dan sampailah kami di pintu pagar ruma yang sederhana ini. Tepat di balik gerbangnya terpampang papan nama bertuliskan:

"PANTI ASUHAN ROSEMARRY"

Jazzy menghentikan langkahnya di depan papan itu, tapi aku kemudian menarik tangannya untuk melangkah masuk ke dalam.

"Ayo, kita kan udah pacaran 6 bulan lebih. Masa kamu nggak pernah main ke rumahku." Jazzy hanya menatapku dan menurut.

Aku membuka pintu dan mengucapkan salam. Masih terus menggandeng Jazzy aku mengajaknya masuk ke dalam ruang tamu. Adik-adikku yang jumlahnya lebih dari 25 orang mengerebung di sekelilingnya. Wajah Jazzy pun memucat, tapi aku begitu menikmatinya. Aku ingin dia belajar menikmatinya. Beberapa anak bahkan sudah nangkring di pangkuan Jazzy. Anak-anak di sini memang selalu haus kasih sayang, apa lagi kepada orang baru yang mereka temui dan mereka anggap pembawa rizky bagi mereka. Aku hanya tertawa memperhatikan tingkah mereka.

"Hei anak-anak, ini kan sudah waktunya tidur. Jangan ganggu temannya kak Sera. Ayo masuk ke kamar masing-masing." Ibu asuhku keluar, namanya bunda Rose. Menyuruh anak-anak untuk masuk ke dalam. Aku datang di belakangnya membawa 2 cangkir teh hangat untuk Jazzy dan diriku sendiri.

Semenjak hari itu Jazzy lebih baik padaku. Sikapnya tak lagi sekasar biasanya. Mungkin dia menjadi lebih kasihan, walau aku berharap bukan karena rasa kasihan tapi rasa sayangnya padaku. Tapi kalau kasihan pun tak ada yang salah dengan itu.
Ini adalah minggu ujian semester dan aku sangat sibuk mengasah otakku yang tumpul ini. Aku tidak bisa mengharapkan orang lain ketika ujian. Aku harus bertumpu atau tepatnya berpasrah pada kemampuanku yang pas-pasan. Aku sudah pernah bilang kan, aku tidak bisa mencontek.
Tapi jangan lupa kalau Tuhan memiliki kekuatan yang tiada terkira. Aku selalu berdoa pada-Nya agar memberikan sedikit pencerahan pada otakku yang bebal ini. Kalau Jazzy tidak perlu kalian tanya. Aku tidak pernah dia belajar tapi dia selalu dapat nilai A. Memuakkan. Dunia sering kali adil dengan caranya.
Pernah tidak kalian melihat orang yang tidak perlu belajar keras tapi dapat menjadi lebih pintar dari kita yang belajar mati-matian? Sebenarnya saat itu dia telah melewati ujian keras lainnya selain belajar, sehingga dapat mengerti jauh lebih cepat dari kita. Jadi tak perlu iri atau merasa diberi ketidak adilan oleh Tuhan. Tuhan, selalu lebih tahu. Dan manusia, selalu sok tahu.
Dia, selalu adil dalam membagi apa pun. Hari ini, pulang kuliah Jazzy mengajakku makan. Ujian memang selalu berhasil membuat perutku dua kali lebih lapar dari biasanya, dan kali ini giliranku yang traktir. Tapi saat aku membahas tempatnya, Jazzy bilang dia mau makan di suatu tempat yang dia pilih. Aku bilang oke, dan kami pun berangkat.
30 menit kemudian…
Sampailah kami. Dan mulutku hanya melompong melihat kemana dia mengajakku. Ke rumahnya. Oh my God. Aku melotot kearahnya.
"Kenapa? Kamu sudah pernah ke sini kan?" Meremehkanku. Wajahnya penuh kepuasan.
"Mau apa kamu ajak aku kesini Jazz?" Tanyaku.
"Kalau kamu ngga suka kita bisa cari tempat lain." Dan Jazzy pun melepas pedal remnya.
"No no no!" Aku kelabakan. Sial, dia pasti tahu, kalau aku penasaran bukan kepalang dengan isi rumahnya. Aku bahkan tidak pernah lagi berani bermimpi dia mau mengajakku ke tempat ini.
"Yaudah kalau begitu ayo kita turun." Responnya acuh. Aku pun dengan semangat yang membabi buta turun dari mobil. Kalian tahu bagian paling sweetnya, karena ngeliat wajahku yang tiba-tiba memucat Jazzy dengan berat hati akhirnya menggandeng tanganku masuk kerumah. Dia tidak mau ambil risiko aku tiba-tiba pingsan di tengah jalan.
Sampai di dalam, ternyata tidak seperti yang aku bayang kan. Rumahnya benar-benar sepi. Aku mencoba mencari tanda-tanda kehidupan tapi tidak ada apa pun. Kecuali binatang peliharaannya yang mondar-mandir. Jazzy mempersilahkanku duduk di meja makan, bukan di mejanya tapi di bangkunya. Kalian bisa lebih cerdas menelaah kalimat kan? Dan di sana telah tersedia masakkan rumah yang kelihatannya cukup lezat. Mungkin ibunya Jazzy adalah seorang perempuan yang pandai memasak.
"Bi!" Jazzy memanggil seseorang. Dan wanita berusia sekitar setengah abad datang dari kejauhan.
"Ya den. Sudah pulang. Wah sama siapa den? Pacarnya ya? Cantik sekali." Wanita itu menatapku dengan mata hangatnya. Wajahku sampai – sampai memerah karena malu.
"Pacar? Pacaran dosa bi." Jawab Jazzy asal.
"Saya Sera bi!" aku bangkit dan menjabat tangannya.
"Saya pacarnya Jazzy." Ucapku mantap dan Jazzy pun tampak mulai terbiasa dengan kebiasaanku yang satu ini.
"Kalau begitu ayo dimakan. Bibi ke dapur dulu, belum selesai kerjaannya." Dan dia pun menghilang.
Aku sekarang menatap Jazzy, dan mencoba menelusuri garis wajahnya.  Ada kecanggungan kulihat di sana, enatah mengapa.
"Aku.. aku.. aku tinggal sendiri di Jakarta." Ucapnya tergagap. Aku tersenyum mendengarnya. Jazzy memang tipe manusia yang sulit menyatakan perasaannya, Berbeda jauh denganku yang tak pernah bisa menyembunyikan perasaanku pada orang lain.
"He-em" Jawabku mencoba tidak begitu serius menanggapinya. Aku takut dia menyerah untuk menceritakan hal-hal yang sebenarnya penting, tapi lebih sering dia remehkan ­orang lain.
"O..o..orang tu..a..ku ti..ti..tinggal di Je..Jerman. se..se..sejak aku keke..kecil." lanjutnya.
"Oke." Aku lagi-lagi menjawab sambil lalu.
"A…aaku ka..ka..sihan ya?" Pertanyaannya barusan membuatku berhenti mengunyah. Mataku menatap ke wajahnya yang menyendu. Aku tidak berpikir dia akan mengeluarkan pertanyaan macam itu. Aku bahkan nyaris tersedak.
"Kalau kamu kasihan, berarti aku menyedihkan dong. Tega banget sih." Aku merajuk. Dan Jazzy malah tertawa.
"Kamu nih, jujur banget sih." Jawabnya.
"Jadi itu kenapa pas ulang tahun kamu malas tinggal di rumah. Kalau aku tahu, aku ngga akan nampar kamu sekeras itu. Maaf ya!" Aku bangkit dan menundukkan kepalaku. Seperti ketika orang Jepang mencoba berterimakasih atau meminta maaf pada orang lain. Jazzy manatapku dengan seksama. Tanpa berkata apa pun, dan aku kembali duduk.
"Pantas ya kamu itu pendiam. Udah gitu cenderung kaku orangnya. Sering ngelamun juga, sekarang aku bisa lebih maklum. Yang sabar ya, kan ada aku di sini. Jangan pernah salahin orang tua kamu. Seburuk apa pun mereka, kamu tetap anaknya. Jangan jadi anak yang tidak berbakti. Seenggaknya kamu bisa ketemu mereka ketika kamu ingin. Ngga seperti aku, yang bahkan ngga tahu harus cari mereka kemana."
"Aku sedih. Tapi bukan berarti semua itu bisa menghentikan semua kebahagiaanku yang lainnya. Kebahagiaan bisa datang dari hal lain dan tempat lain dan orang lain. Seperti kebahagiaanku yang datang dari kamu. Kamu adalah salah satu kebahagiaanku." Lanjutku.
***
Selesai makan Jazzy mengantarku pulang. Kali ini tidak turun di pinggir jalan lagi. Dia mengantarku sampai panti. Diluar hujan gerimis. Udara sore terasa begitu segar. Matahari pun mulai beranjak turun, mencari tempat lain untuk menebarkan sinarnya. Aku turun dari mobil dan Jazzy pun memayungiku.
"Sera." Jazzy memanggil namaku. Aku selalu suka, caranya memanggil namaku.
"Ya," Aku menjawabnya, masih sambil berjalan beriringan.
Oh ya, aku lupa bilang pada kalian bahwa belakangan kami selalu berjalan berdampingan. Indah ya.
"Jangan pernah tinggalin aku ya." Jazzy memegang tanganku agar kami berhenti berjalan sejenak. Aku nyaris tersedak mendengarnya.
"Hah?" ucapku tak percaya pada apa yang barusan kudengar. Jazzy menatapku lekat-lekat, dan jantungku berdegub kencang. Kami berdiri saling berhadap-hadapan. Tiba-tiba Jazzy menjatuhkan payungnya, menarik wajahku dan mencium bibirku lembut. Mataku melotot dan aku tak sanggup melakukan apa pun. Aku merasa seperti terbang di  udara. Seperti ada banyak burung yang berkicauan di hatiku. Aku hanya diam menanggapi ciumannya barusan. Aku tampak amat sangat bodoh. Aku menjadi tolol tiba-tiba. Aku , aku kehabisan kata-kata untuk menggambarkannya.
Ciuman pertama yang aku lakukan dengan orang yang tepat, karena aku mencintainya. Jazzy melepaskan ciumannya dan memelukku erat. Kami bahkan bermesraan di bawah hujan gerimis. Aku masih kehilangan ruhku untuk sekedar mengoreksi kejadian ini.
"Aku sayang kamu Sera. Dan jangan pernah tinggalin aku. Ka.. ka.. kamu begitu penting untukku. Saat ini dan selamanya. Kamu adalah bahagiaku 6 bulan belakangan ini, bahkan bahagiaku sejak bertahun-tahun yang lalu. Dan aku nggak bisa untuk merelakan  kamu jadi milik orang lain. Maaf kalau kamu harus nunggu selama ini untuk dengar ini semua. Aku terlalu sulit untu jujur pada perasaanku sendiri.
Aku bahkan udah suka kamu sejak kecil. Sejak kamu ngasih sebatang permen lollipop ketika aku menangis sendirian di pinggir jalan. Saat itu ayah dan ibuku pergi ke luar negri. Dan kamu mengatakan kalimat yang sama persis seperti hari ini. 'Yang sabar ya. Kan ada aku di sini'. Kita adalah tetangga dekat yang baru saja menjadi teman hari itu, sebelum akhirnya tiba-tiba kamu menghilang. Tapi aku ngga pernah lupa sama wajah ini." Jazzy mengusap lembut pipiku.
"Aku ngga akan pernah lupa sama kamu Sera. Kalau saja aku tahu ternyata selama ini kamu tinggal di panti asuhan. Hari itu ketika pulang dari panti aku menangis di dalam mobil. Aku menangisi diriku sendiri yang ternyata ngga pernah kasih apa pun yang bisa buat kamu lebih bahagia. Aku baru mengetahui bahwa kamu adalah Seraku pada hari itu. Aku meyakininya. Karena selama ini aku hanya berharap kamu Sera yang sama. Dan bahkan itu nggak bisa ngebuat keadaan jadi lebih baik. Karena aku pengecut."
Air mataku mengalir dengan sendirinya. Anak laki-laki kecil itu ternyata Jazzy. Dia Jazzy. Aku masih ingat hari itu. Dan semua kenyataan ini membuatku semakin tak karuan. Aku hanya sanggup berdiri mematung. Tiba-tiba Jazzy menekuk kedua lututnya. Bersimpuh di rumput yang basah karena gerimis hujan yang belum juga reda.
"Sera Leovella Jade.. will you marry me?" ungkapnya lembut. Mulutku ternganga mendengar pernyataan indahnya barusan. Senyumku merekah.
"Tanpa sebuah cincin, seperti yang selalu ada di film drama romantis Jazz?" tanyaku polos. Dan dia pun tertawa.
"Kamu selalu mampu jujur dalam segala hal. Aku belajar darimu untuk melihat kejujuran dalam arti yang terbaik, entah itu menyangkut hal baik atau buruk. Kejujuran adalah hal terbaik yang bisa kita bagi dengan orang lain dalam hidup ini. Itu kenapa, aku sayang padamu. Tanpa cincin hari ini, tapi aku janji akan membelikan yang bermata besar untukmu besok. Aku janji." Jazzy membuatku seketika melayang-layang di angkasa.
"Tapi tunggu sebentar." Dia menggerakkan tangannya kebalik kepalaku, lalu mencoba membuka karet yang mengikat rambutku.
"So Sera, will you marry me?" Dia mengulang pertanyaannya dan tentu saja aku mengangguk setuju. Lalu Jazzy pun melipat karet itu dan mengikatnya ke jari manisku.
"Kita anggap ini cincinnya. Tentu saja akan aku belikan satu yang sesunggunya nanti."
 Apa artinya kejujuran tanpa ada seseorang yang mau mendengarkan untuk berbagi. Apa artinya sejuta berlian tanpa kamu. Apa artinya semua yang kita miliki di dunia ini tanpa orang-orang yang menganggap kita ada. Apa artinya menjelaskan sesuatu jika tidak ada yang mau mengerti. Dunia ini kosong tanpa itu semua. Tapi itu juga bukan berarti semuanya berakhir. Karena kita ada di sini memang untuk mengerti kesemuanya. Siapa yang pernah menjanjikan hidup itu mudah.
***
2 tahun kemudian..10 October 2010
"Yes I do."    
Pernikahannya sederhana. Hanya ada 35 orang tamu dan di gelar di sebuah pulau indah di Lombok. Kedua orang tua kami datang. Ada bayak hal yang telah berubah, kecuali besarnya cinta kami. Sekarang bahkan dia mencintaiku lebih besar, dari rasa cintaku padanya mungkin.
Bahkan hari ini ibuku datang. Berdiri berdampingan dengan ayahku. Kami melakukan foto keluarga. Ayahnya Jazzy, mamanya, bi Ijah, lalu aku, Jazzy, bunda Rose, ibuku dan yang terakhir ayahku. Lalu aku dan Jazzy bersama anak asuh kami di panti. Dan kami semua bersama-sama.
Dan aku dan dia. Aku memegang buket bunga mawar orange. Jika kalian lihat lebih baik lagi, ada sebuah cincin berlian besar yang melilit di jari manisku. Kadang sebuah kejujuran dapat memberimu sejuta kebahagiaan. Tapi juga terkadang kita begitu sulit mengungkapkannya-dengan ribuan alasan yang kita karang.
Jika itu sebuah rasa sayang, apa yang salah? Katakan sekarang. Karena belum tentu Tuhan memberi kesempatan itu besok. Perduli atau tidak orang itu, bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika kau mulai tidak peduli pada perasaan yang kau rasakan. Mengesampingkannya dan belajar menjadi manusia yang tidak bahagia. Itu baru MASALAH BESAR.
Beberapa Tahun yang lalu aku memulainya dengan kaliamat, "AKU CINTA PADAMU Jazzy. Dan aku akan menjadi seseorang yang berarti bagimu mulai saat ini."
Dan dia menjawab, "Sera Leovella Jade.. will you marry me?"
Dan aku jawab, "Yes I do."
Kalian bisa lebih kereatif dari perempuan bodoh sepertiku. Dan mendapatkan yang lebih indah dari milikku saat ini. That's possible.
***
Jakarta, 2007







13 comments:

  1. kakaaaaaaaaaaakk. .bagussss bangeeettt cerpennyaaa :')

    ReplyDelete
  2. "Jika itu sebuah rasa sayang, apa yang salah? Katakan sekarang. Karena belum tentu Tuhan memberi kesempatan itu besok. Perduli atau tidak orang itu, bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika kau mulai tidak peduli pada perasaan yang kau rasakan. Mengesampingkannya dan belajar menjadi manusia yang tidak bahagia. Itu baru MASALAH BESAR."

    sangat aku. tapi rasa sayang ini terhambat untuk kusampaikan karena kami berada pada jarak yang tak mampu kulewati, bahkan untuk melihatnya langsung. mendengar suaranya memang mungkin, tapi untuk memencet tombol hijau ketika nomor ponselku yang muncul pun susah. mungkin ia memencet delete seketika saat mengetahui nomor ponselku yang muncul di pesan masuknya. lalu kepada siapa aku akan menyampaikannya? bahkan malam pun tak lagi bersahabat..

    ReplyDelete
  3. hmm.. aku rasa, cintamu terlalu baik untuk dia. bila dia bahkan tidak mau memberimu kesempatan untuk bicara.

    kamu yang paling tahu, hingga kapan kamu 'layak' untuk berharap sayang.
    kebahagiaan, selalu berada di tangan manusia itu sendiri..

    ReplyDelete
  4. :') Aku suka sekali, kak! Ini kali kedua aku baca dan kali pertama meninggalkan jejak di blog kak fa. Ditunggu cerpen yg lain, kak fa! :D

    ReplyDelete
  5. ceritanya aku banget kak... tapi ntah kapan jazzyku bisa menoleh kebelakang. melihatku yang selalu terlalu bersemangat mengikutinya.
    aku tahu bagaimana rasanya menjadi sera..
    dan entah mengapa aku ingin mempunyai ending seperti punya sera.

    sekarang meskipun jazzyku telah berjalan berdampingan dengan org lain. aku masih saja selalu ada dibelakangnya. membuntutinya hanya untuk memastikan dia bahagia dengan apa yang ada di sampingnya. dan entah mengapa, aku selalu bisa tersenyum melihat dia tersenyum yang mengarah pada perempuan itu.

    ReplyDelete
  6. ini keren banget kak fa, aku terharu bacanya..

    ReplyDelete
  7. kak faa...ini bagus banget..udh aq baca berkali" dr masih di pos cinta>.<

    ReplyDelete
  8. aku baru baca.. dannn..
    ceritanya juga aku banget..
    perlu helaan nafas beberapa kali buat nahan haru , baca ini. keren..

    ReplyDelete
  9. Apakah cerita ini sebuah kejujuran ?, hanya ingin memastikan

    ReplyDelete

Thanks for reading my post! :)