Monday, June 13, 2011

Kangen




Kangen. 
Begitu kerap kata itu muncul di benakku. Entah terkadang aku menggantinya dengan rindu atau ingin bertemu.

Kangen.
Aku rasa mereka berteman baik dengan sayang. Kekasih yang tak bisa terpisahkan. 

Kangen.
Malam ini, aku merindukanmu, ingin sekali bersandar di bahumu sambil duduk-duduk di awan. Mengenggam secangkir coklat hangat.

Kangen.
Kerap kali mereka merenggut kesadaranku. Menceburkanku ke dalam kubangan sepi.

Kangen.
Kangen kah kau pada gadis pembenci seledri ini? gadis yang tak pernah pandai berpacak atau bercakap.

Kangen.
Suamiku kelak, pantas kah aku untuk jadi ibu dari anak-anak kita? Aku bahkan masih benci cuci piring, tapi aku pandai memasak. Aku pandai yang lain selain cuci piring.

Suamiku kelak,
Dosakah aku, berani merindukanmu bahkan sebelum kita bertemu?
Jakarta, 12 Juni 2010. 21.25

2 comments:

  1. kangen
    rasanya seperti perbatasan antara sedih, sepi dan harapan..

    ReplyDelete
  2. kangen, sepertinya melelahkan..
    Bahkan aku ingin membuat aspal menjadi lumpur supaya semua orang merasakan seperti ap yg aq rasakan..

    ReplyDelete

Thanks for reading my post! :)