Wednesday, June 15, 2011

Mereka adalah bagian paling jujur dari hidupmu ...




favim.com


Saya menuliskan posting ini dalam suasana hati yang tidak begitu baik. Jadi jikalau saya mungkin menghadirkan sebuah tulisan yang kurang berkenan, saya minta maaf sebelumnya. Tenang, ini bukan tulisan tentang keinginan bunuh diri.. hahaha. 



Senin lalu, ketika saya berada di dalam bus trans jakarta menuju metro tv untuk meeting acara kami provocative proactive, saya duduk di sebelah seorang Ibu yang anaknya memiliki keistimewaan. Anak ibu ini, mungkin berusia sekitar 4 atau 5 tahun, tapi tidak bisa berjalan, mau pun berbicara dengan jelas. Dia hanya bisa duduk di pangkuan ibunya dan selalu bergerak gelisah, tiada henti. Anak dengan keistimewaan seperti itu memang cenderung selalu gelisah dan rewel.


Ketika itu saya tiba-tiba teringat seorang paman saya yang memiliki anak yang sama. Paman saya, hanya seorang petani yang hidup dengan mengandalkan hasil bumi. Dia memiliki dua orang anak perempuan, dan anak pertamanya memiliki keistimewaan yang sama. Di usia anaknya yang meninginjak 10 tahun, buah hatinya itu tidak berdaya di atas ranjang. Ketika itu, saya masih kecil, tetapi saya bisa mengerti betapa tidak mudahnya memiliki seorang anak dengan keistimewaan seperti itu.



Tetapi anda tahu, paman saya yang seorang laki-laki, begitu sabar mengurus buah hatinya ini. Setiap hari dia yang memandikan, dia yang menyuapi, dia yang membersihkan sisa buang air besar anaknya. Bahkan kelembutannya, melebihi apa yang bisa diberikan sang ibu.



Rumah mereka begitu kotor, alas lantai mereka masih terbuat dari tanah. Ketika ibu saya mengajak saya untuk menjenguk mereka, saya sering kali tak tahan dan mengeluarkan tatapan yang buruk. Sungguh saya menyesali hari itu. Segala keterbatasan, dan apa yang sering kalian sebut ‘ketidak beruntungan’ justru adalah kelimpahan kasih sayang yang Tuhan berikan.



Tetapi apakah anda tahu, saat itu di tengah keterbatasan yang mereka miliki, mereka tidak pernah mengeluh. Bahkan anak mereka yang istimewa itu, masih bisa tersenyum jika diajak bicara. Ya, dia begitu suka tersenyum dan menampakkan giginya yang tanggal di usianya yang menginjak remaja. Dia begitu cantik, sungguh.



Ketika menginjak bangku SMA saya kembali ke Jakarta, suatu pagi saya mendengar kabar bahwa anak perempuan catik paman saya itu meninggal. Saat itu yang saya pikirkan adalah bahwa surga pasti telah menunggunya. Saya berada diantara suasana hati sedih dan bahagia.



Lalu tak lama berselang, saya mendapat kabar bahwa paman saya pun meninggal. Lihat, betapa cinta kasih mereka tak bisa terpisahkan.



Dan ketika saya kembali ke hari senin lalu, saya begitu bahagia duduk di samping ibu dan anaknya yang istimewa ini. Sepanjang jalan, sang anak selalu mengerang marah, meminta untuk turun dari bis. Mungkin merasa tidak seaman di rumah. Dan sang ibu selalu mengajaknya bicara. Sang ibu bilang.



‘Nanti kalau sudah sampai rumah kita beli makan. Dedek mau makan pake apa? Ayam? Perkedel? Apa mau pake telor dadar?



Dan sang anak tersenyum dan mengerang,



‘Hah?! Mau semuanya? Wahh mau makan pake semuanya? Boleh... nanti kita beli semuanya ya. Tapi dedek jangan rewel, harus sabar naik bisnya.’ Si ibu mencium dan memeluk anaknya. Di depan semua tatapan aneh orang-orang di dalam bis. Sumpah, saya ingin nampar muka mereka satu-satu!



Tuhan! Saya kangen mama saya detik itu! Saya kangen mama bahkan sampai detik ini! Kau jaga dia baik-baik bukan? Jangan buat beliau begitu merindukan saya.

Mungkin kalian pikir, melakukan apa yang mereka lakukan adalah pekerjaan mudah. Demi Tuhan itu tidak lah mudah. Beruntungnya, saya memiliki seorang Ibu yang kini sudah tak lagi bisa berjalan atau ke kamar mandi sendiri. Beliau pun begitu sulit bicara dengan baik. Sehari-hari ia mengenakan pempers, dan setiap saya pulang saya pun harus mengurusnya seperti anak balita. Dan sungguh, itu tidak lah mudah. Sering kali mulut saya yang kurang ajar ini mengeluh di hadapannya. Tetapi ibu saya, ia tak pernah marah.


Ada hal yang akhir-akhir ini  begitu membuat saya sangat sedih ketika memikirkannya. Bagaimana jika suatu hari, ketika kondisi ibu saya semakin buruk, ia tidak lagi  bisa menjawab ketika saya tanya, 'mama sayang aku kan?'


Karena setiap saya pulang ke rumah, setiap kali sebelum tidur, saya selalu menayakan pertanyaan yang sama. Memastikan bahwa dia masih ingin bertahan hidup untuk menyayangi saya.


Maka bersyukurlah kalian yang masih punya kedua orang tua yang lengkap dan sehat. Syukurilah berkah itu setiap kali terbangun di pagi hari. Ibu yang masih bisa memasak untuk kalian, ayah yang masih bisa mengantar kalian ke sekolah.

Jadi, apa lagi yang bisa melawan kasih sayang orang tua pada anaknya. Seburuk apa pun kalian, Ibu dan Ayah adalah bagian paling jujur dari hidup kalian. Maka, jadilah kejujuran untuk hidup mereka.


No comments:

Post a Comment

Thanks for reading my post! :)