Sunday, June 12, 2011

batas rindu

favim.com


Sedang kangen.

Jangan tanya pada siapa. Jika kangen saja butuh alasan, saya akan berpikir dua kali untuk mencintai. Karena cinta dan kangen adalah sepasang bubuk kopi dan susu di dalam bungkus kopisusu sachet. Siapa yang sanggup memisahkan butiran-butirannya. Mereka ada, untuk diseduh dengan hangat air. Ada untuk dinikmati.

Bukan untuk dipertanyakan.

Sedang kangen. 


Baiklah, kualamatkan kangen ini padamu. Kutitipkan pada pak pos, dengan menulis di tepian amplopnya, ‘ter-untuk kamu’.


Tapi Pak pos bilang, aku butuh menuliskan alamatnya, agar kelak bisa sampai. Embun dikeningku muncul setiap memikirkannya.


‘alamat?’ tanyaku kembali


‘tentu nona.’ Begitu mudahnya dia menjawab. Begitu terbalik buatku.


‘bapak tahu Tuhan tinggal di mana? Yang kutahu Dia di dalam hatiku. Perlukah aku menulis hati di sana? Karena dia sedang bersama Tuhan.’


‘apa?’ kini justru giliran kening pak pos yang mengembun mendengar jawabanku.


‘lupakan, biar kutitip pada merpati di mimpiku saja.’ Kurenggut kembali surat itu dari genggamannya.


Sedang kangen padamu, sedang melakukan hal bodoh yang sama. Berulang-ulang dan tak juga bosan. 

Apa kau baik di sana? Apa menyenangkan sekali berada di antara bintang-bintang? Sedang aku di sini, masih saja bermimpi tentangnya.


tentang bintang-bintang itu, memilah, yang mana yang sedang kau singgahi. 


Berharap bisa jadi kupu-kupu malam ini, terbang mendekatimu... walau tak mungkin sampai. 

Kau benar, semua yang 'hidup' memiliki keterbatasan. Bahkan tentang sebuah 'kerinduan'.

No comments:

Post a Comment

Thanks for reading my post! :)